
Ini adalah waktu sore, dimana Aragaki pergi meninggalkan kediamannya. Dia berjalan untuk pergi ke tempat kenalannya.
Di desa, dia bertemu dengan banyak sekali penduduk yang senang karena sang pemimpin datang menemui mereka. Banyak hal yang ditawarkan oleh mereka semua.
Sang penguasa sampai ke tempat yang dia tuju yaitu sebuah toko pakaian.
“Permisi, Jorogumo.”
“Ya. Ah, Aragaki-sama! Silahkan masuk.”
Di hadapan Aragaki, terlihat wanita cantik dengan empat tangan. Aragaki masuk ke dalam toko pakaian tersebut dan duduk di tatami. Siluman wanita itu memberikan teh kepada sang penguasa.
“Silahkan diminum, Aragaki-sama.”
“Terima kasih.”
Siluman itu duduk di depannya.
“Jarang sekali melihatmu datang ke tempat ini kembali, Aragaki-sama. Apakah ada urusan mendadak?”
“Aku ingin mengunjungi Shuen. Tapi, sebelum itu aku ingin ke tokomu untuk memesan sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Kamu ingat pita yang pernah aku berikan kepada mendiang Ryoko?”
“Oh! Pita yang dipesan Aragaki-sama untuk merayakan pernikahan Ryoko 300 tahun lalu ya. Aku ingat. Itu pita yang kubuat sendiri. Ada apa dengan itu, Aragaki-sama?”
“Aku bermaksud memesan pita itu kembali. Aku berencana untuk mengunjungi makam Ryoko beberapa hari lagi.”
“Begitu.” wajah siluman itu tertunduk sedih, “Aku benar-benar merindukan rubah cantik itu. Dia begitu bahagia saat menikah dengan mendiang suaminya dan berjuang sendiri melahirkan Ryuunosuke tidak lama setelah suaminya meninggal.”
“Siapa yang menyangka dia akan bernasib seperti itu. Aku tidak percaya meskipun sudah 200 tahun berlalu. Hiks…”
Tanpa sadar, siluman wanita itu menangis. Aragaki hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun.
“Ma–maafkan aku, Aragaki-sama. Aku tidak bermaksud menyinggungmu!”
“Tidak. Aku mengerti. Kamu adalah salah satu yang terdekat dengan Ryoko semasa hidupnya. Aku paham perasaanmu.”
“Bagaimana keadaan Ryuunosuke? Apakah dia baik-baik saja, Aragaki-sama?”
“Baik. Dia…” Aragaki terdiam. Dia masih mengingat wajah Ryuunosuke yang bisa tersenyum lebar ketika dekat dengan gadis desa yang dianggap kotor olehnya
“Aragaki-sama?”
“Maafkan aku. Ryuunosuke baik. Dia terlihat ceria akhir-akhir ini.” Aragaki kembali membuat senyum di bibirnya
“Syukurlah. Kalau tidak salah, seminggu lalu manusia datang ke Higashi no Mori lagi. Aku yakin itu adalah calon ‘pengantin’ Aragaki-sama. Apakah dia masih hidup di kediaman Anda?”
Sungguh pertanyaan yang berani dari penduduk biasa kepada sang penguasa. Meskipun teman baik, sedikit lucu rasanya bertanya hal seperti itu.
Namun tampaknya, Aragaki tidak mempermasalahkannya.
“Gadis kotor itu tidak memiliki keistimewaan apapun. Seperti yang lainnya, dia hanya akan hidup selama 3 bulan di sini. Sebanyak apapun yang datang, tidak ada yang berguna.”
“Begitu, kalau mendengar langsung dari Aragaki-sama artinya berita itu benar.”
“Berita?”
“Benar. Berita bahwa gadis manusia itu juga sama saja seperti yang pernah mencoba meracuni Aragaki-sama tampaknya bukan sebuah kebohongan.”
“…” sekarang Aragaki sendiri terdiam
Meskipun tidak menunjukkan wajah terkejutnya, dia tetap kaget mendengar ucapan Jorogumo. Wanita itu melanjutkan ucapannya kembali.
“Di pasar banyak sekali yang mengatakan. Mereka mengatakan bahwa gadis yang datang di malam hari seminggu lalu itu lusuh. Bahkan ada yang bilang dia begitu bau dan memiliki niat licik pada Aragaki-sama.”
“Memiliki niat licik ya…” Aragaki sempat berpikir setelahnya
Dia mulai mengingat hal-hal apa saja yang dilakukan oleh gadis desa itu dengan semua penolakan yang dia lakukan terhadapnya.
“Sekarang aku menyadari apa saja yang dia lakukan. Selama ini, aku tidak pernah menganggapnya ada. Hal licik…mungkin saja semua itu adalah bagian dari rencananya.”
Aragaki mulai sedikit ada gambaran mengenai gadis desa yang ada di kediamannya. Entah gambaran baik atau buruk yang sekarang di dalam pikirannya itu, tapi tampaknya tidak akan mudah meluluhkan kerasnya hati sang penguasa.
Mereka membicarakan banyak topik lain setelahnya.
“Baiklah. Aku akan mengambilnya lusa. Aku permisi dulu. Jorogumo.”
“Terima kasih banyak, Aragaki-sama. Sampaikan salamku kepada rubah kecil itu ya.”
Begitu selesai dengan urusannya, dia pergi ke tempat lainnya yaitu sebuah kediaman lain yang ada di sisi lain hutan Higurashi no Mori. Itu adalah kediaman temannya yang lain, Shuen.
“Permisi.”
Ada seekor siluman berkepala kelinci yang sedang menyapu dedauan di luar pintu masuk.
“Ah, Aragaki-sama. Selamat datang.”
“Selamat sore, Yuichi. Apakah Shuen ada di rumah?”
“Shuen-sama belum kembali, Aragaki-sama. Beliau sedang mengikuti acara perjamuan di Kita no Mori. Apakah Aragaki-sama tidak menghadirinya?”
“Tidak, aku tidak berminat hal-hal seperti itu. Kalau begitu tampaknya aku bisa kembali lain waktu.” ucapnya dengan senyum
Tidak membutuhkan banyak basa-basi, Aragaki berjalan pulang menuju rumahnya. Sepanjang jalan, dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Jorogumo.
“Aku tidak menyangka ada berita seperti itu yang menyebar. Aku tidak menyalahkan mereka karena menyebarkan gosip itu karena tidak semua isinya salah.”
“Kalau aku ingat, mereka pergi ke pasar pagi ini. Aku yakin gadis kotor itu juga mendengar kabar buruk mengenai dirinya.”
Matahari mulai tenggelam dan langit mulai berubah malam. Lampu lampion dan lilin penuh warna menyinari tiap jalan dan rumah di Higashi no Mori.
Aragaki bertemu dengan banyak penduduk lain di jalan. Meskipun dia sempat mendapat tawaran untuk makan malam di kedai teramai di sana, dia menolaknya.
[Jika berkenan, aku harap Nushi-sama mau makan malam di rumah agar rubah kecil itu semangat memasak untukmu]
[Apakah Anda tidak mau kembali lebih awal untuk mencicipi masakan Ryuunosuke, Nushi-sama?]
Itulah kalimat dari gadis desa yang diingatnya sebelum pergi meninggalkan kediaman.
“Aku melakukan ini bukan demi ucapan gadis itu. Aku pulang cepat karena janjiku pada rubah kecil kesayanganku itu.”
Saat Aragaki pulang, cahaya dari hinotama (siluman bola api) dan kunang-kunang di area taman kediaman Aragaki terlihat cantik bersinar sebagai penyambutan.
“Tampaknya mereka sudah makan malam.” gumamnya pelan dengan senyum
Di saat Aragaki datang, Reda sudah pulang ke gubuknya dan membiarkan yang lain makan di ruang makan.
Aragaki berjalan masuk ke dalam dan berjalan menuju ruang makan.
Di ruang makan, telinga kedua youko dan Ryuunosuke bergerak tanda mereka mendengar suara.
“Itu…suara Aragaki-sama!” Ryuunosuke terkejut mendengarnya
Dia panik dan ingin cepat-cepat merapikan makanannya yang belum habis. Nagi menghentikanya.
“Jangan! Makanlah di sini. Jangan membuat masalah karena kita juga harus menjelaskan menu masakan gadis desa itu!” bisiknya
“Tapi…”
“Jangan khawatir, Ryuunosuke. Kami akan membelamu kalau sampai Nushi-sama mengatakan sesuatu tentang semua ini. Lagipula, Reda-sama sudah memisahkan bagian Nushi-sama di dapur.”
“…” Ryuunosuke kembali duduk dengan yang lain
Pintu shoji terbuka dan Aragaki melihat pemandangan tidak biasa.
“Ryuunosuke? Rupanya kamu makan di sini juga.” Sang penguasa tersenyum melihat rubah kecilnya makan di ruang makan lagi. Kelima pelayannya berdiri dan hendak memberi salam, namun Aragaki menahannya.
Dia mendekati meja makan dan melihat menu yang dimasak. Nasi dengan kacang edamame dan jamur, tamagoyaki, sup miso jamur serta ada menu lain yang belum pernah dia lihat.
Harum aroma masakan itu menggelitik hidung dan membuatnya sedikit menelan ludahnya.
“Apa itu? Apa itu menu baru buatan Ryuunosuke?”
Ryuunosuke mencoba untuk tidak panik dan dia mendapatkan dukungan jawaban dari yang lain.
Pertama, dengan penuh percaya diri Nagi menjawabnya. Walaupun di tengah-tengah dia sempat lupa.
“Ini adalah menu buatan rubah kecil, Aragaki-sama. Setelah Aragaki-sama pergi, kami pergi ke pasar untuk membeli daging sapi dan ayam. Ini namanya…”
“Nikujaga. Ini nikujaga. Ryuunosuke pernah membuatnya sekali dengan daging, kentang dan wortel. Yang ini ditambah kacang edamame. Dan untuk ayam ini namanya kaarage.” sambung Ginko
“Nikujaga dan…kaarage?”
“Ryuunosuke akan mengambilkan bagian Aragaki-sama! Tunggu di sini, ya!”
Rubah kecil itu pergi ke dapur. Setelah kembali membawakan makanan milik Aragaki, dia duduk manis sambil melihat reaksi apa yang akan ditunjukkan kepadanya.
“Aragaki-sama, ayo cicipi.” kata rubah kecil itu
Hal yang menarik perhatiannya adalah masakan baru yang ada di depannya.
“Aromanya wangi. Sudah begitu, masih cukup hangat untuk disantap. Tidak perlu diragukan, rasanya pasti enak.”
Begitu dia mencicipi kentangnya, wajah Aragaki terlihat begitu terkejut. Rasa yang seperti biasa, enak dan baru untuk selera lidahnya.
“Ini enak.”
Semua orang tersenyum dan memintanya untuk memakan yang lain. Tidak ada kata lain selain enak dan senyum di wajahnya. Sang penguasa begitu menikmati makan malamnya hari ini.
Hal lain yang membuatnya senang adalah rubah kecilnya mau ikut bergabung kali ini.
“Aku senang Ryuunosuke mau makan denganku lagi seperti dulu. Satu minggu tidak makan denganmu membuatku berpikir kalau ini sudah hampir sebulan.” katanya dengan wajah senyum
“Ryuunosuke tadinya ingin makan di dapur seperti biasa, tapi Reda-sama bilang untuk makan dengan yang lain agar aku tidak kesepian.”
“…” Aragaki cukup tertegun mendengar itu
“Reda-sama bilang kalau menu baru harus dimakan bersama dengan yang lain. Kalau Aragaki-sama kembali, Aragaki-sama pasti tambah senang memakannya. Jadi…Ryuunosuke mengikuti saran Reda-sama dan makan di sini.”
Sang penguasa hanya bisa diam tanpa ekspresi khusus. Dia tidak marah, juga tidak senang. Hanya mendengarkan baik-baik rubah kecilnya bicara.
“Tapi, Reda-sama sudah pulang ke gubuk. Nanti, kami juga akan membantu rubah kecil membawa semua piring ini.” tambah Kuroto
“Begitu. Ya sudah. Lanjutkan makannya kembali.”
Aragaki makan kembali dengan tenang. Matanya memang memandang ke mangkuknya, namun pikirannya memikirkan hal lain.
Di saat makan, mereka menghabiskan banyak waktu untuk bercerita banyak hal. Aragaki mendengar semua itu tanpa mengatakan apapun.
Hanya sebuah senyum yang terlihat di bibirnya sebagai satu-satunya tanda untuk setiap cerita yang didengar dari pelayan setianya.
Selesai makan malam, dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke taman. Perhatian Aragaki tertuju pada banyaknya pohon bunga sakura yang memang tumbuh di setiap sudut kediamannya.
Sang penguasa melihat bunga sakura yang bergoyang pelan dan lembut karena tertiup angin malam.
“Makan malam hari ini begitu lezat. Rubah kecilku sudah tumbuh menjadi hebat sepertimu Ryoko.”
Di saat itu, dia mencium aroma yang tidak asing.
“Aroma ini…”
Begitu dia menengok, di jarak yang cukup jauh dia melihatnya. Gadis desa itu berdiri di hadapannya.
Ratusan kelopak bunga sakura mulai menghujani dan menyebar bersama angin malam itu.
****