The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 24. Makanan yang Diinginkan Aragaki



Di dapur, Ryuunosuke yang sudah duduk di lantai hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluk ekor tebalnya. Dia benar-benar sedih melihat tuannya melakukan hal kejam seperti itu pada Reda.


“Hiks…hiks…ibu, Ryuunosuke marah pada Aragaki-sama. Hiks, jahat sekali memperlakukan Reda-sama seperti itu. Hiks…Ryuunosuke marah, Ryuunosuke marah.”


Tangis si rubah kecil itu menjadi perhatian dari kedua youko yang kebingungan di sana. Mereka tidak menyangka dampaknya pada rubah kecil itu begitu besar.


“Aku tidak pernah mendengar Ryuunosuke mengatakan bahwa dia marah pada Nushi-sama. Ini pertama kalinya dia sampai seperti itu.” pikir Ginko


“Si rubah kecil ini benar-benar sudah sangat menyukai gadis desa itu sampai-sampai berani mengatakan marah pada Aragaki-sama. Tapi, aku tidak bisa menyalahkan rubah kecil ini. Dari semua calon ‘pengantin’ yang datang, hanya gadis desa itu yang paling membuatku terkesan.” kata Nagi dalam hati


Ryuunosuke tidak henti-hentinya menangis dan memeluk erat ekor berbulunya sendiri. Tampaknya dia benar-benar sudah tidak mau lagi bicara pada tuannya itu.


Nagi melihat daging tusuk dan sup yang telah tersedia. Dia benar-benar berpikir itu adalah buatan si rubah kecil.


“Memang ada bau tangan gadis desa itu, tapi aku tidak menciumnya terlalu pekat. Aragaki-sama memiliki indera penciuman yang terlalu kuat sampai aroma tipis seperti ini bisa begitu pekat untuknya.”


Nagi mencoba bicara pada Ryuunosuke.


“Rubah kecil, menu makanan ini…kami tidak masalah memakan ini. Kami akan bicara pada Aragaki-sama agar mau memakannya. Berhentilah menangis.”


Untuk pertama kalinya, Nagi yang memiliki mulut sangat tajam mencoba merayu rubah malang itu. Ginko juga mencoba menghibur Ryuunosuke agar mau melepaskan pelukannya dari ekornya sendiri.


“Ryuunosuke, ekormu nanti kusut dan basah karena air mata. Jangan menangis lagi ya. Kami berdua yang akan membujuk Nushi-sama agar mau menerima masakan buatanmu ini.”


“Hiks…hiks…Ryuunosuke tidak mau bertemu Aragaki-sama. Ryuunsouke tidak mau menyiapkan makan siang untuk Aragaki-sama. Ryuunosuke mau bersama Reda-sama!”


“Ryuunosuke!!”


Rubah kecil itu berlari keluar dapur meninggalkan kedua youko itu.


Sementara itu, Reda sedang mengepel lantai yang basah karena tumpahan sup daging kelincinya. Dia mengambil pecahan mangkuk di halaman dan membersihkan sisa sayur dan daging yang berserakan di lantai kayu.


Dengan menahan air matanya, Reda membersihkan semuanya.


“Seharusnya aku tau bahwa Nushi-sama tidak akan memakannya sekalipun aku mengatakan bahwa itu adalah masakan buatan Ryuunosuke. Selama ada aroma tanganku di sana, tidak akan ada masakanku yang dimakan oleh Nushi-sama.”


Dari belakang, gadis itu mendengar suara langkah kaki cepat seperti berlari. Begitu dia menengok, ada sebuah pelukan dari rubah kecil yang menangis lagi.


“Hiks, Reda-sama…”


“Ryuuno…suke? Kenapa ada di sini?!”


“Hiks…Ryuunosuke marah pada Aragaki-sama! Ryuunosuke tidak mau memasak untuknya! Aragaki-sama sudah membuang makanan yang dibuat oleh–”


“Sstt!”


Reda menutup mulut rubah itu dengan tangannya. Gadis itu segera menghapus air mata rubah malang itu.


“Ryuunosuke, itu rahasia kan? Selain itu, aku sudah bilang kalau Ryuunosuke tidak boleh berkata begitu. Kamu tidak boleh membenci dan marah pada Nushi-sama.”


“Tidak mau! Ryuunosuke marah pada Aragaki-sama!”


“Ryuunosuke, ini baru hari ketiga. Tidak apa-apa. Semua akan membaik, bersabarlah. Jangan pernah mengatakan Ryuunosuke membenci Nushi-sama ya. Beliau sangat menyayangimu. Siapa yang akan menyayangi Nushi-sama kalau bukan Ryuunosuke dan yang lainnya?”


“Hiks…Reda-sama yang akan menyayangi Aragaki-sama nanti kalau kalian sudah menikah.”


Mendengar ucapan rubah itu, Reda hanya bisa tersenyum dan menghapus air matanya.


“Iya iya, nanti kalau aku diizinkan untuk bermimpi bisa menikah dengan Nushi-sama ya. Sekarang, kembalilah ke dapur dan buatkan makanan untuk cemilan Nushi-sama. Aku akan membersihkan ini dulu.”


Ryuunosuke mengangguk dan berjalan kembali ke dapur.


Reda mengusap matanya yang hampir meneteskan air mata sambil bergumam dalam hati.


“Apa yang kamu pikirkan, Reda? Jangan mencoba membayangkan hal yang tidak akan pernah terwujud. Menikah dengan Nushi-sama…bahkan setelah mati pun kamu tidak akan bisa membayangkannya.”


Reda tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya pada Ryuunosuke itu dilihat oleh keempat pelayan setia Aragaki dari tempat yang berbeda.


Mereka mulai melihat siapa sebenarnya gadis desa yang datang sebagai calon ‘pengantin’ tuannya tersebut.


**


Di ruangannya, Aragaki memandangi ikebana yang dibawakan oleh pelayannya itu. Dia ingat apa yang dikatakan oleh rubah kecil kesayangannya saat itu.


[Aragaki-sama, Ryuunosuke dengan Nagi-sama dan Ginko-sama membuat hiasan untuk ruanganmu. Lihat! Cantik, kan?]


Aragaki juga ingat apa yang dikatakan oleh anak itu di dapur.


*[Aragaki-sama, Ryuunosuke yang meminta Reda-sama membantu! Ryuunosuke…Ryuunosuke membuat daging kelinci ini untukmu, Aragaki-sama*]


Mengingat itu, ekspresi wajah Aragaki berubah.


“Rubah kecilku itu pasti masih menangis sekarang. Setelah aku pikir kembali, tiga hari terakhir ini sikapnya begitu penuh dengan penolakan.”


Aragaki sempat bergumam sendiri sambil tersenyum.


“Ryoko, anakmu itu benar-benar sudah bisa melawan tuannya. Aku ingin tau jika kamu masih hidup, apakah kamu akan membela tuanmu yang menyedihkan ini atau membela anakmu?”


Dewa Pelindung itu terdiam. Dia memikirkan banyak hal yang terjadi selama hidupnya.


“200 tahun lalu…jika saja aku bisa lebih kuat untuk menjaga kalian semua, kalian mungkin akan ada di sini menemaniku. Aku tidak butuh siapapun kecuali kalian semua. Dengan begitu, aku tidak perlu mengetahui betapa kotornya manusia dan keturunan mereka.”


Aragaki sempat berbicara sendiri melihat dua hiasan ikebana yang baru saja didapatkannya.


“Dulu, aku terlalu percaya pada kata-kata manis manusia. Setelah apa yang mereka lakukan pada kalian semua, aku bersumpah pada diriku untuk membenci mereka. Aku hanya ingin bisa memutar waktu dan bersama kalian semua, keluargaku yang berharga.”


“Aku tidak butuh manusia, aku tidak butuh belas kasih mereka. Tanpa mereka, aku bisa hidup dan selama ini itulah yang terjadi.”


“Ryoko, aku berjanji padamu akan menjaga Ryuunosuke kecil dan akan kurawat seperti anakku sendiri. Aku harap kamu tidak kecewa pada tuanmu yang menyedihkan ini, Ryoko.”


Terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah dan Aragaki sudah menyadari siapa  yang datang.


“Nagi, Ginko. Ada apa?”


Aragaki langsung bisa menebaknya sebelum pintu terbuka. Dia melihat dua pelayannya duduk bersimpuh memberi hormat.


“Aragaki-sama, kami ingin memberikan ini dan bicara dengan Anda.” ucap Nagi


Ginko memberikan cemilan yang dibuat oleh Ryuunosuke. Tapi, pandangan mata Aragaki tertuju pada dua tempura sayur dan dua daging tusuk yang ikut disuguhkan oleh mereka.


Begitu mengendus aromanya, mata sang penguasa langsung berubah dingin.


“Nagi, Ginko…apa maksudnya ini?” ucapnya dingin


Kedua youko itu berusaha tenang. Nagi memberanikan diri untuk biara pada Aragaki.


“Aragaki-sama, maaf telah lancang padamu. Kami hanya ingin rubah kecil itu tidak marah dan menangis seharian.”


“…” wajah Aragaki terlihat terkejut


“Rubah itu menangis sambil memeluk erat ekornya dan mengatakan bahwa dia tidak mau membawakan cemilan ini untukmu. Karena itu, kami yang membawakannya.” jelas Nagi


Ginko mencoba menjelaskannya juga pada tuannya.


“Kami mengerti bahwa Nushi-sama tidak menyukai aroma Reda-sama. Reda-sama juga mengakui bahwa sayuran liar ini dibawa olehnya. Tapi, bagaimanapun juga ini adalah masakan yang dibuat oleh Ryuunosuke.”


“Ryuunosuke hanya meminta bantuan Reda-sama untuk membawakan sayuran lain sebagai teman daging tusuk ini dan semua Ryuunosuke yang membuatnya. Dia begitu memperhatikan Anda, Nushi-sama. Tidak bisakah untuk sekali ini saja, Nushi-sama mau membuatnya bahagia?”


“Kalian ingin mengatakan aku sudah membuatnya sedih, begitu?” Aragaki langsung menanyakan hal yang sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya


Nagi menelan ludah mendengar pertanyaan itu, tapi dia sudah berjanji kepada si rubah kecil untuk merayu tuannya agar mau memakannya.


“Aragaki-sama, kami tidak berpikir demikian. Namun sejak kedatangan gadis desa itu, rubah kecil itu sering sekali menangis karena sikap Anda yang menolak kehadiran gadis desa itu. Rubah kecil itu bahkan menolak makan bersama Anda lagi.”


“Mungkin dengan Aragaki-sama yang memakan ini….rubah kecil itu akan mau makan bersama Anda seperti dulu. Ryoko-san juga pasti akan senang jika mengetahuinya dari langit.”


Aragaki mencoba bersikap layaknya pemimpin yang baik. Dia menghela napas panjang dan menghembuskannya.


“Aku mengerti. Aku akan mencobanya agar rubah kesayanganku itu tidak marah lagi padaku. Tapi, aku hanya akan mentolerir ini satu kali.”


Nagi dan Ginko tersenyum. Mereka mempersilahkan tuannya untuk memakannya.


Begitu daging tusuk itu digigitnya, dia sangat terkejut dengan rasanya. Rasanya begitu asing di lidahnya namun sangat enak. Daging kelinci yang biasa diolah mentah sejak dia adalah siluman, terasa sangat berbeda.


Aragaki juga mencicipi tempura dari sayuran liar yang dibawa oleh Reda dari hutan. Meskipun dia benci dengan aroma tangan gadis itu, tapi dia sudah berjanji hanya akan mentolerir itu sekali. Dia mengigitnya.


Rasa yang manis alami dan asin gurih yang sangat disukainya. Dia terkejut rubah kecilnya bisa mengolah semua itu sendirian.


Ginko mencoba membuat Aragaki percaya.


“Ini adalah makanan dari Ryuunosuke agar Anda merasa senang, Nushi-sama. Tidak kah Anda menyukainya?”


Aragaki menelan makanan di mulutnya dan tersenyum.


“Katakan pada rubah kecil kesayanganku itu, kalau aku ingin makanan ini lagi.”


****