
Reda yang berada di kamarnya sedang mencari sesuatu setelah membersihkan piring di ruang makan. Ryuunosuke bersamanya.
"Nah, Ryuunosuke pakai ini agar tidak kepanasan."
"Hmm? Ini topi dari Ryuunosuke kan?"
"Ini cocok untukmu. Tentu saja itu adalah benda yang aku sukai juga sejak hal itu adalah hadiah dari Ryuunosuke." ucapnya dengan senyuman
Rubah manis itu terlihat senang sekali. "Berarti ini dipinjamkan Reda-sama kepada Ryuunosuke kan?"
"Benar. Ayo, kita sirami tamannya. Setelah itu, kita petik sayuran di kebun untuk memasak."
"Iya."
Keduanya bergandengan tangan bersama menuju kebun.
Dari kejauhan, terlihat Nagi dan ketiga temannya yang mengawasi kedua orang itu.
"Aku tidak percaya perkembangan hubungan Aragaki-sama dengan gadis itu bisa sangat cepat." kata Nagi dengan senang
Ginko menjawab, "Aku rasa, itu karena kalimat dari Ryuunosuke waktu itu."
"Kalimat saat dia memohon pada Aragaki-sama ya..."
"Benar. Nushi-sama tidak akan benar-benar mengabaikan rubah kecilnya. Selain itu, Ryuunosuke adalah anak dari Ryoko-san. Nushi-sama telah bersumpah untuk menjaganya seperti anak sendiri."
"Kau benar, Ginko. Rubah kecil itu sangat berperan besar." Nagi memuji
Kuroto menambahkan, "Itu wajar. Hanya dia yang begitu bersemangat untuk membuat Aragaki-sama kembali baik dan mau menjalin hubungan dengan manusia kembali."
"Meskipun selama ini tidak pernah ada yang baik padanya, Ryuunosuke tidak mudah menyerah." kata Ginko
"Aku rasa, Reda-sama adalah jawaban dari keinginan Ryuunosuke." Hakuren tersenyum saat mengatakannya. Dia senang bahwa tidak ada dari mereka yang membenci gadis itu lagi.
Tidak lama setelah itu, keempat pelayan Aragaki mendengar panggilan dari sang penguasa.
"Aragaki-sama memanggil."
Tanpa menunda, mereka menghilang dan muncul di hadapan Aragaki yang ada di dalam ruangannya.
"Aragaki-sama, apakah Anda memanggil kami?"
"Aku ingin mendiskusikan sesuatu."
Keempatnya sempat bingung. Akan tetapi mereka ingat, terakhir kali hal ini terjadi saat tuan mereka bertanya tentang kepindahan gadis itu.
"Apakah Aragaki-sama ingin membahas Reda-sama lagi?" pikir Nagi
"Ini pasti soal Reda-sama." Ginko juga berpikir hal yang sama
"Reda-sama. Aku yakin soal Reda-sama. Syukurlah, Aragaki-sama mulai peduli." gumam Hakuren dengan senyumnya
"Tidak mungkin soal yang lain selain gadis desa itu. Aku berani bersumpah, topiknya akan tentang gadis itu." Kuroto bahkan sangat percaya diri
Tidak lama setelah itu, mereka mendengar tuannya bertanya pada mereka, "Aku ingin bertanya pada kalian berempat. Apakah ada saran untuk memberikan hadiah pada seseorang?"
"Hadiah? Nushi-sama ingin memberikan hadiah pada siapa?" Ginko hanya bertanya untuk mendengar jawaban langsung dari sang penguasa
"Aku berpikir akan lebih baik jika memberikan sesuatu untuk gadis itu."
Wajah keempatnya langsung terlihat sama sambil mengatakan pikiran yang sama secara serentak.
"Sudah aku duga!"
Mereka begitu serius namun juga berusaha berpura-pura terkejut.
"Hadiah untuk Reda-sama ya. Memang
kenapa, Aragaki-sama?" tanya Hakuren
"Aku tau Hakuren dan Kuroto beberapa kali memberinya pakaian, benar kan?"
Nagi dan Ginko tidak pernah dengar hal itu. Mereka langsung melihat kedua temannya.
"Dan aku juga tau bahwa Nagi dan Ginko memberikan bahan makanan untuknya makan saat dia sedang bekerja di sini. Aku tidak salah, kan?"
Kali ini, Hakuren dan Kuroto yang menengok ke arah dua youko tersebut.
Masing-masing dari mereka berkata dalam hati.
"Aragaki-sama sudah lihat semuanya?!"
"Sudah kuduga Nushi-sama sudah tau semuanya selama ini. Beliau pasti menunggu saat yang tepat untuk memberi tau hal itu pada kami semua."
"Habislah aku."
Sudah berpikiran buruk di awal, mereka dibuat terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut Aragaki selanjutnya.
"Aku merasa akan lebih baik jika aku juga memberikan sesuatu."
"Sejak dia baru pindah ke rumah ini, bukankah akan lebih baik jika pemilik rumah sepertiku menyambutnya dengan hadiah?"
"..."
Mereka berempat terdiam. Yang membuat mereka tidak bisa berkomentar adalah alasan sang majikan mereka yang terlalu dibuat-buat.
"Bilang saja ingin memberi hadiah pada Reda-sama." kata Nagi dalam hati
"Nushi-sama tidak jujur pada hatinya." Ginko juga ikut berkomentar
"Sungguh alasan yang aneh. Sudah begitu, wajah Aragaki-sama tenang seperti memberi kesan bahwa beliau serius." Hakuren bahkan membaca ekspresi wajah sang penguasa
Sedangkan Kuroto menganggap tuannya sulit berkata jujur pada, "Kenapa aku punya majikan yang hanya bisa mengatakan kalimat yang lain di mulut, lain di hati? Haduh."
Meskipun seperti mengejek ketidakjujuran tuannya sendiri, namun keempat pelayannya sangat senang dengan niat baik itu.
"Aragaki-sama, hadiah apa yang ingin diberikan kepada Reda-sama?" tanya Hakuren kembali
"Aku ingin hadiah yang...yang bisa selalu dipakai olehnya seperti pita milik Ryoko dan pakaian dari kalian."
"Yang bisa selalu dipakai ya..." keempatnya berpikir kembali
Nagi memberi saran, "Aragaki-sama, mungkin ini tidak sopan jika dikatakan tapi..."
"Tidak masalah. Aku mau mendengarnya."
"Sejak Reda-sama adalah manusia, di dunia manusia biasanya memberikan hadiah seperti pakaian yang bagus, sesuatu yang disebut sisir dan hal indah lainnya."
"Meskipun tidak terlihat, selagi digunakan setiap hari olehnya, itu akan menjadi harta yang berharga."
Ginko menambahkan penjelasan Nagi sebelumnya, "Nagi benar, Nushi-sama. Selain itu, karena Reda-sama berasal dari desa terkutuk yang memperlakukannya dengan sangat buruk, memberikan hal yang belum pernah dirasakannya akan menjadi hal terindah untuknya."
"Begitu. Seperti apa contohnya?"
"Memberikan perhatian dan cinta untuk Reda-sama."
"...!!" Aragaki terdiam dengan ekspresi terkejut
"Reda-sama adalah gadis yatim piatu yang diperlakukan buruk oleh penduduk desa terkutuk itu. Setiap hari adalah neraka yang sudah biasa dirasakannya."
"Saat tiba di sini, Reda-sama berpikir bahwa dirinya akan segera mati."
"Tidak ada yang menyalahkan semuanya, Nushi-sama. Tetapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk memberikan banyak cinta pada Reda-sama."
Aragaki mengerti apa yang dikatakan oleh Ginko. Dia mengingatkan Aragaki mengenai perlakuan yang sebelumnya diberikan pada Reda.
"Masih belum terlambat ya..."
Aragaki berpikiran untuk memberi hadiah bukan hanya karena ingin seperti yang lain, tapi dia ingin menciptakan momen untuk minta maaf pada gadis itu.
"Apakah...dia akan menyukai apapun yang kuberikan?" Aragaki bertanya dengan sedikit keraguan
Semua pelayannya tersenyum.
"Aragaki-sama, Reda-sama akan menyukai apa saja yang berasal darimu."
"Itu benar."
"Reda-sama begitu mencintaimu. Perasaan tulus itu bukanlah kebohongan dan aku yakin perasaan Aragaki-sama akan tersampaikan padanya."
"Jangan khawatir, Aragaki-sama. Gadis desa itu adalah gadis yang baik. Kami berani menjaminnya."
Aragaki mulai sedikit tenang.
"Aku rasa, aku akan mulai memberikan semua perhatianku untuk membuatnya melihatku."
Sebuah tanda cinta Aragaki yang mulai tumbuh perlahan.
Keinginan memberi gadis desa itu hadiah dan perhatian adalah sebuah kuncup bunga yang mulai mekar di hari Aragaki.
Semakin tumbuh subur disirami perasaan cinta yang masih belum sepenuhnya dipahami.
Kini, di dalam pikiran sang penguasa, hanya keinginan memberikan sesuatu untuk gadis itu agar dirinya bisa terus bersamanya.
****