The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 11. Air Mata si Rubah Kecil



Reda mulai melakukan semuanya sendiri mulai dari mencuci piring kemudian mencuci sayuran. Dia tidak diizinkan memasak karena Aragaki bisa mencium aroma tangannya jadi dia hanya merendam sayurannya dalam air garam.


Setelah itu, dia mulai mengepel lantai mulai dari engawa luar.


Luas kediaman milik Aragaki itu hampir setara dengan istana di zaman itu dan sangat mustahil dikerjakan sendirian.


“Reda-sama, Ryuunosuke akan membantumu!”


“Tidak perlu, Ryuunosuke. Kalau nanti ketauan Aragaki-sama, beliau akan marah padamu.”


“Tapi, Reda-sama tidak mungkin mengerjakannya sendirian! Ryuunosuke bahkan mengepel seluruh lantai rumah ini dibantu oleh Nagi-sama dan Ginko-sama! Mustahil Reda-sama bisa melakukannya!” Ryuunosuke semakin terlihat histeris hingga ingin menangis


Gadis itu hanya tersenyum dan mengelus kepala rubah kecil itu.


“Ryuunosuke, anggap ini adalah ujian pertamaku untuk membuat Aragaki-sama tersenyum. Kita harus berjuang, ingat?”


“Tapi…”


“Aku akan mengerjakannya sendiri. Setelah lantai ini selesai dibersihkan, aku akan mencari Ryuunosuke ya.”


Rubah kecil itu hanya bisa mengangguk sedih. Dia memutuskan untuk pergi ke dapur dan menyiapkan sayur untuk memasak makan siang nanti.


Dari kejauhan, Nagi dan Ginko melihat Reda yang sedang mengepel lantai sendiri.


“Dia benar-benar melakukannya?”


“Tampaknya dia benar-benar berbeda dengan gadis desa lainnya. Bahkan setelah dihina seperti itu oleh Nushi-sama, dia masih mau melakukan tugasnya. Ini sulit dipercaya bahkan jika dilihat oleh mata kepalaku sendiri.” ucap Ginko dengan heran


Nagi termenung mengingat ekspresi wajah gadis itu saat mengambil makanannya untuk dibuang pagi ini.


“Ginko…”


“Ya?”


“Aku ingin mendengar pendapat jujurmu mengenai masakan gadis itu.”


“Masakannya?”


“Benar. Aku yakin kau juga merasa bahwa sup miso yang dia buat itu enak, bukan?”


“…” Ginko hanya diam sambil mengangguk


Dari belakang, dua tengu Hakuren dan Kuroto melihat Nagi dan Ginko yang melihat ke arah engawa lain di sisi kediaman tersebut.


“Oi, para rubah! Apa yang kalian lakukan di sini?” panggil Kuroto sambil mendekati keduanya


Hakuren melihat arah mata mereka dan dia menemukan objek yang dilihat para rubah siluman tersebut.


“Gadis bernama Reda itu benar-benar melakukan tugasnya sendiri. Aku terkesan padanya.” Puji Hakuren


“Kalian kenapa melihatnya begitu?” tanya Kuroto dengan wajah bingung


“Aku bertanya pada Ginko mengenai masakan yang dibuatnya pagi ini.”


“Masakan ya. Aku cukup suka dengan sup misonya. Rasanya sangat segar dan ada banyak elemen baru yang kurasakan saat meminum supnya. Sayang sekali tidak bisa kuhabiskan.” Hakuran terlihat menyesal sekali


Mendengar itu, Nagi mulai terlihat aneh.


“Aku pikir hanya aku dan Ginko yang berpikir begitu.”


“Tentu saja tidak. Aku juga menikmatinya. Hanya saja, kita tidak bisa melakukan apapun jika Aragaki-sama membencinya. Aku tidak tau kalau penciuman Aragaki-sama benar-benar sekuat itu, sampai bau manusia pada sayur yang dimasak saja bisa diciumnya dengan sempurna.” ucap Hakuren dengan ekspresi penuh rasa heran


Ginko melihat gadis itu kembali dan bertanya pada ketiganya.


“Kalian semua, apakah kalian mulai berharap pada gadis itu untuk bisa membawa Nushi-sama kembali seperti dulu?”


Pertanyaan itu benar-benar seperti pertanyaan bodoh yang diucapkan seorang Ginko. Kuroto dengan jelas menentangnya.


“Tentu saja tidak! Mau sebanyak apapun manusia yang dikirim ke tempat ini, dendam Aragaki-sama tidak akan mudah hilang!”


“Tapi, Ryuunosuke kecil sampai membelanya habis-habisan seperti itu. Dia bahkan sempat membentak Nushi-sama demi gadis itu. Ryuunosuke tidak pernah melakukannya selama ini pada calon ‘pengantin’ lain. Bukankah itu bisa menjadi pertimbangan lain untuk kita?”


“Apa yang kau bicarakan itu, Ginko? Kenapa aku merasa ini seperti kau mulai berharap padanya? Jangan lupakan apa yang manusia lakukan pada semua teman-teman kita! Karena mereka, tempat ini menjadi begitu sepi hingga hanya kita berlima yang terus bersama Aragaki-sama!”


Kuroto mulai terlihat emosi. Pernyataannya menggambarkan betapa banyak hal yang telah direnggut manusia 200 tahun yang lalu dari tuannya.


Ginko terdiam. Karena kesal dengan kalimat yang dikatakan Ginko, Kuroto terbang untuk berpatroli bersama Hakuren yang mengikuti di belakangnya.


“Aku tau. Tapi aku hanya berpikir mungkin ucapanmu saat di ruang pertemuan itu benar, Nagi.”


“Setelah merasakan sup itu, aku merasakan perasaan di dalamnya. Dia membuatnya dengan sungguh-sungguh. Dan melihat masakan yang susah payah dibuatnya berakhir menjadi sampah…aku yakin siapapun pasti akan menangis.”


Semua kalimat yang dikatakan Ginko membuat Nagi memperhatikan kembali gadis malang yang kelelahan itu. Tampaknya, kedua rubah yang menjemputnya pertama kali mulai menaruh sedikit perhatian padanya.


Walaupun itu mungkin hanya perhatian sesaat.


**


Di dalam ruangannya, Aragaki sibuk membaca gulungan kertas dan mengerjakan hal lain. Sebagai pemimpin di Higashi no Mori, banyak hal yang dia lakukan. Layaknya pemimpin suatu Negara, dia juga melakukan tugasnya sebagai pelindung hutan tersebut.


Sejak sarapan itu, dia tidak memikirkan gadis malang itu sedikit pun. Wajah cantiknya, senyum manisnya dan semua yang dilakukannya bagaikan hal yang tidak penting di otaknya.


Aragaki juga tampak tidak pernah memanggil namanya. Yang dia tau adalah gadis itu melakukan tugas yang dibebankan olehnya.


Dari arah dapur, Ryuunosuke datang membawakan kudapan berupa teh dan dango manis sebagai teman bekerja sang majikan.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke datang membawakan kudapan.”


“Masuklah, Ryuunosuke.”


Kalimat itu diucapkannya dengan sangat ramah. Begitu melihat pelayan kecilnya masuk, Aragaki menyambutnya dengan senyum.


“Ryuunosuke, tidak mau menemaniku mengobrol seperti biasa?” tanya Aragaki pada rubah kecilnya


Awalnya Ryuunosuke terdiam. Dia khawatir pada Reda yang masih mengepel sendirian.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke boleh pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Reda-sama?”


Mendengar nama gadis itu disebut, Aragaki dengan tegas mengatakan tidak.


“Tapi, Aragaki-sama…Reda-sama benar-benar baik. Ryuunosuke bisa menjaminnya!”


“Ryuunosuke, mulai sekarang jangan sebut nama gadis kotor itu lagi di hadapanku. Jangan pernah membantunya, jangan pernah memberikan apapun untuknya. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai memberikan bantuan untuknya walau hanya setetes air.”


“Aragaki-sama, itu terlalu kejam!”


“Itu tidak sekejam bagaimana leluhurnya menyiksa semua pelayanku! Aku sudah bersumpah pada mendiang ibumu, Ryoko, untuk menjauhkanmu dari manusia. Aku ingin tau kenapa kamu terus terobsesi dengan calon ‘pengantin’ yang berasal dari keturunan pelaku pembunuhan ibumu?”


Sekarang, Aragaki terlihat marah pada rubah kecil itu sampai membuat ekor si rubah kecil gemetar.


“Ryuunosuke, dengarkan aku. Luka di hatiku atas perlakukan mereka pada semua pelayan dan teman-temanku di masa lalu sudah terlalu dalam. Jangan memaksaku melakukan hal yang paling aku benci.”


“Aragaki-sama, tapi Re–”


“Aku ingin sendiri. Ryuunosuke boleh pergi sekarang. Tidak perlu menemaniku memakan kudapan ini, pergilah untuk menyiapkan makan siang nanti.”


Aragaki memotong kalimat Ryuunosuke memintanya untuk pergi. Dengan kata lain, rubah kecil itu diusir secara halus oleh tuannya. Sambil memberikan hormat pada sang majikan, Ryuunosuke pergi.


Di engawa luar, Ryuunosuke berjalan dengan nampan di tangannya sambil menahan tangis. Dia tidak ingin menangis tapi dia tidak bisa.


“Ryuunosuke tidak bisa membayangkan Reda-sama harus berjuang sendirian mencari makanan di hutan nanti malam. Ryuunosuke tidak bisa membayangkan Reda-sama harus mengenakan pakaian seadaanya setiap hari.”


“Lilin dan koreknya juga belum Ryuunosuke berikan padanya. Kalau tau akan seperti ini, Ryuunosuke pasti akan memberikannya pagi ini. Hiks…Ryuunosuke tidak bisa melawan perintah Aragaki-sama. Hiks…hiks…Reda-sama, maafkan aku.”


Rubah kecil itu menangis di hari pertamanya berjuang bersama calon ‘pengantin’. Ketika berjalan menuju dapur, Ryuunosuke melihat Reda yang menghapus keringat di keningnya dan mulai mengepel lantai kembali.


Gadis itu melakukannya dengan sebuah kain kecil sehingga dia harus membungkukan tubuhnya untuk bisa mengepel semuanya.


Tidak bisa dibayangkan betapa lelah dan sakitnya punggung tersebut. Pakaiannya terlihat mulai basah karena keringat. Ditambah lagi, lantai yang selesai dipel olehnya kurang dari seperempat luar area tersebut.


“Reda-sama bisa mengepel rumah ini sampai malam.” pikir rubah tersebut


Rasanya sangat menyayat hati melihat gadis desa yang seharusnya berjuang mendapatkan hati tuannya, kini justru bekerja dengan keras hingga nyaris tidak akan memiliki kesempatan melayani tuannya dengan baik.


Bukan hal yang aneh, karena sejak awal itulah tujuan Aragaki. Menempatkan gadis malang itu dengan melakukan hal berat agar dia tidak bertemu dengannya.


Ryuunosuke yang menyadari hal itu tidak bisa menyembunyikan air matanya lebih lama. Dia menangis sendirian di luar hingga tetesan air matanya membasahi lantai.


Hakuren dan Kuroto yang secara kebetulan mendengar suara tangisan, pergi melihatnya dari atap kediaman Aragaki. Kedua tengu itu hanya bisa melihat rubah kecil yang malang menangis sambil terlihat begitu menyesal.


****