The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 59. Mencari Alasan untuk Memberikan Perhatian



Di ruangannya, Reda masih merona.


“Ryuunosuke, rasanya tadi jantungku seakan bisa berhenti kapan saja.”


“Tidak boleh! Reda-sama tidak boleh mati!” rubah kecil histeris mendengarnya


“Maafkan aku, bukan begitu. Maksudnya, aku sangat gugup sekali, Ryuunosuke.”


“Hoo~Ehehe, Ryuunosuke pikir Reda-sama akan mati.”


Rubah kecil itu memeluk gadis kesayangannya. Nagi, Ginko dan Kuroto ingin memberitau hal indah lainnya kepada gadis desa itu, namun Reda lebih penasaran dengan sesuatu.


“Um, wanita cantik tadi itu…apakah itu siluman juga?”


Ryuunosuke menjawab pertanyaan Reda.


“Wanita tadi bernama Jorogumo-san. Beliau yang membuat semua pakaian yang dikenakan Aragaki-sama dan juga orang yang menjahit semua pakaian teman-teman kami di masa lalu.”


“Beliau juga yang membuat pita ibu Ryuunosuke yang dikenakan oleh Reda-sama.”


“Begitu, tapi kenapa beliau bisa ada di sini?”


“Aragaki-sama yang memanggilnya. Bagaimanapun juga, kau itu terluka kemarin sore dan tidak ada perempuan di sini. Karena itu, Aragaki-sama memanggilnya karena dia ingin lukamu dirawat.”


Jawaban Kuroto membuat Reda terkejut, “Nushi-sama yang…memanggil?”


“Benar, Reda-sama. Nushi-sama yang memanggil.” Ginko membenarkan ucapan Kuroto


Reda tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia begitu bahagia sekali. “Dewa, apakah ini adalah kesempatan darimu? Aku benar-benar merasa bahagia. Jika harus mati setelah ini, aku rasa aku akan ikhlas.”


Nagi berjalan dan berlutut di dekat gadis desa itu.


“Ga–…Reda-sama…”


“Eh?”


“Reda-sama, Aragaki-sama akan melihatmu mulai sekarang. Kami akan mendukungmu. Aragaki-sama mungkin belum bisa membuka hatinya. Tapi, percayalah bahwa usahamu tidak akan sia-sia.”


“Nagi…-sama…”


“Terima kasih untuk semua usahamu. Terima kasih untuk semua cintamu pada tuan kami. Sebagai pelayan setia Aragaki-sama, aku sangat menghargai itu. Cepatlah sembuh dan bawalah senyuman Aragaki-sama kembali.”


Mata Reda meneteskan air mata. Dia begitu bahagia mendengarnya.


“Terima kasih…hiks, terima kasih untuk semuanya.”


Hakuren yang baru tiba mendengar semua itu dan tersenyum di engawa luar.


Sesuai dengan apa yang dikatakan Jorogumo, Reda benar-benar tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk manis sambil makan makanan lezat buatan Ryuunosuke.


Tapi, ada hal yang tidak biasa selama masa penyembuhan itu. Sang penguasa, Aragaki datang hampir di setiap waktu.


Ini adalah hari kedua setelah Reda sadar. Aragaki datang dengan banyak alasan yang aneh.


Di dalam ruangan tempat Reda berada, Aragaki sudah duduk di samping Reda sambil melihatnya makan. Di samping Reda yang lain, Ryuunosuke hanya menunduk sambil menggoyang-goyangkan ekornya karena senang.


“Kenapa tidak dimakan?” tanya Aragaki


“Aku…” Reda jadi sangat gugup. Dia bahkan tidak bisa memegang sendok kayunya dengan benar. Seperti kemarin, tatapan Aragaki padanya membuat Reda seperti terhipnotis.


“Kamu belum meminum supmu sama sekali.”


“Itu…Nushi-sama, itu…”


Ryuunosuke tampaknya begitu senang hingga akhirnya dia melakukan caranya.


“Reda-sama, tanganmu masih sakit?! Ryuunosuke akan menyuapimu!”


“Eh? Ryuunosuke, tanganku tidak sakit!”


“Apa?! Reda-sama tanganmu dingin!” kata Ryuunosuke sambil memegang telapak tangan Reda. Rubah kecil itu tidak berbohong, telapak tangannya memang dingin. Dingin karena gugup dan malu lebih tepatnya.


Normalnya, hal seperti itu tidak mempan pada Aragaki. Tapi tampaknya hati Aragaki cukup terkejut saat mendengar rubah kecilnya mengatakan tangan Reda sakit. Dia langsung mengambil mangkuk sup dan sendok yang dipegang gadis itu.


“Nu–Nushi-sama!”


“Kalau tanganmu masih belum bisa memegangnya, sebaiknya jangan memaksakan diri.” Aragaki menyendok sup di tangannya dan bermaksud menyuapinya ke mulut gadis itu.


“Buka mulutmu.”


“Eh?!”


“Kyaa!” lagi-lagi rubah kecil itu membuat suara kecil imut yang aneh. Aragaki dan Reda menengok bersamaan ke arah rubah itu.


“Ada apa, Ryuunosuke?” tanya Reda


“Ryuunosuke mau membuat teh dulu. Aragaki-sama, tolong bantu Reda-sama makan ya.”


“Ryuunosuke!” Reda panik saat rubah kecilnya berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Sekarang, lagi-lagi dia hanya berdua dengan pria yang dicintainya.


“Apa yang kamu lakukan? Cepat buka mulutnya.”


“Nushi-sama, aku…aku bisa–”


“Habiskan ini sekarang. Aku akan menunggumu sampai makanan ini habis.”


Sekarang, dibandingkan malu, Reda menjadi bingung. Dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada sang penguasa.


“Nushi-sama, apakah aku tidak mengganggumu?”


“Apa?”


“Nushi-sama tidak…menyukai manusia sepertiku, iya kan? Aku…aku tidak ingin Nushi-sama terganggu karena aroma tubuhku dan aku tidak ingin dibenci lebih dari ini.”


“…” Aragaki menurunkan sendoknya. Dia melihat ekspresi sedih gadis yang tertunduk di depannya.


Sebuah kalimat lain terngiang di benaknya.


[Nushi-sama, mungkin Anda tidak tau tapi Reda-sama benar-benar memegang dan melakukan semua yang Anda katakan. Tidak ada satupun dari kata-kata maupun perintahmu yang dilanggarnya]


[Bahkan, hanya untuk sekedar memakan makanan sisa dari tempat ini saja, Reda-sama lebih memilih menahan rasa laparnya dibandingkan melanggar perintahmu]


Aragaki mengingat itu dengan sangat baik. Dia akhirnya membuka mulutnya dan bicara.


“Eh?”


“Aku melakukan ini bukan demi dirimu. Saat kejadian dimana kamu terus menunggu di luar dengan luka, semua pelayan setiaku datang menerobos ruanganku. Rubah kecilku bersujud dengan penuh air mata dan menangis.”


“Aku sudah katakan padamu, bukan? Jika aku membuatnya sedih lebih dari itu, aku tidak tau alasan apa yang harus aku sampaikan pada mendiang ibunya, Ryoko.”


“Ini tidak seperti aku menerima kehadiranmu. Ingat baik-baik, aku masih belum menerimamu. Kebencianku pada manusia dan darah dari desa terkutuk itu masih belum hilang. Anggap saja ini adalah kemurahan hatiku demi pelayanku.”


Sebuah kalimat yang tidak terduga. Raut wajah senang Reda berubah menjadi sebuah ekspresi sendu.


“Aku berharap Nushi-sama mau menerima kehadiranku walau sedikit. Ternyata, harapan itu memang terlalu tinggi untukku. Aku harusnya menyadari betapa hinanya aku di mata Nushi-sama.”


Sedangkan di dalam


pikiran Aragaki, dia seperti memikirkan hal yang bertolak belakang dengan apa


yang baru saja dikatakannya.


“Ekspresinya menjadi sedih kembali. Apa aku mengatakan hal yang menyakitinya? Tapi, kenapa aku merasa aku begitu bersalah?”


“Aku tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu. Ada apa denganku? Kenapa rasanya begitu aneh melihat wajah itu tanpa senyuman?”


Di luar, kelima pelayan Aragaki mendengar dengan jelas ucapan tuannya dan mulai mengumpat dalam hati.


“Aragaki-sama bodoh! Kenapa membuat Reda-sama bersedih lagi! Ryuunosuke akan mengadukan hal ini pada ibu saat berdoa! Lihat saja nanti!”


“Jalan asmara Aragaki-sama masih panjang rupanya.”


“Nushi-sama, kalimatmu itu benar-benar terdengar cukup menyakitkan.”


“Aku mohon, semoga Reda-sama tidak menangis.”


“Gadis desa, tolong jangan berpikir yang bukan-bukan! Aragaki-sama juga, seharusnya tidak mengatakan hal itu! Ini akan merepotkan!”


Reda mencoba tersenyum. Dia sudah tau semua itu sejak awal, jadi gadis desa itu mencoba memperlihatkan senyumannya kembali.


“Begitu. Nushi-sama sangat mencintai Ryuunosuke dan semuanya. Syukurlah, Nushi-sama tidak marah pada Ryuunosuke dan yang lain. Terima kasih banyak.”


Memang senyum Reda dibuat untuk menutupi kesedihannya. Tapi, saat ini dia memberikan senyuman terbaiknya demi orang yang dicintainya.


Dia memang sedih, tapi dia bahagia karena Aragaki mau mengatakan hal itu. Tidak pernah terpikirkan bahwa Reda dan Aragaki akan dekat, bahkan Aragaki mengatakan hal sepenting itu.


Senyum manis itu benar-benar sebuah rasa bahagia Reda dan entah kenapa, hati Aragaki seperti disirami kebahagiaan.


Ada rasa hangat yang menyelimuti, membuatnya ingin membalas senyuman itu. Namun, Aragaki masih menahan dirinya.


Setelah itu, dia menyuapi sup di tangannya kepada Reda tanpa masalah berarti. Gadis itu menghabiskan supnya dan semua dimakannya dari tiap suapan yang sang penguasa berikan.


Hal tersebut terjadi selama masa penyembuhan Reda.


Setelah 5 hari berlalu, Reda sudah lebih baik. Jorogumo sudah tidak datang lagi karena Reda mengatakan bahwa dia sudah membaik.


Reda berjalan menuju ruangan Aragaki-sama dengan rubah kecil yang menggandeng tangannya.


“Reda-sama baik-baik saja, kan?”


“Iya, aku sudah baik-baik saja.”


“Sudah benar-benar tidak sakit, kan?”


“Ryuunosuke jangan khawatir.”


Tanpa diketahui Reda, dari belakang dan atas atap, keempat pelayan setia Aragaki mengawasinya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk. Mereka khawatir Aragaki akan melemparnya kembali seperti yang sudah-sudah.


Saat sampai di depan pintu Aragaki, Reda dan rubah kecil berlutut memberi hormat.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke dan Reda-sama memberi hormat.”


Tidak ada jawaban dari dalam. Tampaknya Aragaki masih bersiap-siap. Rubah kecil berdiri dan bermaksud membuka pintunya. Namun sebelum itu dilakukan, pintu terbuka.


Aragaki melihat rubah kecilnya dan gadis desa yang masih bersujud.


“Aragaki-sama, selamat pagi!”


“Selamat pagi, Ryuunosuke.” Aragaki memberikan senyumannya, tapi perhatiannya masih tertuju pada gadis yang tidak mengangkat kepalanya sama sekali.


Ryuunosuke terkejut. Bukan hanya Ryuunosuke tapi keempat pelayan Aragaki yang mengawasi dari kejauhan juga tidak kalah terkejut.


Aragaki berlutut dan memegang kedua lengan Reda dengan lembut. Saat tangan lembut itu menyentuh lengan Reda, Reda terkejut dan melihat wajah indah menawan itu dalam jarak dekat.


“Sampai kapan kamu mau berlutut seperti itu. Lukamu akan terbuka lagi nanti. Angkat kepalamu sekarang.”


“Nushi…-sama?”


“Rubah kecil bisa menangis lagi jika lukamu terbuka.”


Reda tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa terpesona dengan wajah memerah ditatap lembut oleh Aragaki. Suara lembutnya masuk dari telinga menuju hati dan membuat Reda tidak bisa berkata apa-apa.


Dengan hati-hati, Aragaki membantu Reda berdiri. “Sebaiknya seperti ini. Tidak perlu memaksakan diri untuk memberi hormat seperti itu karena aku tidak pernah memintanya.”


Reda tidak bisa berkata apapun. Begitu Reda berdiri, Aragaki langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


“Re–Reda-sama…”


Wajah Reda memerah, ‘Nushi-sama mau menyentuhku, ini sungguhan.’


“Ryuunosuke…”


“Ya?”


“Nushi-sama sungguh baik, iya kan?”


Ryuunosuke memeluk Reda.


**


Aragaki yang berjalan di engawa sendirian berhenti. Dia melihat tangannya dan berpikir dalam hatinya, “Kenapa rasanya aku ingin menyentuhnya saat itu? Tampaknya aku terlalu terpengaruh pada air mata rubah kecil itu.”


Aragaki seperti bukan dirinya. Dia masih belum menerimanya, tapi di sisi lain dia selalu mencari alasan untuk memberinya perhatian. Sang penguasa menyadari hal itu, namun menutup mata tentangnya.


Seakan sedikit alasan kecil selalu bisa menjadi cara untuknya memberi perhatian.


****