The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 6. Kebencian Aragaki-sama



Mata dingin yang menatapnya dan suara yang begitu menusuk dengan kalimat yang menyakitkan hati adalah hal yang diterima Reda dari Aragaki untuk kedua kalinya.


Gadis itu hanya terdiam, begitu juga dengan keempat pelayannya. Mereka yang awalnya sudah menerima fisik dan aura positif miliknya menjadi berubah menatapnya dingin. Hanya Ryuunosuke yang menangis sambil memohon pada tuannya.


“Aragaki-sama, jangan bicara begitu. Re–Reda-sama adalah orang yang baik. Bukankah…bukankah Reda-sama telah memberikan salam dengan benar padamu? Hiks…jangan katakan hal kejam begitu padanya. Kasihan Reda-sama…”


“Kenapa aku harus kasihan pada manusia yang pernah mengingkari janji yang dibuatnya padaku?”


“Aragaki-sama…” Ryuunosuke memanggil namanya sambil menangis


Mengetahui dirinya tidak diterima dengan baik membuat Reda sadar bahwa dimanapun dia berada, dia tidak akan mungkin bisa hidup.


Tapi, dia ingat dengan apa yang dikatakan oleh rubah kecil malang yang menangis demi dirinya itu.


[Aku…akhirnya aku bisa bertemu dengan calon ‘pengantin’ yang sebenarnya! Ryuunosuke akan berusaha demi melindungi Reda-sama! Ryuunosuke akan berjuang juga agar Aragaki-sama mau menjadi Aragaki-sama yang dulu!]


Reda menyadari bahwa rubah kecil yang menangis itu sedang mencoba melindunginya dan dia telah berjanji untuk berjuang bersama Ryuunosuke.


Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Reda bicara.


“Ma–maafkan aku tapi jangan membuat Ryuunosuke menangis seperti itu. Tolong jangan berkata kejam padanya karena itu akan menyakiti hati rubah kecil yang malang itu.”


“…” semua orang terkejut mendengar ucapannya


Bukan hanya terkejut, Aragaki bahkan terlihat cukup terkejut meskipun wajahnya masih dingin.


Ryuunosuke melihat Reda yang berada di belakangnya.


“Hiks…Reda-sama”


Keempat pelayannya pun cukup terkesan.


“Dia membela Ryuunosuke? Gadis bau amis itu melakukannya?”


“Serius? Dia membela siluman? Selama ini, semua calon ‘pengantin’ tidak pernah membelanya dan bahkan menangis meminta ampun pada Aragaki-sama.”


“Nushi-sama mungkin terkejut saat ini.”


“Aku tidak tau harus berkata apa. Nagi, Ginko dan Kuroto mungkin juga terkejut mendengarnya.”


Reda masih melanjukan kalimatnya.


“Aku sudah dengar dari Ryuunosuke. Calon ‘pengantin’ harus melakukan semua yang diperintahkan oleh Aragaki-sama dan aku datang untuk memenuhi kewajiban itu”


“Aku yang telah dibuang oleh desaku sendiri karena dianggap gadis pembawa sial sangat berterima kasih karena masih diberikan kesempatan untuk hidup dan melayani Dewa Pelindung Desa Kamakura. Aku sangat berterima kasih.” Reda bersujud memberikan ucapan terima kasih


Tapi, tampaknya itu tidak memberikan kesan pada Aragaki.


“Aku tidak butuh ucapan dari mulut manusia. Jika kamu sudah mengetahui apa itu calon ‘pengantin’ sesungguhnya, kamu juga pasti sudah tau bahwa hidupmu hanya 3 bulan di sini. Itu adalah waktu yang sangat lama untuk makhluk kotor sepertimu dan bangsamu yang lain.”


“Aku menyadarinya. 3 bulan adalah waktu yang sangat lama untukku yang tidak diinginkan dimanapun. Aku datang karena telah berjanji pada Ryuunosuke.”


“Janji?”


“Aku akan membuat Aragaki-sama mau sedikit menerima kehadiranku. Aku akan membantu Ryuunosuke untuk membuat Aragaki-sama mau menjadi tuannya yang dulu”


Reda tersenyum. Sebuah senyuman manis yang sangat cantik, membuat keempat pelayannya cukup terharu dan bereaksi.


Wajah dingin Nagi, Ginko, Hakuren dan Kuroto menjadi sedikit memerah melihat senyuman itu.


Bak melihat sebuah harapan, Ryuunosuke juga jadi tersipu dan nyaris memeluk Reda. Jika dia tidak langsung ingat bahwa dia ada di hadapan yang tertinggi, dia mungkin akan langsung memeluknya sambil menangis.


Sayang sekali, secantik apapun senyuman Reda, hal itu tidak memberikan dampak pada Aragaki.


“Manusia hanya manis di bibir. Jangan membuatku tertawa.”


Reda yang mendengar hal itu mencoba menahan rasa sakit dan takutnya. Dia menjawabnya kembali dengan seluruh keberaniannya yang tersisa.


“Aku minta maaf pada Aragaki-sama, tapi aku tidak berbohong. Aku sungguh-sungguh berpikir bahwa tempat ini adalah surga lain untukku. Karena itu, 3 bulan yang tersisa akan aku gunakan dengan baik. Setelah itu, aku akan menyerahkan semuanya pada Dewa.”


“Aku tidak berharap menikah dengan Aragaki-sama, aku juga tidak berharap untuk hidup di tempat indah ini lebih lama. Aku hanya berharap bisa menepati janjiku pada Ryuunosuke untuk membuat Aragaki-sama mau melihatku meski hanya sedikit.”


Sebuah kata yang mulai mengubah nada bicara Aragaki.


“Janji katamu…”


“Ryuunosuke sudah berjuang sejauh ini demi Aragaki-sama dan aku sangat mengerti dengan perjuangan itu.”


“Aku akan berjuang demi bisa menepati janjiku padanya. Reda akan melayani Aragaki-sama dengan baik. Apapun yang diperintahkan oleh Aragaki-sama, Reda akan melakukannya.”


Tampaknya Aragaki ingin mengakhiri ini lebih cepat.


“Begitu. Kamu akan melakukan apapun yang aku perintahkan…”


“Benar. Ryuunosuke telah memberitau semua kewajiban yang harus aku lakukan di sini jadi–”


“Bunuh dirimu sendiri di hadapanku sekarang.”


Sebuah perintah yang nyaris membuat semua orang menatap syok wajah dingin Aragaki. Bukan hanya itu, semua orang lebih terkejut lagi melihat Aragaki melemparkan sebuah pisau kecil ke hadapan Reda begitu saja.


Mata dingin dan ekor yang berubah menjadi sedikit lebih besar dari sebelumnya menandakan dia marah.


Ryuunosuke histeris mendengarnya dan langsung menangis. Dia berlari ke hadapan sang majikan dan bersujud padanya. Air mata yang mengalir terus keluar dari matanya.


Ryuunosuke begitu syok dan memohon seperti orang gila agar Aragaki mau menarik ucapannya kembali.


“Aragaki-sama, tolong jangan lakukan itu! Reda-sama adalah orang yang baik! Reda-sama mungkin keturunan manusia terkutuk itu, tapi Reda-sama bukan mereka! Ryuunosuke mohon tolong tarik kembali perintah itu. Hiks…Ryuunosuke mohon padamu, Aragaki-sama.”


Semua tangisan itu tidak berarti apa-apa untuk Aragaki kali ini. Dia berhenti menatap pelayan kecilnya dan melihat gadis di depannya kembali.


“Bukankah perintahku itu akan kamu laksanakan? Itu adalah perintah pertama dan terakhir untukmu. Dengan pisau itu, bunuh dirimu sendiri sekarang.”


“Aragaki-sama!!” Ryuunosuke berteriak dan menangis semakin histeris


Keempat pelayannya menatap cemas hal itu.


“Ini tidak baik. Pertama kalinya Ryuunosuke menangis di acara penyambutan ini. Bukankah berarti dia begitu menyukai gadis itu? Kenapa aku jadi merasa aku ingin sekali membela rubah itu?”pikir Nagi


Ginko tampaknya juga berpikiran demikian.


“Aku tidak terkejut mendengar perintah Nushi-sama. Tapi aku lebih terkejut pada Ryuunosuke yang sampai memohon seperti itu. Itu artinya dia melihat potensi yang besar pada gadis itu. Tidakkah ini sangat gawat jika dibiarkan?”


“Aku memiliki firasat buruk tentang ini” gumam Hakuren


“Bukan hanya kau, aku juga memiliki firasat buruk tentang ini. Rasanya ini tidak pernah terjadi selama 200 tahun.” Kuroto menjawab pelan


Reda melihat pisau di depannya dan mengambilnya. Ryuunosuke yang melihat itu berlari ke arah Reda sambil menangis dan memegangi tangannya. Dia melakukannya untuk menghentikan Reda membuka pisau itu.


“Reda-sama, jangan lakukan! Reda-sama tidak boleh mati! Jangan lakukan! Ryuunosuke mohon, Ryuunosuke mohon!”


Reda hanya tersenyum dan berkata pada rubah itu, “Tidak apa-apa Ryuunosuke, jangan menangis.”


“Ryuunosuke berlari lagi dan memohon kepada Aragaki-sama.


“Aragaki-sama, tolong tarik ucapanmu! Ryuunosuke mohon, Ryuunosuke mohon!”


“Jangan meminta hal yang mustahil, Ryuunosuke. Aku telah cukup bersabar dengan semua ini. Aku benci dengan tradisi ini, tapi aku bukanlah manusia. Demi menjaga janji yang telah aku buat dengan leluhur gadis itu, aku melakukan hal yang paling aku benci yaitu menerima manusia di tempat suci milikku ini.”


“Dan sekarang aku muak melihatnya. Kamu bilang kamu berjanji pada Ryuunosuke? Hah! Jangan membuatku tertawa karena lelucon bodohmu itu!!”


Reda begitu kaget mendengar teriakan Aragaki. Ryuunosuke yang awalnya menangis di hadapannya langsung terdiam dan begitu takut. Dia gemetar.


Aragaki memperlihatkan sosok paling menakutkannya.  Dengan penuh emosi, dia mengatakan semua kebenciannya pada Reda.


“Jangan pernah bicara tentang janji di hadapanku! Kalian yang telah berkhianat pada kami terlebih dahulu setelah kami mengizinkan kalian membangun desa untuk teman-teman kalian setelah perang. Lalu, dengan seenaknya kalian membakar habis hutanku serta membunuh teman-temanku yang berharga!”


“Kalian pula yang membunuh pelayan-pelayanku yang setia dan mencemari hutanku dengan darah sesama kalian! Setelah kalian berjanji akan menjaga kesucian tempat tinggal kami, apa yang leluhurmu lakukan pada janji itu?!”


“Kalian menculik dan menyiksa semua pelayan kecilku yang berharga dan melempar kembali mayat mereka ke hadapanku, apa kalian tau betapa berdukanya kami semua!! Dan setelah semua itu, dengan sombongnya kalian mengatakan akan memusnahkan seluruh siluman yang ada. Kalian terlalu lama bermimpi!”


“Manusia rendah yang tidak tau terima kasih. Kalian bisa membunuh semua orang yang paling aku cintai, maka aku juga membunuh mereka saat itu”


“Aku ratakan tempat kalian menjadi tanah kembali, aku bunuh orang yang kalian cintai, aku biarkan mereka melihat mayat orang tersebut menjadi santapan iblis penjaga tempat ini dan kubiarkan kalian menyesali semuanya.”


“Itu semua adalah kesalahan manusia. Kalian yang mengemis padaku untuk mengizinkan kalian tinggal dan kalian juga yang melupakan tempat yang kalian pijak. Sekarang, tidak ada alasan untukku melupakan kebencian itu.”


Reda tertegun. Itu adalah isi kebencian yang dirasakan Aragaki kepada leluhurnya.


Dewa Pelindung hutan, itulah cerita yang tersebar di desanya. Ada kisah lain yang didengarnya dari desa dan itu sangat berbeda dengan kenyataan yang dikatakan Aragaki.


**


Zaman dahulu, 200 tahun yang lalu, di kala manusia berperang melawan manusia lain demi memperluas kekuasaan kerajaan, masyarakat yang melarikan diri dari perang singgah di sebuah hutan luas di daerah timur. Higashi no Mori, itulah nama hutan tersebut.


Dikatakan bahwa hutan suci itu dihuni oleh ‘yang bukan manusia’ dan mereka selalu menampakkan diri mereka kepada semua orang. Dewa pelindung yang menguasai tempat itu adalah sosok siluman serigala perak yang besar bernama Aragaki.


Dengan memberikan seluruh persembahan dan barang yang dimiliki, manusia yang meminta perlindungannya.


Sang dewa mengizinkan sedikit dari hutannya untuk dibangun rumah bagi penduduk. Berkembang menjadi besar, mereka hidup berdampingan.


Namun, perang mulai datang dan hutan mulai hancur karena hal itu. Dewa pelindung beserta siluman lain dianggap pemicu peperangan sehingga penduduk Kamakura memerangi para siluman.


Setelah kekalahan mereka, para penduduk memberikan gadis untuk menjadi calon ‘pengantin’ atas permintaan sang penguasa.


Setidaknya, itulah cerita yang didengar oleh Reda.


Siapa yang tau bahwa ternyata, semua itu adalah kesalahan yang diperbuat oleh leluhurnya sendiri.


Dengan sedikit karangan cantik dan bumbu untuk mempermanis, penduduk desanya mengubah kenyataan yang sesungguhnya dan menempatkan diri mereka sebagai korban.


****