The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 31. Aku Tidak Akan Pernah Mengakuinya



Rubah kecil itu memeluk Reda sambil menangis. Setelahnya dia menghapus air matanya dan menarik gadis itu bersamanya. Mereka kembali ke gubuk tua itu dan bicara banyak hal bersama.


Niat hati ingin membereskan ruang makan, sekarang malah berbalik pergi untuk bercerita ke gubuk.


“Reda-sama, Reda-sama sudah lebih baik?” tanya rubah kecil itu


“Sudah. Maaf sudah membuatmu terkejut seperti ini, Ryuunosuke.”


“Ryuunosuke tidak apa-apa, Reda-sama. Selain itu…” rubah kecil itu melihat apa yang ada di sisi lain tatami. Dia berjalan dan mengambil barang-barang itu.


“Hakuren-sama dan Kuroto-sama yang memberikan semua ini?! Mereka baik sekali~” kata si rubah kecil dengan perasaan senang


Ekornya yang bergoyang-goyang saat menyentuh dan melihat semua sayuran itu menjadi hiburan tersendiri untuk Reda. Gadis itu bahkan tertawa kecil karenanya.


Namun, tampaknya Ryuunosuke menyadari hal lain di sana. Dia melihat sekantong kecil garam dan mengendus-endus bagian lain dari kantong kecil di tangannya.


“Aroma ini…aroma Nagi-sama dan yang ini aroma Ginko-sama. Mereka berdua juga memberikan ini untuk Reda-sama.”


Ryuunosuke melihat Reda yang ada di belakangnya. Dia menyadari bahwa gadis itu pasti tidak mengetahui hal ini.


“Syukurlah, Reda-sama. Ryuunosuke yakin semua orang akan menyadari betapa baiknya Reda-sama. Ryuunosuke juga yakin Aragaki-sama akan menyukaimu.”


Ryuunosuke berdiri dengan membawa jamur di tangannya dan mendekati Reda.


“Reda-sama, Ryuunosuke akan membuatkan sarapan untukmu. Duduk yang manis di sini ya~”


“Terima kasih banyak, Ryuunosuke.”


Rubah kecil itu membawa semua sayurannya ke sumur di belakang untuk dicuci. Setelah bersih, dia berlari untuk memotong semuanya kecil-kecil dan menumisnya dengan minyak yang dibawakan oleh Nagi dan yang lain.


Telur itu juga dimasaknya menjadi telur goreng. “Syukurlah ada garam. Paling tidak Reda-sama bisa makan masakan yang memiliki rasa asin.” pikirnya


Reda hanya duduk sambil menantikan sarapannya yang sudah lewat dari waktu pagi.


Meskipun tidak ada beras, tapi semua sayuran dan jamurnya dibuat dalam jumlah banyak oleh Ryuunosuke. Hampir semuanya dipakai agar Reda bisa kenyang sebagai pengganti nasi.


“Sudah siap! Reda-sama, ini Ryuunosuke yang membuatnya. Semua dibuat dari menu yang diajarkan oleh Reda-sama padaku. Ryuunosuke jamin rasanya enak. Ayo makan, makan~”


Reda melihat ekor dan telinga rubah kecil itu terus bergoyang tidak sabar. Dengan tawa kecilnya, Reda mengambilnya dan mulai memakannya.


“Enak tidak?” tanya rubah kecil itu dengan tatapan penasaran


“Enak. Ryuunosuke juga cicipilah, aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri.”


“Reda-sama harus menghabiskannya! Ryuunosuke akan merapikan piring di ruang makan dulu. Setelah itu, kita pergi ke pasar untuk berbelanja.”


Gadis itu tidak bisa menolak si rubah kecil karena perutnya memang lapar. Dia hanya bisa mengangguk dan melihat Ryuunosuke keluar dari gubuk.


Reda melihat makanan yang ada di depannya dan mulai kembali meneteskan air mata. Kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan.


“Inikah yang disebut dengan kebahagiaan sebelum mati? Aku berharap aku bisa merasakan kebahagiaan seperti ini juga saat Nushi-sama mau tersenyum.”


“Berjuanglah sedikit lagi, Reda! Mereka sudah mau mengakui usahamu. Nushi-sama juga pasti akan melihatmu walau untuk sesaat.”


**


Di ruangannya, Aragaki menatap ikebana yang dikirimkan oleh pelayan setianya tiga hari lalu. Aragaki tidak pernah lupa merawat dan mengganti airnya.


Begitu terpesona dengan hadiah yang diterimanya sampai merawatnya setiap hari seperti itu.


“Aku rasa aku harus meminta rubah kecil itu membuatkanku yang seperti ini lagi.” ucapnya sambil tersenyum


Aragaki berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya. Dia pergi ke engawa luar untuk menatap pohon bunga sakura yang ada di taman.


“Aku merasakan hal yang baik setelah ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku begitu menikmati banyak hal. Makanan, suasana kebun bunga dan hadiah dari Ryuunosuke.”


“Aku rasa ini tidak begitu buruk. Ditambah lagi, aku tidak harus melihat wajah gadis kotor itu. Rasanya aku bisa tenang.”


Gumaman itu tidak didengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri, namun sesungguhnya Aragaki tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Sang penguasa itu berjalan dan melihat rubah kecilnya yang baru saja datang untuk membereskan piring di ruang makan.


Dia ingin mendekatinya, namun dia melihat rubah itu sedang sangat senang sekali sehingga mengurungkan niat tersebut dan memilih untuk menunggunya selesai membersihkan ruang makan.


“Aku rasa aku tidak perlu mengganggunya.” pikirnya


Aragaki masuk ke ruangan di sebelah ruang makan sambil duduk menikmati matahari yang masuk ke ruang tersebut.


Di dalam ruangan yang kosong tanpa ada apapun kecuali bantal duduk dan sebuah meja, Aragaki merenung sejenak.


“Aku rasa, saat kita sudah kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya…inilah perasaan yang tersisa. Rasa kesepian dan penyesalan karena banyak waktu yang telah terbuang dan terlewatkan begitu saja tanpa kehadiran mereka di setiap momennya.”


Aragaki menghela napas sejenak dan berkata dengan nada lirih.


“Aku rasa aku harus mulai menghabiskan banyak waktu dengan Ryuunosuke dan yang lainnya.”


Begitu pikiran itu muncul tiba-tiba di benak sang penguasa, dia berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Sungguh suatu kebetulan, Ryuunosuke baru saja keluar juga dari ruang makan di sebelahnya.


“Aragaki-sama?! Apa yang Aragaki-sama lakukan di sini?” tanya Ryuunosuke terkejut


“Aku hanya sedang berjalan-jalan setelah mengganti air hiasan ikebana yang dibuat olehmu, Ryuunosuke.”


“Ikebana? Ah!” Ryuunosuke nyaris melupakan bahwa dia harus berpura-pura menjadi orang yang membuat hiasan ikebana buatan Reda tiga hari lalu. Rubah kecil itu hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi kalimat tuannya.


“Mau kemana? Kenapa terburu-buru sekali?” tanya sang majikan kepada rubah kecilnya


Mungkin karena terlalu polos dan senang, Ryuunosuke menjawab dengan penuh senyum dan percaya diri.


“Ryuunosuke akan ke gubuk untuk menjemput Reda-sama! Kami akan pergi berbelanja dan membeli daging untuk Aragaki-sama!”


“…” seketika mata Aragaki berubah serius dan dingin


Dengan nada dingin penuh kebenciannya, dia bertanya pada rubah kecilnya.


“Pergi berbelanja dengan gadis kotor itu?”


“…!!” Ryuunosuke sekarang menjadi terkejut. Dia menelan ludahnya sendiri dan mengangguk. Melihat itu, Aragaki menghela napas berat.


“Ryuunosuke, aku tidak mengerti apa yang bagus dari gadis kotor itu? Sampai kapanpun, aku tidak akan menerimanya.”


“Aku tidak akan pernah mengakui gadis kotor itu. Bahkan jika dia adalah manusia terkutuk yang kamu sukai, aku tidak akan pernah menerimanya sebagai apapun di tempat ini.”


“Higashi no Mori tidak membutuhkan darah kotor penduduk Kamakura dan aku tidak membutuhkan pengabdian dari manusia hina seperti dia.”


Mendengar gadis desa yang disayanginya dihina seperti itu, Ryuunosuke menggenggam pakaiannya dengan erat dan berteriak ke arah tuannya.


“Kenapa Aragaki-sama begitu jahat pada Reda-sama! Reda-sama sangat baik padamu! Reda-sama begitu memperhatikan Aragaki-sama! Kenapa begitu kejam sampai mengatakan hal seperti itu!”


“Karena itu kenyataannya. Tidak ada yang berguna dan baik dari gadis kotor itu. Dia hanyalah sampah di tempat ini, sama seperti saat penduduk desa itu membuangnya untuk mati di tempat ini kelak.”


Tatapannya benar-benar menunjukkan rasa bencinya kepada Reda. Aragaki yang awalnya berniat untuk melakukan hal bersama Ryuunosuke, sekarang melupakan niatnya itu dan berbalik menuju ruangannya kembali.


Dia tidak melakukan hal yang dia pikirkan sebelum ini hanya karena mendengar rubah kecilnya membela gadis desa itu.


Rubah kecil itu masih terdiam. Tetes demi tetes air mata mulai keluar dari matanya. Baru saja dia ingin menunjukkan senyumannya, dia harus mendengar hinaan untuk Reda kembali setelah tiga hari berlalu.


“Kenapa Aragaki-sama begitu membencinya? Hiks…Reda-sama adalah gadis yang ditakdirkan untukmu. Ibu…hiks…tolong bantu Ryuunosuke menyatukan Reda-sama dengan Aragaki-sama dari langit. Hiks…hiks…”


Dari atas atap, Hakuren dan Kuroto mendengar semuanya.


“Jika Reda-sama mendengar kata-kata kejam Aragaki-sama, aku rasa dia akan menangis lagi karena hancur.”


“Itu sudah pasti. Gadis desa itu lemah. Hakuren, aku tidak mengerti kenapa kau dan yang lain begitu mendukung perbuatan Ryuunosuke ini, tapi…”


“Tapi?”


“Tapi aku merasa, aku sedikit kasihan pada gadis itu.” Pandangan sendu Kuroto menyaksikan rubah kecil itu menangis sendirian membuatnya merasa sangat kasihan padanya.


“Ryuunosuke terus menangis demi memperjuangkan apa yang dia anggap benar. Jika Ryoko-san masih hidup, aku yakin dia akan memarahi Aragaki-sama karena terus membuat putranya menangis. Tidak peduli apakah Aragaki-sama adalah tuannya atau bukan.” kata Hakuren


Sementara Aragaki yang baru separuh jalan menuju ruangannya berhenti.


“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku yang membuat rubah kecil kesayangan itu bersedih?”


Dia mengingat ekspresi senang dari wajah Ryuunosuke beberapa saat lalu ketika dia mengatakan akan pergi bersama Reda untuk berbelanja.


“Ekspresi senang itu…aku selalu berpikir kapan dia terakhir kali membuat wajah yang terlihat ceria seperti itu saat bercerita kepadaku?”


“Tapi, biarpun dia senang, jika itu disebabkan oleh gadis kotor itu…aku tidak akan pernah mengakuinya. Aku mengingkari semua yang dia lakukan. Dia tidak lebih dari keturunan pendosa yang merebut semua yang kusayangi saat itu. Aku tidak akan pernah mengakuinya.”


“Aku membenci gadis kotor itu. Aku membencinya.”


Dengan tatapan dingin dan wajah penuh rasa dendam, Aragaki telah menanamkan persaaan benci yang begitu besar kepada Reda.


Rasa benci yang mungkin akan semakin mengakar di hatinya dan menjadi ujian terbesar Reda hingga masa 3 bulan yang dimilikinya selesai.


****