The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 67. Kencan Pertama bag. 1



Sepanjang jalan, mereka berjalan bersama dalam diam. Ryuunosuke berada di antara Reda dan Aragaki.


"Ryuunosuke seperti berjalan dengan ayah dan ibu. Ehehehe~" itulah yang ada dalam hati si rubah kecil


Dirinya terlihat bahagia dengan ekor yang bergoyang ke kanan dan kiri.


Karena goyangan ekor itu sempat menyenggol ekor panjang milik Aragaki, sang penguasa melihat ke belakang.


Aragaki melihat wajah bahagia rubah kecilnya dengan senyum lebar dan rona pipi yang merah. Dia tidak bisa menahan diri untuk diam.


"Tampaknya Ryuunosuke sedang bahagia sekarang."


"Aragaki-sama bisa lihat Ryuunosuke bahagia ya?"


"Tentu saja terlihat. Ekormu bergerak dari tadi."


"Kyaaa~Ryuunosuke malu."


Rubah kecil itu bertingkah imut layaknya anak kecil.


Mendengar suara manis dari rubah kecil itu, Reda tertawa, "Ryuunosuke lucu sekali saat membuat suara itu."


Tawa gadis itu membuat Aragaki tidak bisa menahan dirinya. Dia tersenyum.


Menyadari pujaan hatinya tersenyum ke arahnya membuat Reda merona bagai rebusan.


"Nushi-sama...tampan sekali."


Reda langsung menundukkan kepalanya karena malu.


"Ada apa?" tanya sang penguasa pada gadis itu


"Ti–tidak ada apa-apa. Ma–maaf sudah tidak sopan pada Nushi-sama."


"Tidak masalah. Aku tidak keberatan dengan sikap itu. Selain itu, melihat wajah orang lain tidak akan membuatmu dihukum."


-Bluuuush


Sebuah kalimat indah dari sang penguasa. Dia tampak begitu mengerti tentang perasaan cinta gadis itu padanya.


"Aku sendiri juga, ingin melihatmu." katanya dalam hati


Aragaki seperti tidak bisa menyembunyikan perasaannya namun begitu ragu dan tidak mau mengakuinya.


Sepanjang jalan, tidak ada lagi hal yang dibicarakan keduanya. Akhirnya mereka tiba di pasar.


"Ramai sekali."


Reda melihat sekelilingnya. Dia melihat banyak orang yang berjalan di siang hari, berbeda dengan sebelumnya.


"Rasanya ini berbeda dengan saat kita pergi belanja ya, Ryuunosuke."


"Benar sekali, Reda-sama. Di sini ramai sekali."


"Kita pergi ke tempat yang lebih teduh. Kita lewat sini."


Aragaki berjalan sedikit di depan mereka sekarang.


Dari jarak yang cukup jauh, Nagi dan Ginko mengikuti mereka. Hakuren dan Kuroto juga tidak berbeda. Mereka melihat semuanya dari atas.


"Aku harus menyebut ini apa ya..." Hakuren terheran-heran dengan senyum kebahagiaan. Dia begitu menikmati pemandangan tuannya berjalan bersama Reda dan rubah kecil.


"Kenapa, Hakuren?"


"Bukankah melihat Aragaki-sama dan Reda-sama seperti itu membuatmu tenang, Kuroto? Mereka tampak seperti pasangan suami-istri."


"Tapi rubah kecil itu mengganggu."


"Itu tidak benar, Kuroto. Ryuunosuke seperti anak mereka."


"Terserah. Kita harus tetap mengawasi kencan Aragaki-sama dan gadis desa itu."


"Kencan! Kau benar! Ini kencan! Ini adalah ajak kencan Aragaki-sama pada calon 'pengantin'-nya pertama kali!"


Hakuren seperti baru menemukan kata yang dia cari.


"Ayo, mereka masuk ke tempat di sana. Kita lihat lebih dekat kencan mereka!" Hakuren tampak antusias sekali


Kuroto menghela napas dan mengikuti temannya.


Sementara itu, Nagi dan Ginko melihat dari kerumunan penduduk yang padat.


"Ginko, mereka masuk toko makanan manis. Mau ikut masuk ke dalam?"


"Kita masuk. Aku ingin mengetahui semuanya. Ini adalah kali pertama Nushi-sama mau pergi dengan calon 'pengantin' dari desa itu."


"Aku mengerti." Nagi berjalan lebih dulu


Mereka memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam.


**


Di dalam toko makanan manis, Aragaki datang dan disambut sangat meriah.


"Aragaki-sama, senang sekali Anda mau datang ke tempat kecil kami ini!"


Pemilik toko tersebut adalah pasangan suami-istri siluman rubah Jepang. Mereka sangat antusias menyambut tuan mereka datang.


"Terima kasih untuk sambutannya yang hangat, Tenko, Nakuru. Aku ingin tempat pribadi untuk tiga orang."


"Tempat pribadi ya, tunggu sebentar. Kami akan siapkan untuk..."


Istri pemilik toko tersebut melihat gadis di belakang Aragaki. Dia tampak menggenggam tangan rubah kecil itu.


"Manusia?"


Tatapan matanya berubah sinis. Tapi, saat Reda memberikan senyumannya dan salam, mata itu langsung berubah.


Istri pemilik toko tersebut berjalan mendekati Reda dan menatapnya untuk beberapa saat.


"Selamat siang, nyonya." kata Reda seraya memberi salam


"Se–selamat siang. Apa kamu datang bersama Aragaki-sama?"


Reda terdiam. Dia merasa masih tidak pantas menyebut dirinya datang dengan pria yang dicintainya dalam diam.


Namun, Aragaki membuatnya tampak lebih mudah diterima.


"Mereka datang bersamaku. Aku yang mengajak mereka ke tempat ini. Tolong siapkan segera ya."


Pasangan suami-istri itu langsung menyiapkan tempat yang dipesan oleh sang penguasa.


Begitu Aragaki dan dua orang yang bersamanya masuk ke ruangan tersebut, sang suami bertanya pada istrinya.


"Tenko, istriku...ada apa sebenarnya?"


"Nakuru suamiku, gadis yang bersama Aragaki-sama itu manusia."


"Apa?! Manusia?! Itu tidak mungkin!" sang suami tidak percaya dengan ucapan istrinya


"Aku tidak berbohong, Nakuru sayang. Gadis itu manusia. Tubuhnya memang tidak begitu tercium aromanya, namun saat dilihat lebih dekat, dari bagian kepala tercium aroma manusia."


"Aku tidak percaya ini. Aragaki-sama tidak akan pernah menyukai manusia. Mereka adalah sumber kehancuran dan kebencian Aragaki-sama selama ini."


"Tapi itu benar. Hanya saja..."


"Ada apa lagi, istriku?!" sang suami begitu penasaran


"Gadis itu tampak begitu dekat dengan rubah kecil yang bersamanya."


"Dekat?"


"Dia menggandeng tangan rubah kecil itu dan tersenyum padanya. Dia juga tersenyum padaku. Menurutku dia sangat cantik."


"Jadi, bagaimana menurutmu, Tenko istriku?"


"Aku rasa hanya Aragaki-sama yang tau. Siluman rendah seperti kita tidak pantas memikirkan urusan penguasa."


Sang istri masuk dan menyiapkan pesanan.


**


Di dalam ruangan tersebut, Reda duduk di samping Ryuunosuke, sedangkan sang penguasa duduk berhadapan dengan mereka berdua.


"Tempat ini cantik sekali. Apakah Nushi-sama sering ke tempat ini, ya?" Reda hanya bertanya dalam hati sambil melihat ruangan tersebut. Dia terpesona dengan tempat itu.


"Apa kalian suka dengan tempatnya?" tanya Aragaki


"Su–suka. Aku menyukainya. Ryuunosuke suka tempat ini juga kan?"


"Ryuunosuke suka tempat yang ada Aragaki-sama dan Reda-sama di dalamnya."


-Bluuush


"Ryuu–Ryuunosuke!" Gadis cantik itu memerah kembali. Kalimat polos rubah kecil itu membuatnya tidak bisa berhenti untuk malu.


Reda merasa takut Aragaki marah dan langsung minta maaf padanya. Baru hendak mengatakan maaf, wajah gadis itu dibuat terpesona kembali.


"Ahahaha, rubah kecilku mulai berani menggoda tuannya ya. Sepertinya kebiasaan Ryoko mulai menular padamu."


"..." Reda terdiam. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar sang penguasa tertawa senang seperti itu di hadapannya.


Tanpa sadar air matanya menetes. Aragaki yang melihat itu cukup terkejut.


"Kenapa menangis lagi?"


"Aku...aku hanya...aku hanya senang bisa melihat Nushi-sama mau tertawa di depan orang sepertiku."


Sampai saat ini, Reda masih melihat dirinya sebagai manusia rendah yang dibenci seluruh penghuni Higashi no Mori.


Namun, sebuah senyum dan tangan Aragaki yang menghapus air matanya membuat gadis itu terlihat sangat tersentuh.


"Jika kamu menangis setiap saat seperti itu, Ryuunosuke akan memarahiku. Rubah kecil itu sama beraninya seperti mendiang ibunya."


"Selain itu, aku membawamu ke sini untuk makan kudapan bersama. Jangan menangis lagi."


"Anggap saja ini adalah permintaan maafku karena melukaimu tempo hari."


"Juga...aku rasa tersenyum adalah hal yang sangat cocok denganmu."


Reda hampir tidak percaya hal ini. Dia mendengarnya dengan jelas.


Rubah kecil tersentuh mendengar kalimat Aragaki.


Dia bisa melihat sang penguasa tersenyum lembut pada gadis kesayangannya dan mengatakan kalimat yang belum pernah sekalipun terucap dari bibirnya selama ini.


"Aragaki-sama mungkinkah...sudah mulai menyukai Reda-sama?"


Hanya pikiran itu yang ada di dalam benak si rubah kecil dan hanya harapan itulah yang sangat ingin dia wujudkan.


"Semoga Aragaki-sama benar-benar mulai mau menerima dan menyukai Reda-sama."


****