The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 47. Memulai Kembali dari Awal



Setelah mengantarkan rubah kecil yang tertidur ke kamarnya, Ginko kembali ke ruangan dan berkumpul dengan yang lain.


Begitu duduk, Ginko menatap kesal Kuroto dan menegurnya dengan wajah serius.


“Kenapa kamu berbohong pada Reda-sama kalau besok hari kematian semua rekan kita?”


“Kau pikir aku punya cara lain? Kalau dia kembali ke tempat ini besok, dia akan dilempar lagi oleh Aragaki-sama! Lebih baik dia menenangkan dirinya di gubuk tua itu.”


“Tapi tidak dengan berbohong seperti itu di depan Ryuunosuke, Kuroto!”


“Anak itu juga tidak mengatakan apapun!”


“Itu karena dia sedang sangat terpukul dan sedih!”


“Ini semua dimulai karena kebodohan kau dan Nagi!” Kuroto membentak Ginko


Ginko terkejut dengan itu namun akhirnya dia mengalah. “Aku dan Nagi tidak bermaksud begitu.”


Kuroto menghela napasnya, “Aku mengerti kalian tidak bermaksud jahat dan ingin membuatnya dekat dengan Aragaki-sama. Tapi, semua sudah seperti ini sekarang. Sejujurnya, aku ragu Aragaki-sama akan pulang besok.”


“Dengan emosinya yang sekarang, sepertinya beliau akan pergi ke tempat Shuen-sama dan menginap di sana.” Hakuren mencoba menebaknya


“Tidak peduli dimana dan kemana Nushi-sama pergi. Aku masih lebih mengkhawatirkan Reda-sama.”


Semua kembali menjadi terdiam. Keheningan itu mulai terasa begitu kelam karena amarah dari tuan mereka.


“Kalian…apakah menurut kalian, kita sudah berkhianat pada Aragaki-sama?”


“…”


Pertanyaan Nagi itu membuat yang lain menyadari sesuatu. “Kita sudah berubah hanya dalam waktu 8 hari dan itu dilakukan oleh gadis desa itu.” Nagi melanjutkan kalimatnya. Dia melihat ketiga temannya dengan wajah serius.


“Aku tau ini sangat tidak masuk akal. Pertama kali aku membawanya bersama Ginko, aku sudah sangat yakin dia sama seperti yang lain. Sampai akhirnya dalam waktu singkat, aku merasa dia begitu cocok dengan Aragaki-sama.”


“Dia juga memperlakukan rubah kecil dengan baik, sangat baik. Aku berpikir Ryoko-san kembali hidup dalam diri gadis itu karena membuat rubah kecil itu tertawa seperti anak-anak pada umumnya.”


“Tanpa sadar, aku merasa bahwa semua yang dilakukannya benar-benar demi janjinya pada rubah kecil itu.”


“Dan kata-kata tadi itu…aku tau dia tidak berbohong!”


Kalimat Nagi itu tidak salah, semua benar. Ginko, Hakuren dan Kuroto tidak menyangkalnya.


“Reda-sama benar-benar mencintai Nushi-sama.”


“Aku tau kita mungkin telah berkhianat. Tapi, itu bukan karena kita membenci Aragaki-sama! Itu karena…itu karena aku merasakan perasaan yang sama dengan rubah kecil itu!”


Ucapan Nagi yang barusan adalah sebuah isi hati yang jujur dari pelayan yang setia pada tuannya.


Nagi masih mengeluarkan semua perasaan dan isi hatinya.


“Kalian tidak melupakan kenyataan, kan? Dari ratusan penghuni kediaman ini, dalam waktu satu malam di hari itu, hanya kita berlima yang hidup.”


“Ryoko-san bahkan mengorbankan dirinya untuk melindungi rubah kecilnya.”


“Aku tentu tidak akan melupakan kebencianku pada darah leluhur gadis itu. Tapi, rubah kecil itu bahkan lebih menyukai gadis itu dibandingkan tuannya.”


“Nagi, aku mengerti maksudmu. Kita sudah menerima Reda-sama, tapi perasaan luka Aragaki-sama terlalu dalam untuk ditutup oleh Reda-sama seorang.” ujar Hakuren


“Karena itu aku dan Nagi mencoba membantu saat itu. Tapi, siapa yang menyangka akan jadi seperti ini.” sambung Ginko dengan ekspresi kecewa pada dirinya sendiri


Siang itu, keempat pelayan setia Aragaki diselimuti rasa bersalah. Tidak ada satu pun yang memikirkan hal remeh seperti makan siang atau pembagian tugas.


Menyalahkan diri sendiri, itulah yang dilakukan mereka.


**


Di dalam gubuk, gadis desa yang malang itu berusaha menghentikan air matanya. Dia masih sedikit tersedu-sedu namun akhirnya berhasil menghentikan tangisannya sendiri.


Untuk beberapa saat, dia diam tanpa melakukan apapun dulu. Setelah itu, dia melihat pakaiannya yang basah karena tersiram air.


“Bajunya…basah…”


Reda mencoba tidak membayangkan kejadian buruk yang baru dialaminya dan pergi ke belakang untuk mandi.


Setelah mandi, gadis itu mencuci dan menjemur semua pakaian kotornya. Dia menggelar kasur lantainya dan merebahkan diri sejenak.


Inginnya istirahat, tapi dia justru tidak bisa tidur.


“Aku…benar-benar tidak tau harus bagaimana sekarang. Rasanya…semua menjadi kembali sia-sia. Hiks…”


Tanpa disadari, gadis itu kembali menangis namun hanya sesaat. Dia kembali menghapus air matanya dan mencoba memejamkan matanya.


“Aku harus istirahat. Jangan membuat Nagi-sama dan yang lain khawatir.”


Setelah memejamkan matanya, Reda langsung tertidur.


Mungkin sama halnya dengan rubah kecil yang tertidur karena lelah menangis, Reda tampaknya juga merasakan hal yang sama. Di tambah, dia juga terlempar sebanyak dua kali hari ini.


Hanya dalam tidur, dia bisa melupakan rasa sakit dan hancurnya penolakan dari orang yang dicintainya. Jalan masih terlalu panjang untuk gadis malang itu.


Siang berganti malam dengan cepat dan Reda terbangun karena sebuah suara yang membangunkannya.


“Reda-sama…”


“Mm…”


“Reda-sama, ayo bangun.”


Reda membuka matanya dan terlihat sebuah wajah yang dikenalnya dengan sedikit cahaya yang menyinari.


“Reda-sama, akhirnya bangun.”


“Ryuuno…suke?” Reda terbangun dan melihat rubah kecil di hadapannya. “Ini Ryuunosuke? Kenapa gelap?”


“Reda-sama tidur sampai malam. Ryuunosuke membawakanmu sup dan nasi kepal. Reda-sama belum makan dari siang, kan?”


Reda mencoba untuk duduk, namun dia merasakan tubuhnya sakit sekali.


“Reda-sama!” rubah kecil itu menjadi panik mendengar rintihan Reda ketika terbangun. “Reda-sama! Reda-sama tidak apa-apa?”


“Aku tidak apa-apa, Ryuunosuke. Hanya sedikit merasa sakit. Jangan khawatir ya.”


Telinga rubah kecil itu turun dan matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Dia meletakkan makanannya di samping dan memeluk gadis itu sambil menangis.


“Hiks…maafkan Ryuunosuke, Reda-sama! Hiks…gara-gara Ryuunosuke, Reda-sama jadi dibenci lagi oleh Aragaki-sama. Hiks…”


“Ryuunosuke, jangan menangis. Ayo, tersenyumlah. Aku sudah baik-baik saja, aku tidak bohong.”


Jelas itu bohong. Saat dipeluk erat oleh rubah kecilnya, Reda menahan sakit di tubuhnya.


“Mungkin saja ada yang memar. Tapi, aku tidak boleh membuat rubah kecilku khawatir.”


Ryuunosuke melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


“Sudah selesai menangisnya, kan? Jangan menangis lagi ya.”


Rubah kecil itu mengangguk. Dia langsung memberikan nasi kepal yang dibungkus daun bambu dengan sup hangat di mangkuk kecil.


“Reda-sama, Ryuunosuke membuat sup ini untukmu. Ayo diminum.”


“Ryuunosuke, aku tidak boleh memakan apapun dari kediaman Aragaki-sama.”


“Tapi Ryuunosuke sudah membuatnya. Ryuunosuke sudah…hiks…membuatnya untukmu…”


Lagi-lagi rubah kecil itu menangis. Sekarang, Reda menjadi panik. Dia tau bahwa rubah kecilnya merasa sedih dan sangat bersalah.


“Maafkan aku karena melanggar perintahmu, Nushi-sama. Setelah ini, Reda akan berlutut jika Nushi-sama kembali.” pikirnya


Air mata rubah kecil nyaris masuk ke dalam sup yang dibawanya sendiri. Reda langsung menghapus air mata si rubah kecil dan mengambil mangkuk supnya.


“Aku mengerti, jangan menangis. Aku minum. Aku akan memakan masakan lezat buatan rubah kecilku yang manis ini. Kita makan bersama ya.”


Telinga dan ekor rubah kecil itu langsung berdiri dan bergoyang-goyang karena senang. Wajahnya juga jadi penuh dengan warna merona, seakan air mata barusan itu hanyalah air mata buaya.


Setelah makan, mereka termenung sebentar.


“Nushi-sama belum kembali?”


“Belum. Tampaknya Aragaki-sama menginap di luar malam ini. Beliau pasti marah.”


“Besok adalah hari peringatan kematian teman-teman dan ibu Ryuunosuke, kan? Bagaimana kalau–”


“Hmm? Hari peringatan kematian? Siapa yang mengatakan itu?”


“Ku–Kuroto-sama.” Reda sekarang bingung. “Bukankah Nushi-sama tidak akan pulang sampai besok malam karena pergi memperingati hari kematian teman serta ibu Ryuunosuke?”


“Itu tidak benar, Reda-sama. Kuroto-sama berbohong.”


“Berbohong? Kenapa?”


“Mungkin Kuroto-sama ingin Reda-sama istirahat agar pulih jadi besok Reda-sama bisa libur. Selain itu…”


Ryuunosuke tertunduk. “Ryuunosuke tidak mau bicara pada Aragaki-sama. Ryuunosuke marah, Ryuunosuke marah! Aragaki-sama jahat sekali padamu!”


Rubah kecil itu mulai terlihat cemberut dan kesal bercampur dengan matanya yang merah. Reda berusaha menenangkannya.


“Ryuunosuke, jangan marah seperti itu.”


“Tapi Aragaki-sama sudah melemparmu! Kalau ibu tau…kalau ibu sampai tau…hiks…” kemudian terdengar teriakan rubah kecil yang mulai menangis keras, “Huwaaa…ibu…”


Reda langsung memeluknya kembali. Rubah kecil itu menangis kembali. “Kenapa Aragaki-sama tidak mau menyukai Reda-sama? Kenapa Aragaki-sama tidak mau menerima Reda-sama? Ryuunosuke tidak mengerti, Ryuunosuke tidak mengerti!”


Tangisan itu membuat Reda nyaris ikut menangis. Sakit, tentu saja karena gadis desa itu mencintai orang yang tidak akan pernah membuka hatinya untuk manusia seperti gadis itu.


Tapi, tekad Reda sudah bulat. Dia ingin bertahan di waktu yang tersisa.


“Aku tidak ingin menyesal. Aku ingin membawa perasaanku ini sampai kematian datang. Aku masih ingin melihat senyuman dan mendengar suara Nushi-sama!”


Reda menguatkan dirinya dan berkata pada rubah kecilnya.


“Ryuunosuke, kita mulai lagi dari nol ya.”


“Mulai…dari nol?”


“Benar. Kita mulai lagi dari nol. Ini baru 8 hari, Ryuunosuke. Masih banyak hari yang bisa kita lalui. Masih terlalu cepat untuk menyerah. Kita mulai lagi ya.”


Reda tersenyum, “Anggap saja besok adalah hari saat aku tiba di tempat ini. Kita akan membuat Nushi-sama tersenyum kembali.”


“Tapi, bagaimana caranya?”


“Aku masih memiliki janji pada Ryuunosuke untuk mengajarimu membuat hadiah, kan?”


“Membuat ikebana?” tanya rubah kecil itu


“Benar. Kita buat yang baru, tapi kali ini adalah buatan Ryuunosuke yang asli. Kita akan buat untuk mendiang ibu Ryuunosuke juga agar beliau di langit merasa senang.” Reda mengelus-elus kepala dan rambut rubah kecilnya, “Saat Nushi-sama kembali, aku yakin beliau pasti akan memaafkan kita.”


“Benarkah? Ryuunosuke bisa membuatnya sendiri?”


“Bisa. Jangan khawatir.”


“Kalau begitu, kita buat bersama! Ryuunosuke akan memberikan hadiahnya untuk Aragaki-sama dan memintanya untuk tidak marah lagi padamu!”


Rubah kecil itu jadi bersemangat dan percaya diri kembali. Setelah malam mulai semakin larut, Reda mengantar rubah kecilnya sampai ke pintu  belakang kediaman Aragaki dan kembali ke gubuk tuanya.


Dia bersiap untuk istirahat kembali.


“Dewa, aku sudah siap memulai kembali dari nol. Aku sudah siap berjuang lagi untuk membuat Nushi-sama tersenyum. Aku mohon tolong berikan kesempatan untukku sekali lagi.”


“Reda akan berusaha lebih keras lagi kali ini. Aku mohon, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi.”


Malam itu, Reda berusaha tidur kembali. Tanpa mimpi indah atau mimpi buruk, gadis itu mulai terbangun di pagi hari saat mentari mulai menyapa hari berikutnya.


****