
“Selamat pagi, Aragaki-sama.” ucap semua pelayannya
“Selamat pagi.”
Keempat pelayannya itu duduk di tempat masing-masing dan memuji makanan di meja.
“Huwaa, apa ini? Menu baru? Ada jamur di nasinya!” seru Nagi
“Ehehehe~Ryuunosuke yang menyiapkannya.” kata rubah kecil itu dengan senyum penuh kepercayaan diri
“Begitu. Terima kasih banyak, Ryuunosuke.” Ginko tersenyum
Hakuren menggoda Ryuunosuke sambil mencium sup miso di mangkuk kecilnya.
“Apa ada porsi kedua dan ketiga nanti? Sepertinya aku akan makan banyak lagi pagi ini.”
“Tentu saja ada! Ryuunosuke akan bawakan ke tempat ini ya.”
Mendengar itu, rubah kecil keluar dan menggandeng tangan Reda menuju dapur.
“Ada apa, Ryuunosuke?”
“Kita ambil sup dan nasinya lagi, Reda-sama! Ryuunosuke yakin Aragaki-sama akan makan banyak lagi seperti kemarin! Hakuren-sama juga tampaknya begitu senang dengan makanannya. Ayo ayo!”
Reda tidak begitu mengerti, tapi melihat rubah kecilnya senang dan bersemangat membuatnya ikut tersenyum.
Mereka benar-benar mengambil nasi sebakul dengan sup miso lain di mangkuk dan tempura. Lebih banyak tempura dan kakiage lain karena Reda membuatnya cukup untuk semua.
Di ruang makan, Aragaki dan pelayannya mulai meminum sup di mangkuk. Betapa terkejutnya Aragaki begitu menenggaknya.
“Rasa apa ini? Ini rasa yang belum pernah aku cicipi? Ini enak!” dalam batinnya
Dia mulai melihat apa saja isi dari sup miso itu. Dengan sumpitnya, dia mulai mengambil sesuatu yang panjang.
“Jamur?”
Dia melihat pelayannya yang tampak menikmati makanan tersebut.
“Aku senang bisa merasakan sup ini~enaknya.”
“Nushi-sama, tempura dan kakiage ini adalah kesukaanmu. Ini benar-benar tanaman fuki yang manis itu. Cicipilah.”
Aragaki tidak mengerti kenapa pelayannya begitu antusias dengan sarapan kali ini. Tidak ada pertanyaan apapun dari mereka semua. Hanya memakannya dengan nikmati.
Namun, akhirnya dia mengerti alasan pelayan setianya begitu menyukai sarapan pagi ini. Sang penguasa memakan kakiage di mangkuk itu dan tampaknya kali ini dia juga menyukainya.
“Sudah seminggu ini aku memakannya dan entah kenapa aku belum merasa bosan karenanya. Rasa ini memang enak. Selama 200 tahun, aku tidak pernah tau rubah kecilku bisa menemukan tanaman liar di hutan itu.”
Wajah Aragaki yang memakannya tampak begitu lembut. Ada senyuman tipis di bibirnya yang menandakan dia begitu senang dengan sarapannya pagi ini.
Nasi jamur dengan bumbu itu dimakannya dengan lahap, begitu pula dengan supnya.
Rubah kecil datang membawakan porsi lain untuk mereka. Reda sempat khawatir dengan semua makanannya. Dia begitu takut bahwa Aragaki akan melempar dan membuang makanannya kembali.
Namun, mengingat sudah tiga hari berlalu dan Aragaki tampak menerima sedikit aroma tubuhnya pada sayuran liar yang dimasak membuatnya sedikit lega.
“Syukurlah, pagi ini Nushi-sama masih mau makan dengan lahap. Semoga Nushi-sama selalu sehat dan bahagia.”
Wajah Reda memerah memikirkan doa untuk sang pujaan hati yang disukainya dalam diam itu.
Dia tidak berani melihat wajahnya dari balik shoji yang membatasi ruang makan dengan tempatnya sekarang. Tapi, dia bisa membayangkan wajah tampan sang Dewa Pelindung yang tampak menikmati sarapannya.
Ryuunosuke menghampiri Reda dan berbisik.
“Reda-sama, kita berhasil~” bisik si rubah kecil yang manis itu
“Benar. Syukurlah, Ryuunosuke.”
“Ayo kita pergi, Reda-sama.”
Ryuunosuke menarik tangan Reda menuju dapur. Di dalam ruang makan, keempat pelayan setia Aragaki melirik satu sama lain. Seperti ada yang disembunyikan oleh mereka.
**
Reda bersama rubah kecil berdiri melihat panci supnya.
“Sudah mau habis, Ryuunosuke. Aku senang sekali sup miso dengan jamurnya disukai semuanya.” Reda tersenyum sambil memperlihatkan wajah meronanya
“Ryuunosuke juga menyukainya, Reda-sama. Rasanya enak~”
-Kruuuyuuk
Suara perut Reda berbunyi. Gadis cantik itu tampak memegangi perutnya dengan wajah malu.
“Maafkan aku. Tampaknya aku sudah tidak bisa membohongi perut ini. Aku akan pulang sebentar untuk merebus sisa sayurannya ya. Nanti, kita ke pasar sama-sama untuk membeli daging.”
Rubah kecil itu tampak begitu sedih. Dia mulai mengambil mangkuk kecil dan menuangkan sisa sup yang nyaris kering.
“Reda-sama, Reda-sama, bawa sisa sup ini juga!”
Reda hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap-usap wajah rubah manis itu.
“Ryuunosuke, itu jatah untukmu. Aku tidak bisa menerimanya karena nanti akan dimarahi kalau sampai ketauan.”
“Tapi ini sisa! Aragaki-sama tidak akan memakannya juga!”
“Tidak boleh, Ryuunosuke. Tidak apa-apa, sayuran rebus sudah cukup untukku. Nanti aku kembali lagi ya.”
Rubah itu terlihat begitu kecewa karena penolakan itu, tapi dia mengerti kalau gadis desa itu hanya berusaha patuh pada perintah Aragaki.
“Reda-sama…”
Reda berjalan ke pintu belakang menuju gubuknya. Sesampainya di gubuk tua tempatnya tinggal, dia membuka pintunya.
“Aku pulang. Eh?!”
Betapa terkejutnya dia melihat hal yang tidak biasa.
“Apa ini? Apakah ada orang yang salah menaruhnya di sini?!”
Di dalam sana juga terdapat bahan makanan segar lain yang diambil dari hutan.
“Jamur Hiiratake dan kogomi. Ada sayuran fuki juga. Hmm? Ini…”
Reda mengambil sesuatu yang tertutup kain di dekat sayuran liar itu. Begitu dibuka, itu adalah pisau kecil untuk memotong. Pisau itu masih baru dan tajam, membuatnya mudah untuk memotong sayuran serta jamurnya.
Gadis itu tidak mengetahui siapa yang meletakkan semua itu dan tidak memiliki tebakan yang mungkin mengarah pada pelakunya.
“Tidak mungkin Ryuunosuke karena rubah kecil itu selalu bersamaku. Apakah ada orang yang benar-benar salah meletakkannya?”
Gadis desa yang kebingungan itu benar-benar tidak berani menyentuh semuanya itu karena dia tidak ingin mendapat masalah. Dia memindahkan semua bahan masakan itu ke sisi samping.
Begitu dia memindahkan tumpukan sayuran liar berikutnya, ada sesuatu yang jatuh. Itu adalah dua pasang bulu berwarna hitam dan putih di sana.
“Bulu?”
Reda melihat dua bulu itu lagi dan mengingat sesuatu.
“Mungkinkah ini…”
Wajah gadis itu langsung berubah pucat. Dia nyaris menangis karena takut.
“Bagaimana ini? Apakah…apakah Nushi-sama akan mendengarnya juga?”
Reda yang masih memegang kedua helai bulu itu di tangannya segera keluar dan berlari tanpa memedulikan suara perutnya itu. Dia begitu takut sampai mengeluarkan air mata tanpa disadari.
Sesampainya di kediaman Aragaki, Reda mencoba mengatur napasnya. Dia mencoba untuk tidak menangis tapi masih belum bisa.
“Aku mohon, Dewa. Aku hanya…aku hanya ingin membuat Nushi-sama tersenyum. Aku mohon tolong beri aku kesempatan lain untuk membuatnya mau menerima manusia. Aku mohon tolong jangan sampai beliau mendengar semuanya dari Hakuren-sama dan Kuroto-sama.”
Reda sudah gemetar. Dia mengetahui bahwa kemungkinan yang memberikan semua barang-barang itu adalah kedua tengu yang memberinya pakaian juga.
Begitu dia menghapus air matanya dan berjalan untuk mencari mereka, Reda sudah terlihat ketakutan. Dia melihat Aragaki keluar dari ruang makan. Diikuti oleh keempat pelayannya.
Wajah Reda kembali pucat begitu melihat Hakuren dan Kuroto keluar. Dia tidak bisa menyembunyikan air matanya kembali karena takut.
Lebih tegangnya lagi, kedua tengu itu menghampirinya begitu mereka melihatnya.
“Reda-sama, kami baru selesai makan. Reda-sama?”
Hakuren melihat gadis desa itu tampak ketakutan. Nagi dan Ginko yang melihat hal itu langsung menghampirinya juga, sedangkan Aragaki sedikit pun tidak menengok dan meninggalkan mereka semua.
“Ada apa?” tanya Nagi begitu sampai
“Reda-sama? Apa kamu mau membereskan piringnya?” Ginko juga ikut bertanya
Reda langsung lemas hingga jatuh terduduk ke lantai kayu engawa. Dia begitu takut dan akhirnya menangis. Keempat pelayan itu sempat terkejut dan berlutut untuk melihat keadaannya.
“Oi, kau tidak apa-apa?!” tanya Kuroto dengan sedikit membentaknya
“…af…”
“Hah?”
“Maaf…”
“Kau ini bicara apa?!”
“Ma–maafkan aku. Aku…aku berani bersumpah, aku tidak bermaksud lancang. Maafkan aku…hiks…”
“…?” keempatnya mulai bingung
Gadis itu menangis dan mengulurkan tangannya. Dia memperlihatkan dua bulu berwarna hitam dan putih itu kepada mereka semua.
“Aku…aku tidak sengaja menemukan ini. A–aku tidak berusaha melanggar perintah Nushi-sama. Hiks…aku benar-benar hanya berusaha untuk membuatnya senang. Hiks…tolong jangan mengatakan apapun padanya. Aku minta maaf, aku minta maaf. Hiks…”
Tampaknya mereka mulai mengetahui apa yang membuat gadis itu begitu takut sekarang. Gadis desa di hadapan mereka begitu ketakutan sampai tangannya gemetar. Dia terus mengucapkan kata maaf sambil menangis.
Hakuren tersenyum dan memegang tangan gadis itu.
“Reda-sama…”
Gadis itu tersentak dan terkejut. Dia melihat ke arah empat orang pelayan itu.
“Reda-sama, kami sudah tau. Jangan menangis. Kami sudah mengetahui semua usahamu dan kami menyadari bahwa Reda-sama adalah gadis yang baik.”
“Tidak ada yang akan mengatakannya kepada Aragaki-sama dan kami juga mencoba untuk menutupinya.”
“Kenapa? Bukankah Hakuren-sama dan semuanya juga membenciku yang berasal dari Desa Kamakura?” Reda bertanya dengan suara gemetar
Nagi dan Ginko memberikan pendapat mereka.
“Kami membenci kalian, para manusia. Tapi melihat rubah kecil itu berubah sejak kau datang membuat kami berpikir untuk mengawasimu lebih ketat.”
“Dan akhirnya, kami tau bahwa Reda-sama begitu menghargai perasaan Nushi-sama dan Ryuunosuke. Kami tidak bisa mengingkari apa yang kami lihat sendiri selama seminggu ini. Terima kasih untuk semua yang Reda-sama lakukan.”
Reda sempat terdiam. Fokusnya kembali setelah Kuroto mengambil salah satu bulu di tangannya.
“Anggap saja ini awal yang bagus untukmu, gadis desa. Dengan begini semua air matamu itu tidak sepenuhnya sia-sia.”
Mendengar hal itu, Reda tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Dia mulai menangis. Tapi berbeda dari sebelumnya, ini adalah air mata kebahagiaan.
Dari belakang Reda, rubah kecil itu melihat semuanya. Keempat pelayan Aragaki memberikan tanda kepada rubah kecil itu untuk mendekati mereka.
Rubah kecil yang manis itu berlari sambil memeluk Reda dari belakang. Terlihat air mata yang membasahi pipinya. Tampaknya dia juga mendengar semua itu.
“Hiks…hiks…”
“Terima kasih sudah mau berjuang. Kami tidak akan mengatakan apapun pada Aragaki-sama, tapi kami tetap akan memperhatikan kalian berdua. Anggap semua itu adalah hadiah dari kami.”
Hakuren memberikan senyumannya lalu berdiri dan terbang meninggalkan mereka. Kuroto juga hanya memberikan sebuah elusan ke kepala Ryuunosuke sebelum pergi.
Nagi dan Ginko hanya melihat gadis desa itu dipeluk oleh si rubah kecil. Gadis itu sempat berkata dengan suara pelan.
“Terima kasih, terima kasih karena sudah mau menerimaku. Terima kasih banyak.”
****