The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 57. Mulai Melihatnya Lebih Dekat



Keesokan paginya, di hari yang cerah, terlihat Jorogumo yang baru saja selesai membersihkan tubuh Reda yang masih belum sadarkan diri.


“Tampaknya dia tidak demam. Mungkin dia kelelahan jadi belum sadarkan diri.”


Jorogumo yang meletakkan ember berisi air dan handuk kecil merapikan pakaian yang dipakai Reda.


“Tapi, aku tidak menyangka bahwa pagi ini Aragaki-sama mengirim Hakuren dan Kuroto untuk menjemputku kembali, bahkan sebelum matahari terbit.”


“Selain itu, aku bisa merasakan bahwa mereka semua sudah bersiap di luar. Meskipun Aragaki-sama tidak ada di sini, namun aku yakin beliau pasti sedang melihat.”


Jorogumo memperhatikan wajah gadis yang masih tertidur itu.


“Aku tidak percaya kalau dia gadis lusuh dan kotor yang diceritakan oleh semua orang.” gumamnya pelan


“Jika dia memang gadis licik seperti yang dikatakan itu, tidak mungkin kelima pelayan Aragaki-sama sampai begitu khawatir padanya. Apa semua rumor itu salah sejak awal?”


Di saat wanita laba-laba itu bergumam sendiri, dia melihat mata Reda bergerak.


“Ah…”


“Mmm…” Reda mulai membuka matanya perlahan. “Dimana…ini?”


“Kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?”


Reda melihat sosok wanita yang sangat cantik di hadapannya. Awalnya, pandangan mata itu masih buram. Namun setelah beberapa saat, Reda mulai bisa melihat sosoknya dengan jelas dan itu membuatnya panik.


“Siapa?!” Reda memaksakan dirinya untuk bangun karena terkejut. Akibat luka di punggungnya yang masih belum sembuh, Reda hampir terjatuh karena menahan sakit. “Ah!”


“Hati-hati!” Jorogumo memegangi gadis itu


“Ma–maafkan aku, No–nona.”


“Nona katamu?” Jorogumo terkejut mendengarnya. Dia merasa senang dipanggil nona yang memiliki kesan muda.


“Anak ini punya selera yang bagus. Aku tau aku cantik.” gumam wanita itu memuji dirinya sendiri


“Kamu masih terluka, sebaiknya jangan bergerak dulu.”


Reda memandangi wanita di depannya, “Anda siapa?”


“Namaku Jorogumo. Aku dipanggil ke sini untuk membersihkan tubuh dan mengganti pakaianmu selama kamu tidak sadarkan diri. Apa ada yang dirasa tidak nyaman?”


“Mengganti…pakaian?”


Reda memperhatikan pakaiannya. Dia melihat sekeliling ruangan itu.


“Ini…bukan di gubuk tua di dalam hutan?”


“Gubuk tua? Tentu saja bukan. Ini di dalam kediaman Aragaki-sama. Kemarin sore, kamu pingsan karena terluka dan Aragaki-sama sendiri yang memanggilku ke tempat ini.”


“Eh? Nushi-sama yang…memanggil?”


“…” Jorogumo terlihat terkejut. Dia memiliki sedikit pandangan tentang gadis di depannya.


“Dia lebih sopan dari yang aku duga. Aku yakin rumor yang dibicarakan oleh semua orang itu salah. Tapi, apakah sepenuhnya salah? Entah kenapa aku jadi ingin mengetahui soal gadis ini.”


“Ah, mohon maaf. Namaku Reda. Aku datang dari Desa Kamakura sebagai calon ‘pengantin’ untuk Nushi-sama.”


“Aku sudah tau. Kabar mengenai calon ‘pengantin’ akan langsung diketahui semua penduduk Higashi no Mori.”


“Be–begitu….”


Tidak lama kemudian, suara langkah kaki kecil terdengar bersamaan dengan suara pintu terbuka dari sisi dalam.


“Reda-sama!!”


“Eh?!” kedua orang yang ada di dalam ruangan terkejut


Rubah kecil yang datang dari arah dalam langsung memeluk Reda sambil menangis.


“Reda-sama! Reda-sama, Reda-sama! Syukurlah, syukurlah! Ryuunosuke senang Reda-sama sudah bangun. Huwaa…hiks…hiks…”


“…” Jorogumo terdiam dengan wajah terkejut


Reda merasa senang bertemu rubah kecilnya. Dengan lembut, gadis itu memeluk rubah kecilnya. Dia mengusap-usap kepala Ryuunosuke dan memberinya senyuman.


“Ryuunosuke, rubah kecil manisku. Apa kamu baik-baik saja?”


“Hiks…Ryuunosuke sangat khawatir. Huwaa…”


“Ryuunosuke, jangan menangis. Aku sudah lebih baik. Cup cup cup, anak manis.” Reda menggendongnya dan memeluknya di dekapannya. Rubah kecilnya membalas dengan memeluknya.


Melihat pemandangan itu, Jorogumo kali ini tidak bisa berhenti bertanya-tanya.


“Ini sungguhan? Ryuunosuke kecil benar-benar manja pada gadis manusia ini? Ini sungguhan?”


Reda melihat wajah rubah kecilnya dan menghapus air matanya.


“Beri aku senyuman.”


Rubah kecil langsung memberikan senyumannya dengan ekor yang bergoyang cepat tanda dia senang.


Jorogumo yang melihat itu tersenyum, “Akhirnya aku mengerti kenapa pita Ryoko ada padanya. Rubah kecil itu…Ryuunosuke kecil pasti memberikannya.”


Reda langsung menyadari sesuatu, “Ah, Ryuunosuke dengar! Nushi-sama menerima hadiahnya! Senangnya~Ryuunosuke harus tersenyum sekarang. Nushi-sama tersenyum, Ryuunosuke!”


“Ryuunosuke sudah tau. Terima kasih, Reda-sama~”


Mereka tertawa bersama. Keempat pelayan Aragaki yang masih berada di luar hanya mendengarkan. Mereka sepakat tidak mengganggu rubah kecil itu dengan gadis desa untuk sementara.


**


Di ruangannya, Aragaki memandangi ikebana yang diberikan padanya di meja kerjanya. Dia melihat semua yang terjadi pada gadis itu dan rubah kecilnya pagi ini dari kemampuan visualisasinya.


“…”


Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, sebuah senyuman terlihat di wajah Aragaki dan sebuah ingatan dari kata-kata rubah kecilnya muncul.


[Aragaki-sama, Ryuunosuke mohon tolong lihat Reda-sama baik-baik. Reda-sama begitu mencintaimu, Reda-sama begitu mencintai Aragaki-sama]


“Cinta…”


Hati Aragaki mulai tergelitik. Dia pergi keluar ruangannya untuk melihat keadaan gadis desa yang dianggapnya kotor itu sendiri.


**


-Kruuyuuuk


“Hmm?” Ryuunosuke dan Jorogumo mendengar suara panggilan perut seseorang


“Ma–maafkan aku!”


Wajah Reda memerah karena malu. Itu adalah suara perutnya yang meminta hak mereka karena sejak sore mereka tidak terisi apapun.


“Reda-sama lapar? Ryuunosuke membuat sup dan tamagoyaki. Tunggu sebentar ya.”


Rubah kecil itu langsung berlari ke dapur untuk mengambilnya.


“Ahahaha! Gadis kecil, sepertinya perutmu jauh lebih ceria pagi ini. Kalau begitu aku akan pulang kembali. Semoga cepat sembuh, Reda-sama.” Jorogumo tersenyum padanya. Reda menundukkan kepalanya dan memberikan senyumannya.


Begitu keluar, Jorogumo bicara pada keempat pelayan Aragaki.


“Dia sudah ceria kembali. Rubah kecil itu memberinya pelukan pagi ini.”


Terlihat wajah lega dari mereka berempat.


“Jorogumo-san, aku akan mengantarkanmu kembali.” kata Hakuren


“Tidak perlu. Aku akan pergi ke ruangan Aragaki-sama dan–…Aragaki-sama!”


Jorogumo langsung menunduk memberi hormat. Keempat pelayannya juga berlutut dan menyambut kedatangan sang penguasa.


“Selamat pagi, Aragaki-sama.”


“Selamat pagi, Nushi-sama.”


“Pagi. Bagaimana di dalam, Jorogumo?” Aragaki bertanya pada Jorogumo sebagai bentuk basa-basinya. Dia hanya ingin mencari alasan untuk melihat ke dalam tanpa dicurigai yang lainnya.


“Gadis itu…Reda-sama sudah bangun. Ryuunosuke kecil sedang ke dapur untuk mengambilkan sarapan untuknya.”


“Lukanya?”


“Lukanya sudah hampir sembuh, meskipun begitu dia masih belum boleh melakukan pekerjaan berat untuk 4-5 hari ke depan agar obatnya benar-benar membuat lukanya kering dan tertutup seutuhnya.”


“Aku mengerti. Hakuren, tolong antar Jorogumo.”


“Baik. Silahkan lewat sini, Jorogumo-san.”


Hakuren berjalan bersama Jorogumo. Begitu sampai di pintu gerbang, wanita itu bertanya padanya.


“Hakuren, gadis bernama Reda-sama itu sangat berbeda dari yang lain. Dia tersenyum dan memeluk rubah kecil itu. Caranya itu mirip dengan yang selalu dilakukan Ryoko.”


Hakuren berhenti dan tersenyum, “Jorogumo-san, Reda-sama adalah calon pengantin Aragaki-sama.”


“Eh?”


“Reda-sama kelak…akan menjadi istri Aragaki-sama. Itulah yang kami semua yakini. Aku yakin, mereka yang ada di langit juga memberikan restunya.”


Begitu yakinnya Hakuren menjawab wanita itu.


“Ah, begitu rupanya. Ternyata semua rumor itu hanyalah kepalsuan. Gadis manusia itu memang…orang yang baik.”


**


Sementara itu di luar  ruangan Reda, Ginko menarik tangan Nagi dan Kuroto untuk meninggalkan Aragaki sendiri. Keduanya menyadari isyarat itu dan mengangguk.


“Nushi-sama, kami permisi dulu. Kami akan bekerja sampai waktu sarapan tiba.”


“Kami permisi, Aragaki-sama.”


Mereka langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Sekarang hanya tinggal sang penguasa sendirian.


Terlihat keraguan darinya, tapi dia memutuskan untuk masuk.


“Aku akan melihatnya dari dekat. Aku ingin tau, apa yang membuat mereka begitu keras membelanya.”


Begitu pintu dibuka, pandangan Aragaki langsung tertuju pada gadis itu. Reda yang melihat kedatangan Aragaki-sama terkejut.


Mata mereka saling memandang satu sama lain. Tidak ada yang menyangka bahwa Aragaki yang selalu menolak untuk bertemu dengannya, kini justru masuk untuk melihatnya sendiri.


Wajah Reda langsung merah merona karena senang bercampur malu. Detak jantungnya begitu cepat hingga membuatnya dingin dan gemetar.


“Nushi-sama…”


Gadis itu langsung panik dan bermaksud untuk bersujud padanya, namun karena tubuhnya masih sakit membuatnya sulit bergerak.


Di saat dia hampir terjatuh karena memaksakan diri, hal itu terulang kembali.


Aragaki berlutut untuk menangkapnya sebelum tubuh gadis itu terjatuh ke tatami. Reda yang terkejut tanpa pikir panjang langsung menengok ke atas.


Siapa yang menyangka bahwa wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. Itu adalah wajah yang sangat dekat. Seakan hanya napas yang membatasi keduanya, pandangan mata itu saling bertemu.


Sebuah kejutan sangat manis untuk perasaan gadis desa yang cantik dan lugu. Di saat sang pujaan hatinya berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya, pikirannya tidak bisa lepas darinya.


Dan untuk sang penguasa yang membenci manusia, ini kali pertamanya berada dalam jarak sedekat itu.


Tubuhnya secara tak sadar menangkap gadis yang dianggapnya kotor, seakan ingin dirinya yang menjadi tempat untuk bersandar.


****