
“Hakuren, tadi apa maksud kalimat itu? Barusan kamu mengatakan apa? Coba katakan sekali lagi. Apa maksudnya itu?”
Hakuren langsung berubah pucat.
“Bodoh! Kenapa mulutku sampai kelepasan seperti ini! Bagaimana aku menjelaskan semua ini?” ucapnya dalam hati karena panik
Semua orang termasuk Reda yang ada di luar terlihat semakin panik. Aragaki masih menatap Hakuren dengan tatapan sinisnya.
“Jawab aku. Apa maksudnya itu?”
Nagi dan Ginko menjadi pucat dan berkeringat.
“Ginko, bagaimana ini?” bisik Nagi
“Aku masih mencari solusi untuk ini. Diam sebentar, Nagi!” balas Ginko sambil bicara pelan
Kuroto menghela napasnya dengan santai dan mencoba membuat alasan.
“Aragaki-sama, yang dimaksud oleh Hakuren adalah sayuran fuki hasil dari temuan Reda-sama di hutan ini enak. Awalnya, gadis desa itu yang menemukan sayuran ini. Anda ingat, kan?”
“…” Aragaki melihat Kuroto. Mata sinisnya masih belum berubah dan mempertanyakan pertanyataan Hakuren kembali.
“Kamu tidak berpikir kalau telingaku ini tuli, kan?”
“Tentu saja tidak, Aragaki-sama. Tapi, Aragaki-sama juga tau bahwa sayuran fuki ini bisa kita nikmati setelah gadis desa itu yang menemukannya, bukan? Apakah selama 200 tahun terakhir, Aragaki-sama pernah memakannya?”
Aragaki terdiam dan melihat kembali mangkuknya. Dia menatap Kuroto dengan pandangan sinis kembali.
Namun, tengu hitam itu tetap menunjukkan ekspresi tenang dan kembali membuat alasan.
“Reda-sama yang pertama kali membawanya. Jadi, tidak salah jika Hakuren mengatakan buatan Reda-sama karena merujuk hal tersebut.”
“Reda-sama yang memberitau kita semua soal sayuran kesukaan Aragaki-sama sehingga kita bisa memakannya. Sama saja dengan Reda-sama yang membuat kita memakannya, benar kan?”
“…” Aragaki terdiam
Keempat pelayan itu saling berpikir dalam hati termasuk Ryuunosuke yang masih kaku dengan ekor tegangnya yang berdiri.
“Siapa yang mau kau bodohi, Kuroto! Alasanmu itu terlalu dipaksakan!” ujar Nagi dalam hati
Ginko juga tampaknya memiliki pikiran yang tidak jauh berbeda, “Kuroto, aku tau kamu bermaksud baik. Tapi kalau terlalu membuat alasan yang terlihat seperti dipaksakan begitu, Ryuunosuke yang polos juga tau kalau itu hanya bualan.”
“Kuroto, maafkan aku. Tapi, kalau begini…tidak ada bedanya dengan sengaja menggali lubang kuburan sendiri!” Hakuren yang merupakan pelaku utama juga tampaknya berpikir demikian
Reda yang berada di luar terlihat begitu pucat.
“Dewa, aku mohon…tolong jangan biarkan Nushi-sama mengetahuinya dahulu. Reda masih ingin membuat Nushi-sama bahagia. Tolong, jangan biarkan Nushi-sama curiga lebih dari ini.”
Seperti doanya terkabulkan, Aragaki tidak mau mempertanyakan hal itu. Dia menghela napas ringan dan pelan.
“Hakuren…”
“I–iya, Aragaki-sama!” Hakuren langsung tegang dan panik begitu namanya disebut
“Perumpamaan yang kamu pakai benar-benar buruk. Sekalipun gadis kotor itu yang menemukannya, kamu tidak perlu menyebutnya sebagai buatan dia. Aku hampir melempar semua makanan ini ke luar.”
“Ma–maafkan aku, Aragaki-sama. Aku hanya…sedikit suka dengan sayuran liar ini.” Hakuren tersenyum memaksa
Aragaki melihat rubah kecilnya yang ikut tersenyum dan menggoyang-goyangkan telinganya.
“Ryuunosuke ingin makan denganku juga?”
“Ryuunosuke mau ke dapur lagi. Aragaki-sama, silahkan menikmati makan siangnya.” senyum rubah kecil itu
Begitu keluar, rubah kecil itu langsung menggandeng tangan Reda dan berlari menuju dapur.
Aragaki memakan tumisan daging kelinci dengan sayuran fuki dan jamur yang masih hangat. Dengan penuh senyum, Aragaki menunjukkan ekspresi bahwa dia menyukainya.
“Aku benar-benar menyukai sayuran liar ini.” ucapnya
Mendengar itu, pelayannya melanjutkan makan mereka dengan lahap.
Di dapur, Ryuunosuke memeluk Reda sambil menggoyang-goyangkan ekornya dengan cepat karena sedikit emosi.
“Hakuren-sama bodoh! Hampir saja Aragaki-sama mengetahui semuanya, Reda-sama. Kalau Ryuunosuke melihat Hakuren-sama setelah ini, akan Ryuunosuke injak kakinya!” gerutu rubah kecil dengan wajah cemberut
Reda hanya tersenyum dan menarik napas pelan.
“Aku juga tegang sekali, Ryuunosuke. Tapi, aku bersyukur karena Dewa masih mendengar doaku.”
Reda berpikir kalau Aragaki tidak akan mungkin diam begitu saja setelah salah satu dari mereka hampir kelepasan bicara.
“Ryuunosuke, mungkin sebaiknya kita hati-hati agar Nushi-sama tidak curiga. Aku yakin, Nushi-sama tidak bodoh. Dia mungkin akan mencari tau lagi.”
“Reda-sama benar. Kita harus hati-hati sekarang.”
Gadis desa dan rubah kecil itu mulai merapikan dapur sebelum melakukan pekerjaan lain.
“Benar juga, Ryuunosuke. Sebaiknya makanlah nasinya dulu. Ini enak karena sudah aku beri bumbu. Setelah ini, kita sirami kebun dan petik sayurnya ya.”
Rubah kecil itu langsung terlihat senang. Dia memakan nasi yang diambilkan Reda dengan sup dan tumis daging yang sengaja disisakan untuk si rubah kecil itu.
Rubah itu makan dengan lahap.
“Reda-sama, ayo buka mulutnya. Ryuunosuke ingin menyuapimu.”
“Tidak apa, Ryuunosuke makanlah.”
“Dulu, ibu sering bergantian menyuapiku. Reda-sama juga ayo buka mulutnya.”
Mendengar rubah kecil itu mengingat ibunya membuat Reda sedikit tersentuh. Mau tidak mau dia menuruti permintaan kecil rubah manisnya itu.
“Enak kan~”
“Enak. Terima kasih banyak ya. Sekarang, makanlah sampai habis.”
Begitu rubah kecil itu selesai, Reda bersiap mengambil keranjang untuk memetik sayuran.
Rubah kecil itu pergi ke sumur belakang untuk mengambil air, sedangkan Reda memetik sayuran segarnya begitu sampai di kebun.
**
Di ruang makan, tampak terlihat dari raut wajah Aragaki dan yang lainnya. Mereka begitu menikmati makan siang mereka sekarang.
Namun di dalam hati keempat pelayan setia Aragaki sekarang, ada perasaan takut. Selesai makan, Aragaki mencoba memberitau sesuatu kepada semuanya.
“Kalian…”
-Deg
Wajah keempatnya tegang kembali. Aragaki sempat bingung.
“Kenapa? Belum bicara, kenapa sudah tegang duluan?”
“Bukan…bukan apa-apa. Ada apa, Aragaki-sama?” Hakuren mencoba tenang kali ini
“Aku sudah mengatakan kepada rubah kecil itu bahwa dia sudah bisa mengunjungi makam Ryoko. Tapi, sepertinya dia menolaknya.”
“Hah? Rubah itu menolak? Kenapa?” Nagi terkejut
“Itu karena dia berkata ingin mengunjunginya bersama gadis kotor itu.”
“…” tidak ada yang mengatakan apapun pada Aragaki
Tampaknya reaksi pelayan setianya sudah diketahui oleh Aragaki. Bahkan dari mulutnya, muncul sebuah pertanyaan aneh yang tidak pernah terpikirkan oleh semuanya, termasuk Aragaki sendiri.
“Apakah kalian berempat sudah menerima gadis kotor itu hanya dalam waktu seminggu?”
-Deg
Lagi-lagi, jantung keempatnya nyaris berhenti. Sumpit yang masih ada di tangan mereka hampir jatuh dan mangkuk nasi di tangan mereka diletakkan di atas meja.
Aragaki menutup matanya sambil meminum teh yang ada di meja. Dia hanya terdiam menunggu reaksi semuanya. Sampai dia selesai menyeruput tehnya beberapa kali, tidak ada jawaban dari keempatnya.
Sang penguasa membuka suaranya.
“Aku tidak tau apakah kalian benar-benar telah menerima gadis kotor itu atau tidak, tapi aku harap kalian tau…aku tidak akan segan-segan melempar gadis kotor itu jika dia melampaui batasnya.”
“Tidak peduli sebaik apa gadis itu di mata kalian dan Ryuunosuke, bagiku tidak ada yang bagus dari semua hal yang dia lakukan. Aku tidak akan pernah menerimanya.”
Aragaki berdiri dan meninggalkan ruang makan itu. Keempat pelayannya bermaksud mengantar kepergiannya, namun Aragaki menolaknya.
“Tidak perlu mengantarku. Habiskan dulu makanannya. Nanti sore aku akan pergi sebentar keluar rumah jadi tolong jaga rumah sampai aku kembali ya.”
“Baik.”
Keempatnya menghela napas panjang. Bersamaan dengan itu, Nagi, Ginko dan Kuroto melihat Hakuren dengan tatapan sinis.
“Dasar bodoh! Kita hampir ketauan!” ucap Nagi sambil melempar sumpitnya ke arah Hakuren
“Ma–maafkan aku. Aku benar-benar hampir kelepasan.”
“Itu bukan hampir, Hakuren. Kamu nyaris membocorkannya. Jika tadi Nushi-sama menolak percaya dengan alasan Kuroto yang dibuat-buat itu, Reda-sama dan kita semua akan habis di tempat!” Ginko ikut menasehati
“Kau berhutang padaku, Hakuren! Kau sendiri yang bilang di hutan agar tidak sampai ketauan Aragaki-sama jika ingin makan masakan gadis desa itu. Dasar bodoh!”
“Maaf…” Hakuren tertunduk
Ginko menengok ke pintu keluar untuk memastikan semuanya aman lalu menutup pintunya kembali.
“Aragaki-sama tidak ada. Kita aman.”
“Haaa~” semua menghela napas dan duduk kembali sambil makan
Kuroto membuka pembicaraan kembali.
“Kalian pikir Aragaki-sama akan percaya begitu saja?”
“Tidak mungkin. Beliau pasti diam karena ada alasan tertentu. Aku yakin, Aragaki-sama pasti juga mengetahui hal yang kita lakukan untuk Reda-sama selama ini.” Hakuren menjawab sambil meletakkan sumpitnya
Ekspresi mereka berubah menjadi cemas.
“Aku ingin nasib Reda-sama dalam waktu 3 bulan ini bisa berubah. Tidakkah kalian juga menyadari bahwa Reda-sama itu gadis yang baik? Jujur saja aku…”
Ginko menarik napasnya. Di saat yang sama, ketiga temannya yang lain seperti memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya.
“Aku merasa dia cocok dengan Aragaki-sama/Nushi-sama.”
Keempat pelayan itu terkejut dan saling melihat satu sama lain.
“Kau bilang apa barusan?”
“Tidak, kau yang bilang apa tadi. Tadi kau seperti bicara sesuatu.”
“Aku tidak salah dengar, kan?”
“…”
Mereka memiliki pikiran yang sama kali ini. Ginko tersenyum mendengar jawaban teman-temannya.
“Aku rasa kita telah sepakat pada satu hal. Sekarang, hanya tinggal takdir yang menentukan.”
“Kau benar, Ginko. Rubah kecil itu juga berjuang dengan caranya. Aku harap kita juga bisa membantu gadis itu dari belakang.”
Tanpa sepengetahuan sang penguasa, keempat pelayan itu akhirnya memiliki harapan yang sama dengan rubah kecil yang manis.
Hanya tinggal kemana garis takdir akan membawa gadis desa itu ke dalam jawaban dari doanya.
****