The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 53. Demi Senyumanmu, Aragaki-sama



Keempat pelayan Aragaki berteriak memanggil nama Reda.


“Reda-sama!!”


Mata Aragaki terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh gadis yang dianggapnya kotor. Dia melindungi rubah kecil itu, lebih tepatnya dia melindungi mangkuk berisi hiasan bunga yang dibawa oleh rubah kecil itu.


“Reda…-sama…” rubah kecil itu terlihat pucat dan syok


“Ryuunosuke…tidak apa-apa? Apa…Ryuunosuke terluka? Mangkuknya pecah tidak?”


“…” rubah kecil itu tidak menjawab karena terlalu syok


Nagi dan Ginko langsung mencoba menolong Reda.


“Reda-sama, lukamu…punggungmu berdarah!”


“Oi, gadis desa, kau masih kuat berdiri?”


“Aku tidak apa-apa. Hadiah milik Nushi-sama…” Reda melihat tangan kecil Ryuunosuke gemetar sambil memegangi mangkuknya. Gadis itu tersenyum sambil menahan sakit, “Syukurlah, hadiahnya tidak rusak.”


“Jangan pikirkan hadiahnya dulu! Punggungmu itu terluka, bodoh!” Nagi begitu cemas dan panik


Hakuren dan Kuroto yang pucat mencoba menenangkan tuannya yang semakin dingin dan emosi melihat perlakuan yang diberikan pelayannya kepada gadis yang dianggapnya kotor.


“Aragaki-sama, kenapa?! Kami mohon tenangkan dirimu.”


“Tolong kendalikan diri Anda, Aragaki-sama. Anda baru saja pulang.”


“Jangan mencoba memerintahku. Sejak kapan kalian berkuasa memerintah orang yang merupakan majikan kalian?”


Nada dingin dan mata tajam keemasan itu membuat kedua tengu itu langsung tertunduk dan berlutut.


“Maafkan kami, Aragaki-sama.”


Aragaki melihat Nagi dan Kuroto yang sepertinya sama sekali mengabaikan ucapan Aragaki.


“Pengaruh buruk dan noda di kediamanku…”


Kedua youko itu menengok setelah Aragaki mengatakan hal itu.


“Gadis kotor yang berani membuat pelayanku mulai menentang dan mengkhianatiku perlahan. Racun hidup yang menyakiti semua dengan kebaikan busukmu itu benar-benar membuatku ingin muntah.”


Nagi terlihat ingin mengatakan sesuatu demi membela gadis desa itu, namun pakaiannya ditarik oleh Reda pelan.


“Aku…tidak apa-apa. Tolong, jangan membuat Nushi-sama semakin marah. Nagi-sama, Ginko-sama, terima kasih.”


“Reda-sama…” Ginko terlihat cemas, namun dia menuruti keinginannya


Dia mengajak Nagi untuk berdiri lalu berlutut meminta maaf pada tuannya. Reda melihat rubah kecilnya yang mulai menangis.


“Hiks…Reda-sama sakit?”


“Tidak sakit. Tidak sakit sama sekali. Jangan menangis ya.”


“Hiks…” rubah kecil malang menangis


Air mata si rubah kecil mulai menetes sangat banyak seperti tidak ada yang menghentikan air mata itu untuk keluar.


“Hentikan sandiwara menjijikkan itu, gadis kotor. Menyingkir dari hadapanku.”


Aragaki terlihat tidak menaruh rasa kasihan atau iba pada gadis desa yang dianggapnya kotor itu. Sepertinya, rasa dendam itu masih membuat hatinya sulit menerima kenyataan.


Air mata dan suara tangis kecil rubah kecilnya tidak terdengar oleh telinga Aragaki yang tengah dibutakan oleh amarahnya.


Reda berusaha untuk berdiri sambil memegang mangkuk yang dibawa rubah kecil itu.


“Hiks…”


“Jangan menangis, Ryuunosuke. Semua akan baik-baik saja.” Reda tersenyum dengan wajah yang jelas sedang kesakitan


Dia mengambil mangkuk dengan susunan bunga ikebana itu dan membawanya mendekati Aragaki.


Jarak antara dirinya dengan sang penguasa yang tengah emosi memang tidak cukup dekat, namun itu mungkin adalah jarak yang paling dekat untuk Reda saat ini.


“Nushi-sama, rubah kecil…rubah kecil manis itu membuat ini demi melihat senyumanmu. Rubah kecil itu tidak ingin Anda marah lagi padanya. Dia memilih semuanya sendiri. Setidaknya, hanya sekali ini…tolong terimalah.”


Aragaki dengan wajah dingin dan emosinya mencoba untuk membuang benda itu, namun Reda langsung memeluk dan berlutut di hadapan Aragaki-sama.


“Aku akan melakukan apapun agar Nushi-sama mau menerima hadiah ini! Aku akan melakukannya agar Nushi-sama percaya bahwa ini adalah hadiah sesungguhnya dari Ryuunosuke!”


“Aku mohon, beri aku kesempatan untuk membuktikannya! Ryuunosuke…Ryuunosuke sudah berusaha membuatnya demi Nushi-sama!”


Ryuunosuke menangis dan mendekati Aragaki.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke tidak bohong, Ryuunosuke tidak bohong! Reda-sama benar-benar hanya mengajariku! Jangan hukum Reda-sama, jangan hukum Reda-sama! Hiks…ibu…huwaaa….”


Aragaki terkejut mendengar rubah kecilnya memangis di kakinya sambil memanggil ibunya.


“Ibu, ibu…hiks…Aragaki-sama marah pada Ryuunosuke…hiks…”


“Ryuunosuke…”


Hakuren mencoba membuat rubah kecil itu tenang, tetapi karena nalurinya yang merindukan sosok ibunya, dia langsung memeluk Reda dengan erat sambil menangis di pelukannya.


“Tenanglah, tidak apa-apa Ryuunosuke. Nushi-sama tidak marah padamu. Jangan menangis ya.”


“Hiks, Reda-sama…hiks…”


Sepertinya ada rasa sakit di hati Aragaki saat rubah kecilnya merengek seperti itu sambil memanggil mendiang ibunya. Dia sudah cukup dengan drama itu dan berjalan masuk tanpa memperhatikan siapapun lagi di belakangnya.


Tapi, Reda yang melihat sang penguasa hendak masuk langsung berdiri dan mengejarnya. Dia berlutut di belakangnya dan memohon sekali lagi.


“Nushi-sama, aku mohon tolong terimalah. Aku akan melakukan apapun agar Nushi-sama mau menerimanya. Aku akan–”


“Diam! Jangan mencoba menguji kesabaranku! Kalau memang begitu inginnya kamu membuktikan semua perkataanmu, tetaplah di sana dan jangan menggangguku!”


“Aku tidak peduli apakah kamu makan atau mati kedinginan di luar sana, gadis kotor. Jika sekeras itu keinginanmu, lakukan sesukamu.”


Aragaki meninggalkan mereka dan masuk ke dalam.


Mendengar hal itu, Nagi dan Ginko berusaha untuk mengejar tuannya dan menjelaskan semuanya.


Sementara itu, Hakuren dan Kuroto mencoba mengajak Reda berdiri untuk mengobati luka di punggungnya.


“Reda-sama, abaikan perkataan Aragaki-sama. Berdirilah, kita obati lukamu itu.” kata Hakuren dengan wajah cemas


“Lupakan soal membuktikan apapun, kau ini perempuan. Luka itu pasti sakit. Darahnya belum berhenti keluar. Cepat bangun sekarang, gadis desa!”


Reda menahan sakitnya, tapi dia mengingat kalimat Aragaki dengan baik.


[Kalau memang begitu inginnya kamu membuktikan semua perkataanmu, tetaplah di sana dan jangan menggangguku]


[Jangan pernah bergerak dari tempatmu berada dan jangan pernah melakukan apapun sampai aku melihatmu]


Reda terdiam. Melihat tidak ada respon apapun dari gadis itu, Hakuren memanggilnya.


“Reda-sama?”


“Aku…akan tetap di sini.”


“Apa?! Kau itu terluka, jangan aneh-aneh atau kau akan mati nanti!” Kuroto mulai kehabisan kesabaran karena terlalu panik


Ryuunosuke berlari memeluk Reda kembali.


“Reda-sama, ayo masuk. Hiks…Ryuunosuke tidak apa-apa, Ryuunosuke tidak apa-apa. Hadiahnya memang jelek, hiks. Ayo masuk.”


“Lihat rubah kecil itu, dia menangis tanpa henti karena ucapanmu! Sekarang berdiri!”


“Tapi, Ryuunosuke sudah membuat ini dengan susah payah. Aku ingin Nushi-sama menerimanya. Aku ingin melihatnya senang dengan hadiah ini.”


“Aku…aku sangat ingin melihatnya tersenyum lagi.”


Saat mengatakan itu, Reda terlihat tersipu malu. Dia benar-benar telah memantapkan hatinya untuk pria yang dikaguminya dalam diam.


Sejahat apapun perlakuan Aragaki padanya, rasa cinta itu sama sekali tidak pudar.


“Aku…mencintai Nushi-sama. Suatu hari nanti, setelah aku mati, Nushi-sama akan bertemu cinta sejatinya. Dan saat itu tiba, aku yakin gadis itu akan menjadi gadis paling beruntung di dunia ini.”


“Setidaknya, untuk sekali sebelum mati…aku ingin melihat senyuman itu lagi. Senyum indah yang pernah aku lihat saat pertama kali datang ke tempat ini.”


“Reda-sama…”


Senyuman di malam saat Reda datang itu telah mencuri hatinya. Wajah lembut Aragaki saat berdiri di bawah sakura yang diterangi bulan dan cahaya lampion adalah yang terindah di mata Reda malam itu.


“Demi senyuman Nushi-sama, aku ingin beliau melihat hadiah ini dan merasa bahagia.”


“Selain itu, ini adalah buatan pelayan kecil kesayangan Nushi-sama. Jika Nushi-sama menyadarinya, aku yakin beliau akan senang. Ryuunosuke sudah berjuang dengan baik. Aku sangat berharap Nushi-sama mau menerimanya.”


“…” tidak ada yang berani mengatakan apapun lagi kepada gadis itu


Dari matanya, terlihat cinta dan perasaan murni darinya. Hakuren dan Kuroto tau itu.


“Kau…serius masih mau mempertahankan permikiranmu itu?” tanya Kuroto dengan ekspresi tidak percaya


“Aku yakin, Nushi-sama akan mau menerima ini. Aku akan tetap di sini, Kuroto-sama. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Hakuren-sama.”


Reda tersenyum dengan wajah merona sekali. Seakan senyuman itu berkata pada kedua tengu itu bahwa ‘semua ini adalah pilihan hatiku’.


Dengan perasaan bersalah dan rasa penyesalan, keduanya berdiri dan masuk ke dalam meninggalkan Reda.


Ryuunosuke masih menangis di samping Reda. Tangis tersedu-sedu itu membuat Reda hampir menangis. Tapi, dia memeluk rubah kecil yang malang itu.


“Ryuunosuke, masuk dan temanilah Nushi-sama. Aku akan di sini. Nushi-sama pasti akan melihatku dan menerima hadiah ini.”


“Hiks…Reda-sama terluka, Reda-sama bisa mati. Kalau Reda-sama mati dan bersama ibu, Ryuunosuke akan kesepian. Hiks…”


“Aku tidak akan mati, masih ada kurang dari tiga bulan. Selain itu, kita belum berhasil melihat Nushi-sama tersenyum pada kita berdua. Semangatlah, ya?”


“Huwaaa…..” tangisannya jadi semakin keras


Reda meletakkan mangkuk ikebana itu di tanah dan memeluk rubah kecilnya dengan lembut sambil mengusap-usap rambutnya.


“Rubah kecilku yang paling manis, jangan menangis lagi ya. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Ryuunosuke mengatakannya padaku, kan? Kalau ibu Ryuunosuke di langit mendukung kita, artinya kita tidak akan apa-apa.”


“Sekeras apapun batu, jika terus ditetesi air pasti akan hancur juga. Meskipun membutuhkan waktu sangat lama, namun jika dilakukan dengan sabar pasti akan berhasil.”


“Hati Nushi-sama sedang membeku bagai batu es yang sulit dicairkan. Tapi, jika kita memberikan kelembutan dan cinta untuknya, Nushi-sama pasti akan luluh.”


“Kita berjuang dari nol lagi, ingat? Ini adalah usaha pertama kita berdua lagi, jadi semangatlah.”


Rubah kecil itu mulai berhenti menangis tersedu-sedu. Dia menghapus air matanya pelan-pelan. Reda memangku rubah kecil itu di pangkuannya dan mengusapkan pipi si rubah kecilnya


“Hmm~Ryuunosuke manis sekali. Apa sudah lebih baik?” tanya gadis itu dengan senyuman


Ryuunosuke memeluk erat gadis itu. “Ryuunosuke akan menemui Aragaki-sama. Reda-sama tidak boleh mati.”


“Aku tidak akan mati, rubah kecil.”


Ryuunosuke melakukan hal yang dilakukan Reda sebelumnya, yaitu mengusap-usap pipinya pada pipi Reda.


Setelah itu, dia masuk untuk menemui Aragaki.


Reda yang bersimpuh kembali memegang mangkuk ikebana itu.


“Demi senyuman Nushi-sama, aku harus berjuang sedikit lagi. Semua demi melihat senyuman dan mencairkan kebekuan hatinya.”


“Hanya perlu berjuang sedikit lagi. Aku mohon tolong kuatkan aku, Dewa. Aku ingin Nushi-sama menjadi orang paling beruntung di dunia ini.”


****