The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 28. Rasa Penasaran yang Terjawab



Pagi itu, Reda pergi bersama rubah kecil untuk masuk ke dalam hutan.


“Reda-sama, apa kita akan memetik sayuran liar lagi?” tanya Ryuunosuke


“Benar. Bukankah Nushi-sama menyukainya? Tempura dari sayuran liar? Kita akan cari yang kualitasnya bagus untuk sarapan dan makan siang nanti. Yang lain juga pasti akan senang.”


“Bagaimana dengan Reda-sama?”


“Aku hanya bisa merebusnya sejak tidak ada minyak atau apapun di gubuk. Tapi, rasanya tetap enak meskipun hanya direbus. Jangan khawatir, kita akan membuat yang enak kali ini untuk semuanya."


Telinga rubah itu turun, menandakan dia sedih mendengarnya. Reda hanya tersenyum.


“Jangan menurunkan telinga lucumu seperti itu, Ryuunosuke.”


“Seandainya Reda-sama diizinkan memasak di dapur. Aku yakin Aragaki-sama dan semuanya akan menyukai masakan Reda-sama. Ryuunosuke juga ingin makan sarapan yang dibuat olehmu.”


Reda mendengar itu dengan ekspresi senang. Dia berhenti berjalan sebentar dan berlutut.


“Nanti kita buat menu baru lain untuk semuanya ya.”


Telinga Ryuunosuke kembali naik dan bergerak karena senang. Benar-benar seperti anak-anak, dia terlihat begitu senang mendengar kalimat Reda mengenai menu makanan barunya.


Di dalam hutan, keduanya tampak berpencar untuk mencari sesuatu. Karena matahari belum terbit sepenuhnya sampai memasuki area hutan lebih dalam, embun pagi masih membasahi dedaunan di hutan dan tentu saja, masih sangat gelap hingga pengelihatan Reda sedikit terganggu.


Dengan hati-hati, Reda melangkahkan kakinya dan mencari sayuran liar yang sekiranya mungkin tumbuh di sekitar tempat itu.


“Ketemu. Syukurlah masih ada fuki di sini. Selanjutnya kogomi dan bawang nobiru. Hmm? Apa ini?”


Reda seperti melihat sesuatu di dekat pepohonan. Ada sesuatu yang berwarna coklat di sana.


“Huwaa~Ryuunosuke, Ryuunosuke.”


Rubah kecil itu mendengar panggilan Reda dan langsung menghampirinya.


“Ada apa, Reda-sama?”


“Lihat ini, Ryuunosuke! Jamur Hiiratake! Ada banyak sekali yang tumbuh. Ayo kita bawa dan kita cuci. Aku yakin Nushi-sama akan menyukainya.”


“Memangnya jamur ini enak?”


Reda terkejut mendengar rubah itu menanyakan hal tersebut.


“Memang Ryuunosuke belum pernah mencicipinya?”


“Belum. Selama ini, tidak ada yang menyukai jamur di hutan jadi tidak pernah ada yang memetiknya. Aragaki-sama juga hanya menyukai sayuran di kebunnya.”


“Tapi, beliau menyukai sayuran liarnya kan?”


“Benar~katanya enak!” rubah kecil itu langsung bersemangat


“Kalau begitu, beliau akan menyukai ini juga. Mendiang ayah dan ibuku dulu sering sekali membawa jamur dari hutan lain saat pergi berburu. Aku yakin sekali kalau beliau dan semuanya akan menyukainya. Aku akan memasak menu baru. Aku yakin semuanya akan menyukainya.”


“Hore~Ryuunosuke akan memetik banyak jamur hari ini.”


Kedua orang itu segera memetik jamur liar di sana. Ryuunosuke juga mencarinya kembali.


Di balik pohon besar di belakang Reda, ada empat pelayan Aragaki yang berkumpul sambil membicarakan hal serius.


“Kalian dengar apa yang tadi dikatakan oleh gadis desa itu?” Nagi bertanya dengan wajah pucat


“Memasak menu baru. Kira-kira apa maksudnya itu?” kata Kuroto yang juga bingung


Ginko dan Hakuren tampaknya bisa menebak sesuatu.


“Ini hanya tebakanku tapi…mungkinkah yang membuat makanan selama seminggu ini adalah Reda-sama?”


“Hah?!” Nagi terkejut


“Aku sependapat dengan Ginko. Sejak Ryuunosuke membuat banyak masakan asing yang begitu enak, hanya itu yang masuk dalam pikiranku juga.”


Hakuren terlihat yakin saat mengatakannya. Ketiga siluman lainnya mulai terlihat pucat. Mereka begitu penasaran dan tampaknya mereka ingin membuktikannya sendiri.


**


Di ruangannya, Aragaki sudah memakai pakaiannya.


Dia bangun sebelum matahari terbit selama tiga hari terakhir.


“Aku merasa untuk pertama kalinya dalam 200 tahun, aku melakukan kesalahan.”


Aragaki membuka pintu dan berjalan menuju pohon sakura yang tumbuh di depan kamarnya. Dia berdiri di bawah pohon tersebut pagi-pagi buta sambil bicara sesuatu.


“Apa kalian mulai kecewa padaku?”


Bunga sakura itu terus menggugurkan kelopaknya, lalu kembali tumbuh dengan cepat. Bagaikan pohon yang abadi, tidak ada satu tangkai pun yang kosong.


Aragaki yang berdiri memandangi itu jadi mengingat banyak hal di masa lalu.


“Jika aku mengingatnya, aku tidak pernah seperti ini. Sejak kejadian itu, rasanya aku tau bahwa sebagian dari diriku telah mati dan ikut bersama kalian.”


Sang serigala hanya meratapi masa lalu dengan perasaan yang tidak menentu, sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu kepada ‘jiwa yang telah menjadi kuncup bunga sakura’.


“Kalian tau, di tempat ini…manusia mulai datang lagi. Sebuah hal yang sungguh sangat sia-sia seperti dulu.”


“Tapi, aku menyadari bahwa sejak kedatangannya…banyak hal yang telah berubah. Mulai dari mereka yang telah melayaniku sampai keadaan rumah ini sendiri.”


Aragaki mengingat kejadian setelah dia mengizinkan rubah kecilnya membantu gadis desa itu. Sang serigala penguasa itu selalu mengamati hal yang dilakukan oleh rubah kecilnya.


Sejak dia mengizinkannya bersama dengan gadis itu, ada hal yang berbeda.


Makanan, pakaian serta taman dan kediaman itu sendiri mulai terasa sedikit hangat.


Dia melihat sejak saat itu, rubah kecil itu selalu melakukan pekerjaan dengan lebih baik bersama gadis itu. Bahkan, hal yang semakin dia sukai adalah masakan buatan rubah kecil itu semakin lama semakin enak.


Di pagi itu, Aragaki pergi berkeliling kediamannya dan tidak sengaja melihat rubah kecilnya itu datang dengan membawa keranjang penuh bahan makanan liar bersama si gadis.


“…!”


Ada sesuatu yang membuat Aragaki terkejut. Benar, penampilannya yang berbeda dari sebelumnya.


“Dia menguncir rambutnya.”


Dari kejauhan, ada seseorang yang memanggil dirinya.


“Aragaki-sama.”


“Selamat pagi, Aragaki-sama.”


“Nushi-sama, selamat pagi.”


“Selamat pagi, Aragaki-sama. Sangat jarang kami melihat Anda bangun sepagi ini.”


Aragaki memberikan senyumannya kepada pelayan setianya.


“Selamat pagi. Aku hanya merasa aku harus melakukannya jika tidak ingin dibangunkan oleh gadis kotor itu.”


Mendengar jawaban sang tuan, keempatnya menyadari bahwa tuannya masih begitu membenci Reda.


“Darimana saja kalian dan apa yang kalian lakukan?”


Pertanyaan yang membuat mereka semua terkejut dan bingung untuk menjawabnya. Di dalam hati keempatnya, mereka mulai berpikir.


“Aku tidak mau jujur. Aku yakin Aragaki-sama juga sudah mengetahui semuanya, tapi aku merasa aku tidak ingin jujur meskipun ditanya!” kata Nagi dalam hati


“Bagaimana ini? Kami berempat juga harus melihat apa yang dilakukan Reda-sama untuk memastikan bahwa dialah orang yang membuat masakan enak akhir-akhir ini.” pikir Hakuren


“Ini benar-benar gawat. Aragaki-sama pasti akan marah jika kami tidak jujur, tapi…”


“Nushi-sama, maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan apapun kali ini karena ingin membuktikannya sendiri.”


“Kalian baik-baik saja? Kenapa tidak menjawab?” Aragaki kembali bertanya kepada pelayan setianya karena tidak ada respon apapun dari mereka


“Kami…tidak apa-apa, Nushi-sama. Apakah Anda tidak ingin melihat bunga sakura ini lebih lama lagi sebelum sarapan?” tanya Ginko mengalihkan pembicaraan


“Kebetulan aku ingin coba berjalan-jalan sebentar ke luar. Mungkin baru akan kembali ketika waktu sarapan tiba. Kalian jaga rumah baik-baik dan pastikan gadis kotor itu tidak melakukan sesuatu yang menyebalkan di tempatku.”


“Anda mau keluar?!”


“Benar. Aku rasa akhir-akhir ini aku sedikit menjadi aneh, jadi aku rasa aku harus menenangkan pikiranku.”


“Begitu. Semoga hari Anda menyenangkan, Aragaki-sama.” ucap Hakuren


Diikuti oleh salam dari yang lain, Aragaki berjalan menuju pintu keluar seorang diri. Begitu keluar dari tempat itu, keempat pelayannya langsung berlari menuju dapur.


Sebelum menuju dapur, mereka berempat sepakat untuk menghilangkan hawa keberadaannya agar si rubah kecil tidak menyadari kehadirannya.


“Akhirnya kita bisa melihat sendiri apa yang dilakukan gadis desa itu di dapur!” bisik Nagi dengan ekspresi senang


“Aku sudah khawatir Nushi-sama akan memarahi kita yang mengikuti kedua orang itu masuk hutan, tapi sepertinya Nushi-sama tidak memedulikan hal itu sama sekali.”


“Kita lihat apa yang–”


“Reda-sama!” suara teriakan terdengar dari dalam dapur


“…!!” keempat pelayan Aragaki yang ada di luar dapur terkejut mendengarnya


Mereka segera mengintip ke dapur dan melihat ekor tebal yang bergoyang-goyang.


“Geh! Si rubah kecil itu!!”


Pemandangan pertama yang dilihat mereka cukup lucu. Itu Ryuunosuke yang melihat Reda baru selesai mencuci semua sayuran liar yang dibawanya.


“Reda-sama, jamurnya sudah dicuci bersih oleh Ryuunosuke!”


“Terima kasih banyak, Ryuunosuke. Sekarang bantu aku memotongnya ya. Aku tidak bisa memotongnya sendiri agar Nushi-sama tidak mencium aroma tanganku. Nanti biar aku yang menumis dan menggorengnya.”


“Baik~”


Melihat apa yang dilakukan oleh keduanya, Nagi dan lainnya begitu syok. Seperti mengetahui rahasia di balik menu lezat buatan ‘Ryuunosuke’, keempatnya tidak menyangka bahwa sekarang mereka mengetahui kenyataan.


Mereka melihat betapa telatennya gadis itu membuat bumbu untuk masakan mereka.


Rubah kecil itu menghampiri Reda dengan wajah senang.


“Lihat ini, Reda-sama, Ryuunosuke memotongnya dengan rapi~”


“Huwaa~bagus sekali. Anak pintar. Selanjutnya, tolong cuci berasnya dan masukan bumbu di piring ini dan sedikit jamur ini ya.”


“Hmm? Kenapa?”


“Kita akan membuat nasi jamur. Itu bagus untuk Nushi-sama dan yang lain agar mereka mendapat lebih banyak nutrisi. Nanti sup misonya juga akan diberi sedikit jamur yang dicincang agar semakin wangi.”


“Benarkah! Ryuunosuke baru mengetahuinya.”


“Mendiang ayah dan ibuku selalu memasak seperti ini saat masih hidup, jadi aku sedikit belajar. Di tambah penduduk desa juga sering membuatnya untuk dijual jadi aku rasa Nushi-sama dan yang lain akan menyukainya.”


Gadis desa itu tersenyum sambil mengusap-usap kepala rubah kecilnya. Dengan semangat, rubah kecil itu melakukan hal yang diperintahkan oleh Reda.


Di luar dapur, tidak ada yang berhenti melihat apa yang terjadi. Bak seperti telah larut dalam pemandangan tersebut, Nagi dan teman-temannya hanya bisa menatap dari kejauhan.


Rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Perubahan yang terjadi dalam tiga hari membuat mereka menyadari bahwa gadis desa yang dibenci oleh tuan mereka telah membawa banyak perubahan besar dalam waktu satu minggu pertama.


****