The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 69. Kencan Pertama bag. 3



Wajah Aragaki yang memandangi Reda begitu lembut. Tangan yang baru saja menyentuh bibir itu langsung ditariknya kembali.


"Maafkan aku, apakah aku mengejutkanmu?"


"Eh?! Ti–tidak! Aku...akulah yang minta maaf sudah menunjukkan hal yang tidak nyaman dipandang oleh Nushi-sama. Maafkan aku!"


"Jangan minta maaf. Aku tidak apa-apa, sama sekali tidak menggangguku. Makanlah lagi dan nikmatilah perlahan."


Tidak seperti Aragaki yang bisa menunjukkan sisi lembut pada manusia sejak tragedi itu, sang penguasa rela mengalah pada dendam demi mengikuti kata hati.


Ryuunosuke mulai melihat sosok Aragaki yang dulu, sebelum dirinya membenci manusia.


Tampaknya si rubah kecil begitu ingin menggoda sang majikan.


Dia dengan sengaja mengotori wajahnya dengan mochi dan gula.


"Reda-sama, Reda-sama. Mulut Ryuunosuke kotor."


Reda yang awalnya hanyut dalam dunianya terkejut melihat wajah rubah kecil yang penuh gula.


"Ryuunosuke, kenapa wajah itu?"


Ryuunosuke mendekati gadis kesayangannya dan berkata dengan memasang wajah manisnya.


"Wajah Ryuunosuke kotor. Ryuunosuke ingin wajah Ryuunosuke dibersihkan seperti cara Aragaki-sama membersihkan gula di bibir Reda-sama."


"Ryuunosuke..." Reda panik bercampur malu


Dia tidak menyangka rubah kecilnya itu bisa menggodanya.


Tapi, melihat wajah imut dan manis itu membuat Reda tersenyum. Dengan lembut, sang gadis desa membersihkan wajah rubah kecilnya.


Hal tersebut cukup menyita perhatian sang penguasa yang melihatnya.


Aragaki memperhatikan jari gadis desa itu.


"Jarinya dan tangan itu sungguh putih. Meski agak kasar karena melakukan pekerjaan yang berat, namun aku harus mengakui bahwa jari itu cukup indah."


Ryuunosuke yang selesai dibersihkan wajahnya memeluk Reda sambil menggoyang-goyangkan ekornya.


"Terima kasih, Reda-sama!"


"Makannya jangan sampai berantakan lagi ya, Ryuunosuke."


"Ehehehe~" Ryuunosuke melihat majikannya, "Aragaki-sama juga makannya jangan berantakan ya."


"Aku tidak akan makan berantakan sepertimu, rubah kecil."


"Tapi kalau mau berantakan, Ryuunosuke rasa tidak masalah. Nanti Reda-sama yang akan membersihkan makanan di bibir dan wajah Aragaki-sama."


-Deg


-Bluuush


Suara detak jantung Aragaki dan wajah memerah Reda tampak terhubung dengan baik.


Tujuan rubah kecil menggoda sang majikan akhirnya berhasil. Dia melihat tuannya dengan senyum kemenangan dan ekor yang bergoyang.


Suasana di dalam ruangan itu terlihat begitu hangat. Bukan hanya hangat, namun juga terasa panas karena terlalu banyak momen manis yang terjadi.


Aragaki mencoba mengambil sikap tenang seperti biasa, sedangkan Reda dengan malu-malu terus tertunduk.


Sesekali, gadis itu melirik ke arah pria yang dikaguminya sambil berteriak dalam hati.


"Dewa, jantung ini seperti akan berhenti tiba-tiba! Bagaimana ini, Reda malu sekali!"


Selama beberapa waktu, ketiganya mencoba bersikap seperti biasanya.


Meskipun rubah kecil itu terkadang menggoda sang majikan saat makan di ruangannya, namun Aragaki berhasil mempertahankan sikap tenangnya sampai akhir.


Mereka hendak pergi meninggalkan toko itu.


"Ini bayarannya. Makanannya enak. Terima kasih."


"Aragaki-sama tidak perlu membayarnya. Anggap saja sebagai sambutan untuk Anda." kata sang pemilik


"Tidak, jangan begitu. Aku datang untuk membeli jadi aku tidak menerima perlakuan seperti ini. Terimalah."


Sang pemilik begitu senang dengan kalimat itu dan menerima bayaran atas makanannya.


Sang istri pemilik mendekati Reda yang sedang menggandeng rubah kecil.


"Permisi..."


"Ah, nyonya. Sebelumnya, terima kasih untuk kudapannya. Rasanya lezat dan manis."


"Begitu."


Sang istri pemilik kedai makanan melihat Reda dari atas hingga bawah.


"Apakah kau menyukai makanan manis lainnya?"


"Iya. Sebenarnya ini kali pertama aku memakannya. Nushi-sama membawa kami ke tempat yang sangat bagus."


Melihat gadis itu tersenyum, istri sang pemilik memegang tangan Reda.


"Jika kau berkeliling lagi, kau harus mampir ke tempat ini lagi ya. Aku akan membuatkan makanan manis yang enak untukmu dan rubah kecil itu."


"Sungguh? Terima kasih banyak, nyonya. Senang ya, Ryuunosuke."


"Senangnya~Terima kasih banyak, Tenko-sama. Ryuunosuke senang. Reda-sama juga senang kan?"


"Iya!"


Sang suami pemilik toko menghampiri istrinya.


"Apa yang tadi kalian bicarakan?"


"Aku memintanya datang ke tempat ini lagi."


"Ada apa?" tanya sang suami dengan wajah penasaran


"Suamiku, kau mungkin tidak tau. Tapi, selama aku beberapa kali mengantarkan makanan ke ruangan Aragaki-sama, aku melihatnya terus tersenyum."


"Dia juga menyuapi rubah kecil itu dengan sangat hati-hati dan mau memberikan makanan paling enak yang kubawakan untuk Aragaki-sama."


"Memang sangat sulit diterima bahwa dia manusia, tapi aku melihatnya. Aku melihat Aragaki-sama tersenyum padanya dengan ekspresi lembut."


"Karena itu, aku yakin Aragaki-sama juga mungkin telah mengetahui bahwa dia adalah manusia."


"Aku rasa dia baik. Dan dia sangat cocok saat berada dekat dengan sang penguasa."


Penjelasan dan kalimat dari sang istri membuat sang suami pemilik toko mengingat apa yang telah dikatakannya kepada Ginko ketika mencari mereka.


"Aku rasa bukan hanya aku yang merasa begitu."


**


Saat keluar dari toko makanan manis, ketiganya berjalan bersama berkeliling toko-toko sekitar.


Mereka melihat para pedagang, orang yang berjalan, permainan tradisional yang sedang dimainkan dan banyak lagi.


Siang hari tidak terasa dan tampaknya perut mereka sudah mulai lapar lagi.


"Reda-sama, kita pulang ya. Aragaki-sama, Ryuunosuke lapar. Kita pulang dan makan ya."


"Perutmu masih lapar?"


"Lapar! Ryuunosuke ingin makan nasi dengan sup miso isi sayur dan kakiage dari sayuran liar buatan Re–" rubah kecil terdiam. Dia menengok ke arah Reda.


"Reda-sama belum tau kalau Aragaki-sama sudah mengetahui masakan buatannya! Ryuunosuke harus tahan!"


"Jangan sampai Reda-sama sedih atau merasa bersalah lagi!"


Ryuunosuke berbohong, "Ryuunosuke mau memasak semua itu!"


Reda sudah sangat cemas sebelumnya. Dia takut kalau Aragaki tau bahwa masakan itu adalah buatannya, sang penguasa mungkin akan kembali membencinya.


Aragaki tampak mengetahui kebohongan Ryuunosuke dan mengikutinya.


"Kalau begitu kita pulang. Meski sudah lewat jam makan siang, tapi tampaknya masih sempat untuk makan."


Akhirnya mereka bertiga berjalan pulang.


**


Dari kejauhan, Nagi dan Ginko masih mengikuti mereka.


"Sepertinya mereka akan pulang. Sebaiknya kita menunggu lebih dulu di rumah." kata Nagi mengusulkan


"Tampaknya begitu. Ayo."


Dengan cepat, kedua youko itu pergi melewati jalan lain.


Saat hawa keberadaannya tidak ada, Aragaki mulai menghela napasnya.


"Sepertinya mereka berdua sudah pergi. Jika saat masuk ke toko makanan manis aku tidak memesan ruangan lain, mereka pasti akan mengikutiku."


"Hakuren dan Kuroto juga sepertinya tidak bisa masuk ke dalam toko itu dan melihat semuanya. Syukurlah aku aman."


Aragaki menyadari dirinya diikuti, namun dia tetap tenang. Hal itu karena dia memutuskan untuk fokus pada gadis itu selama siang hari ini.


Sang penguasa juga khawatir jika sampai perlakuannya di ruang pribadi beberapa waktu lalu dilihat oleh keempat pelayan setianya.


"Aku rasa aku hanya khawatir ada yang melihatku selain rubah kecil."


Sesampainya di rumah, Reda dan Ryuunosuke membungkuk untuk mengucapkan terima kasih.


"Nushi-sama, terima kasih untuk kebaikanmu hari ini." kata gadis itu penuh rasa senang


"Tidak masalah." Aragaki memandangi gadis itu dan melihat ke arah Ryuunosuke, "Ryuunosuke, aku tunggu makan siangku ya."


Rubah kecil melihat sang majikan dan tersenyum senang. Dia menyadari bahwa itu adalah sebuah kode dari sang majikan.


"Iya! Ryuunosuke akan siapkan makan siangnya."


Aragaki tersenyum. Sebelum pergi, entah kenapa Aragaki masih melihat wajah Reda dengan tatapan lembutnya.


Reda yang malu hanya bisa menahan dirinya agar tidak mempermalukan dirinya dihadapan pria yang dikaguminya.


"Nushi...-sama?"


"Jika lelah, istirahatlah dulu."


Reda begitu malu mendengarnya tapi juga bahagia.


Sebuah senyuman lembut menghiasi bibirnya dan seakan menyentuh hati Aragaki, mata sang penguasa melebar karena terkejut.


"Terima kasih untuk perhatiannya, Nushi-sama."


Hanya bisa terpesona, Aragaki seakan tidak ingin pergi meninggalkannya sekarang.


****