The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 98. Romansa Indah Tanpa Belenggu



“Aku hanya ingin memastikan kamu selalu aman mulai sekarang.”


Sebuah kalimat manis yang tanpa disadari mengandung unsur cinta yang dalam dari Aragaki.


Gadis itu merasa detak jantungnya menjadi cepat dan tiap suara Aragaki menjadi senandung merdu di telinganya.


Rubah kecil yang menjadi saksi semua itu masih terdiam sambil memeluk ekor tebalnya sendiri demi menutupi wajah merahnya karena malu mendengar kalimat sang majikan.


“Aragaki-sama sungguh agresif, jadi tidak senonoh! Kyaaa, kyaaa~Ryuunosuke malu, Ryuunosuke malu!”


Kalimat itu diucapkan pelan saat mulut dan wajahnya ditutupi oleh ekor tebalnya, tapi dia terlihat senang sekali sampai tidak berhenti membisikkan kalimat tersebut.


Baik rubah kecilnya maupun Reda tidak mengerti maksud Aragaki.


“Aku tidak peduli dengan apa yang gadis ini pikirkan tentang kata-kataku barusan. Aku ingin dia selamat.”


“Aku tidak ingin kehilangan dia dan senyumannya yang indah itu. Aku tidak boleh kehilangan kedua hal tersebut.”


Terlalu serius pada masalah yang dihadapinya sampai Aragaki tidak sadar bahwa itu adalah bentuk rasa cinta pada Reda. Sang penguasa masih belum mau dan belum sepenuhnya paham mengenai konsep itu.


Gadis itu tersipu malu, “Nushi-sama…te–terima kasih untuk semua perhatiannya. Aku sangat senang.”


“Aku harap kamu mau mendengarkanku.”


“Aku akan mendengarkan Nushi-sama. Semuanya…semua kata-kata Nushi-sama akan aku patuhi.”


Rasa lega terlihat dari senyum tipis di bibir Aragaki. Sang penguasa mulai memakan cemilan itu kembali dan sang gadis desa di hadapannya tertunduk malu.


Rubah kecil itu mulai memeluk erat ekornya sendiri sambil menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri.


Sekarang, rubah manis itu membuat lirik lagu lain yang membuat sang majikan melihatnya dengan ekspresi aneh, “Aragaki-sama genit, ibu. Aragaki-sama jadi genit. Ibu harus lihat dari langit, la~la~la~”


“Ryuunosuke, jangan membuat lirik lagu seperti itu. Ryoko akan berpikiran aku adalah tuan yang tidak baik.” kata sang penguasa dengan nada bercanda


“Tapi Aragaki-sama memang jadi genit, jadi semakin tidak senonoh pada Reda-sama. Kyaaa~”


“Ryu–Ryuunosuke!!” Reda menjadi malu mendengar rubah kecilnya itu


Mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil karena di momen itu, Aragaki bisa bercanda dengan rubah kecil kesayangannya tanpa memikirkan perasaan bencinya. Sungguh berbeda dengan sisi dinginnya yang dulu ditunjukkannya.


Bagaikan tidak ada penolakkan lagi di hatinya terhadap gadis desa itu, Aragaki justru memiliki keinginan kuat untuk melindunginya.


Siang itu berakhir dengan saat indah penuh canda dan tawa ketiganya.


Tidak lama setelah Aragaki selesai dengan cemilan siangnya, Reda dan Ryuunosuke keluar menuju dapur. Mereka melihat kedua youko yang baru saja tiba, namun terlihat terburu-buru.


“Ah, Nagi-sama, Ginko-sama…” sapa Reda kepada keduanya. Namun dia diabaikan seakan ada hal mendesak.


“Reda-sama, tampaknya Nagi-sama dan Ginko-sama sedang terburu-buru.”  kata si rubah kecil


“Sepertinya begitu. Kalau begitu, kita bersih-bersih saja ya. Ayo, Ryuunosuke.”


Keduanya kembali ke dapur.


**


Di dapur, Reda dan rubah kecilnya menyimpan sisa cemilan yang telah dibuatnya.


“Ini bagian Nagi-sama, Ginko-sama, Hakuren-sama dan Kuroto-sama. Kira-kira mereka akan suka tidak ya, Ryuunosuke?”


“Pasti suka! Aragaki-sama saja sampai memujinya! Selain itu sampai mengatakan…ehem, ‘manis dan begitu lembut seperti tangan yang membuatnya. Ini enak.’ Ryuunosuke malu~”


Rubah kecil itu sudah menjadi seorang ahli meniru tuannya dan sosok yang sangat senang menggoda Reda sekarang.


“Ryu–Ryuunosuke, jangan menggodaku seperti itu. Aku jadi malu…”


“Kenapa malu? Bukankah memang benar kalau tadi Aragaki-sama mengatakan hal itu? Ryuunosuke hanya mengulanginya saja. Ehehehe~”


-Bluuush


Reda kembali memerah. Dia jadi terlihat sangat malu sampai memegangi kedua pipinya sendiri. Si rubah kecilnya memeluk gadis kesayangannya dan berkata, “Reda-sama harus senang karena Aragaki-sama sangat mengkhawatirkanmu sekarang. Kita tidak perlu takut Aragaki-sama akan membenci Reda-sama.”


“Benarkah aku boleh merasa bahagia seperti ini?”


“Tentu! Jangan malu lagi, Reda-sama. Ryuunosuke sudah mengatakannya berkali-kali kalau Aragaki-sama pasti akan sangat, sangat, sangat menyukaimu!”


Reda tersenyum senang dan menggendong rubah kecilnya. Dia memeluknya erat sekali.


“Oh rubah kecil manisku yang tersayang, terima kasih banyak. Aku juga mencintaimu, rubah kecil manisku. Aku mencintaimu.”


-Gyuuut


Rubah kecil itu memeluk Reda di saat dirinya digendong oleh gadis kesayangannya. Setelah selesai dengan adegan manis itu, keduanya kembali melakukan pekerjaannya.


Selesai mencuci piring dan menyimpan bagian yokan untuk pelayan Aragaki yang lain, Reda menyadari sesuatu dan bertanya-tanya dalam hati, “Hmm? Bukankah seharusnya Nagi-sama dan Ginko-sama membawa peralatan makan yang dibelinya. Kenapa tidak ada di dapur?”


Reda memutuskan untuk melihat ke pintu masuk.


“Kenapa? Apa ada sesuatu, Reda-sama?”


“Mangkuk yang harusnya dibeli tidak ada di sini. Aku baru menyadarinya.”


“Mangkuk? Hoo!! Ryuunosuke baru ingat kalau cemilan Ryuunosuke juga belum ada. Ryuunosuke ikut, Ryuunosuke ikut!!”


“Baiklah.”


Reda menggandeng rubah kecilnya dan pergi menuju pintu depan. Ketika sampai, dugaan Reda benar.


“Kenapa justru diletakkan di sini? Dasar Nagi-sama dan Ginko-sama, huh!” gerutu rubah kecil. Dia mengambil sebuah kotak kecil dan itu adalah cemilan manis. “Kyaa! Cemilan Ryuunosuke. Horee~”


Reda hanya tersenyum melihatnya. Dia membawa beberapa barang dan membawanya masuk.


Saat berjalan menuju dapur, mereka berdua bertemu Aragaki dan dengan langkah cepat sang penguasa membantu gadis itu membawakan barangnya.


“Kenapa membawanya sendirian? Bagaimana kalau kamu sampai terluka?”


“Nushi-sama, apa yang Nushi-sama laku–”


“Sini, berikan padaku. Aku akan membawanya untukmu.” Tangan Aragaki memegang barang yang dibawa Reda. Namun sebenarnya, bukan hanya barang di tangan Reda yang disentuhnya. Aragaki menyentuh tangan halus gadis itu.


Tentu saja ekspresi Aragaki tidak berubah merah atau tersipu karena dia benar-benar khawatir sekarang, berbeda dengan gadis di hadapannya.


Berusaha mengendalikan dirinya, Reda dengan tenang memberikan barang yang dibawanya kepada sang penguasa.


“Mau dibawa kemana ini?”


“Dapur, Nushi-sama. Ini barang yang sebelumnya dibeli oleh Nagi-sama dan Ginko-sama.”


“Begitu. Akan aku bantu membawanya.”


Reda terkejut, namun dia mengingat perkataan rubah kecilnya di dapur.


[Reda-sama harus senang karena Aragaki-sama sangat mengkhawatirkanmu sekarang. Kita tidak perlu takut Aragaki-sama akan membenci Reda-sama]


Gadis itu akhirnya menemukan rasa percaya dirinya untuk berjalan sejajar dengan sang penguasa.


“Aku…sudah menghabiskan banyak waktu bersama dengan Nushi-sama. Kali ini, aku harus berani menghadapi perasaanku.”


“Akulah yang seenaknya jatuh cinta pada Nushi-sama dan berharap untuk berada di sisinya sampai akhir. Sebelum mati nanti, setidaknya aku harus mengumpulkan kenangan indah yang bisa aku bawa.”


Mereka bertiga berjalan menuju dapur. Saat Aragaki meletakkan barang tersebut di meja, dia segera mendekati gadis itu lagi.


“Apakah ada benda lain di pintu depan?”


“Masih ada dua, Nushi-sama.” jawab Reda. Ekspresi tenangnya mulai membuat Aragaki sedikit senang.


“Akhirnya dia tidak lagi kaku padaku. Syukurlah.”


Aragaki berjalan menuju pintu depan bersama gadis itu, sedangkan rubah kecilnya hanya mengintip dari pintu dapur sambil tersenyum sumringah sendirian.


“Ehehehe~ibu, lihat itu…Aragaki-sama sudah mulai perhatian. Ibu harus lihat dari langit, Aragaki-sama jadi sangat romatis sekarang. Senangnya hati Ryuunosuke, ehehehe~”


**


Di pintu depan, keduanya membawa masing-masing satu barang di tangan dan berjalan bersama.


“Apa itu berat untukmu?”


“Tidak berat, ini tidak berat sama sekali.”


“Begitu, jangan memaksakan diri. Aku bisa membawanya kalau kamu merasa itu berat.”


“Tidak, tidak perlu! Ini benar-benar tidak berat, Nushi-sama.”


Aragaki terdiam sesaat. Dia mengingat apa yang telah dilaporkan oleh Nagi dan Ginko. Langkah kakinya berhenti. Menyadari sang penguasa berhenti, dirinya pun ikut berhenti.


“Nushi-sama?”


Aragaki tidak mengatakan apapun. Sampai akhirnya Reda mendekati sang penguasa, suara lembut gadis itu memecah keheningannya.


“Nushi-sama, apakah Nushi-sama tidak enak badan?”


“Tidak, bukan apa-apa.”


“Begitu. Syukurlah.”


Senyum gadis itu membuat Aragaki tidak ingin terbelenggu oleh rasa khawatir.


“Biarkan aku berada di sampingnya sekarang. Menyadari hati ini tidak bisa lagi menghilangkan senyuman dan wajah itu, membuatku sadar bahwa aku mungkin sudah menyia-nyiakan banyak waktu.”


“Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya dan…aku akan mulai menerima kenyataan bahwa aku telah jatuh cinta padanya.”


****