The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 104. Janji di Bawah Bunga Sakura



Pagi itu benar-benar sangat ramai sekali. Reda bahkan sangat terkejut mendapatkan sapaan yang begitu lembut dan hangat dari pria yang begitu dicintainya dalam diam.


Sejak pagi, wajah Reda tidak bisa berhenti untuk memerah dan dia seperti tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Bahkan saat dirinya sedang menyiapkan sarapan di dapur bersama rubah kecil manisnya itu, dia masih terus memerah.


“Bagaimana ini? Rasanya aku demam sekarang, Ryuunosuke. Wajahku merah dan detak jantungku tidak bisa berhenti berdebar-debar.”


“Ini pasti karena Aragaki-sama semakin genit dan tidak senonoh, Ryuunosuke yakin. Aragaki-sama jadi genit sekali pada Reda-sama. Mengelus-elus pipi Reda-sama seperti–”


“Ryuunosuke, jangan bicara lagi!” Reda panik dan menutup mulut rubah kecil itu dengan lembut. Wajahnya merah sekali kali ini.


“Jangan katakan hal yang memalukan begitu. Itu tidak benar, Nushi-sama sangat…”


-Bluuuush


Reda tidak belajar dari pengalaman.


Tapi, sifat polos itu justru membuat Ryuunosuke senang dengan gadis kesayangannya itu. Dia melepaskan tangan lembut Reda dan tersenyum senang.


“Jika Aragaki-sama dengar, beliau juga pasti akan merah seperti Reda-sama.”


“Benarkah?”


“Pasti begitu. Bagaimanapun juga, Aragaki-sama sudah tidak akan pernah membenci Reda-sama lagi.”


“Begitu, syukurlah. Itu artinya aku…masih boleh jatuh cinta padanya.” Ekspresi lembut dari Reda membuat Ryuunosuke bahagia. Dia hanya ingin agar gadis kesayangannya itu benar-benar menjadi pendamping dari sang majikan.


Tanpa diketahui keduanya, kedua tengu yang mengamati terlihat serius. Bukan hanya itu, di depan dan pintu belakang kediaman Aragaki sekarang, Nagi dan Ginko berjaga untuk memastikan keamanan tempat tersebut.


**


Di ruangannya, Aragaki mulai memikirkan semuanya. Semua yang dimaksud adalah laporan soal hutannya yang mengering, menghitam dan berubah mati di sebagian tempatnya.


Satu jam setelah dirinya keluar pagi ini sebelum Reda bangun, ternyata dia kembali keruangannya, membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya dan memanggil keempat pelayannya yang saat itu ternyata ikut berjaga semalaman.


Rupanya, Nagi dan teman-temannya tidak tidur. Mereka ikut berjaga di luar kediaman Aragaki untuk memastikan semua aman dari penyusup.


“Nagi, Ginko, Hakuren, Kuroto.” sang penguasa memanggil keempat pelayan setianya


Tidak membutuhkan waktu lama, keempatnya yang berada di luar langsung muncul di hadapan sang majikan.


“Kami di sini, Aragaki-sama.”


“Kalian harus menjelaskan semua ini. Terutama kalian, Hakuren, Kuroto.”


Kedua tengu itu menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menceritakan awal dari penemuan tersebut saat mereka memutuskan untuk menyelidiki sendiri sumber kekhawatiran sang majikan.


Saat mereka ke hutan, mereka tidak menyadari adanya hal buruk tersebut dan ketika menyadari hal tersebut, semuanya telah menyebar.


“Memang hanya sebagian wilayah dan itu tidak banyak, tapi hutanku tetap rusak oleh kegare itu dan semua itu adalah milik Ara-mitama.” kata sang penguasa pada keempat pelayannya


Aragaki kembali melanjutkan kalimatnya tersebut.


“Kegare hanya bisa dihasilkan oleh Ara-mitama dan aku berharap kalian tidak lupa akan kenyataan itu. Dan Ara-mitama hanya tinggal bersama dengan Nue sejak 200 tahun lalu.”


“Sekarang aku sudah tau siapa yang mengincar gadis itu. Dia kemungkinan adalah Ara-mitama.”


“Begitu rupanya. Sekarang jika digabungkan dengan apa yang terjadi hari ini, maka semuanya sudah jelas.” Nagi mencoba menyimpulkan


“Apa maksudnya itu, Nagi?” Hakuren bertanya pada Nagi


Nagi menjelaskan semuanya pada Hakuren dan Kuroto, sejak mereka tidak tau mengenai hal ini sebelumnya.


“Hari ini setelah aku dan Ginko berbelanja, kami merasa diikuti oleh sosok lain. Selain itu, di pasar kami juga menegur beberapa orang yang menyebarkan gosip buruk tentang Reda-sama.”


Ginko ikut menambahkan, “Saat kami menegur mereka, mereka mengatakan mendengar berita itu dari saksi yang mengaku sebagai orang yang tau semua itu.”


“Dia juga berkata bahwa mereka tidak ingat sosoknya. Begitu kami kembali, kami merasa diikuti dan Nagi memancingnya untuk keluar.”


“Ketika serangan Nagi sedikit mengenainya, aku dan Nagi percaya bahwa itu adalah mitama, meskipun tidak jelas jenis mitama yang mana.”


“Lalu di hutan, kalian menemukan bagian hutan yang mati dan menghitam karena kegare. Itu menjelaskan bahwa kemungkinan yang terkena serangan kami sebelumnya adalah Ara-mitama karena kegare hanya bisa dihasilkan oleh mereka.”


“Dan kemungkinan, dia memotong bagian tubuhnya sendiri kemudian meninggalkannya di hutan dan berubah menjadi kegare.”


“Karena itu, mencocokkan dari kejadian itu…Nushi-sama mengetahui bahwa Ara-mitama kemungkinan yang mengawasi Reda-sama sejak beberapa waktu lalu.”


Penjelasan Ginko sangat logis dan kedua tengu itu akhirnya menemukan kecocokkannya.


Hakuren bahkan memikirkan kemungkinan terburuk, “Semua cerita itu…sepertinya memang benar. Dan jika kita tidak segera menemukan keberadaan Ara-mitama, maka Reda-sama mungkin akan…”


Ketiga temannya yang lain mulai terlihat cemas. Namun, Aragaki dengan tegas mengatakan, “Tidak akan kubiarkan ada seseorang yang mencoba mencelakai gadis itu.”


“…!”


“Aku akan menjaga keselamatannya. Selama dia tidak keluar dari tempat ini, semua akan baik-baik saja.”


Begitulah yang terjadi sebelum Reda bertemu dengan sang penguasa pagi ini.


Di waktu saat ini, Aragaki berpikir untuk mulai serius menghadapi masalah ini.


“Aku mungkin terlalu berlebihan, namun sekarang aku semakin yakin bahwa iblis Nue mungkin ada hubungannya dengan ini semua.”


“Semua yang berhubungan dengan para gadis kotor dari desa terkutuk itu selalu berakhir dengan kematian dan mereka semua memiliki nasib yang sama yaitu menjadi makanan untuk Nue.”


“Jika memang dia mengincarnya, itu berarti bisa saja dia akan melakukan hal yang buruk pada gadis itu. Misalnya…”


“…”


Akhirnya ada sebuah hal yang telah berada di titik terang. Meskipun hanya prasangka, namun itu bisa saja benar.


“Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan menemui Nue setelah ini.”


Pagi itu, niat Aragaki sudah jelas. Namun tampaknya ada yang bisa menunda semua rencana itu dan hal tersebut adalah gadis desa itu.


Ketika sarapan sudah siap, gadis desa yang mencuri perhatian Aragaki datang bersama rubah kecil kesayangannya.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke dan Reda-sama datang. Sarapan sudah siap, Aragaki-sama!”


Semua pemikiran berat yang baru saja ada di benaknya seketika menghilang seperti tidak pernah ada. Dia berdiri dan keluar sambil memandangi wajah cantik dari gadis desa yang dulu begitu dikutuk olehnya.


Senyum merona sang gadis desa tidak pernah lagi bisa ditolak oleh Aragaki dan hatinya selalu ingin dekat dengannya tanpa disadari.


Berbeda dengan sebelumnya, Aragaki mulai menerima perasaannya sendiri. Dia jatuh cinta pada gadis desa itu dan masih menunggu waktu sampai hatinya bisa mengatakannya tanpa beban.


Di pagi itu, duduk dan menghabiskan waktu sarapan di samping gadis desa itu menjadi kebiasaan baru untuk sang penguasa dan mulai saat ini, mungkin hal itu tidak akan pernah hilang lagi dari kebiasaannya.


Selesai sarapan, Reda menyapu halaman dan taman sendirian karean rubah kecilnya pergi ke hutan bersama kedua youko untuk mencari sayuran liar.


Yang dibersihkan oleh Reda adalah kelopak bunga sakura yang gugur.


“Aku akan meletakkan kalian di bawah pohon lagi. Jadi biarkan aku membersihkan kalian ya.” ucapnya sambil tersenyum


Alasan dia mengatakan hal tersebut karena Reda percaya pada apa yang dikatakan semua orang.


Setiap kelopak bunga sakura yang ada di kediaman Aragaki adalah jiwa dari semua siluman yang gugur saat tragedi berdarah 200 tahun yang lalu. Karena itu, Reda menganggap bahwa kelopak sakura yang berguguran juga adalah jiwa mereka semua.


Saat itu, angin sedang tenang sehingga dia bisa mendapatkan beberapa tumpuk kelopak sakura.


“Nah, jika diletakkan di sini, kalian akan bisa bersama yang lain. Tidak perlu terpencar lagi.”


Diam sejenak, Reda berlutut dan tersenyum sambil mengambil beberapa kelopak bunga sakura.


“Terima kasih sudah mau mekar dan terus mengobati rasa sedih Nushi-sama. Kalian sudah mekar dengan cantik dan mengobati luka Nushi-sama.”


“Terima kasih juga sudah mau melindungi semuanya. Kalian benar-benar sangat mencintai Higashi no Mori, iya kan? Semoga kalian tenang dan selalu bahagia di langit.”


Saat berdiri, Reda tidak menyadari bahwa di belakangnya sudah ada sang penguasa yang mendengar semua itu.


Dengan senyum dan santainya, dia melihat ke atas pohon sakura. Sekarang, dia melihat pemandangan yang indah dari bawah.


“Di desa, aku tidak pernah melihat bunga sakura tumbuh. Rasanya senang karena masih hidup dan melihatnya sebanyak ini.”


Aragaki hanya mendengar gadis itu terus bergumam sendiri tanpa mengatakan apapun.


“Aku ingin tau…apakah mendiang ibu Ryuunosuke ada di antara ribuan kelopak bunga sakura itu ya?”


“Beliau pasti senang melihat rubah kecil manisnya selalu tersenyum. Sudah begitu, dia pandai membuat lagu yang lucu.”


“Ahaha, rasanya menyenangkan mendengarnya bernyanyi sambil menggoyangkan ekornya.”


Reda kembali menyapu kelopak bunga sakura di dekatnya dengan senyum. Sampai akhirnya dia sadar bahwa ada yang melihatnya. Ketika menengok, sosok di dekatnya adalah sang penguasa.


“Nushi…-sama…”


Aragaki hanya tersenyum dan berjalan mendekati gadis itu. Reda menggenggam gagang sapu di tangannya dengan erat karena begitu malu, namun dia berusaha bersikap biasa.


“Masih menyapu sendirian?”


“Iya.”


Reda terlihat malu. Dia bahkan berpikir bahwa semua yang diucapkannya tadi terdengar jelas oleh sang penguasa. Hingga akhirnya gadis itu bertanya, “Sejak kapan…Nushi-sama ada di sini?”


Aragaki berbohong, “Aku baru datang.”


“Begitu.” Reda merasa lega seketika. Dia bahkan menunjukkan senyum cantik yang membuat hati Aragaki melunak, bisa dibilang meleleh.


“Cantiknya.” itulah yang dikatakannya dalam hati


Aragaki memantapkan hatinya dan berkata pada sang gadis, “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”


“Mengatakan sesuatu?”


“Aku akan melindungimu mulai sekarang.”


“Eh?”


“Mulai saat ini, apapun yang terjadi…aku akan menjadi orang pertama yang akan melindungimu. Karena itu, aku hanya ingin kamu percaya padaku.”


Reda tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Aragaki padanya, tapi dia tau bahwa itu adalah kalimat terindah di hidupnya.


“Nushi-sama…akan melindungiku?”


Aragaki memeluk gadis itu dengan erat, “Aku berjanji akan melindungimu. Aku akan melakukan apapun agar kamu aman.”


Reda hanya bisa mendengar detak jantung pria yang dicintainya berdegup kencang. Dan saat ini, di bawah bunga sakura, lambaian ranting-ranting yang tertiup angin mulai menggugurkan ribuan kelopak lain.


“Aku bersumpah akan melindunginya. Setelah semua selesai, aku akan mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padanya.”


****