The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 25. Sebuah Kebahagiaan Kecil untuk Reda



Di dapur, Ryuunosuke sibuk menghangatkan kembali sup daging yang dibuat oleh Reda sebelumnya.


“Kalau sampai sup ini harus dibuang, Ryuunosuke akan membawa ini ke tempat Reda-sama dan memberikannya agar Reda-sama bisa makan! Aragaki-sama jahat sekali. Padahal Reda-sama sudah membuatnya dengan susah payah.”


Tidak lama setelah itu, terdengar suara langkah kaki yang datang ke dapur. Ryuunosuke mengira itu adalah Reda yang habis mengepel lantai tapi harapannya pupus. Dia menyadari bahwa itu adalah Nagi dan Ginko.


Telinga Ryuunosuke yang awalnya berdiri karena senang sekarang berubah turun dengan wajah penuh rasa kecewa.


Tapi, tidak sepenuhnya begitu. Dia melihat nampan yang dibawa oleh keduanya kosong.


“Nagi-sama, Ginko-sama, nampannya…”


“Tebak apa yang kami dengar dari Aragaki-sama.”


Ryuunosuke terlihat bingung, namun telinganya tidak berubah. Dia mengira tuannya membuang kembali makanan itu.


“Apa Aragaki-sama membuangnya? Ryuunosuke tau kalau Aragaki-sama pasti membuangnya.”


Niat hati ingin menggoda rubah kecil itu. Tapi mengingat semua yang terjadi membuat kedua youko itu tidak tega dan tersenyum padanya.


“Ryuunosuke, dengar. Nushi-sama memakannya sampai habis dan beliau bilang ingin memakannya lagi. Bukankah itu hebat? Nushi-sama tidak mempermasalahkan aroma tangan Reda-sama demi Ryuunosuke.”


Ginko memberikan nampannya kepada rubah kecil itu. Dia melihat rubah kecil yang kebingungan itu lalu tertawa.


“Ahaha, jangan terkejut begitu. Nushi-sama memang baik. Dia menyukai masakan buatanmu, Ryuunosuke. Dengan begini, baik sayuran itu maupun sup dagingnya bisa disuguhkan untuk makan siang.”


“Hei, jangan lupa daging bakarnya juga ya! Yang itu adalah bagian terbaik masakan hari ini!” tambah Nagi


Ryuunosuke terlihat senang. Dia melompat dan berputar-putar karena terlalu bahagia. Bahkan nampannya itu masih ada di tangannya diangkatnya tinggi-tinggi.


Nagi dan Ginko hanya bisa diam dan melihat satu sama lain. Mereka hanya berpikir bahwa rubah kecil itu begitu senang sehingga memberinya waktu untuk merasakan kebahagiaan itu.


Tidak disangka ternyata Aragaki melihatnya dari ruangannya. Dia menggunakan kemampuan melihat jarak jauhnya. Dengan kemampuan visualisasinya itu, dia bisa melihat rubah kecilnya begitu senang dan berputar-putar di dapur.


“Tampaknya rubah kecil itu sangat senang. Aku harap dia tidak membenciku lagi setelah ini.” katanya sambil tersenyum


Di dapur, Ryuunosuke yang sudah puas berputar-putar dan melompat menghampiri kedua youko tersebut.


“Nagi-sama, Ginko-sama, terima kasih banyak! Terima kasih banyak sudah mau membantu Ryuunosuke untuk membujuk Aragaki-sama memakannya!”


“Syukurlah. Kami harap kamu tidak lagi marah pada Nushi-sama, Ryuunosuke. Nushi-sama pasti akan senang jika makan siang ini ditemani olehmu juga.”


Ryuunosuke langsung terdiam. Dia tidak mengatakan apapun dan terlihat kembali sedih. Nagi menyenggol Ginko dan dia menyadarinya. Segera, pembicaraan itu disudahi oleh mereka.


“Pokoknya, nanti bawakan itu untuk makan siang. Mengerti?” ucap Nagi memastikan kembali


“Mengerti.”


Kedua youko tersebut keluar meninggalkan dapur. Di dalam hatinya, Ryuunosuke berpikir.


“Syukurlah, Aragaki-sama mau memakannya. Dengan begini, satu lagi masakan Reda-sama sudah disukai oleh beliau. Reda-sama pasti akan senang mendengarnya.”


“Selain itu, Ryuunosuke yakin setelah ini, Aragaki-sama akan terbiasa dengan aroma Reda-sama. Ryuunosuke harus mengatakan ini pada Reda-sama setelah ini!”


**


Sementara itu, Reda yang selesai membersihkan lantai membawa air yang kotor ke belakang untuk dibuang.


Gadis itu sempat mencium aroma tubuh dan pakaiannya kembali.


“Jika bekerja dengan aroma daging dan sup seperti ini, mungkin aku akan membuat Nushi-sama semakin marah. Sebaiknya aku pulang sebentar dan–“


Reda melihat dirinya dari pantulan air di ember. Dia melihat wajahnya yang terlihat lelah dan pucat akibat kurang istirahat dan terus menangis.


“Aku baru di tempat ini tiga hari dan entah kenapa tidak ada bedanya dengan di desa.” pikirnya


Setelah itu dia berjalan menuju pintu belakang. Saat bermaksud pergi ke hutan, ada seseorang yang berdiri di hadapannya.


“Hakuren…-sama? Kuroto-sama?”


Reda sempat ingin mundur karena takut. Tapi, sepertinya dia tau kalau keduanya tidak bermaksud buruk.


Mendengar suara tengu yang lembut itu, Reda jadi tidak lagi menampakkan ketakutannya dan segera memberi hormat kepada mereka.


“Selamat siang, Hakuren-sama, Kuroto-sama. Apa ada sesuatu yang bisa dibantu?”


Kuroto hanya bersandar di salah satu pohon, tapi Hakuren seperti membawa sesuatu. Dia mendekati gadis itu dan memberikannya.


“Reda-sama, aku harap kau mau menerimanya.”


“Eh?” Reda terkejut


Siapa yang menyangka bahwa dia akan mendapatkan sesuatu dari pelayan setia Aragaki lainnya selain Ryuunosuke. Reda melihat apa yang diberikan untuknya.


“Ini…”


“Yukata.” kata tengu itu


“Yukata? Untukku? Tapi, Hakuren-sama akan dihukum jika memberikan sesuatu padaku. Nushi-sama sudah berkata padaku agar tidak menerima dan menikmati apapun dari kediamannya. Sebaiknya…sebaiknya ini dibawa kembali, Hakuren-sama!”


Reda terlihat panik.


Dari sudut pandang Kuroto saat ini, dia melihat gadis itu begitu mematuhi Aragaki dan benar-benar berusaha untuk tidak melanggar perintah dari tuannya. Ada sedikit nilai tambah untuk Reda darinya.


Dia menghampiri kedua Hakuren dan mengambil yukata yang dibawa temannya. Dengan paksa dia memberikannya pada si gadis cantik itu dan berkata, “Itu barang bekas yang kami bawa. Kami membawanya dari tempat kami sendiri dan bukan dari kediaman Aragaki-sama. Kau tidak mungkin bekerja melayani tuan kami dengan bau amis itu, kan?”


Ucapan Kuroto memang sedikit ketus dan menusuk, tapi Reda juga tidak menyalahkannya.


“Kuroto-sama benar. Aku memang bau amis sekali. Tapi, menerima pemberian pelayan setia Nushi-sama…apakah nanti mereka tidak akan dihukum?” kata Reda dalam hati


Reda terlihat ragu, namun dia juga ingat kalau pakaiannya yang lain masih kotor. Hanya pakaian lamanya yang masih bersih dan itu dia pakai untuk tidur. Intinya, tidak ada lagi pakaian bersih yang tersisa untuknya.


Dengan tangan gemetar, Reda bertanya sekali lagi kepada dua tengu di hadapannya.


“Apa…apa ini benar-benar untukku?”


“Tentu. Jika Reda-sama dihukum lagi oleh Aragaki-sama, rubah kecil itu akan menangis lagi nanti.” jawab Hakuren dengan senyum


“Jadi…Hakuren-sama dan Kuroto-sama mengetahuinya juga ya?”


Sekarang Reda benar-benar merasa rendah. Dia merasa begitu malu karena hal memalukan yang diterimanya telah diketahui semua penghuni kediaman tersebut.


Gadis itu berpikir kedua pelayan setia Aragaki mungkin datang untuk ikut merendahkannya juga. Tapi tampaknya, mempermalukan Reda bukanlah tujuan kedua tengu itu.


“Jangan salah paham, gadis manusia. Kami mengetahuinya karena kami memang mengawasi seluruh tempat ini. sudah tugasku dan Hakuren untuk berkeliling di Higashi no Mori. Wilayah hutan, desa siluman sampai air sungai dan air terjun di dalam hutan itu adalah wilayah kami. Termasuk kediaman Aragaki-sama.”


“Reda-sama, ini juga.” Hakuren memberikannya kepada Reda. “Ini adalah tanaman herbal dan bunga hutan yang kami ambil dari dalam hutan. Ada banyak yang tumbuh di dalam hutan jika kau mencarinya.”


“Dan yang ini namanya lidah buaya. Cukup jarang di hutan ini tapi kami berhasil menemukannya. Ini cocok untuk membersihkan rambutmu. Rebus saja tanaman ini untukmu mandi agar aroma amisnya hilang.”


Reda terlihat memerah saat menerimanya. Dia tidak bisa menahan air matanya dan dengan senyum yang cantik dia mengucapkan terima kasih kepada kedua tengu itu.


“Terima kasih banyak, Hakuren-sama. Terima kasih banyak Kuroto-sama.”


Kedua tengu itu begitu terpesona dengan kecantikan gadis itu. Mereka jadi bingung dan salah tingkah menghadapinya.


Tidak mau menciptakan hal-hal yang bisa menimbulkan masalah, keduanya terbang dan pergi dari tempat itu. Reda menghapus air matanya dan berlari pulang ke gubuknya.


Dengan menimba air, dia merebus tanaman herbal itu untuknya mandi dan mencuci semua pakaiannya. Dia membersihkan rambutnya dengan tanaman lidah buaya itu dan setelah mandi, dia memakai yukata yang diberikan oleh Hakuren.


“Cantik sekali pakaian ini~”


Reda hanya bisa menahan air matanya. Dia berusaha keras untuk tidak menangis walaupun sulit.


“Terima kasih, Dewa. Terima kasih sudah memberikanku hadiah untuk menutupi rasa sakit ini. Terima kasih banyak.”


Sedikit kejutan manis untuk mengobati perasaan sakit hati Reda. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit pelayan setia Aragaki mulai melihatnya dengan pandangan berbeda.


****