
Reda yang baru saja selesai makan di gubuk tuanya terlihat senang sekali.
“Syukurlah, perutku kenyang. Rasanya enak sekali. Meskipun sedikit tawar, tapi ini lebih baik dari hanya makan satu apel.”
Gadis cantik itu terlihat begitu bahagia ditandai dengan senyum meronanya. Setelah membereskan sisa piring kotor seadanya dan mencucinya, Reda berjalan kembali ke hutan. Dia bahkan sempat sedikit bersenandung karena sedang bahagia.
“Aku berpikir hari kedua mungkin akan terasa sangat berat seperti hari pertama, tapi rasanya senang sekali. Mendapatkan makanan sisa untuk sarapan dan makan siang serta berhasil menemukan sayuran liar di dalam hutan, aku berharap semua akan semakin baik.”
Meski dia berpikir demikian, tapi sebenarnya keadaan ini tidaklah terlalu baik. Hubungannya dengan Aragaki benar-benar tidak mengalami perubahan apapun. Jangankan berubah, berkomunikasi saja nyaris tidak terjadi.
Reda menyadari kondisi tersebut, tapi dia berusaha untuk tidak memaksakan keadaan.
Gadis itu menyadari bahwa kebencian Aragaki pada manusia itu sudah seperti mendarah daging di hatinya dan untuk mencarikan hal tersebut, Reda mungkin harus berkorban lebih dari sekedar air mata dan nyawa.
“Ini baru hari kedua. Aku harus bisa menemukan cara agar bisa berbicara dengan Nushi-sama walau hanya sedikit. Aku harap, aku bisa melakukannya.” pikir gadis itu
Ketika kembali, dia menyadari bahwa semua orang pasti masih makan malam. Dia berjalan dengan tenang ke belakang dan menimba air untuk membersihkan lantai.
Lantai yang dibersihkan pertama kali adalah engawa bagian luar karena yang paling sering dilalui oleh Aragaki.
Hal ini dikarenakan Aragaki lebih senang berjalan dengan melihat pohon sakura di taman dibandingkan di luar.
Karena belum ada yang keluar dari ruang makan sejauh ini, Reda menghabiskan waktunya untuk mengepel area tersebut.
Selang beberapa waktu, Reda mendengar langkah kaki di belakangnya dan segera menyingkir.
Dia tidak melihat siapa yang datang dan hanya bersimpuh sambil memberikan hormat.
“Kau benar-benar masih mengerjakan tugasmu?”
Reda terkejut. Suara itu adalah suara dari salah satu tengu. Dia ingat namanya adalah Hakuren. Dengan menelan
ludahnya sedikit, dia memberi hormat padanya.
“Se–selamat malam, Hakuren-sama.”
Di belakang Hakuren, ada Kuroto dan dua youko yang hendak kembali ke ruangannya.
Mereka semua melihat apa yang gadis itu lakukan.
“Ember penuh air kotor dan lap untuk mengepel serta pakaian yang basah karena keringat. Dia benar-benar mengepel lantai ini semua.” kata Hakuren dalam hati
Nagi dan Ginko menatap satu sama lain. Tentu mereka sadar bahwa Aragaki menyadari kejadian siang ini dan karena mereka telah mendapatkan peringatan keras, keduanya tidak bisa lagi secara sengaja memberikan makanan sisanya.
Lagipula, makanan hari ini terlalu enak sehingga tidak ada niat sedikitpun dari mereka berdua untuk menyisahkannya.
Sedikit sikap baik ditunjukkan oleh kedua youko tersebut padanya.
“Kau sudah pergi ke hutan untuk makan?” tanya Nagi
“Sudah. Aku baru saja selesai makan dan langsung mengerjakan tugas yang tersisa.”
“Reda-sama menemukan sesuatu di hutan?”
“Sansaitori. Ada beberapa yang tumbuh di dalam hutan. Meskipun membutuhkan waktu untuk mencarinya tadi siang, tapi berkat itu aku jadi bisa makan malam ini.”
Senyum cantik gadis itu terlihat begitu indah dan tulus sampai membuat keempat pelayan Aragaki terpesona dan memerah.
“Be–begitu. Syukurlah kalau begitu, Reda-sama.” Ginko merespon dengan senyuman juga
“Iya. Terima kasih untuk perhatiannya. Selamat beristirahat, Nagi-sama, Ginko-sama, Kuroto-sama dan Hakuren-sama. Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini.”
Reda hanya bersujud sampai keempat pelayan itu pergi. Tidak ada jawaban balik atas salamnya tersebut dan mereka berbicara satu sama lain.
“Kalian pikir dia jujur saat berkata dia sudah makan?” tanya Nagi
“Dia jujur.” Kuroto menjawab dengan cepat dan tanpa keraguan
Ginko sedikit penasaran dengan jawaban Kuroto.
“Bagaimana kamu tau, Kuroto? Apakah dari senyuman itu? Reda-sama memang selalu menunjukkan senyuman itu untuk menutupi semuanya, bukan?”
“Aku dan Hakuren melihatnya dari atas saat berpatroli keliling hutan siang ini. Dia masuk sedikit ke dalam dan menemukan sayuran liar. Akibat mengumpulkan sayuran tersebut, dia melewatkan makan siangnya.”
Penjelasan itu terhubung dengan kejadian setelah makan siang. Saat itu, Nagi dan Ginko sepakat untuk memberikan sisa makan siang mereka diam-diam dengan Ryuunosuke yang mengolahnya.
Hakuren tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ketiga orang lainnya yang berjalan di dekatnya ikut berhenti.
“Kenapa, Hakuren? Apa ada sesuatu?” tanya Kuroto
“Kalian bertiga…kalau kalian bertanya tentang pendapatku mengenai gadis desa itu, aku masih belum mempercayai dia sepenuhnya. Tapi, melihat perjuangan dan sikapnya selama dua hari ini…aku merasa kalau gadis itu mungkin saja benar-benar orang yang baik.”
“Kenapa tiba-tiba berkata seperti itu?”
Hakuren terdiam beberapa saat. Kemudian dia melihat ke arah tiga orang di belakangnya.
“Aku hanya merasa…selama 200 tahun sejak tragedi itu, tidak pernah ada calon ‘pengantin’ yang mau melakukan tugasnya dengan benar. Hampir semuanya adalah gadis bodoh yang tidak mengerti posisinya.”
“Tapi gadis itu…gadis itu bisa dengan mudah menarik perhatian Ryuunosuke sampai rubah kecil itu berani melawan Aragaki-sama. Aku memperhatikan perlakuannya kepada rubah kecil itu juga sangat baik.”
“Dua hari mungkin hari yang terlalu cepat untuk menilai seseorang, tapi aku merasa kalau dia memang berbeda. Apakah hanya aku saja yang berpikir begitu?”
Hakuren terlihat bingung dengan kalimatnya sendiri. Dia tidak percaya, tapi dia juga tidak menganggap Reda adalah gadis yang memiliki sifat seperti para calon ‘pengantin’ selama ini.
Tidak ada yang menjawabnya. Mereka hanya terlihat bingung. Tidak ingin memperbesar hal tersebut, Hakuren terbang dan pergi tanpa mendengar jawaban dari yang lain.
“Apa yang kau pikirkan, Hakuren? Tadi siang kau juga berpikir hal yang sama ketika melihatnya membersihkan sayuran liar. Apakah aku terlalu berharap seperti si rubah kecil tersebut?”
“Aku hanya berharap, Aragaki-sama bisa menjadi Aragaki-sama seperti dulu. Aku yakin perasaan inilah yang dirasakan oleh si rubah kecil. Apakah aku salah berpikir demikian?”
Malam itu, Hakuren tidak bisa menentukan apapun. Apa yang benar dan yang salah baginya sekarang sangatlah membingungkan.
Di engawa, Reda kembali mengepel semuanya seorang diri. Saat ada suara langkah kaki kecil yang datang, dia menengok ke depan.
“Reda-sama, Reda-sama!!” Ryuunosuke datang dan menghampirinya sambil berlari
“Ryuunosuke? Apa terjadi sesuatu?” Reda panik melihat rubah kecil itu berlari
Ryuunosuke menarik tangannya dan meninggalkan ember berisi air kotor itu di engawa. Dia membawa gadis itu ke dapur dan berbisik dengan ekor yang bergoyang-goyang.
“Reda-sama, sup dan masakan tadi enak! Aragaki-sama menyukai gorengan dan tumisannya!”
Reda terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh rubah kecil itu.
“Sayur tumis apa? Gorengan apa? Aku tidak membuatnya untuk Nushi-sama karena beliau tidak menyukai aromaku, benar kan?”
“Sst! Reda-sama jangan keras-keras!”
Ryuunosuke berbisik kepada Reda.
“Ryuunosuke memasukkan tumis sayur dan gorengan yang dibuat Reda-sama sedikit ke menu makanannya dan semua orang menyukainya. Aragaki-sama bahkan mengatakan ingin memakannya sekali lagi. Karena itu, Reda-sama sebaiknya memasak untuk Aragaki-sama.”
Reda terkejut mendengarnya. Dia berbisik ke telinga rubah kecil itu.
“Itu mustahil, Ryuunosuke. Aroma tanganku pasti akan menempel pada masakannya!
“Tapi Aragaki-sama bilang tidak ada aroma Reda-sama! Lagipula, ini mungkin salah satu jalan agar Reda-sama bisa mencuri perhatian Aragaki-sama! Ryuunosuke yakin itu! Ryuunsouke sangat yakin ini akan berhasil!” bisik si rubah kecil
Reda terlihat begitu ragu, tapi dia juga ingin bisa dekat dan bicara dengan pria yang dia kagumi.
“Aku mengerti. Semoga aku bisa melakukannya. Tolong bantu aku ya, Ryuunosuke.”
Ryuunosuke memeluk Reda dengan ekor yang bergoyang.
“Ryuunosuke akan membantu Reda-sama! Ryuunosuke akan membantu Reda-sama! Kita pasti bisa melakukan sesuatu, Ryuunosuke yakin!”
Malam itu, setelah Reda kembali mengepel engawa dan selesai dengan tugasnya, dia kembali ke gubuk tuannya seorang diri, mengangkat jemuranya, dia membersihkan tubuhnya dan beristirahat.
“Ayah, ibu, Reda senang hari ini. Terima kasih karena masih melihatku dari langit. Besok, Reda akan berjuang untuk memasak demi Nushi-sama. Semoga Nushi-sama menyukai masakan Reda, semoga ada kesempatan untuk Reda bicara dengan Nushi-sama. Semoga di sisa waktu Reda, Reda bisa melakukan yang terbaik.”
Gadis itu tidur dengan banyak harapan dalam doanya.
Keesokan harinya, dia sengaja bangun lebih pagi tanpa sarapan terlebih dahulu demi bisa memasak untuk Aragaki dan yang lain.
Ryuunosuke yang juga sudah menunggu langsung membantu Reda di dapur. Dengan berbagai macam usaha, Reda mencoba untuk memasak tanpa menyentuh bahan makanannya sedikit pun.
Rubah kecil itu membantunya dengan memotong serta memarut semua sayuran dan dagingnya. Reda membuat bumbu dan tepung untuk membuat gorengannya.
“Sayuran parut ini mau diapakan, Reda-sama?”
“Nanti akan digoreng menjadi kakiage. Rasanya enak dan aku yakin Nushi-sama akan menyukainya.”
“Kakiage?”
“Benar. Tamagoyaki-nya diberi sedikit daging yang dipotong agar semakin lezat, Ryuunosuke. Selain itu, sup misonya bisa ditambahkan tahu dan daging yang dipotong kecil-kecil juga seperti ini.”
Rubah kecil yang melihat Reda memasak menjadi sangat bersemangat. Dia melihat cara Reda memasak dan meracik bumbunya.
“Darimana Reda-sama belajar memasak? Bukankah Reda-sama bilang tidak pernah memakan makanan ini?”
“Saat di desa, banyak kedai makanan dan aku sering memperhatikan mereka. Meskipun tidak ada yang memberiku makanan tersebut, tapi aku selalu berharap bisa membuatnya juga. Jadi diam-diam saat memungut sisa makanan, aku selalu memperhatikan mereka membuatnya.”
Ryuunosuke sedikit sedih karena membuat gadis itu mengatakan hal yang tidak menyenangkan, namun Reda memberinya senyuman.
Setelah semuanya selesai, Ryuunosuke begitu senang dengan menu barunya itu. Ryuunosuke segera menatanya ke dalam piring.
Reda dan Ryuunosuke membangunkan Aragaki yang seperti biasa, sudah bangun lebih dahulu sejak dia benar-benar tidak mau dibangunkan oleh gadis desa itu.
Dirinya dan keempat pelayannya yang lain sudah menunggu sarapan paginya. Begitu disuguhkan, semuanya tampak benar-benar terkejut.
“Ini kau yang membuatnya, kan?” tanya Nagi tidak percaya
Ryuunosuke hanya mengangguk dengan senyum percaya diri. Pada suapan pertama, Aragaki terlihat begitu terkejut dan tersenyum pada Ryuunosuke.
“Ini enak. Rubah kecilku benar-benar sangat pintar memasak.” puji Aragaki
Di luar ruang makan, Reda yang mendengar pujian itu tersenyum senang.
“Syukurlah, Nushi-sama menyukainya.”
Setiap makanan yang disuguhkan dimakan dengan lahap dan sesekali pujian demi pujian dari yang lain terdengar. Ryuunosuke menggunakan kesempatan itu untuk membuat Reda mendengarnya.
“Reda-sama dengar itu…semua orang menyukai masakan buatan Reda-sama. Ryuunosuke senang.” kata rubah kecil itu dalam hati
Setiap pujian yang datang membuat wajah Reda terlihat merona. Terlalu senang, gadis itu tidak sadar bahwa dirinya meneteskan air mata.
****