The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 93. Rasa Khawatir dan Menolak untuk Menyesal



Ini terjadi sebelum Reda dan Ryuunosuke kembali.


Di kediaman Aragaki, dirinya yang masih berada di ruangan duduk sambil memandangi ikebana yang ada di meja kerjanya.


“Aku benar-benar tidak bisa berhenti mencemaskannya. Kenapa hati ini begitu khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis itu?”


“Sejak aku dan dia mulai dekat seperti ini, rasanya aku merasa akan ada sesuatu yang tidak benar.”


Pikiran Aragaki didominasi rasa khawatir.


“Sesuatu yang mengawasinya itu memang tidak sekuat itu, namun aku yakin itu milik siluman juga.”


“Mungkinkah gosip yang ada di pasar memancing siluman lain untuk menyakitinya karena berpikir dia mencoba meracuniku juga?”


Ginko datang membawakan teh dan sedikit kudapan berupa buah dan kerupuk senbei.


“Nushi-sama, aku membawakan kudapan untuk Anda.”


“Masuklah.”


Ginko masuk dan mengantarkan nampan berisi kudapannya. Melihat tuannya tampak memaksakan diri untuk tersenyum, Ginko bertanya.


“Nushi-sama baik-baik saja?”


“Aku tidak apa-apa. Hanya merasa cemas.”


“Aku yakin Reda-sama tidak apa-apa. Umm, maafkan aku Nushi-sama. Sebenarnya Nagi baru saja pergi beberapa waktu lalu karena khawatir mendengar cerita Nushi-sama.”


“Nagi tidak pernah bisa diatur. Aku sudah tau bahwa dia pasti akan pergi juga. Tidak masalah.” jawab sang penguasa dengan senyum


Ginko menemani tuannya sebentar sambil menatapnya meminum teh.


“Nushi-sama, apakah aku boleh bertanya sesuatu?”


“Tentu.”


“Bagaimana…perasaan Nushi-sama pada Reda-sama sekarang ini?”


Aragaki yang memegang cangkirnya sedikit tersentak hingga teh dalam gelasnya sedikit bergerak. Ginko masih belum selesai dengan pertanyaan miliknya.


“Nushi-sama sekarang sudah mengetahui kenyataan.”


“Tentang bagaimana Reda-sama memperlakukan Ryuunosuke dengan begitu baik, lebih daripada gadis-gadis sebelumnya. Tentang Reda-sama yang mengikuti seluruh perintah darimu yang bahkan sangat sulit sekalipun.”


“Mengenai perasaannya padamu yang begitu tulus dan perhatiannya tanpa mengenal rasa sakit dan lelah untukmu…apakah…apakah Nushi-sama tidak ingin mulai jujur pada dirimu sendiri dan mengakui bahwa Nushi-sama–”


“Ginko, aku mohon cukup. Aku sudah mengerti maksudmu.” Aragaki memotong pertanyaan dan rasa ingin tau pelayannya


Namun entah kenapa, Ginko menjadi lebih sulit untuk diam sebelum mendapatkan jawabannya.


“Nushi-sama, aku tidak ingin Nushi-sama berbohong pada perasaanmu lebih dari ini.”


“Akuilah perasaan itu, Nushi-sama. Akuilah bahwa Nushi-sama mulai menyukai Reda-sama.”


“Seluruh perhatian yang telah Nushi-sama berikan selama ini, hadiah-hadiah itu dan waktu berdua itu…semua itu adalah tanda bahwa Anda telah jatuh cinta padanya.”


“Jatuh cinta…aku telah jatuh cinta pada gadis itu?”


Sampai saat ini, Aragaki sangat sulit menerima perasaan itu. Tapi di sisi lain, dia memang mengakui bahwa rasa di dada itu tidak ingin hilang.


Aragaki ingin bersama gadis itu. Setidaknya, hal itulah yang sekarang dia rasakan.


Dengan menghela napasnya sedikit, sang penguasa melihat ke arah pelayannya, “Menurutmu apakah ada gunanya jujur pada perasaan yang bahkan masih terasa seperti ilusi ini? Aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukannya.”


“Karena jika sampai terlambat, Nushi-sama mungkin akan menyesali semuanya.”


“…”


Kalimat itu seperti sebuah duri untuk Aragaki.


“Aku tidak ingin Nushi-sama menyesali semuanya saat Anda baru mau mengakuinya. Perasaan cinta Anda pada Reda-sama…aku tidak ingin Nushi-sama menyesal sebelum mengatakan perasaan itu padanya.”


Ginko memberi hormat dan keluar dari ruangan. Sang penguasa mulai memandangi cangkir tehnya sambil berpikir.


[Karena jika sampai terlambat, Nushi-sama mungkinakan menyesali semuanya]


“Menyesal…ya…”


Sambil menunggu kepulangan Reda dan rubah kecilnya itu, Aragaki terus memikirkan kalimat Ginko.


Sementara Ginko yang berada di dapur menggantikan tugas rubah kecil yang pergi belanja mulai menyesali perkataannya.


“Bodohnya aku. Kenapa aku mengatakan hal seperti itu pada Nushi-sama.”


Hanya beberapa menit setelah dirinya selesai mencuci semua peralatan masak yang dipakai dan menyirami tanaman di taman, telinga rubahnya bergerak dan segera memberitau sang majikan.


“Nushi-sama, mereka sepertinya sudah kembali!”


Aragaki mencoba tenang dan berjalan dari engawa luar menuju ke pintu. Saat itu, keduanya masih belum membuka pintu.


Ketika berdiri di depan, Aragaki melihat Nagi yang baru kembali dan langsung bersembunyi di balik pohon sakura. Hakuren dan Kuroto juga tiba.


Saat pintu terbuka, gadis yang ditunggu olehnya terkejut melihat dirinya berdiri di depan dan menunggu.


“Nushi-sama? Ginko-sama juga…”


Mendengar suara itu, Aragaki menjadi sedikit tenang. Dia juga melihat betapa senangnya rubah kecilnya membawa beberapa kotak dan langsung menghampirinya.


“Aragaki-sama, lihat lihat! Ryuunosuke membeli aburage! Banyak aburage untuk makan siang hari ini. Ryuunosuke senang~”


“Syukurlah. Bawa itu segera ke dapur untuk makan siang ya.” kata Aragaki menjawab sambil memberikan elusan pada rubahnya


Ginko membantu Reda membawa semua belanjaannya tidak lama setelah rubah kecilnya masuk terlebih dahulu.


“Kamu sudah pulang. Bagaimana belanjanya tadi?” tanya Aragaki lembut


“Kami…Kami benar-benar terbantu dengan uangnya. Terima kasih banyak, Nushi-sama.”


Mendengar jawaban gadis itu, Aragaki secara sadar langsung memeluknya.


“Aku mencemaskanmu. Syukurlah kamu baik-baik saja.”


Itulah yang terjadi.


**


Sekarang, di ruangannya…


Aragaki bersama keempat pelayannya sedang bicara serius.


“Aku ingin dengar semua yang kalian temukan saat mengikuti mereka berdua.”


Nagi melihat kedua tengu itu dan akhirnya mengatakan semua yang dia rasakan saat mengikuti keduanya.


“Aragaki-sama, ini mungkin mengejutkan tapi sekarang aku mengerti kenapa Anda begitu cemas. Memang ada yang mengikuti mereka diam-diam dan sepertinya itu adalah siluman.”


“Namun, aku tidak bisa mengetahui sosoknya. Aromanya juga sangat tipis, seperti menyadari keberadaanku sebelum aku datang dan dia menghilang.”


“Tidak heran jika Hakuren dan Kuroto yang memiliki mata kuat tidak bisa mengetahuinya.”


“Sosoknya seperti wujud transparan dan dia tidak bisa dilihat oleh mata siluman biasa.”


“Begitu.” Aragaki jadi cemas


Hakuren dan Kuroto bersujud, “Kami minta maaf atas ketidakmampuan kami dalam menjalankan perintahmu, Aragaki-sama.”


“Tidak, kalian telah melakukan yang terbaik. Aku senang kalian mengetahui sesuatu. Terima kasih.”


Aragaki melihat Nagi kembali, “Nagi, terima kasih banyak.”


Nagi tersenyum, lalu menjadi serius kembali. “Aragaki-sama, mengenai aromanya…aku masih mengingat aroma tipis siluman yang mengikuti Reda-sama dan rubah kecil.”


“Kamu masih ingat?” tanya Ginko pada Nagi


“Masih. Sedikitnya, tercium aroma seperti aroma air dan…ada aroma yang sangat tidak asing di hidungku. Aku lupa aroma apa itu, namun aroma itu begitu familiar.”


Aragaki mengangguk.


Setelah selesai mendengar semua laporan dari para pelayannya, Aragaki meminta mereka untuk selalu waspada dan mengawasi sekitar rumahnya.


Aragaki yang kembali sendiri setelah para pelayan setianya pergi, berjalan menuju taman. Dengan menggunakan kekuatan spiritual miliknya sebagai siluman tingkat atas, dia memasang sebuah penghalang.


“Reimei no kekkai (penghalang fajar)”


Sebuah cahaya muncul dari bawah kaki Aragaki. Bersamaan dengan lingkaran berisi sakanagi (sebuah mantra dalam ilmu onmyouji), seluruh area kediaman Aragaki beserta hutan di sekitar tempat itu terselimuti oleh penghalang.


Penghalang yang dibuat oleh sang penguasa memiliki kekuatan untuk menangkal segala macam hal yang berhubungan dari luar dan langsung menghancurkannya jika sampai tersentuh oleh siluman lain.


“Aku membatasi tempat ini hanya bisa dimasukki oleh para pelayanku dan orang-orang yang mendapatkan izin dariku.”


“Selama bukan gadis itu yang membuka pintu atau keluar dari tempat ini, termasuk pergi ke dalam hutan, dia akan aman dan penghalang ini tidak akan hancur.”


“Aku membuat penghalang ini untuk melindunginya, jadi sebaiknya dia harus mengetahui hal ini.”


“Gadis desa itu tidak boleh lagi keluar dari tempat ini sampai aku menemukan sumber dari sosok yang mengikutinya.”


Sang penguasa berjalan dari taman menuju ke dapur. Saat tiba di dapur, dia melihat gadis itu sedang diajak menari dengan rubah kecil miliknya.


“Reda-sama, aburage-nya banyak. Horee~Ryuunosuke mau makan ini sekarang. La~la~la~”


“Ahaha, iya. Berhenti menarinya dulu ya.”


Reda mengambilkan piring kecil dan sumpit. Dia memberikan tiga potong aburage kepada rubah kecilnya.


“Huwaaa~baunya enak!” air liur rubah kecil itu sudah menetes. Reda membersihkannya tanpa merasa jijik, seperti seorang ibu sungguhan.


“Makannya jangan berantakan ya. Rahasiakan ini dari Nushi-sama dan yang lain kalau Ryuunosuke memakannya duluan, ya.”


Rubah kecil itu terlihat senang dan langsung memakan aburage-nya. Betapa senangnya si rubah kecil itu. Dia bahkan sampai memberikan sedikit aburage-nya pada gadis kesayangannya.


Pemandangan itu terlihat begitu indah di mata sang penguasa.


Tanpa sadar, sang penguasa jadi menyaksikan pemandangan hangat itu dan melupakan tujuannya ke dapur untuk memberikan peringatan pada gadis itu.


Aragaki kembali mengingat pesan Ginko.


[Aku tidak ingin Nushi-sama menyesali semuanya saat Anda baru mau mengakuinya. Perasaan cinta Anda pada Reda-sama…aku tidak ingin Nushi-sama menyesal sebelum mengatakan perasaan itu padanya]


Dada Aragaki terasa sesak.


“Apakah aku harus mengakui perasaan ini padanya. Di saat rasa khawatirku sekarang lebih besar dibandingkan perasaanku.”


“Tapi…aku juga tidak ingin menyesalinya.”


“Aku tidak ingin menyesal karena terlambat menyadari semua itu.”


Aragaki memilih untuk pergi dari dapur dan berjalan menuju ke bagian dalam rumahnya.


Dengan hati yang gelisah dan takut, sang penguasa yang masih malu mengakui perasaannya memilih untuk diam demi melindungi gadis itu.


“Aku hanya perlu menemukan siapa sosok yang mencoba mengawasinya. Setelah itu, aku akan…mengatakan semuanya pada gadis itu.”


****