
Selesai makan siang, Reda bersama rubah kecil membereskan semua peralatan makannya. Sang penguasa yang masih berdiri di dekat gadis itu terus memperhatikannya.
“Aku rasa dia belum menanggapi peringatanku. Aku akan coba mengatakannya kembali.”
Aragaki berjalan saat gadis itu hendak berdiri dengan membawa nampan berisi piring. Saat dia berdiri, punggung belakangnya tidak sengaja menabrak tubuh Aragaki dan keseimbangannya mulai hilang.
“Eh?! Ah!!”
Gadis itu hampir terjatuh namun tubuhnya seperti ditahan oleh sesuatu. Lebih tepatnya, ada tangan yang memeluk tubuhnya.
Semua mangkuk-mangkuk itu jatuh dan pecah.
-Praaang!
Semua yang mendengar itu langsung menghampiri ruang makan. Ryuunosuke yang masih ada di sana juga langsung panik.
“Kyaaa!! Reda-sama! Reda-sama, Reda-sama! Apa Reda-sama terluka?!”
Nagi yang berlari masuk ke dalam ruang makan dengan ekspresi panik, “Ada apa? Kenapa ada suara barang pecah?!”
“Apa yang terjadi?! Nushi-sama, apa Anda–” Ginko menyusul di belakang Nagi dan seketika kalimatnya terhenti oleh pemandangan sangat tidak biasa yang terjadi. Mereka melihat sang majikan sedang memeluk gadis desa itu dari belakang.
“…” semua terdiam
Rubah kecil yang menghampiri Reda karena khawatir jadi ikut mundur beberapa langkah dan memilih untuk membersihkan semua pecahan mangkuk tersebut.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aragaki sambal memeluk bagian perut dan tubuh gadis itu dari belakang. Dia terlihat sedikit cemas, meski tidak begitu ditunjukkan.
Namun hal itu berbeda dengan sang gadis. Bukannya merasa senang karena dipeluk oleh pria yang begitu dicintainya, dia justru panik dan hampir menangis melihat semua mangkuk yang dibawanya itu pecah berantakan.
Dengan tubuh gemetar, dia langsung melepaskan pelukan sang penguasa dan membungkuk berkali-kali untuk minta maaf.
“Maafkan aku, Nushi-sama! Aku…aku tidak bermaksud memecahnya. Aku berani bersumpah, aku tidak bermaksud. Maafkan aku, aku minta maaf. Maafkan aku!”
Gadis itu gemetar dan takut, sama seperti rasa takutnya saat pertama kali berada di tempat itu. Dia takut akan menerima hukuman dari sang penguasa dan takut semua yang terjadi di antara mereka akan kembali seperti saat pertama dirinya datang.
Namun, tidak seperti itu.
Aragaki mendekati dan menyentuh kedua lengannya. Dia meminta gadis itu untuk tidak terus membungkuk hanya untuk minta maaf.
“Bangunlah. Itu bukan salahmu. Aku yang salah karena tiba-tiba berada di belakangmu.”
“Tapi–”
“Tidak perlu mengkhawatirkan mangkuknya. Apa kamu terluka?”
Reda menjadi cukup tenang mendengar pertanyaan dari sang penguasa yang mengkhawatirkan dirinya. Dia tampak sedikit memerah, walaupun ada rasa bersalah dalam dirinya karena memecahkan semua mangkuk-mangkuk itu.
“Aku tidak masalah dengan semua mangkuk itu, selama kamu tidak terluka itu sudah cukup untukku. Ryuunosuke, tolong bersihkan semua itu ya.” perintah sang penguasa. Tentu saja rubah kecil langsung melakukannya bahkan sebelum diperintahkan.
Nagi dan yang lainnya ikut masuk dan membantu si rubah kecil, sedangkan Aragaki masih dengan sang gadis yang ada di hadapannya.
Keduanya saling melihat satu sama lain. Mata mereka bertemu dan tentu saja, hanya si gadis lugu yang cantik itu yang memerah.
“Nu–Nushi-sama…”
“Dengar, aku tidak akan memarahimu karena mangkuk itu. Aku juga…minta maaf karena mengagetkanmu dari belakang. Maafkan aku.”
“Itu bukan kesalahan Nushi-sama. Aku yang…kurang berhati-hati.”
“Apapun itu, lupakan saja. Semua mangkuk itu bisa dibeli kembali.”
Aragaki menghela napasnya dan menatap gadis itu dengan ekspresi serius, “Aku hanya ingin mengatakan bahwa untuk beberapa hari ini, aku tidak akan memberikan izin kepadamu untuk pergi ke pasar dengan alasan apapun.”
“Eh?”
Ryuunosuke yang mendengar itu langsung berhenti mengambil pecahan mangkuk dan melihat ke arah sang majikan. Rubah kecil itu bingung. Aragaki kembali melanjutkan kalimatnya.
“Aku ingin kamu dan Ryuunosuke tidak pergi keluar sementara waktu sampai aku mengizinkan kalian.”
“Jika memang ada sesuatu yang ingin dibeli, biar Nagi atau lainnya saja yang keluar.”
“Apa ada …sesuatu?” gadis itu bertanya dengan ekspresi cemas sekarang
“Ada, tapi bukan hal penting dan tidak perlu kalian tau. Yang jelas kalian harus ada di sini.”
“Satu hal lagi untukmu, jangan membuka pintu depan untuk siapapun. Jika memang ada tamu, katakan pada yang lain agar mereka yang membukanya.”
Kedua youko dan tengu yang ada di ruang makan itu saling melihat satu sama lain dan mengangguk pelan. Mereka secara tidak langsung telah diperintahkan oleh sang penguasa untuk tidak mengurangi kewaspadaan.
Setelah selesai dengan pecahan mangkuknya, Reda dan Ryuunosuke yang berada di dapur mulai saling bicara.
“Kenapa Nushi-sama memberikan perintah seperti itu ya, Ryuunosuke?”
“Ryuunosuke juga tidak tau, Reda-sama. Mungkin ada hal yang begitu penting dan rahasia.”
“Penting dan rahasia ya. Apakah itu berbahaya ya? Aku jadi cemas.”
“Jangan khawatir, Reda-sama. Kita hanya perlu mengikuti perintah Aragaki-sama dan semua akan baik-baik saja. Ryuunosuke yakin itu!!”
Reda tersenyum dan memberikan rubah kecil itu elusan di wajah dan telinganya, “Ryuunosuke benar. Kita hanya perlu mengikuti perintah Nushi-sama. Terima kasih banyak ya.”
Nagi dan Ginko datang ke dapur.
“Reda-sama, Nushi-sama meminta kami untuk pergi ke pasar dan membeli beberapa peralatan makan. Apakah ada hal lain yang ingin dibeli oleh Reda-sama juga?”
“Ginko-sama.” Reda mendekatinya. Ginko tersenyum dan mengulang kembali pertanyaannya barusan. Mendengar pertanyaan itu kembali, Reda sempat berpikir sejenak.
“Um, kalau tidak keberatan…apakah Nagi-sama dan Ginko-sama bisa membelikanku tahu dan makanan manis?”
“Makanan manis?”
Reda mengingat ekspresi sang penguasa yang membuatnya khawatir.
“Nushi-sama terlihat seperti sedang tidak enak badan. Selain itu, beliau juga seperti menyembunyikan sesuatu. Beliau mungkin begitu sibuk. Aku ingin…memberikan sesuatu untuk beliau, tapi aku tidak tau apa itu.”
“Dan Reda-sama berpikir bahwa Nushi-sama mungkin akan lebih baik dengan makanan manis?” tanya Ginko
“Apakah aku…salah?”
Nagi dan Ginko tersenyum.
“Tidak, itu tidak salah. Akan kami belikan. Kau dan rubah kecil itu juga akan kami belikan, jangan khawatir.” jawab Nagi
“Horee~Ryuunosuke makan cemilan lagi yang banyak!” rubah kecil itu justru terlihat senang mendengarnya. Dia melompat dan menggoyangkan ekornya dengan cepat.
Setelah selesai memastikan tidak ada lagi yang ingin dibeli, kedua youko tersebut segera pergi ke pasar.
**
Saat berada di pasar, Nagi dan Ginko melihat-lihat sekitar.
“Menurutmu, apakah kita akan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan sosok yang mengikuti Reda-sama seperti yang kamu ceritakan itu Nagi?” tanya Ginko sambal melihat sekeliling
“Aku tidak yakin, namun sepertinya bisa saja seperti itu. Di tengah keramaian seperti ini, semua bisa terjadi. Selain itu…”
Ginko terlihat serius, “Aku tau. Tentang rumor tidak menyenangkan soal Reda-sama yang dikatakan oleh Nushi-sama…benar kan?”
“Itu benar. Aku yakin itu bukan sekedar rumor biasa. Kalau diingat, tidak pernah ada yang memberitau bahwa ada calon ‘pengantin’ yang ingin meracuni Aragaki-sama kepada penduduk desa.”
“Jadi, ada yang pernah membocorkan hal tersebut dan–”
Baru saja mereka berjalan, ada kerumunan orang-orang yang sedang mengobrol.
“Jadi sebenarnya gadis tu licik dan telah menghasut pikiran Aragaki-sama. Dia memiliki niat jahat pada semua orang di sini.”
“Apa?! Tapi, aku lihat beberapa waktu lalu kalau Aragaki-sama berjalan dengan seorang gadis. Mungkinkah itu orang?”
“Benar itu. Dia adalah gadis yang sangat jahat. Dia menghasut Aragaki-sama. Dia mungkin seorang penyihir onmyouji yang pernah melakukan hal buruk di masa lalu.”
Nagi dan Ginko mendengar hal itu dengan jelas. Mereka langsung menghampiri kerumunan tersebut.
“Oi! Berani sekali kalian mengatakan hal seperti itu dengan percaya diri siang-siang begini!”
“Kalian tidak bisa menyebarkan berita bohong seperti itu tentang Nushi-sama. Kami berdua peringatkan kalian semua.”
Kedua youko tersebut mulai terlihat serius. Mereka emosi mendengar kerumunan tersebut.
“Berani sekali kalian bicara begitu mengenai Aragaki-sama. Aku harap, kalian tidak bosan hidup.”
****