
Di ruangannya, Aragaki mencoba menenangkan dirinya.
"Aku harus tenang. Aku harus bisa tenang agar tidak terus memikirkannya."
Itulah yang ada di pikiran sang penguasa. Namun, bayangan senyuman itu terus membuatnya tidak tenang.
Dia tidak bisa menghilangkan senyuman itu dari pikirannya dan semakin mencoba mengabaikannya, Aragaki semakin ingin melihat.
"Kenapa aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan pikiran ini? Apa aku sudah tertular Ryuunosuke sekarang?" gumam sang penguasa
Aragaki mulai mencoba memikirkan cara agar tidak secara terus menerus memikirkan gadis itu.
"Aku harus melakukan sesuatu. Benar, ini hari pertamanya ada di sini. Mungkin dia masih butuh penyesuaian."
"Aku akan coba melihatnya dan mengajaknya pergi makan bersama."
Sebuah ide aneh yang belum pernah terpikirkan oleh Aragaki muncul tiba-tiba.
Tanpa sadar, Aragaki seperti memilih untuk mencari cara agar bisa melihat Reda walaupun dia masih belum mau mengakui perasaan itu.
Saat dirinya berjalan, dia mendengar suara. rubah kecilnya yang begitu semangat membantu gadis desa itu.
"Ryuunosuke tampaknya semangat sekali." pikirnya
Aragaki mendekat ke ruangan tersebut dan tampaknya disadari oleh rubah kecil kesayangannya.
“Aragaki-sama datang!”
“Nushi-sama datang?” Reda terkejut. Tidak lama setelah itu, sang penguasa benar-benar datang ke dalam.
“Bagaimana ruangan barunya?”
Reda langsung bersujud begitu melihat Aragaki, “Nushi-sama, ruangannya sangat bagus. Terima kasih banyak.”
Aragaki melihat gadis itu sambil mengingat kalimat yang dikatakannya beberapa waktu lalu.
Mata Aragaki seakan hanya terfokus pada gadis itu. Dia merasakan hal aneh.
"Saat mendengar suaranya dan melihatnya, entah kenapa hati ini begitu tenang."
"Aku ingin tau kenapa aku tiba-tiba tidak bisa melepaskan semua belenggu ini."
Di saat Aragaki terus mengelak, sebuah kalimat mengejutkan terucap dari mulut sang penguasa.
“Aku ingin makan kudapan siang bersamamu. Apa kamu mau menemaniku?”
"Eh?!" Reda terkejut. Bukan hanya Reda, namun Aragaki sendiri kaget dengan ucapannya itu.
"Apa yang baru saja aku katakan padanya?"
Rubah kecil itu langsung membuat suara imut seperti sebelumnya.
"Kyaaa! Aragaki-sama mengajak Reda-sama makan bersama. Ryuunosuke senang, Ryuunosuke senang~"
Sambil melompat dan mengelilingi sang majikan, rubah kecil itu menggoda tuannya, "Kyaa~Ryuunosuke jadi malu."
"Kenapa jadi kamu yang malu, Ryuunosuke?" tanya Aragaki sambil tersenyum
Tampaknya rubah kecil itu tidak memedulikan kalimat tuanya dan menghampiri gadis kesayangannya.
"Kyaa~Ryuunosuke malu. Reda-sama, ayo bilang iya! Ayo pergi dengan Aragaki-sama!"
Masih mencoba menahan rasa malunya, Reda seperti tidak mempercayai telinganya. Dia bertanya kepada sang penguasa sekali lagi.
"Nu–Nushi-sama, apakah aku benar-benar diajak pergi oleh Nushi-sama?"
"Kenapa? Apa masih ada yang mau kamu kerjakan dulu?" tanya Aragaki
"Nu–Nushi-sama tidak masalah jika pergi dengan gadis sepertiku?"
Wajah Reda terlihat begitu penuh keraguan, namun ada juga sorot mata penuh pengharapan.
"Dewa, aku tidak ingin menyesal. Aku ingin bersama Nushi-sama. Aku ingin bersamanya. Aku ingin pergi dengannya."
"Aku mohon, semoga ini bukan mimpi."
Reda begitu berharap meskipun takut. Sorot mata dan ekspresi wajah Reda langsung berubah. Dia terlihat begitu merona dan tidak bisa berkata apapun.
Sang penguasa berlutut dan menatapnya yang masih bersimpuh.
"Aku mengajakmu pergi untuk merayakan kepindahanmu. Apa kamu tidak mau pergi denganku?"
Reda dengan penuh semangat langsung menjawabnya, "Bersedia! Aku akan ikut bersama Nushi-sama kemanapun! Aku...aku akan ikut ke tempat yang Nushi-sama inginkan."
"Begitu. Kalau begitu selesai merapikan kamar ini, segeralah keluar. Aku akan menunggu di depan pintu."
"Ryuunosuke juga ikut. Setelah selesai, langsung pergi keluar ya."
"Baik Aragaki-sama!" rubah kecil itu tidak kalah senangnya
"Terima....terima kasih untuk kebaikan Nushi-sama."
Aragaki berdiri lalu berjalan keluar kamar itu. Begitu sang penguasa keluar, rubah kecil itu langsung memberikan pelukannya pada Reda.
"Reda-sama, ini berkah! Aragaki-sama mengajak Reda-sama pergi! Kyaa~Ryuunosuke senang!"
Reda tersenyum bahagia seperti akan meneteskan air mata.
"Ryuunosuke, rasanya hari ini senang sekali. Nushi-sama sudah mau melihatku walau hanya sesaat."
"Tidak akan sesaat! Setelah ini, Reda-sama akan sering bersama Aragaki-sama dan Ryuunosuke yakin Reda-sama dan Aragaki-sama akan selalu menghabiskan waktu bersama!"
Reda memeluk rubah kecilnya, "Terima kasih banyak, rubah kecilku."
Segera, mereka merapikan semuanya dan bersiap-siap.
Di depan pintu, Aragaki tampak begitu tenang. Tidak ada lagi perasaan bingung dan aneh yang mengganjal di hatinya.
"Aku ingin tau kenapa aku tidak lagi bingung dengan perasaanku sendiri?"
"Aku merasa aku menggunakan cara yang cukup aneh untuk menemuinya. Seperti...aku terlalu banyak menggunakan alasan tidak masuk akal."
"Kenapa aku harus mengajaknya pergi?"
Tapi mengingat wajah senang Reda membuat Aragaki tersenyum. Sebuah senyuman manis dari sang penguasa.
"Dia tersenyum. Kelihatannya dia memang begitu senang bisa pergi denganku."
Gumaman itu terdengar sampai ke telinga kedua youko yang mengawasi tuannya dari kejauhan.
"Ginko, mungkinkah ini..."
"Aku rasa...Nushi-sama sudah menemukan sisi baik Reda-sama."
Nagi terlihat bahagia, "Kau benar. Akhirnya musim semi untuk gadis itu telah datang."
**
Di dalam ruangannya, Reda mencoba untuk tenang. "Ryuunosuke, apa aku kelihatan kotor?"
"Reda-sama tidak kotor. Jangan khawatir, Reda-sama sudah cantik. Ini, kain untuk menutupi tubuh Reda-sama."
Ryuunosuke memakaikan kain tersebut pada Reda yang duduk bersimpuh di lantai tatami.
"Lihat, cantik kan? Reda-sama sudah cantik. Ayo, Aragaki-sama telah menunggu."
Reda masih belum bisa percaya bahwa dirinya akan pergi dengan sang penguasa. Terlebih lagi, beliau sendiri yang mengajaknya pergi.
"Aku harap aku tidak mempermalukan Nushi-sama."
"Tidak akan! Ryuunosuke yakin Reda-sama akan sangat cocok dengan Aragaki-sama. Ayo ayo!"
Rubah kecil itu jadi yang paling bersemangat. Dia menarik tangan gadis kesayangannya dan keluar.
Di pintu depan, mereka melihat Aragaki yang benar-benar menunggunya.
"Aragaki-sama!"
Rubah kecilnya datang menggandeng tangan gadis itu. Aragaki melihatnya. Kain yang menutupi pakaiannya cukup membuatnya terlihat berbeda.
"Itu cocok untuknya." gumam sang penguasa dalam hati
Reda mencoba tenang sekarang.
"Harus tenang. Jangan membuat perasaan Nushi-sama memburuk. Kamu harus bersikap sopan dan tidak berlebihan, Reda. Kamu harus tenang."
Reda menunjukkan senyumannya pada sang penguasa dengan tidak lupa salam hormatnya.
"Terima kasih sudah mau mengajak kami pergi bersama, Nushi-sama."
"Tidak apa-apa. Ayo jalan."
Aragaki berjalan lebih dulu diikuti Reda dan rubah kecilnya.
Saat mereka keluar dari kediaman, tidak perlu ditanyakan lagi, keempat pelayan itu langsung mengikuti ketiganya.
"Pokoknya kita harus awasi mereka. Aku ingin lihat kemana mereka pergi." bisik Nagi pada yang lain
"Jangan cemas, Nagi. Yang penasaran bukan hanya kau. Aku dan Hakuren akan melihat dari atas langit seperti biasa." ujar Kuroto menjawabnya
"Baiklah. Kuserahkan itu padamu, Kuroto. Ginko, ayo kita ikuti mereka sekarang."
Nagi dan Ginko pergi lebih dulu. Dengan diam-diam mereka benar-benar mengikuti sang penguasa.
"Semoga tidak terjadi hal buruk." kata Ginko dalam hatinya
**
Di sepanjang jalan, Reda yang digandeng oleh Ryuunosuke melihat punggung bagian belakang dari sang penguasa.
Gadis lugu itu sama sekali tidak bisa melepaskan rasa bahagianya.
"Nushi-sama keren sekali. Bahkan walaupun hanya bisa melihat dari belakang, punggung itu sungguh indah."
Sungguh cinta yang berasal dari hati.
Rubah kecil itu melihat Reda dan berkata, "Senangnya bisa pergi bersama seperti ini, iya kan Reda-sama?"
"Iya." sebuah senyum terlihat di bibir Reda
Aragaki sempat memperlambat langkahnya hingga akhirnya mereka berada dalam barisan yang sama tanpda disadari oleh Reda dan rubahnya.
"Nushi...-sama?" Gadis itu terkejut. Dia baru menyadari hal tersebut. "Kenapa Nushi-sama..."
"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya merasa akan meninggalkan kalian jika aku berjalan lebih cepat."
"Sejak kamu juga baru merasa lebih baik, sebaiknya berjalan pelan seperti ini agar kamu tidak lelah."
Sungguh kalimat yang begitu hangat untuk Reda.
"Nushi-sama mengkhawatirkan keadaanku..."
Reda terlihat memerah dan debaran jantungnya mulai cepat kembali. Aragaki meliriknya sedikit tanpa diketahui oleh yang keduanya.
"Aku tidak bohong saat mengatakan hal itu. Tapi, mungkin bisa dikatakan bahwa aku juga telah berbohong."
"Pada akhirnya...aku hanya ingin berjalan di sampingnya sekarang."
"Aku ingin melihatnya lebih dekat dan aku...ingin berada lebih dekat dengannya."
"Demi agar bisa memahami perasaan aneh ini dan...demi bisa melihat senyuman itu kembali."
Sang penguasa mulai mencari banyak alasan demi bisa mengenalnya lebih jauh.
Alasan yang belum pernah dibuatnya, demi bisa mengetahui semua hal tentang gadis desa dengan senyuman indah di wajahnya.
****