
Ketika jam makan siang tiba, Aragaki berjalan menuju ruang makan. Karena masih ada waktu, dia berjalan ke arah dapur. Di dapur, Aragaki melihat rubah kecilnya sedang sibuk menyiapkan makan siang.
“Ryuunosuke…” gumamnya pelan
Begitu dia melihatnya, dia sedikit kaget karena Ryuunosuke menyiapkan makanan itu sendirian. Sedikit tidak habis pikir karena dia tidak tau bahwa menyiapkan makanan sampai lima porsi sekaligus bisa terlihat begitu repot.
“Apakah rubah kecilku selalu kerepotan begini? Aku tau Nagi dan yang lainnya selalu kuperintahkan untuk menjaga wilayah Higashi no Mori dan pulang ke tempat ini begitu jam makan tiba.”
“Tapi, aku merasa sudah dua hari ini dia cepat melakukan sesuatu. Bahkan makanannya juga datang dalam kondisi masih hangat.”
Aragaki masih tidak menyadari bahwa sejak dua hari lalu, rubah kecil itu dibantu oleh Reda saat membawa makanan di dapur ke ruang makan.
Sang penguasa masih tidak menganggap kehadiran gadis itu berarti. Karena itu, di dalam benaknya tidak ada satupun kemungkinan bahwa gadis itu yang membantunya.
Tidak ingin membuat rubah kecilnya menyadari kehadirannya, Aragaki mulai berjalan untuk melihat yang lain.
Ryuunosuke yang ada di dapur tampaknya sedikit menyadari bahwa tuannya datang, tapi dia terlalu sibuk untuk menyapanya. Selain itu, Ryuunosuke juga masih harus menyiapkan makan siang dengan cepat.
Aragaki melewati engawa di sepanjang dapur. Dia cukup terkejut karena lantai yang awalnya kotor karena sup yang disiramnya ke kepala gadis itu sudah bersih.
“…”
Aragaki tidak mengatakan apapun, namun dia tau bahwa gadis manusia itu melakukan tugasnya dengan baik.
Dia berjalan ke arah taman dan melihat ada hal yang berbeda.
“Hmm?”
Sedikitnya, rumput liat dan daun yang mati sudah tidak ada lagi. Bukan hanya itu, bunga dan batangnya terlihat begitu rapi.
Dengan wajah yang menampakkan senyumannya, Aragaki tampaknya begitu puas dengan taman bunganya yang rapi.
“Sudah lama sekali tidak melihat tanaman bunga ini begitu rapi. Kalau kuingat lagi, Ryuunosuke membawakan ikebana untukku. Bunganya pasti berasal dari sini.”
Sungguh, tidak ada satupun di benak Aragaki bahwa semua itu adalah hal yang dilakukan Reda.
Sampai pada akhirnya, ketika dia berjalan menuju kebunnya, Aragaki melihat gadis desa itu sedang merapikan kebunnya yang rusak.
Reda yang sudah kembali ke kebun setelah membersihkan dirinya di gubuk langsung melakukan pekerjaannya. Tanah dan tumbuhan yang rusak akibat kelinci hutan yang masuk segera dibersihkan.
Pakaian bersihnya kembali menjadi kotor kembali karena tanah. Reda membawa semua sampah-sampah itu ke belakang untuk nanti diolah kembali. Dengan menimba dan mengambil air di sumur, dia membawanya sendirian untuk menyirami tanaman di kebun.
Untuk pertama kalinya, Aragaki melihat semua yang dilakukan oleh gadis itu. Selama tiga hari ini, dia terus mengabaikannya. Namun, secara diam-diam Aragaki memperhatikannya sekarang.
“Dia benar-benar melakukannya ya.”
Reda tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh tuannya sekarang.
“Haa, akhirnya selesai. Aku harap tanaman Nushi-sama tidak rusak lagi, jadi Ryuunosuke tidak perlu dimarahi. Aku rasa sudah waktunya makan siang. Aku akan mencoba melihat rubah manis itu.”
Selesai mengembalikan ember ke sumur, Reda segera pergi ke dapur. Aragaki tidak menyangka semua yang dia dengar. Tidak ada calon ‘pengantin’ yang memikirkan rubah kecil kesayangannya sejauh ini.
Aragaki diam sejenak. Setelah dia berpikir dan memutuskan untuk melihatnya sendiri, sang penguasa itu berjalan menuju dapur.
Mungkin karena sedikit tertarik dengan kata-kata itu, Aragaki diam-diam berdiri dan mendengar suara gadis itu ada di sana.
“Ryuunosuke, kenapa tidak menunggu datang sebentar?”
“Reda-sama~”
Rubah kecil itu memeluk Reda dengan ekornya yang bergoyang.
“Hmm? Reda-sama, pakaiannya?”
“Ah, ini? Tadi, Hakuren-sama dan Kuroto-sama yang memberikannya. Katanya ini pakaian yang tidak terpakai dari tempat mereka, jadi diberikan kepadaku. Apa…aku tidak cocok memakai yukata ini?”
“Hakuren-sama dan Kuroto-sama?” Ryuunosuke sempat terkejut mendengarnya
Jelas pakaian yang dikenakan oleh Reda adalah yukata untuk perempuan dan kedua tengu itu adalah laki-laki. Hanya ada satu jawaban yang terpikirkan oleh si rubah kecil itu.
“Mereka pasti berbohong. Hakuren-sama dan Kuroto-sama memberikan ini untuk Reda-sama. Ryuunosuke yakin sekali!”
Aragaki mendengar semua itu, namun tidak bermaksud mengatakan apapun. Dia melihat kembali apa yang gadis itu lakukan di dapur.
Reda yang hendak membantu si rubah kecil membawakan piring masakan terkejut dengan isi menunya.
“R–Ryuunosuke! Ke–kenapa masakan ini yang disuguhkan untuk Nushi-sama?! Bukankah aroma tanganku ada di sini? Nushi-sama akan membuangnya lagi nanti.” Reda menjadi panik
“Jangan khawatir, Reda-sama. Aragaki-sama menyukainya~”
“Eh?”
“Nagi-sama dan Ginko-sama mengatakan bahwa Aragaki-sama menyukai masakan ini dan ingin memakannya sebagai menu makan siang. Hebat, kan!”
Reda masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Nushi-sama…menyukainya? Meskipun ada aroma tanganku di dalamnya? Apa Ryuunosuke serius?”
“Iya~Ryuunosuke juga tidak percaya, tapi Aragaki-sama memang menyukainya!”
Sebuah senyuman terlihat dari wajah Reda. Dia begitu senang sekali. Dengan berlutut, dia memeluk rubah kecil yang sama senangnya.
“Reda-sama benar, kita berhasil!”
Aragaki pergi meninggalkan dapur. Dia berjalan menuju ruang makan. Di saat dia berjalan, dia memikirkan ekspresi yang dibuat rubah kecilnya ketika melihat gadis itu.
“Rubah kecilku tampaknya begitu menyukainya. Tapi, apapun yang dilakukannya…semua itu masih belum cukup membuatku berpikir dia adalah orang yang baik.”
Aragaki berhenti dan membuat tatapan tajam. Terdapat aura yang mengerikan dari tubuhnya. Meskipun dia telah melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Reda, tampaknya hati sang Dewa Pelindung itu masih membeku.
“Manusia itu kotor dan dia tidak jauh berbeda dari manusia yang lain.”
**
Di dapur, Reda mengusap-usap kepala rubah kecil tersebut. Tapi dia dikagetkan dengan gerakan tiba-tiba dari si rubah kecil.
“Apa Aragaki-sama sudah pergi?”
“Araga…maksudnya Nushi-sama? Apa yang kamu bicarakan, Ryuunosuke?”
Ryuunosuke langsung berlari ke arah pintu dapur dan melihat tidak ada yang berdiri di sana.
“Fuuu~syukurlah sudah pergi. Kita berhasil, Reda-sama!”
“Apa yang kamu bicarakan, Ryuunosuke?”
Reda tidak mengerti maksud ucapan si rubah kecil. Dia sama sekali tidak mengetahui bahwa sejak awal dirinya sudah diperhatikan oleh sang penguasa tersebut.
“Reda-sama, Aragaki-sama tadi ada di sini! Ryuunosuke mencium aromanya. Aragaki-sama biasanya selalu menyembunyikan aroma tubuhnya, tapi kali ini beliau tidak melakukannya!”
“Eh?! Benarkah itu?! Aku…aku sama sekali tidak menyadarinya, Ryuunosuke! Sejak kapan Nushi-sama ada di dekat dapur?!” Reda benar-benar pucat dan panik sekarang
“Mungkin sejak Reda-sama datang. Ryuunosuke sudah sangat takut kalau Reda-sama mengatakan bahwa masakan ini adalah buatanmu tadi. Syukurlah hal itu tidak terjadi.”
“Apa aku melakukan kesalahan? Bagaimana kalau Nushi-sama sampai mengetahui semuanya?”
“Tidak perlu khawatir. Reda-sama sudah melakukan yang terbaik dan Ryuunosuke juga sudah melakukan yang terbaik. Pokoknya, kita tetap menjalankan misi untuk membuat Nushi-sama tersenyum dan menerima manusia!”
Reda berpikir dia benar-benar melakukan kesalahan.
“Aku tidak sengaja mengatakan pakaian ini pemberian Hakuren-sama dan Kuroto-sama. Aku harus minta maaf pada Nushi-sama dan memohon agar tidak menghukum keduanya!”
**
Jam makan siang tiba dan semuanya sudah berada di ruang makan. Aragaki tidak mengatakan komentar apapun. Dia melihat Hakuren dan Kuroto yang bersikap biasa-biasa saja sejauh ini.
Tidak lama kemudian makanan datang. Ryuunosuke dibantu Reda membawakan makanan ke dalam. Seperti biasa, hanya Ryuunosuke yang masuk untuk memberikan makan siangnya. Reda hanya menunggu dan memberikan piringnya kepada Ryuunosuke tanpa sedikit pun menunjukkan wajahnya di hadapan Aragaki.
Saat piring terakhir yang diberikan untuk Aragaki selesai, sang penguasa itu bertanya kepada rubah kecilnya.
“Ryuunosuke, apa kamu masih marah padaku?”
Rubah kecil itu hanya diam. Dia ingin sedikit bersikap dingin pada tuannya karena tindakannya kepada Reda.
Aragaki tampaknya sudah tau dengan sikap itu.
“Aku minta maaf padamu ya, Ryuunosuke. Aku benar-benar menyukai masakan itu. Lihat? Aku sangat ingin memakannya lagi.”
“Aragaki-sama harusnya minta maaf pada Reda-sama, bukan pada Ryuunosuke.”
“…!!” semua yang hadir termasuk Reda yang ada di luar ruangan terkejut mendengarnya
“Ru–ru–rubah kecil! Jangan bicara seperti itu hanya karena kau masih kecil ya!” teriak Nagi
“Nagi, tenanglah!” Ginko mencoba menenangkan Nagi
Kedua tengu yang melihat itu hanya memasang wajah syok. Tampaknya rubah kecil itu benar-benar memanfaatkan situasi.
“Aragaki-sama yang harus minta maaf pada Reda-sama!”
“Aku tidak mau minta maaf kepada manusia kotor. Kenapa aku yang harus minta maaf pada gadis kotor itu. Aku tidak bersalah.”
“Kalau begitu Ryuunosuke tidak akan memaafkan Aragaki-sama!”
Tampaknya rubah itu benar-benar menunjukkan sisi ‘manisnya’ kepada sang majikan dengan memasang wajah cemberut dan ekor yang terus bergoyang cepat karena kesal.
Reda yang ada di luar benar-benar ingin sekali minta maaf kepada Aragaki namun dia tidak diizinkan masuk. Sampai akhirnya dia mendengar kalimat lain dari mulut sang penguasa.
“Apa yang diinginkan Ryuunosuke dariku agar aku memaafkanmu?”
“Ryuunosuke ingin bisa membantu Reda-sama lagi!”
“Hah?!” keempat pelayannya kini berteriak bersamaan
Tidak mau banyak berdebat, siapa yang menyangka bahwa Aragaki akan menyetujui hal tersebut dengan cepat.
“Baiklah. Ryuunosuke boleh membantunya lagi.”
****