
Reda kembali mengepel lantai kayu engawa tersebut. Sebelum mengepel bagian lainnya, dia menyadari bahwa kemungkinan Aragaki telah selesai makan siang.
Dia bergegas menuju ruang makan dan mendapati Ryuunosuke yang membersihkan piring serta mangkuknya.
“Ryuunosuke, biar aku saja yang melakukannya.”
“Reda-sama sebaiknya makan siang dan beristirahat. Aku yang akan melakukannya. Reda-sama belum makan, kan?”
Gadis itu jelas sedang menahan lapar saat ini karena tidak menemukan buah lain di hutan, tapi dia tidak ingin menunjukkan hal itu kepada Ryuunosuke. Dengan senyuman, Reda meyakinkan Ryuunosuke bahwa dirinya sudah makan.
Reda meminta Ryuunosuke untuk meninggalkan semua piring kotornya dan membiarkan dirinya yang melakukan tugas tersebut.
Selesai mencuci piring, Reda kembali mengepel lantai.
Siang hari yang terik terasa begitu lama. Keringat Reda terus mengalir. Bahkan sampai sore hari, Reda hanya bisa mengepel bagian luar engawa. Dia belum melakukan tugas berkebun dan memetik sayuran. Dia juga belum membersihkan bagian dalam kediaman Aragaki.
Matahari mulai terbenam. Pada akhirnya, tugas terakhir yang bisa dilakukan olehnya hanyalah mengambil sedikit sayuran untuk sarapan besok pagi.
Setelah membawa sayuran tersebut ke dapur, dia menemui Aragaki di ruangannya. Tentu saja dia tidak masuk ke dalam ruangannya. Dia bersimpuh dan memberi hormat dari engawa luar.
Pintu shoji ruangan Aragaki tertutup rapat. Dengan menyiapkan hati, Reda memberikan laporan pekerjaannya hari ini.
“Selamat sore, Nushi-sama. Maafkan aku karena hari ini, aku hanya menyelesaikan tugas mengepel bagian luar dan memetik sayuran. Besok, aku akan berusaha lebih baik lagi agar Nushi-sama tidak kecewa. Tolong, maafkan aku.”
Aragaki yang berada di ruangan itu tidak menjawabnya. Di dalam ruangan, dia hanya sibuk membaca buku tanpa memedulikan orang di balik pintu tersebut.
Reda masih belum mengangkat kepalanya karena tidak mendengar apapun dari mulut tuannya. Ryuunosuke yang datang dan melihat hal itu langsung menghampiri gadis itu.
“Reda-sama, kenapa terus memberi hormat seperti ini! Ayo bangun dan jangan berada di sini! Ini sudah menjelang malam!”
“Aku baru saja melaporkan hasil kerjaku pada Aragaki-sama dan menunggu jawaban beliau, namun tampaknya beliau masih sangat sibuk jadi aku menunggunya sebentar lagi.”
Rubah kecil itu langsung histeris dan membuka pintu ruangan Aragaki.
“Aragaki-sama, kenapa Aragaki-sama tidak mengatakan sesuatu pada Reda-sama?!”
“Kenapa kamu marah-marah seperti itu, Ryuunosuke? Tidak biasanya kamu tidak mengucapkan salam saat masuk ruangan ini.” Aragaki balik bertanya tanpa melihat wajah Reda dan hanya melihat wajah Ryuunosuke
“Aragaki-sama, Reda-sama sudah berusaha hari ini!”
“Benarkah? Tapi aku tidak melihat usahanya.”
“Jangan bicara kejam seperti itu! Bukankah Aragaki-sama memintanya melakukan hal berat agar Reda-sama tidak melihatmu seharian ini! Ryuunosuke tau itu!”
“Daripada hanya menjadi pelayan tidak berguna, lebih baik dia pergi dari sini. Semakin lama dia di sini, semakin menjijikkan untuk dilihat.”
“Aragaki-sama, itu kejam sekali! Ryuunosuke tidak suka mendengarnya! Ryuunosuke marah pada Aragaki-sama!”
Sebelum rubah itu berdiri, Aragaki menutup bukunya dan berkata kepada pelayan kecilnya.
“Ryuunosuke, aku tidak mempermasalahkanmu yang ingin tetap menjadikan dia sebagai calon ‘pengantin’, tapi aku tidak suka perubahan sikapmu yang terlalu membelanya seperti itu. Aku masih menahan diriku, Ryuunosuke.”
Ryuunosuke gemetar mendengarnya. Dia tau bahwa tuannya itu sedang menahan emosi, tapi dia tidak ingin calon ‘pengantin’ berharga milik sang majikan diperlakukan seperti itu.
Reda memberi hormat kembali dan izin pamit dari hadapan Aragaki. Dengan melangkahkan kakinya, Reda meninggalkan kediaman tersebut dan pulang menuju gubuk tua.
Dari belakang, Ryuunosuke mengejarnya dengan membawa keranjang yang ditutupi dedaunan.
“Reda-sama, Reda-sama!” rubah kecil itu berlari hingga nyaris terjatuh. Reda membantunya dengan wajah panik.
“Ryuunosuke, ada apa? Kenapa terburu-buru? Apa yang dibawa olehmu?”
“Ini untuk Reda-sama! Ryuunosuke membawanya diam-diam!”
Reda terkejut melihat isi keranjang itu. Itu makanan sisa milik Ryuunosuke, lengkap dengan kayu kecil dan batu pemantik untuk membuat api serta pakaian untuk dipakainya.
“Ryuunosuke, jangan seperti ini! Nanti Ryuunosuke dihukum oleh Nushi-sama!”
“Nushi-sama?” Ryuunosuke terkejut mendengar panggilan itu
“Itu…Aragaki-sama tidak ingin aku memanggilnya dengan sebutan nama jadi beliau mengizinkanku memanggilnya dengan sebutan demikian.”
“Hiks…”
“Maafkan aku, maafkan aku! Maafkan aku karena tidak bisa melindungi Reda-sama dengan baik! Maafkan aku karena Reda-sama harus menerima semua perkataan jahat itu dari Aragaki-sama! Hiks…hiks…”
Suara tangisan itu jelas terdengar sampai ke telinga Nagi dan Ginko yang kebetulan ada di dekat pintu belakang.
Reda yang memeluknya mencoba menahan air matanya agar tidak semakin membuat rubah itu sedih.
“Ryuunosuke, Ryuunosuke kecil yang manis…berhentilah menangis ya. Ini hari pertama kita dan ini sudah cukup bagus. Aragaki-sama mau bicara denganku dan memberiku tugas meskipun tidak melihatku sama sekali. Itu sudah bagus. Besok pasti lebih baik lagi.”
Reda melepaskan pelukannya dan menghapus air mata rubah kecil yang malang itu.
“Lihat, mata Ryuunosuke dalam waktu singkat sudah berubah menjadi merah. Ayo tersenyum. Aku sudah berusaha untuk kuat hari ini, Ryuunosuke juga harus kuat. Besok kita berjuang lagi, ya.”
“Hiks…hiks…”
“Ryuunosuke manis kalau tersenyum. Aku ingin melihat ekormu yang bergoyang seperti tadi pagi. Ayo coba perlihatkan padaku.” Reda mencoba merayu rubah itu agar tidak lagi bersedih dengan senyum ramahnya
Rubah itu menghapus air matanya dan mulai tersenyum sedikit demi sedikit. Dia mulai menggoyang-goyangkan ekornya dan memeluk Reda kembali. Mereka saling berpelukan dengan tawa.
Setelah itu, Reda memberikan kembali keranjang yang dibawa Ryuunosuke kepada rubah kecil itu.
“Kenapa dikembalikan?!”
“Ryuunosuke, ingat perintah Nushi-sama? Kamu tidak boleh melanggarnya. Nushi-sama bisa saja melihatmu sekarang karena beliau adalah Dewa Pelindung tempat ini. Jika sampai ketauan dan Ryuunosuke dihukum, rencana kita untuk membuat Nushi-sama tersenyum akan gagal.”
“Tapi…”
“Ingat Ryuunosuke, rencana kita hanya bisa dilakukan 3 bulan. Kita harus membuat Nushi-sama tersenyum dan menjadi Nushi-sama yang disukai Ryuunosuke. Jangan sampai membuatnya marah dengan ini ya. Bawalah kembali bersamamu. Aku tidak apa-apa.”
Reda sebisa mungkin tersenyum dan memaksa dengan halus agar rubah itu mau mengerti.
Sampai akhirnya Ryuunosuke mau mengerti, dia membawa pulang kembali keranjangnya. Reda melihat rubah itu pergi sampai melewati pintu belakang lalu kembali pulang ke gubuknya.
Begitu masuk gubuk, Reda duduk di tatami sambil menarik napasnya. Tanpa sadar, air mata keluar membasahi pipinya dan seketika senyum ramah yang ditunjukkan kepada si rubah kecil itu lenyap.
“Huwaaaa…hiks…hiks…”
Dia menangis seorang diri di dalam gubuk yang gelap tanpa cahaya. Air matanya tidak bisa berhenti mengingat semua hal yang dikatakan Aragaki selama satu hari ini.
[Jangan pernah menyuguhkanku masakan yang disentuh oleh tangan kotormu itu!]
[Aku tidak sudi memakan makanan yang dimasak dengan tangan gadis kotor itu]
[Tatami yang kotor itu tidak seburuk harus melihatmu di dalam ruangan ini. Keluar]
[Mulai sekarang, dia yang harus mengurus tempat ini. Membersihkan seluruh rumah ini dan mengerjakan urusan di kebun. Kecuali memasak dan menyentuh pakaian milikku, biarkan dia membersihkan semuanya sendiri]
[Aku tidak akan mengubah perintahku. Selain itu, jangan pernah memberinya makan lagi. Biarkan dia berusaha mencari makanan sendiri. Aku tidak akan mengizinkan dia mengambil apapun di kebun. Jika dia ingin makan, suruh dia mencarinya sendiri di hutan]
[Gadis kotor, jangan pernah bersikap ramah dengan senyum palsumu itu dan jangan pernah sesekali memanggil namaku dengan mulutmu]
[Daripada hanya menjadi pelayan tidak berguna, lebih baik dia pergi dari sini. Semakin lama dia di sini, semakin menjijikkan untuk dilihat]
Sepanjang hari, yang diterima olehnya hanyalah penolakan dan hinaan.
“Ayah, ibu, tolong kuatkan anak kalian. Reda…hiks…Reda berjuang demi Aragaki-sama dan Ryuunosuke. Reda…Reda hanya perlu berjuang 3 bulan agar Aragaki-sama mau tersenyum. Tapi…tapi kenapa rasanya sesak dan sakit seperti ini. Hiks…”
Tangisan itu terus keluar dari gadis yang malang. Seharian ini dia terus menahan seluruh air matanya dan malam ini dia menumpahkannya hingga sulit untuk bicara.
Di luar pintu gubuk yang tertutup, ada sosok yang diam-diam mendengarkan tangisan itu. Dia meletakkan keranjang yang dibawanya di luar pintu gubuk dan berlari tanpa suara.
Itu adalah si rubah kecil yang kembali untuk memberikan keranjangnya kepada gadis yang malang. Begitu mendengar suara jerit tangis sang gadis, rubah itu kembali menangis. Dia menangis di depan pintu belakang sambil memeluk ekornya sendiri.
“Hiks…Reda-sama, maafkan aku. Ryuunosuke minta maaf, Ryuunosuke minta maaf. Hiks…”
Tangisan rubah kecil itu didengar oleh dua rubah dewasa di dekatnya.
Dan tanpa diketahui oleh semuanya, hal itu dilihat dari jauh oleh sang penguasa.
****