
Reda hampir kehilangan fokusnya dan melupakan tugasnya. Dia segera masuk untuk melipat pakaian di keranjang dan pergi untuk membantu Ryuunosuke di dapur.
Aragaki melihat ke arah tempat gadis itu melihat dirinya. Dia menatapnya dengan tatapan sinis dan dingin penuh dengan kebencian.
“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima kehadirannya di tempat ini.”
**
Di dapur, Reda datang dengan membawa keranjang pakaian bersamanya.
“Ryuunosuke, dimana aku bisa melipat pakaian ini?”
“Ah, Reda-sama! Reda-sama bisa melipatnya di ruangan sebelah. Nanti letakkan saja di sana, Ryuunosuke yang akan mengurusnya.”
Reda tersenyum dan pergi ke ruangan di sebelah dapur. Selesai melipat dua pakaian yang dijemur olehnya, Reda kembali ke dapur lagi.
“Ryuunosuke, maafkan aku. Pakaian miliki Nushi-sama masih belum aku angkat karena Nushi-sama melarangku untuk menyentuh pakaiannya. Jadi…”
“Tidak apa-apa. Ryuunosuke akan mengangkatnya setelah ini. Tolong jaga masakan ini sebentar ya, Reda-sama.”
“Baik.”
Ryuunosuke pergi untuk menangkat pakaian di belakang meninggalkan Reda di dapur seorang diri.
Reda memperhatikan semua sayur dan sup yang sedang dibuat oleh Ryuunosuke. Mungkin karena penasaran apakah sup itu sudah matang atau belum, Reda mencicipinya sedikit.
“Hmm, rasanya ada yang sedikit kurang.”
Reda meracik bumbunya sendiri dengan mencicipi semua bumbu yang ada di sekitar meja dekat tungku. Setelah memasukkan bumbunya semua, Reda mencicipinya kembali.
“Hmm~sudah pas. Semoga saja semuanya menyukai rasa sup buatan Ryuunosuke.” ucapnya dalam hati
Reda melihat beberapa sayuran seperti lobak dan wortel di sana. Berpikir untuk membuat sedikit hidangan lauk sebagai teman makan malam Ryuunosuke nanti, dia memotong setengah dari sayuran tersebut dan memarut sisanya.
Gadis itu memasukkan sayuran yang dipotong itu ke dalam tepung yang sudah disiapkan Ryuunosuke sebelumnya, sedangkan sayuran yang sudah diparut itu dimasaknya sebagai tumisan.
Dengan memasukkan beberapa bumbu yang dia pikir bisa membuat rasa masakannya lezat, Reda terlihat begitu berhati-hati dalam memasaknya.
“Aku tidak boleh sampai menyentuh sayurannya agar aroma tanganku tidak merusak rasanya. Kasihan kalau sampai Ryuunosuke mencium aroma tanganku yang kotor.”
Dengan menggunakan sendok kayu besar di dekatnya dan sumpit, Reda membuat sayuran tersebut menjadi makanan yang terlihat lezat.
“Aku senang aku bisa membuat makanan yang sama seperti yang kulihat di desa dulu. Aku harap Ryuunosuke menyukainya. Aku sudah buat banyak untuk rubah kecil manis itu.” ucap Reda dengan senyumannya
Reda menata semua masakan yang telah matang ke dalam piring. Begitu Ryuunosuke sampai, dia melihat masakan asing yang belum pernah dia lihat,
“Huwaaa~ ini Reda-sama yang membuat?”
“Benar. Ini khusus untuk Ryuunosuke, aku sudah membuat sangat banyak agar Ryuunosuke senang. Cicipi dulu.”
Rubah kecil itu terlihat senang dengan mata berbinar sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Begitu dia memakan dua masakan yang dibuat Reda, dia terlihat bahagia sekali.
“Ini enak! Reda-sama gorengan ini enak. Tumis sayur yang diparut ini juga enak~”
“Benarkah, syukurlah~” Reda tersenyum karena senang
“Tapi, Reda-sama juga harus mencicipi ini. Ini masakan buatanmu.”
“Aku tidak boleh makan apapun dari sini, Ryuunosuke. Ini aku buat khusus untukmu sebagai ucapan terima kasihku. Ah, masakannya sudah aku masukan ke dalam piring yang lain. Kita antar ke tempat Aragaki-sama dan yang lain ya. Setelah itu, aku akan pergi ke hutan sebentar untuk makan.”
Ryuunosuke menjadi sedih mendengar ucapan Reda. Melihat telinga dan ekor rubah kecil itu turun, Reda langsung memberikan usapan lembut dengan senyuman.
“Jangan memasang wajah begitu. Aku tidak apa-apa. Ayo, kita antarkan ini dulu ya.”
“…” Ryuunosuke terdiam
Hanya ingin membuat Reda mendapat perhatian dari majikannya, secara diam-diam Ryuunosuke menambahkan dua menu yang dimasak oleh Reda ke tiap piring dan menutupnya agar tidak diketahui gadis desa itu.
“Pokoknya, Ryuunosuke akan membuat Aragaki-sama mau menerima Reda-sama! Ryuunosuke akan membuat Reda-sama dan Aragaki-sama bersama!” pikir rubah kecil itu dalam hati
Dia melihat Reda diam-diam, “Ibu, Reda-sama adalah orang yang baik. Kalau ibu masih hidup dan bertemu dengannya, Ryuunosuke yakin ibu juga akan senang dengan Reda-sama. Reda-sama adalah gadis manusia yang tepat untuk Aragaki-sama. Tolong bantu Ryuunosuke juga, ibu. Ryuunosuke ingin Reda-sama mendapat perhatian dari Aragaki-sama juga.”
Di taman, pohon sakura itu mulai tertiup angin dan banyak sekali kelopak bunganya yang berguguran. Bersamaan dengan itu, kuncup baru mulai tumbuh kembali dan bermekaran.
Aragaki yang masih ada di bawahnya terkejut melihat hal itu.
“Kalian…apa kalian ingin mengatakan sesuatu padaku?”
Kuncup sakura yang terlihat begitu cepat tumbuh semakin banyak membuar pohon sakura itu terlihat bermekaran dengan indah.
Ryuunosuke meminta izin terlebih dahulu pada Reda untuk memanggil Aragaki.
Setelah sang majikan dan yang lainnya sudah berada di dalam ruang makan, Ryuunosuke yang dibantu Reda mulai membawakan makanannya.
Reda langsung pergi ke hutan karena harus makan malam sebelum menyelesaikan pekerjaannya lagi dan Ryuunosuke tidak mengatakan apapun kepada semua orang di ruang makan.
Dia keluar begitu selesai memberikan makanannya.
Aragaki dan lainnya melihat makanan yang ditutupi oleh Ryuunosuke. Nagi dan Kuroto sempat memberikan komentar mereka.
“Apa ini sebuah kejutan? Rubah kecil itu sepertinya membuat menu…hoo, lihat ini! Dia membuat menu baru rupanya.”
“Pantas dia menutupinya. Aku penasaran apakah rasanya enak?”
Aragaki mencium makanan itu terlebih dahulu.
“Tidak ada bau gadis kotor itu. Tampaknya ini dibuat oleh Ryuunosuke.” katanya
Mendengar hal itu, semua orang manjadi lega karena mereka bisa mencicipin makanan itu terlebih dahulu.
“Enak! Ini enak! Rubah itu jenius!” puji Nagi dengan wajah senang
“Ini cocok sekali dimakan sebagai cemilan juga bersama sake atau teh hangat.”
“Hakuren, tumisannya juga enak! Kau harus mencicipi ini!”
“Ku benar, Kuroto. Aragaki-sama, cicipi tumis buatan rubah kecil itu. Rasanya benar-benar enak.”
Aragaki mendengarkan saran Hakuren dan mencicipi masakan tersebut.
“Enak…”
Tidak ada kalimat lain yang dikatakan oleh sang majika kecuali kata ‘enak’ dari mulutnya.
Di waktu yang sama, Ryuunosuke memakan masakan buatan Reda dengan lahap. Dia menghabiskan masakan buatan gadis itu terlebih dahulu sampai tak bersisa. Begitu meminum sup miso yang ada di mangkuk, dia benar-benar dibuat hampir menangis.
“Ini bukan rasa sup buatan Ryuunosuke. Reda-sama pasti membuatnya begitu enak seperti ini…”
Ekor tebalnya mulai bergoyang-goyang menikmati supnya. Wajahnya terlihat begitu senang sekali. Hal tersebut juga dirasakan oleh semua orang di ruang makan.
“Ini sebuah kemajuan! Rubah kecil itu membuat rasa sup miso ini semakin enak.” puji Kuroto
“Aku rasa aku lebih menyukai sup buatannya yang sekarang ini. Bagaimana denganmu, Nagi?”
“Aku setuju denganmu, Ginko. Aku lebih menyukai rasa yang ini. Aragaki-sama, bagaimana dengan Anda?”
Aragaki meminumnya dan tersenyum.
“Aku juga sependapat. Rubah kecilku tampaknya sedang bahagia sekarang. Ini enak. Aku menyukai sup ini. Aku rasa besok aku akan memintanya membuatkan sup ini kembali.”
“Setuju! Sebaiknya memang begitu. Hammph.”
Nagi langsung melahap habis makanan di piringnya. Tidak seperti biasanya, Aragaki juga mulai memakannya dengan cepat. Bagaikan mendapatkan nafsu makannya kembali, dia menghabiskannya tanpa membutuhkan waktu lama.
**
Di dalam hutan yang gelap, gadis itu pergi mencari kayu bakar dan ranting serta dedaunan kering. Dia juga mencari batu yang mungkin bisa dipakai sebagai pemantik api. Untuk beberapa waktu, Reda mencoba beberapa batu yang mungkin bisa menghasilkan api.
Setelah menghabiskan cukup banyak waktu, dia berhasil menemukan batu sebagai pemantik dan ranting untuk membuat api. Gadis cantik itu kembali ke gubuk.
Di dalam gubuk tuanya, Reda mengambil sayuran liar yang sudah disimpanya dan memotong semuanya dengan pisau berkarat yang ada di dalam gubuk. Dia menyalahkan api menggunakan dua buah batu yang ditemukannya di hutan untuk merebus sayuran liar tersebut.
“Karena tidak ada bumbu apapun kecuali menggunakan nobiru (bawang liar di hutan Jepang), aku berharap rasanya enak dan tidak pahit.”
Reda merebusnya cukup lama. Setelah dirasa matang, Reda mulai memakannya. Rasanya memang hambar, namun itu cukup karena ada rasa manis alami dari sayuran tersebut. Bawang liar yang dimasaknya sebagai satu-satunya penyedap juga membuatnya tidak terlalu buruk.
“Syukurlah, aku bisa memakannya. Setidaknya, aku bisa makan malam hari ini.” ucapnya dengan senyuman
Reda dengan lahap memakan semua masakannya itu. Rasa hambar dengan sedikit manis bukanlah masalah untuknya. Karena tidak ada nasi, dia mengenyangkan perutnya dengan langsung menghabiskan semua sayuran liar yang dimasaknya.
“Besok, semoga bisa menemukan yang lainnya sebanyak ini juga.”pikirnya
**
Di ruang makan, Aragaki dan keempat pelayannya merasa sangat puas dengan makan malam hari ini.
“Aku akan katakan pada si rubah kecil itu untuk memasak dengan rasa seperti ini lagi. Kenapa tidak dari kemarin dia membuatnya?” ucap Nagi sampai melihat kembali piringnya yang kosong
“Aku setuju denganmu, Nagi. Aku ingin dia membuat sup dan tumis seperti ini. Lobak gorengnya juga enak.” ujar Hakuren
Ginko melihat tuannya tersenyum untuk pertama kalinya setelah makan. Dia terlihat senang dan bertanya pada sang majikan.
“Nushi-sama, apa Nushi-sama merasa senang?”
“Hmm, senang. Aku sangat senang. Aku akan berterima kasih pada rubah kecilku itu.”
Ryuunosuke datang tidak lama setelah dirinya makan untuk membereskan piring.
“Permisi, apa kalian semua sudah selesai?”
“Ah! Rubah kecil!!”
Nagi berdiri dan mengangkat Ryuunosuke tinggi-tinggi.
“Huwaa, Nagi-sama! Turunkan Ryuunosuke!!”
“Ahahaha, kau jenius! Aragaki-sama dan kami semua menyukai sup misomu malam ini! tumis sayur dan gorengannya juga lezat! Besok, jangan lupa buatkan ini lagi ya!”
Ryuunosuke terkejut mendengarnya. Dia melirik piring kosong milik mereka. Tidak ada satu butir pun yang tersisa. Ini sedikit disayangkan karena dia sedikit berharap ada makanan sisa untuk diolahnya kembali sebagai makan malam Reda.
Namun, ekornya bergoyang-goyang karena senang mendengar pujian tersebut. Tentu saja dia tau siapa yang membuatnya.
Aragaki menghampiri Nagi dan Ryuunosuke. Nagi langsung menurunkan rubah kecil itu kembali. Sambil berlutut, Aragaki memuji Ryuunosuke.
“Awalnya aku sempat berpikir bahwa mungkin saja gadis kotor itu yang membuatnya. Tapi, aku tidak mencium aromanya sama sekali dan menjadi yakin bahwa itu adalah buatan Ryuunosuke. Besok pagi, aku boleh memakan masakan seperti itu lagi?”
Ryuunosuke hanya mengangguk dengan perasaan senang.
“Tidak ada aroma tangan Reda-sam katanya, ini mungkin bisa jadi kesempatan bagus! Ibu, Ryuunosuke sudah mendapatkan kesempatan untuk Reda-sama mencuri hati Aragaki-sama! Hal ini tidak boleh sampai dilewatkan!” pikir si rubah kecil
Ryuunosuke mendengar pujian lagi dan lagi mengenai masakan yang dicicipi oleh semuanya dan dia bersyukur sudah menambahkan menu itu ke dalam makanan mereka.
“Reda-sama, Ryuunosuke akan membuat semua orang mau menerimamu! Ryuunosuke akan berjuang juga!”
****