The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 76. Aku Ingin Memberinya Hadiah



Di dapur, Reda dan Ryuunosuke yang sudah selesai mencuci sayurannya langsung mengolahnya menjadi masakan.


"Reda-sama, mau pakai ini tidak?"


"Pakai yang mana, Ryuunosuke?"


Saat Reda menengok ke arah Ryuunosuke, rubah kecil itu memegang tomat merah di tangannya.


Seketika Reda mengingat apa yang dikatakan oleh sang penguasa padanya.


[Rasanya terlihat seperti buah tomat merah yang matang. Sungguh manis sekali]


-Bluuuush


Wajah gadis itu langsung memerah mengingat kata-kata sang penguasa padanya.


Dengan malu, dia menutupi wajahnya.


"Malunya..." katanya dalam hati


Ryuunosuke menghampiri Reda dan tersenyum sambil memeluknya.


Reda langsung mengelu-elus punggung kecil rubah manis itu.


"Ada apa, Ryuunosuke?"


"Pagi ini sangat menyenangkan, benar kan Reda-sama?"


Reda berlutut dan melihat rubah kecilnya.


"Apa menurut Ryuunosuke aku masih tidur sekarang?"


"Kenapa?"


"Nushi-sama...Nushi-sama mau menggenggam tanganku pagi ini. Tanganku sampai dingin."


"Dan..." wajah Reda kembali memerah. Dia mengingat saat dirinya dan sang penguasa berpelukan beberapa kali di hutan dan di dekat air sungai tadi.


Ryuunosuke terlihat bahagia melihat gadis kesayangannya itu senang.


"Reda-sama bahagia berada di dekat Aragaki-sama, iya kan?"


"Bahagia. Aku benar-benar bahagia. Jika...jika yang tadi itu mimpi, aku berharap aku tidak pernah bangun."


Mendengar itu, Ryuunosuke memeluk gadis itu, "Reda-sama tidak bermimpi. Kalau tidak bangun, nanti Reda-sama mati."


"Selain itu, Aragaki-sama sudah mau menerima Reda-sama. Kita terus berjuang ya, Reda-sama!"


"Ryuunosuke akan berjuang. Reda-sama juga harus berjuang."


Reda memeluk erat rubah kecil itu, "Terima kasih banyak, rubah kecil manisku."


Mereka mengakhiri pelukan itu dengan tawa kecil dan kembali memasak.


Sesuai janji, Reda mengajarkan rubah kecilnya resep milik orangtuanya.


"Aku mengatakan bahwa semua ini Ryuunosuke yang memasaknya. Ini resep dari mendiang ayah dan ibuku." kata gadis itu


"Huwaaa~kelihatannya enak!"


Ryuunosuke terdiam dan berpikir, "Ini yang diminta oleh Aragaki-sama, iya kan Reda-sama?"


"Benar. Aku mengajari Ryuunosuke juga agar Ryuunosuke bisa memasaknya juga."


"Tapi ini permintaan Aragaki-sama, iya kan?"


"Benar. Ada apa?" Reda bingung. Dia tidak mengerti dengan pertanyaan rubah kecilnya yang terus berulang kali ditanyakan


"Kyaaa~suami minta masakan buatan istri. Ryuunosuke malu~"


"Eh?!"


Wajah Reda kembali memerah karena godaan rubah kecilnya.


Dengan senang, rubah itu tidak berhenti menggodanya.


Walaupun malu, gadis itu masih berusaha tenang.


Setelah masakannya selesai, mereka menyuguhkannya untuk sarapan.


Di ruang makan, Reda mulai sedikit terbiasa makan bersama dengan semuanya.


"Huwaaa~ada tumis sayuran liar lain dan isian baru dalam sup misonya." Kata Kuroto senang


"Tadi pagi, Ryuunosuke mencarinya ke air terjun di hutan bersama dengan Reda-sama dan Aragaki-sama!"


Keempat pelayan itu berpura-pura tidak tau. Mereka hanya melirik satu sama lain sambil bertanya seakan penasaran.


"Hoo, ini...kau yang memetiknya ya?" Nagi bertanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan


"Benar!"


Rubah itu menjawab sangat senang. Hal itu membuat Aragaki ikut tersenyum.


Sang penguasa sempat melirik ke arah gadis itu dan dilihatnya senyum senang dari sang gadis.


"Pagi ini terasa lebih indah dari sebelumnya. Aku rasa aku tau kenapa."


Aragaki tersenyum lembut dengan sedikit ekspresi tersipu membayangkan hal-hal indah yang dialaminya bersama gadis itu pagi ini.


Kemudian, rubah kecil itu memamerkan sesuatu kepada mereka semua.


"Ryuunosuke menciptakan lagu untuk pernikahan Aragaki-sama dan Reda-sama!"


Kali ini Ginko dan Hakuren yang sedang makan dengan tenang jadi tersedak.


Aragaki sendiri jadi menunda meminum supnya dan Reda menjatuhkan tempuranya kembali dari sumpit karena terkejut.


"Ryuunosuke!" Reda langsung panik dan memerah lagi. Sepertinya wajah Reda bisa menjadi merah dengan mudah akhir-akhir ini


Rubah kecil itu mau mulai menunjukkan kemampuan bernyanyi miliknya saat di meja makan, namun mulutnya langsung ditutup oleh Nagi.


"Cukup dengan lagunya, rubah kecil! Kita sedang makan sekarang dan kami semua sudah mendengar lagumu itu berkali-kali sampai hafal liriknya!"


Ucapan Nagi disetujui oleh tiga pelayan Aragaki yang lain.


"Ryuunosuke, lagunya ditunda dulu ya." kata Ginko yang baru selesai dengan batuknya


"Kau jangan coba-coba bernyanyi lagi itu lagi, anak nakal! Lagu itu sudah ada di otakku sejak pagi!" Kuroto juga mengatakan protesnya


"Ryuunosuke, tidak apa-apa. Kami tau lagumu bagus." Hakuren mencoba mengatakan pujian sedikit untuk rubah kecil itu


Namun, ada yang sedikit membuat rubah kecil itu merasa aneh.


Dia melepas tangan Nagi dan melihatnya, "Ryuunosuke belum pernah menyanyikannya di depan Nagi-sama dan yang lain, kan? Kenapa kalian bicara seperti sudah dengar lagu ciptaan Ryuunosuke?"


"Geh!" Nagi syok. Dia menyadari kebodohannya. Begitu juga dengan tiga temannya itu.


Mereka akhirnya tanpa sengaja menggali kuburannya sendiri.


"Ka–kami..."


"Kami dengar kau menyanyikannya ketika sampai. Ka–karena Ryuunosuke tau kan, kami berempat selalu mengawasi kediaman ini. Hahaha."


Alasan Hakuren tampaknya cukup bisa diterima oleh rubah kecil yang polos itu.


Rubah manis itu hanya tersenyum mengetahui bahwa yang lain sudah tau tentang lagu ciptaannya.


"Ehem, ehem..."


Semua menengok ke arah Aragaki yang pura-pura batuk. "Makanannya dingin. Cepat dimakan."


"Ba–baik, Aragaki-sama."


"Maafkan kami, Nushi-sama."


Aragaki meminum sup misonya sambil melirik wajah Reda.


"Aku sudah menduga dia pasti memerah karena malu. Tapi, aku berterima kasih pada rubah kecil itu karena aku bisa melihat wajah itu."


"Dia terlihat manis saat malu."


Selesai sarapan, Reda dan Ryuunosuke merapikan semua peralatan makanya. mereka ke dapur bersama.


Aragaki yang berada di ruangannya melihat ikebana yang diberikan untuknya.


Tenggelam dalam pikirannya, sang penguasa mulai bicara dalam hati.


"Pandanganku mengenai gadis dari desa terkutuk itu telah berubah sejak kedatangannya."


"Saat dia datang, mulai dari rubah kecilku sampai keempat pelayan setiaku benar-benar menyukainya."


"Aku harus mengakui, dia memiliki semua yang membuatku sangat senang."


"Bahkan perlakuannya pada Ryuunosuke menjadi nilai utama dari perubahan sikapku terhadapnya."


Aragaki melihat tangannya sendiri.


"Tangan ini...begitu ingin menggenggam tangannya lagi. Wajah itu juga... begitu lembut saat disentuh..."


"Saat dia ada di pelukanku, aku merasa tubuhnya kurus. Sepertinya dia kurang makan. Aku ingin dia sehat."


Aragaki mulai mengingat pakaian yang dikenakan oleh gadis itu.


"Pakaian itu adalah pakaian yang pernah diberikan Hakuren dan Kuroto. Tampaknya dia menyukai pakaian itu."


"Dia selalu mengenakan semua hadiah yang diberikan untuknya."


Aragaki mulai menyadari bahwa hal yang dilakukannya bersama gadis itu hanya makan bersama di toko makanan manis.


"Hanya mengajaknya makan bersama...itu semua belum cukup. Tidak ada benda nyata dariku yang dipakainya." gumam Aragaki pelan


Di saat itu, dia ingat perlakuan yang ditunjukkan padanya. Ingatan itu adalah ingatan saat dirinya membuang dua hiasan ikebana yang sempat menjadi kesukaannya.


"Aku sudah...membuatnya menangis saat itu dan menghancurkan hiasan itu."


"Aku rasa aku juga masih harus minta maaf karena luka di punggungnya."


Sebuah hal yang nyaris tidak pernah terpikirkan muncul.


"Apakah dia menyukai hadiah? Apakah dia akan senang jika mendapatkan hadiah dariku juga?"


"Jika aku memberinya hadiah, apakah dia juga akan senang seperti saat dia berada di dekatku?"


Dan untuk beberapa saat, sang penjaga akhirnya telah memutuskannya.


"Aku rasa...aku ingin melihatnya mengenakan sesuatu yang aku berikan. Sebuah hadiah tampaknya akan bagus."


Sebuah senyum tulus dan lembut terlihat di wajahnya.


Dengan sedikit tersipu, Aragaki membayangkan wajah senyum Reda yang mendapatkan hadiah darinya.


****