The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 22. Usaha dan Perasaan Reda



Di hutan, Reda dengan rubah kecil itu membuat masakan yang belum pernah dibuat sebelumnya untuk kejutan Aragaki-sama.


Mereka memotong dagingnya kecil-kecil lalu mendiamkannya sejenak. Reda pergi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu sambil menunggu dagingnya selesai didiamkan.


Setelahnya, gadis itu memotong dagingnya kecil-kecil dan merebusnya.


“Kenapa direbus, Reda-sama?”


“Hmm…supaya empuk dan tidak alot. Nagi-sama mengatakan bahwa dagingnya alot, kan? Dengan direbus bisa membuatnya sedikit lebih lembut dan menghilangkan aroma darahnya.”


“Di tempat ini tidak ada bumbu apapun, Ryuunosuke. Jadi akan lebih baik jika direbus di sini. Nanti saat sudah di tempat Nushi-sama, kita olah bersama ya?”


Ryuunosuke tampaknya begitu senang dengan hal itu. Dia memandangi gadis canti itu dengan seksama.


“Andai Reda-sama menikah dengan Aragaki-sama, beliau pasti bisa makan enak dan terurus dengan baik. Ryuunosuke yakin itu!”


Gumaman itu terdengar sampai ke telinga Reda. Mendengarnya, Reda memerah dan menjadi sedikit panik.


“Ryuunosuke bicara apa?! Itu…itu sangat mustahil! Sejak awal Ryuunosuke tau bahwa Nushi-sama membenciku, iya kan?”


“Itu tidak mustahil! Ryuunosuke yakin kalau suatu saat nanti, Aragaki-sama akan jatuh cinta pada Reda-sama! Memangnya Reda-sama tidak menyukai Aragaki-sama?”


Pertanyaan itu begitu polos. Reda tidak bisa menjawabnya dengan benar. Wajah cantik sang gadis desa itu terlihat merona.


“Reda-sama menyukai Aragaki-sama, iya kan?”


Reda hanya bisa tertunduk malu dan duduk di atas tatami. Si rubah kecil menghampirinya dan memeluknya dengan ekor yang bergoyang.


“Ryuunosuke akan mendengarkan Reda-sama. Ayo jawab pertanyaan Ryuunosuke. Reda-sama menyukai Aragaki-sama atau tidak?”


“Aku…”


“Hmm?”


“Kalau aku mengatakannya, apa Ryuunosuke mau merahasiakannya?”


“Umm!” rubah kecil itu mengangguk.


Reda mencoba menarik napasnya panjang-panjang.


“Saat…saat pertama kali aku datang ke tempat ini, aku sudah menyerah dengan hidupku.”


“…” Ryuunosuke mulai membuat ekspresi wajah sedih


“Ketika penduduk desa mengatakan bahwa aku harus menjadi calon ‘pengantin’ untuk Dewa Pelindung, aku sudah mengetahui bahwa aku telah dibuang dan tidak akan hidup lama.”


“Tapi saat aku melihat Nushi-sama pertama kalinya, aku…aku benar-benar terpesona. Beliau benar-benar berbeda dari yang digambarkan orang-orang di desa.”


“Beliau begitu…indah. Matanya yang keemasan seperti bulan purnama dan senyumnya yang menawan, aku tidak bisa menghilangkannya dari ingatanku.”


“Aku…aku sangat menyukai beliau. Rasanya, hanya dengan memandanginya dari jauh sudah membuatku sangat senang. Meskipun beliau membenciku dan menatapku dengan dingin, aku tetap menyukainya.”


“Ketika memikirkan Nushi-sama merasa senang, rasanya hati ini menjadi begitu damai dan hangat. Reda…Reda sangat suka pada Nushi-sama.”


Wajah Reda terlihat begitu merah dan merona. Ryuunosuke menyadari kalau gadis itu jatuh cinta pada tuannya.


Ryuunosuke terlihat senang mendengar kalimat pujian demi pujian dari gadis itu. Tidak ada dari kalimat gadis cantik itu yang dipotongnya. Semua didengarkan dengan baik.


“Mungkin, aku yang kotor ini tidak pantas menyukai Dewa yang begitu indah dan agung seperti Nushi-sama. Tapi, kamu tau Ryuunosuke? Aku yakin suatu saat nanti, Nushi-sama akan membuka hatinya untuk gadis lain.”


“Dan di saat itu tiba, aku yang sudah ada di langit akan menjadi orang pertama yang akan senang. Karena itu, kita harus berjuang agar hal itu dapat terwujud.”


Ryuunosuke memeluk gadis itu dengan erat.


“Ryuunosuke yakin Reda-sama adalah gadis yang tepat untuk Aragaki-sama! Selama ini, calon ‘pengantin’ lain tidak pernah memperlakukan Ryuunosuke dengan baik! Hanya Reda-sama yang memperlakukan Ryuunosuke dengan baik.”


“Ryuunosuke tidak akan setuju jika Aragaki-sama menyukai orang lain! Reda-sama adalah gadis yang tepat untuk Ryuunosuke! Pokoknya, Ryuunosuke akan berusaha agar Aragaki-sama juga menyukaimu!”


Reda hanya bisa tersenyum dan memeluk rubah kecil manis itu.


“Ryuunosuke, perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Setidaknya dalam waktu 3 bulan ini, aku akan berusaha agar Nushi-sama mau membuka hatinya. Sekalipun bukan aku yang akan menjadi istrinya, aku yakin istri Nushi-sama nanti akan begitu menyayangimu. Percayalah.”


Rubah kecil itu cukup keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan ucapan Reda dan tetap pada pendiriannya.


“Pokoknya hanya Reda-sama yang pantas untuk Aragaki-sama! Sejak awal insting pelayanku berkata begitu! Ibu, tolong bantu Ryuunosuke agar Reda-sama dan Aragaki-sama bisa bersama!”


Reda melihat rebusan dagingnya. Setelah dagingnya sudah cukup empuk untuk diolah, mereka meniriskannya. Sebagian daging yang belum direbus ditusuk ke ranting pohon yang telah dihaluskan menjadi tusukan sebelumnya.


Begitu selesai, mereka kembali ke kediaman Aragaki untuk memberikan bumbu pada semua sayur dan dagingnya.


“Nanti kita kejutkan Aragaki-sama dengan masakan daging kelinci ini~” ucap rubah kecil dengan riang


Reda hanya tertawa. Di dalam hatinya, ada sedikit harapan lain yang tercipta.


“Aku harap Nushi-sama mau mencicipi masakan ini walau hanya sedikit. Aku tau beliau pasti akan membuangnya kembali. Tapi meskipun hanya sedikit, aku sangat ingin beliau mau memakannya.”


“Ini hari ketiga dan aku  belum membuat perubahan apapun untuk berkomunikasi dengan Nushi-sama. Aku rasa aku harus…sedikit nekat.”


“Aku akan mencoba untuk bicara dengan Nushi-sama walau akan dihina dan ditolak kembali. Ini semua demi bisa membuatnya tersenyum pada manusia.”


Begitu sampai di dapur, Reda dan Ryuunosuke segera mengolahnya.


Reda memberi daging yang telah ditusuk itu dengan bumbu yang tersedia di sana lalu membakarnya. Sedangkan sayuran liar yang telah dipotong sebelumnya ditumis dan digoreng menjadi tempura.


Rubah kecil itu begitu senang melihatnya.


“Aragaki-sama akan menyukai ini.” pikirnya


Saat keduanya di dapur, Aragaki dan kedua youko di belakangnya baru saja keluar dan ingin duduk di engawa menikmati sakura. Tidak disangka dia mencium aroma yang cukup lezat.


“Aroma apa ini?” tanya Nagi sambil mengendus-endus


Aragaki diam dan tidak memberikan jawabannya. Dia hanya mempersilahkan kedua pelayannya untuk pergi lebih dulu.


Begitu sampai di dapur, mereka melihat Reda dan Ryuunosuke sedang mengangkat daging tersebut dan menuangkan sup daging kelincinya ke mangkuk.


“Reda-sama, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukankah Reda-sama dilarang untuk memasak oleh Nushi-sama?” Ginko bertanya dengan wajah terkejut


Gadis itu seketika menjadi panik. Dia tidak tau kalau akan ketauan secepat itu oleh mereka. Tapi rubah kecil itu langsung membela dan berbohong pada keduanya.


“Nagi-sama, Ginko-sama, Reda-sama baru ada di sini! Ryuunosuke memintanya membantu untuk mengolah daging kelincinya. Lihat, ada tempura sayuran liar yang dibawa oleh Reda-sama juga! Ryuunosuke tidak berbohong! Reda-sama benar-benar baru masuk ke sini dan membantu Ryuunosuke!”


Nagi dan Ginko sulit percaya pada rubah kecil itu, bagaimanapun juga mereka tau rubah kecil itulah yang paling terobsesi pada calon ‘pengantin’ baru di tempat itu.


“Rubah kecil, siapa yang mau kau bohong–”


Sebelum selesai bicara, Reda langsung menyodorkan mangkuk berisi sup daging kelinci dengan tempura sayuran liar dan satu tusuk daging kelinci bakar ke hadapan Nagi.


“I–ini…ini memang aku yang membawanya. Ta–tapi ini semua adalah masakan Ryuunosuke. Mungkin ada sedikit aroma tanganku pada sayurnya, tapi aku berani menjamin rasanya enak dan tidak alot.”


Nagi yang mencoba mundur tidak bisa menghindari aroma sedap itu. Baru beberapa waktu lalu mereka makan makanan enak, dia sudah bisa mendengar perutnya berbunyi lagi kurang dari dua jam.


“Ini gawat! Aku tidak tau daging kelinci bisa mengeluarkan aroma seperti ini. Apa-apaan gadis desa ini?! Dia mau menjadi tukang masak di kediaman Aragaki-sama?”


Ginko yang mencium aroma itu juga tidak bisa menahannya. Dia segera mencoba untuk menahannya dengan menelan ludahnya sendiri, namun mustahil.


“Nagi…”


“Apa?”


“Jika kamu tidak mau mengambil itu, aku akan mencicipinya. Reda-sama, aku akan mencobanya.”


“Hah?!”


Ginko mengambil daging yang ditusuk tersebut dan ketika memakannya, dia seperti akan menangis.


“Kenapa…bisa seenak ini?”


Reda yang mendengarnya begitu senang dan tersenyum dengan bahagia. Melihat Ginko memakan daging itu dengan lahap, Nagi juga mengambil sup dan tempura yang dibuat Reda. Begitu menggigitnya, suapan pertama sudah membuatnya hampir berteriak.


“Kau pasti tidak serius…”


“Itu…itu Ryuunosuke yang membuatnya. Reda-sama yang memetiknya di hutan dan membawanya ke sini.”


Itu adalah kebohongan kecil dari kedua orang itu. Tapi, Reda sudah memutuskan untuk mencoba usaha terbaiknya. Dia ingin bicara pada Aragaki-sama dan itulah yang akan dia lakukan.


Hal itu juga yang ada di dalam pikiran Ryuunosuke.


“Ryuunosuke yakin, kemungkinan Aragaki-sama akan menolak begitu mencium aroma tangan Reda-sama pada sayuran liar dan dagingnya. Tapi, Ryuunosuke akan mencoba sebaik mungkin untuk menunjukkan bahwa Reda-sama adalah orang yang tepat untuknya!”


Kedua youko itu begitu senang dengan masakan yang dipikir mereka buatan Ryuunosuke. Tidak ada yang tau bahwa sebenarnya itu semua murni buatan Reda.


Begitu Aragaki sampai ke dapur, dia nyaris mengeluarkan aura mengerikan yang bisa memporak-porandakan seisi dapur.


“Apa yang dilakukan gadis kotor itu di tempat ini? Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?”


Nagi dan Ginko hampir memuntahkan makanan yang ada di mulutnya. Mereka begitu terkejut melihat tuannya marah di siang itu.


Ryuunosuke menghampiri tuannya dan memegangi pakaiannya.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke yang meminta Reda-sama membantu! Ryuunosuke…Ryuunosuke membuat daging kelinci ini untukmu, Aragaki-sama.”


Aragaki menatap rubah kecilnya dengan tatapan dingin. Dia tetap melihat gadis di depannya itu begitu hina dan kotor.


“Ryuunosuke, bukankah aku sudah katakan padamu bahwa dia tidak boleh memasak dan menyentuh pakaianku? Kenapa kamu tidak mendengarkanku?”


Rubah kecil itu terlihat seperti akan menangis, namun cengkeraman tangannya itu tidak dilepaskan.


“Aragaki-sama, Reda-sama hanya…hanya membawakan sayuran liar dari hutan dan menusuk dagingnya saja! Ini benar-benar Ryuunosuke yang membuatnya dan ini enak! Ryuunosuke tidak berbohong padamu!”


Aragaki sudah terlalu kesal hingga pergi begitu saja tanpa memedulika rubah kecilnya itu. Ryuunosuke terjatuh dan mulai menangis.


Melihat rubah malang itu menangis, Reda langsung membantu dan memeluknya.


“Hiks…hiks…”


Nagi dan Ginko tidak tau apa yang harus dilakukan. Mustahil membujuk tuannya yang sedang dalam perasaan buruk seperti itu. Selain itu, meskipun mereka mengakui makanan tersebut enak, tapi Aragaki adalah yang paling penting.


Sesuka apapun kedua youko tersebut pada masakan itu, tidak akan bisa mempengaruhi nilai dari pemikiran Aragaki.


Reda mencoba menghibur si rubah kecil dan berkata dalam hatinya.


“Aku harus melakukan sesuatu. Jika 3 bulan ini adalah kesempatan terakhirmu, maka jadikan setiap kesempatan yang ada itu tidak berakhir sia-sia.”


Reda mengambil sup dan berlari mengejar Aragaki.


“Nu–Nushi-sama!” teriaknya


Tentu saja Aragaki tidak memedulikannya. Reda tidak menyerah dan mulai berlari hingga melewati Aragaki. Sang penguasa terkejut melihat gadis desa itu telah ada di hadapannya.


Reda bersimpuh dan memberikan sup di tangannya kepada Aragaki.


“Nushi-sama, aku mohon…meskipun hanya satu suapan, tolong cicipi ini!”


Reda mencoba membuang rasa takutnya.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, dia mencoba untuk mengambil langkah agar bisa berkomunikasi dengan pria yang dikagumi dan dicintainya pada hari ketiganya.


****