
Di siang itu, bukan hanya hati Aragaki yang hancur namun semua pelayan setianya ikut merasakan.
Begitu sang majikan telah menjauh, mereka langsung berlari ke arah Reda.
“Reda-sama, apa kau terluka?”
Hakuren menjadi orang pertama yang menghampirinya setelah dia berhasil menggerakkan kakinya kembali.
Dia berlutut dan melihat Reda yang dipeluk oleh Ryuunosuke.
“Hiks…Reda-sama, maafkan aku. Hiks, maafkan Ryuunosuke…”
Rubah kecil itu minta maaf sambil menangis sangat kencang. Dia tidak mengendurkan pegangan tangannya dan terus memeluknya tanpa melepasnya.
Pakaian basah dan tubuh yang sakit dirasakan oleh gadis itu. Hatinya sudah terlalu syok hingga dia tidak tau bahwa air mata sudah menetes. Reda menangis tanpa dia sadari dan memasang senyuman seakan dia bisa membohongi semua orang di sana.
“Ryuunosuke, aku tidak apa-apa. Lihat aku, aku tidak menangis jadi Ryuunosuke juga jangan menangis.”
“Reda-sama…” Ginko yang mendengar itu begitu lirih
Bukan hanya Ginko tetapi Nagi dan Kuroto terlihat sangat menyesal.
“Siapa yang mau kau bodohi, gadis desa?” gumam Nagi pelan
Reda terus merayu rubah kecilnya untuk berhenti menangis di saat dia sendiri terus meneteskan air mata. Tentu saja hal itu tidak didengar oleh rubah kecilnya.
Hakuren mulai membuka mulutnya dengan perasaan takut.
“Aku merasa ada yang aneh karena Aragaki-sama tidak lagi mengikuti Reda-sama dan Ryuunosuke.”
“Eh?” Ryuunosuke melihat ke arah Hakuren
“Aragaki-sama sebenarnya mengikuti kalian sejak pagi. Beliau terus memperhatikan kalian sampai akhirnya kalian masuk ke dalam dan tidak keluar untuk beberapa menit.”
“Ketika kalian keluar, kami berempat tidak melihat Aragaki-sama mengikuti kalian lagi sehingga aku sedikit curiga. Aku memutuskan untuk pergi melihatnya diam-diam.”
“Hampir setengah jam beliau berdiri di depan dua buah hiasan bunga itu dan tidak lama setelah itu beliau melemparnya keluar dengan penuh emosi.”
“…!!” Ryuunosuke terkejut. Dia menyadari bahwa semua kemarahan itu kemungkinan adalah karena apa yang dia ucapkan saat bicara dengan Reda di depan ruangan Aragaki.
[Ah! Ryuunosuke yang memberikannya pada Aragaki-sama dengan bantuan Nagi-sama dan Ginko-sama!]
[Tapi, Nushi-sama tidak menyukai aromaku? Kalau sampai beliau mencium aroma tanganku di sana, beliau akan membuang dan memarahimu]
[Jangan khawatir! Ryuunosuke, Nagi-sama dan Ginko-sama sudah mengakalinya agar Aragaki-sama tidak tau]
[Bukankah Reda-sama membuatnya untuk persembahan bagi Aragaki-sama? Beliau sangat menyukainya. Reda-sama sudah membuat Aragaki-sama tersenyum, jadi jangan khawatir]
[Rubah kecilku manis sekali. Terima kasih banyak sudah mau melakukan ini untukku]
[Ehehe~jangan menangis, Reda-sama. Ryuunosuke akan mendukung Reda-sama agar Aragaki-sama mau menerimamu]
Rubah itu semakin gemetar dan menangis semakin keras. Dia merasa usaha gadis yang disayanginya berakhir dengan sebuah kesia-siaan karena ulahnya.
“Hiks…maafkan Ryuunosuke, ini semua salah Ryuunosuke! Reda-sama, hiks…maafkan aku!”
Mendengar kesaksian Hakuren, Nagi dan Ginko menjadi ikut pucat. Kuroto melihat tangan kedua temannya itu gemetar.
“Apa yang kalian lakukan?! Benda apa yang kalian lakukan dan apa hubungannya dengan gadis desa itu sampai membuat Aragaki-sama marah?!” Kuroto sudah terlanjur emosi
Nagi menjelaskannya dengan terbata-bata. Mendengar penjelasan itu, Hakuren dan Kuroto yang tidak tau apapun menjadi syok.
“Kalian benar-benar membohongi Aragaki-sama!!” teriak Kuroto
“Kami tidak punya pilihan. Selain itu…” Nagi melihat gadis desa yang duduk sambil menangis tanpa disadari oleh dirinya sendiri
Tatapan penuh rasa penyesalan dan kasihan ditunjukkan oleh Nagi. “Aku hanya mencoba membantunya.” Nagi berkata dengan nada pelan.
“Akh!” Kuroto mengacak-acak rambutnya dan bingung. Dia menendang pecahan mangkuk di dekatnya sambil mengumpat, “Dasar sial!”
Hakuren melihat Reda dengan perasaan iba dan kasihan.
“Reda-sama, sebesar itukah perasaanmu pada tuan kami? Maafkan aku karena tidak bisa memberikanmu bantuan apapun. Aku benar-benar menyesal.”
Rubah kecil itu melihat wajah cantik gadis desa yang meneteskan air mata namun masih bisa tersenyum merona. Bak ingin menunjukkan sebuah perasaan bahagia yang palsu, Reda tersenyum pada rubah kecilnya.
“Semua akan baik-baik saja, Ryuunosuke. Tersenyumlah ya.”
“Hiks…”
Tangan kecil Ryuunosuke mulai mengusap kedua pipi gadis malang itu dan seketika dia terkejut. “Reda-sama, hiks…jangan membohongi dirimu sendiri. Ini salah Ryuunosuke. Hiks…jangan menahan rasa sakit itu sendirian. Hiks…”
Kalimat rubah kecil itu membuat gadis cantik itu terdiam. Air matanya semakin banyak yang menetes dan seketika dia baru menyadari bahwa hatinya hancur.
Rubah kecil dan gadis itu saling berpelukan dan menangis sekeras-kerasnya bersama.
“Dewa, inikah jalan dan jawabanmu untuk semua doaku? Apakah ini semua jawaban dari doa dan harapanku? Apakah aku memang…tidak bisa mencairkan hati orang yang aku cintai walau hanya sedikit?”
Siang itu, Reda dan Ryuunosuke yang baru selesai menangis dibawa oleh keempat pelayan setia Aragaki ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut tampak seperti ruang yang biasa dipakai untuk menerima tamu atau bersantai.
Ginko memberikan teh hangat dan mengupaskan buah untuk keduanya.
“Reda-sama, apa kamu sudah membaik? Ini, minumlah dulu.”
“Maafkan aku. Aku sudah tidak apa-apa, Ginko-sama. Selain itu, aku diperintahkan untuk tidak meminum atau memakan apapun dari tempat ini seperti perintah Nushi-sama.”
“…” Ginko terdiam. “Bahkan di saat seperti ini, dia masihmematuhi perintah Nushi-sama.”
Semua orang yang mendengar jawaban gadis itu tidak bisa berbuat apapun. Hal itu adalah kenyataan
dan mereka sendiri juga mendengarnya.
“Gadis ini tidak memiliki niat untuk meninggalkan perintah Aragaki-sama sedikitpun. Padahal yang barusan itu sudah sangat buruk untuknya. Kenapa dia masih mau bertahan untuk Aragaki-sama sampai seperti itu? Dia bisa mati sebelum waktunya!” ucap Nagi dalam hati
Hakuren mencoba merayu Reda agar mau meminum tehnya, akan tetapi apapun yang terjadi gadis itu tetap tidak mau melakukannya. Dia benar-benar berpegang teguh pada apa yang dikatakan oleh sang penguasa.
“Aku permisi dulu, pakaian ini jadi basah dan kotor. Setelah ini, aku akan kembali dan memasak untuk makan siang. Nushi-sama pasti lapar.”
“Tidak perlu. Hari ini, Reda-sama tidak perlu bekerja. Istirahatlah.”
“Tapi–”
“Pulang! Kembali ke gubuk tua itu dan jangan ke tempat ini sampai besok. Istirahatlah dan jangan memikirkan apapun. Lagipula, Aragaki-sama tidak ada di sini. Dia pergi dan kemungkinan tidak akan kembali hari ini.”
“Kenapa?” Reda terkejut mendengar perkataan Kuroto
“Karena besok adalah peringat hari kematian teman-teman kami, termasuk mendiang ibu si rubah kecil itu. Beliau akan menginap di luar setiap peringatan itu dan akan kembali besok malam.”
Reda melihat sendu rubah kecilnya yang tertunduk. Rubah kecil itu duduk di sampingnya tanpa sedikitpun melepaskan tangannya dari pakaian Reda yang dicengkeramnya.
“Reda-sama, hiks…” dia menangis lagi
Reda mengelus-elus lembut kepala dan telinganya yang turun.
“Ryuunosuke, istirahat ya. Aku juga masih memiliki janji untukmu membuatkan hiasan ikebana. Kita buat besok setelah istirahat ya. Besok pagi, Ryuunosuke bisa memberikannya pada Nushi-sama dan mendoakan ibumu.”
“Hiks…maafkan Ryuunosuke, Reda-sama. Gara-gara Ryuunosuke, semuanya gagal! Gara-gara Ryuunosuke, usaha Reda-sama untuk membuat Aragaki-sama tersenyum semua hancur! Maafkan aku…aku benar-benar menyesal!”
Mendengar itu, mata sang gadis mulai berkaca-kaca. Sambil memeluk rubah kecilnya, dia mengatakan banyak hal di hatinya.
“Ryuunosuke, semua bukan salahmu. Ini semua karena aku terlalu serakah dan egois.”
“Akulah yang terlalu lancang tanpa menyadari posisiku sebagai pemilik darah kotor dari leluhurku. Akulah yang salah karena berpikir untuk membuat Nushi-sama tersenyum.”
“Seharusnya aku menyadari posisiku. Seharusnya aku tidak pernah berpikir untuk diterima olehnya.”
“Aku…mencintai Nushi-sama tanpa izin dan inilah yang aku dapatkan. Itu semua bukan salah Ryuunosuke. Ini adalah jawaban dari Dewa. Jawaban bahwa perasaan cintaku ini adalah sesuatu yang kotor.”
“Seharusnya…aku yang hina ini tidak boleh mencintai Dewa Pelindung seperti Nushi-sama. Aku hanya manusia kotor di matanya dan sampai kapanpun, aku akan tetap kotor untuknya. Jangan salahkan dirimu, Ryuunosuke.”
“…” keempat pelayan itu syok dan terlihat sangat miris. Begitu lirih suara Reda ketika mengatakannya membuktikan dia begitu sakit.
“Itu tidak benar! Reda-sama pantas untuk Aragaki-sama! Reda-sama harus menjadi pengantin Aragaki-sama! Ibu…ibu juga mendukungmu! Ibu juga mendukung Reda-sama…huwaaa. Kenapa Aragaki-sama tidak mengerti?!”
Kalimat Ryuunosuke yang membawa ibunya itu semakin membuat keempat pelayan Aragaki sakit.
Setelah lelah menangis, rubah kecil itu akhirnya tertidur sendiri. Reda kembali ke gubuk tua sambil memegangi dadanya yang sesak.
Sesampainya di gubuk, dia langsung tersungkur lemas tak berdaya di tatami. Bagai semua tenaganya hilang, hanya air mata yang menetes membasahi lantai tatami tua itu.
“Hiks…hiks…huwaa…”
Tangisan itu pecah kembali.
“Aku mencintai Nushi-sama. Itu bukan hanya sebuah perasaan palsu, Dewa. Aku sungguh mencintainya. Rasanya sakit sekali. Apakah…apakah memang tidak ada kesempatan untukku mendapatkan sebuah senyuman darinya?”
“Apakah aku memang akan mati dengan membawa rasa sakit dan luka ini?”
Dengan mulut gemetar, gadis itu bergumam sesuatu.
“Nushi…-sama, Reda mencintaimu. Reda sangat mencintaimu. Izinkan Reda untuk…mendapatkan sebuah senyuman darimu, Nushi-sama. Aku mencintaimu, aku mencintaimu…hiks…”
Bersamaan dengan air mata yang menetes, langit cerah berubah menjadi mendung. Seakan langit ikut menangis bersama perasaan gadis cantik yang malang.
****