The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 101. Kemarahan Aragaki yang Terulang Kembali



Pada akhirnya, Hakuren dan Kuroto menunda semua informasi tersebut sampai malam hari.


Di malam hari, di saat semua sudah hampir beristirahat, kedua tengu itu melihat sang penguasa keluar kamar.


“Aragaki-sama, kami ingin bicara.”


Aragaki yang baru saja keluar dari ruangannya malam itu mendekati kedua tengu setianya.


“Apa kalian menemukan sesuatu selagi aku ada di sini?”


“Kami…minta maaf karena kami tidak langsung melaporkan kejadian ini. Kami ingin memberitaukan hal ini lebih cepat, tapi kami…” Hakuren menghentikan ucapannya dan sedikit menunduk. Sang penguasa mengetahui bahwa mereka tidak bermaksud jahat dan tersenyum.


“Tidak masalah, Hakuren. Apa yang kalian temukan?”


Hakuren dan Kuroto memberitau semua hal yang mereka temukan di sisi hutan. Betapa syok dan terkejutnya sang penguasa hingga dia tidak membuang waktu untuk mendengarkan sisanya dan pergi melihatnya sendiri dengan kecepatan tinggi.


“Aragaki-sama!!” kedua tengu itu berteriak


Mereka mengejar sang penguasa yang telah berlari melewati hampir dari seperempat jalan dengan cepat.


“Aragaki-sama terlalu cepat! Bahkan dengan terbang secepat ini, kita masih belum bisa mengejarnya!” kata Kuroto


“Aku lihat ekspresi itu! Itu ekspresi yang sama saat mendengar hutan kita dibakar oleh manusia 200 tahun yang lalu saat awal tragedi itu. Aragaki-sama mungkin akan mengamuk seperti saat itu, kita harus mengejarnya sebelum terlambat!!”


Hakuren terlihat cemas sekarang, “Mungkinkah kami salah memberitaukan hal ini sekarang? Haruskah kami memberitau hal ini sejak awal saat kami melihatnya tadi?”


“Tapi…aku tidak mungkin mengganggu momen bahagia saat itu. Aragaki-sama akhirnya bisa dekat dan belajar membuka dirinya. jadi–”


-Deg


Kedua tengu tersebut merasakan tekanan yang kuat.


“Apa ini?!”


“Ini aura Aragaki-sama. Hakuren, kita tidak punya banyak waktu. Tambah kecepatan dan bersiaplah dengan kemungkinan terburuk!!”


Mereka terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi dan begitu sampai, benar saja. Aura Aragaki begitu kuat dan kental.


Tubuh kedua tengu tersebut seakan tertekan hingga ke tanah, membuat mereka terpaksa menjatuhkan diri dan berlutut karena penekanan aura sang penguasa.


Di depan mereka, ada aura yang begitu pekat. Warna merah gelap dengan aura hitam di sekelilingnya. Dedaunan di sisi hutan lainnya tampak bergoyang dan angina mulai bertiup.


Aragaki marah.


Aura tersebut bahkan sampai dirasakan oleh Nagi dan Ginko yang ada di dalam rumah, sedangkan rubah kecil langsung berlari dari kamarnya menuju kamar Reda.


“Reda-sama!!!” teriak si rubah kecil ketakutan.


Saat itu, Reda baru saja selesai menyisir rambutnya dan meletakkan pita kesukaannya di laci rias. Gadis itu terkejut.


“Ryuunosuke?!”


Rubah kecil itu langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan tubuh gemetar.


“Ada apa, Ryuunosuke? Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu gemetar seperti ini?”


Ekor tebal rubah kecil itu menjadi tegang bersamaan dengan rambut ekornya yang berdiri, telinganya turun dan pelukan yang dilakukannya itu begitu erat.


“Ryuunosuke? Apa Ryuunosuke bermimpi buruk?”


“Reda-sama…Ryuunosuke takut, Ryuunosuke takut. Hiks…”


“Ryuunosuke?” Reda sedikit cemas. Dia bisa merasakan ada tetesan air mata yang jatuh membasahi pakaian tidurnya. Dengan lembut, gadis itu mengelus-elus tubuh rubah kecil malang itu.


“Tidak apa-apa. Aku di sini, Ryuunosuke tidak apa-apa.”


Nagi dan Ginko sudah mengganti pakaian tidur mereka dengan pakaian biasa mereka saat bertugas.


“Reda-sama!! Kamu tidak apa-apa?!” Ginko masuk ke dalam kamar gadis itu karena pintunya terbuka. Youko itu melihat rubah kecil sedang memeluk erat Reda.


“Ginko-sama? Apa yang terjadi?”


“Maafkan aku karena masuk seenaknya, tapi aku ingin memastikan dulu bahwa kalian baik-baik saja.”


“Aku tidak apa-apa, tapi Ryuunosuke bertingkah aneh. Dia ketakutan, Ginko-sama.”


“Ryuunosuke…” Ginko melihat ke arah rubah kecilnya dan ada sebuah ingatan yang muncul di dalam benak Ginko. Itu adalah ingatan saat dia melihat rubah kecil itu memeluk ekornya karena ketakutan saat tragedi 200 tahun yang lalu.


Di luar ruangan, Nagi memanggil Ginko.


“Ginko, tidak ada waktu. Kita keluar sekarang! Reda-sama, tolong jangan keluar dari tempat ini apapun yang terjadi! Tempat ini telah dipasangi pelindung dan akan membuat kalian aman. Ingat pesanku!”


“Baik. Tapi sebenarnya…apa yang terjadi, Nagi-sama?” Reda terlihat begitu cemas dan khawatir. Raut ekspresinya juga berubah pucat.


“Tidak ada waktu menjelaskan. Ginko, kita periksa sekarang!”


“Aku mengerti. Reda-sama, kami permisi dulu. Kami titip Ryuunosuke.”


Nagi dan Ginko pergi keluar. Mereka yang telah berhasil menembus penghalang langsung menuju hutan.


“Aku yakin ini Aragaki-sama. Aura kuat yang bisa terasa sampai radius seperti ini…beliau mungkin akan mengamuk!!”


“Kita harus bergegas, Nagi atau kita akan terlambat menghentikan amukan Nushi-sama!”


Kedua youko itu semakin menambah kecepatan.


**


masih memeluk rubah kecilnya sambil mencoba menenangkannya.


“Tenanglah, Ryuunosuke. Aku ada di sini. Sudah ya, sudah. Jangan menangis lagi, sayangku.”


“Hiks…Ryuunosuke takut, Reda-sama. Ini seperti Aragaki-sama saat marah.”


“Nushi-sama? Memang ada apa? Apa Ryuunosuke baru saja dimarahi oleh Nushi-sama tadi?”


Ryuunosuke terdiam dan tangisnya berhenti. Dia sadar bahwa Reda adalah manusia, tidak bisa merasakan aura kemarahan sang majikan dari jarak yang jauh seperti dirinya.


“Reda-sama adalah manusia. Ryuunosuke lupa akan hal itu.”


Rubah kecil itu melihat ke arah Reda yang tersenyum dan dirinya kembali memeluknya lagi.


“Sudah baik-baik saja?”


“Uum…” rubah kecil itu hanya mengangguk dalam pelukan Reda. Dia seperti memiliki trauma dengan aura menekan yang dirasakannya sekarang.


“Ini seperti kejadian malam itu. Hiks, Ryuunosuke tidak ingin mengingatnya lagi. Ibu…ibu, tolong Ryuunosuke. Ryuunosuke takut, hiks…”


Reda memeluknya dengan lembut. “Jika Ryuunosuke takut, hari ini kita tidur bersama di sini ya.”


“Eh?”


“Kalau tidur bersama, Ryuunosuke tidak akan takut lagi. Aku bisa memelukmu agar kamu tidak gemetar seperti sekarang. Bagaimana?”


“Ryuunosuke boleh…tidur di sini?”


“Tentu saja boleh.”


Sekilas, tampak jelas di wajah rubah kecil itu bahwa dia sangat senang. Rasa takutnya sedikit berkurang dan dirinya langsung tersenyum. Reda memutuskan untuk tidur bersama rubah kecil manis itu agar si rubah kecil merasa tenang.


Tapi, di hati Reda timbul pertanyaan.


[Hiks…Ryuunosuke takut, Reda-sama. Ini seperti Aragaki-sama saat marah]


“Kata-kata Ryuunosuke tadi…apakah ada maksud di dalamnya? Apakah saat ini Nushi-sama sedang marah?”


“Tapi sebelumnya, Nagi-sama dan Ginko-sama terlihat begitu khawatir dan cemas. Seakan-akan…telah terjadi sesuatu.”


“Apakah ada hal buruk yang terjadi? Apakah ada hubungannya dengan kekhawatiran Nushi-sama yang dikatakan beliau padaku?”


**


Di dalam hutan, saat Nagi dan Ginko akhirnya hampir sampai dengan sumber aura itu, langkah kaki mereka semakin pelan dan wajah mereka semakin pucat.


“Apa…ini?”


“Bagaimana…bisa?”


Tanaman mati, dedaunan kering dan pohon-pohon yang lapuk serta menghitam menjadi pemandangan lurus sampai ke depan mereka. Dan semakin berjalan, keringat dingin serta ketakutan akhirnya mulai muncul membasahi tubuh dan kening mereka.


Tepat di hadapan mereka sekarang, kedua youko itu melihat dua tengu rekan mereka yang kaku tanpa bisa bergerak karena tertekan aura kemarahan yang kental dan sosok di hadapan mereka adalah sosok tuan mereka dengan ekspresi penuh rasa dendam.


“Nushi…-sama…” Ginko memanggil sang majikan pelan


Sosok itu adalah sosok seorang Aragaki dengan kemarahan.


Rambut hitam panjang dan ekor besarnya. Telinga serigala yang muncul dan mata merah menyala bagaikan kemarahan mutlak. Tanda merah di keningnya merupakan tanda suci dari seorang penguasa yang hanya muncul saat dia marah.


“Beraninya mereka mengotori hutanku yang telah aku rawat. Beraninya mereka mencoba menyembunyikan diri dan mengincar seseorang di bawah kuasaku.”


“Aku tidak akan mengampuni mereka. Aku tidak akan mengampuni mereka. Mereka pantas mati!!!!”


“Ara-mitama!!!”


“…!!!” keempat pelayan Aragaki terkejut mendengar teriakan memekikkan telinga dari seorang Aragaki.


“Aragaki-sama bilang…Ara-mitama? Ara-mitama katanya?”


“Jadi ini adalah kegare yang dihasilkan oleh Ara-mitama?”


“Pantas tidak ada yang bisa merasakannya dan tidak ada satupun dari kami yang mengingatnya.”


“Jika benar ini adalah ulah Ara-mitama, berarti yang mencoba mengawasi gadis desa itu adalah..”


Seketika, keempatnya dengan kompak menjawab dalam hati, “Iblis Nue?!”


Mata merah Aragaki memberikan penekanan aura kemarahannya.


“Aku akan membunuh mereka malam ini.”


Sebuah kalimat yang begitu mengguncang hati keempat pelayannya. Rasa takut akan tragedi di hari itu seakan terulang kembali.


Ini adalah kemarahan kedua Aragaki dengan sosok menakutkan itu dan hal yang akan terjadi saat Aragaki serius melakukannya adalah…kehancuran.


Di malam yang telah membawa ketakutan pada rubah kecil dan matinya beberapa wilayah di dalam hutan membuat bulan yang menerangi Higashi no Mori menjadi tertutup awan malam.


****