The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 23. Penolakan yang Berujung pada Rasa Sakit



Reda bersimpuh dan memberikan sup di tangannya kepada Aragaki.


“Nushi-sama, aku mohon…meskipun hanya satu suapan, tolong cicipi ini!”


Reda mencoba membuang rasa takutnya. Dengan tangannya yang gemetar, dia mencoba memberikan semangkuk


sup itu pada Aragaki.


“Ryuunosuke…Ryuunosuke yang membuatnya. Aku minta maaf karena telah mengotori makanan itu dengan aromaku yang sangat dibenci olehmu, Nushi-sama. Ta–tapi ini benar-benar buatan rubah manis itu.”


“Hanya untuk sesuap saja, setelah itu Nushi-sama boleh membuangnya kembali! Aku mohon, tolong cicipilah dan buatlah Ryuunosuke tersenyum. Aku mohon padamu, Nushi-sama!”


Reda menundukkan kepalanya kembali. Nagi, Ginko dan Ryuunosuke menyusulnya. Dia melihat gadis itu memberanikan dirinya untuk berdiri di hadapan Aragaki sambil memegang mangkuk kecil di tangannya.


“Reda-sama…” Ryuunosuke terlihat sedih


Wajah Aragaki menatap sup di mangkuk tersebut dan mengambilnya. Reda terkejut dan terlihat senang. Namun tidak disangka hal itu berubah menjadi sebuah penghinaan.


Aragaki menumpahkan sup itu ke kepala Reda dan membuang mangkuknya ke halaman. Dia begitu dingin menatap Reda dan mendorongnya dengan ekornya hingga terjatuh.


“Reda-sama!!”


Rubah kecil itu berlari menghampiri Reda dan berusaha menolongnya. Sambil menangis, si rubah kecil itu mencoba membantu si gadis yang masih syok akibat perlakuan dari pria yang dikaguminya.


“Jangan berani bersikap lancang padaku, manusia. Darah pendosa di nadimu itu adalah sebuah kotoran yang tidak berarti di mataku.”


Reda mencoba menatap Aragaki. Betapa gemetarnya dia begitu matanya bertemu dengan tatapan dingin dan penuh kebencian itu. Dengan nada angkuh dan penuh kemarahan, Aragaki berkata pada sang gadis.


“Jangan mencoba memerintahku, jangan mencoba berdiri di hadapanku dan jangan pernah mencoba bicara denganku. Sampai kapanpun tidak akan ada kesempatan untukmu di sini.”


Aragaki pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke ruangannya.


Ryuunosuke tidak berani berkata apapun dan hanya menangis.


“Reda-sama…hiks…maafkan Ryuunosuke. Maafkan Ryuunosuke. Hiks…”


Reda hanya mencoba untuk bersikap normal. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya dan si rubah kecil.


Kedua youko yang melihat itu tampak begitu terkejut sampai tidak bisa bergerak. Mereka tidak menyangka akan melihat penolakan seperti itu.


Bukan berarti mereka telah menerima manusia. Hanya saja sejak kedatangan Reda ke tempat itu,  mereka sudah mulai sedikit merubah pandangan masing-masing terhadap gadis desa tersebut.


Reda terlihat mencoba melepaskan pelukan rubah kecil itu dan membersihkan pakaiannya.


“Ryuunosuke, ayo bangun. Pakaianmu nanti kotor. Aroma tubuhku jadi bau masakan sekarang. Bangunlah.” Reda memberikan senyumannya pada si rubah kecil


Dengan perlahan-lahan, gadis itu membersihkan pakaian si rubah kecil, tapi rubah kecil itu tidak memedulikannya dan memeluknya kembali sambil menangis.


“Aragaki-sama jahat! Ryuunosuke marah! Kenapa Aragaki-sama melakukan ini Reda-sama. Hiks…hiks…”


Reda mengusap-usap punggung rubah kecil itu dan mencoba menenangkannya.


“Maafkan aku yang sudah nekat. Aku hanya ingin Nushi-sama mencicipinya sedikit. Maafkan aku, karena makanannya jadi terbuang percuma. Maafkan aku, karena sudah membuat Ryuunosuke menangis.”


Rubah kecil itu menangis semakin keras dan menggenggam pakaian Reda semakin erat.


Nagi tampaknya sudah tidak tahan dengan semua itu dan menghampiri Ryuunosuke. Dia memegang pundaknya.


“Rubah kecil, ayo bangun! Di sini kotor! Gadis desa itu harus mengepel lantainya sekarang dan kau harus membereskan dapurnya! Aku dan Ginko akan membantumu, jadi berdiri dan berhentilah menangis!”


“Hiks…hiks…”


Reda merayu rubah kecil itu agar mau ikut dengan Nagi.


“Ryuunosuke, aku harus berdiri dan membersihkan lantainya. Ikutlah dengan Nagi-sama ya.”


“Tidak mau, Ryuunosuke ingin bersama Reda-sama. Hiks…Aragaki-sama jahat! Ryuunosuke benci, Ryuunosuke benci. Hiks…huwaaa”


“Ei! Jangan menangis semakin keras!! Ayo bangun!”


“Nagi-sama, Ginko-sama, maaf sudah membuat kalian melihat pemandangan memalukan ini. Tolong jaga Ryuunosuke kecil dulu sampai hatinya tenang.”


“Reda-sama…” Ginko melihat hal yang tidak terduga


Gadis desa itu memberikan senyuman dengan air mata yang begitu banyak keluar membasahi pipinya. Dengan suara yang sedikit serak, gadis itu membungkuk dan memberi hormat kepada kedua youko tersebut.


“Maafkan aku. Terima kasih banyak untuk bantuannya. Tolong jaga Ryuunosuke sampai dia tenang.”


Ekspresi wajah yang dibuat Nagi dan Ginko menunjukkan perasaan mereka. Bingung, cemas dan sedih menjadi satu.


Nagi tidak menjawabnya dan pergi membawa rubah kecil yang terus memberontak. Sedangkan Ginko menjawab kalimat itu lalu pamit kepada sang gadis.


Begitu kedua rubah itu pergi membawa si rubah kecil yang sedih, kaki Reda mulai kehilangan keseimbangannya. Gadis itu kembali duduk di lantai kayu engawa yang kotor dengan sup.


Rambut hitamnya yang lembut dan pakaiannya basah karena sup.


“Aku sudah berusaha untuk tampil bersih agar Nushi-sama senang. Tapi sepertinya aku masih terlalu kotor untuknya.”


Reda mengingat kalimat yang benar-benar menusuknya di hari itu.


[Jangan berani bersikap lancang padaku, manusia. Darah pendosa di nadimu itu adalah sebuah kotoran yang tidak berarti di mataku]


Sebuah kalimat yang begitu menusuk hatinya.


Air mata itu terus mengalir. Reda berusaha untuk tidak mengeluarkan suara saat menangis. Dengan kedua tangannya, dia menutup mulutnya sendiri dan menahannya agar tidak mengeluarkan suaranya.


Dia menangis seorang diri selama beberapa waktu.


“Ya Dewa, apakah tidak ada kesempatan untukku agar membuat Nushi-sama mau tersenyum pada manusia sepertiku? Apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk dekat dengannya? Kenapa rasanya begitu sakit? Di saat aku begitu percaya perubahan akan terjadi dengan cepat, kenapa jadi lebih sakit dari sebelumnya?”


Gadis itu menangis. Dari pohon sakura di taman, Hakuren dan Kuroto ternyata melihatnya.


Mereka berdua melihat gadis itu berusaha keras untuk tidak bersuara saat menangis. Usahanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara telah sedikit menyentuh hati kedua tengu tersebut.


“Aragaki-sama, kami mungkin setia padamu. Semua yang kami harapkan adalah kebahagiaan tuan kami.”


“Selama ini, tidak ada dari pelayanmu yang mau menerima kehadiran manusia karena sikap sombong dan arogan mereka. Mereka yang telah membunuh teman dan keluarga kami adalah musuh”


“Tapi di depanku sekarang, ada manusia yang begitu keras berusaha menahan kesedihannya demi bisa membuatmu bahagia. Dia memohon agar tuanku yang agung mau mencicipi masakan rubah kecil kesayanganmu. Entah kenapa melihatnya menangis seperti itu… membuat hati ini begitu perih.”


Itulah yang ada di dalam pikiran Hakuren.


Dia adalah satu dari lima pelayan Aragaki lain yang sedikitnya mulai menerima kehadiran Reda walau belum sepenuhnya. Dia mengerti perasaan si rubah kecil dan dia cukup berharap pada gadis desa itu.


Sedangkan Kuroto hanya bergumam pelan.


“Mau sampai kapan dia menangis seperti itu? Aragaki-sama tidak akan mendengar dan memedulikannya. Tidak bisakah dia sedikit lebih kuat dan tidak cengeng?”


Tampaknya dari semua pelayan Aragaki, Kuroto memiliki pendapat yang nyaris mirip dengan tuannya.


Walaupun beberapa waktu lalu dia memiliki empati, tapi sebagai siluman yang memiliki rasa benci pada manusia, dia tidak melupakan masa lalu itu.


Kini, gadis malang yang baru saja menerima siraman sup daging harus bangun dan menghapus air matanya. Dia berjalan untuk mengambil air di sumur.


Selama menimba air untuk mengepel lantai, dia berusaha sebaik mungkin menahan air matanya. Namun rupanya semua itu percuma.


Air mata terus menetes. Aroma daging di rambut dan pakaiannya tidak lagi dihiraukan. Kesedihan dan rasa sakit itu begitu nyata mengirisnya.


Sebuah perlakuan yang begitu menyakitkan dari orang yang dia cintai dalam diam. Meskipun begitu, Reda berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik.


“Hanya 3 bulan. Hanya 3 bulan sampai semua rasa sakit ini menghilang sepenuhnya. Aku harus bertahan meski sakit. Aku masih harus menepati janjiku pada rubah manis itu. Kuatkan dirimu, Reda. Kuatkan dirimu, kuat…hiks…hiks…”


Gadis itu kembali menangis tersedu-sedu. Kali ini, dia tidak menahan suaranya. Dia menangis dan merintih. Di hari ketiganya, dia harus kembali merasakan rasa sakit dari sebuah penolakan yang dilakukan oleh pria yang dikaguminya dalam diam.


****