
Di pasar, Hakuren dan Kuroto masih mengawasi Reda yang berjalan sambil menggandeng tangan rubah kecilnya yang manis.
Mereka mengunjungi beberapa pedagang daging dan sayur untuk membeli bahan makanan.
“Reda-sama, yang ini sepertinya enak. Ryuunosuke ingin makan daging ini.”
“Baiklah. Tuan, ini berapa?”
Hakuren dan Kuroto mendengar gadis itu bertanya dan menawar harga.
“Dari jarak yang cukup dekat seperti ini, aku rasa kita harusnya bisa merasakan sesuatu. Apa kau melihat ada yang aneh, Kuroto?” tanya Hakuren dengan tetap fokus pada setiap sisi
“Aku tidak merasakan apapun. Ini tidak benar. Aku rasa kita harus sedikit lebih dekat lagi.”
Kedua tengu itu mendekat kembali.
Reda yang sudah selesai membeli dagingnya kemudian bertanya pada rubah kecilnya.
“Ryuunosuke, kita sudah selesai belanja bumbu dan bahan makanannya. Sekarang, Ryuunosuke ingin jajan sesuatu? Aku akan menemanimu.”
“Huwaaa~Ryuunosuke mau makan dango dan tahu goreng!” jawab rubah kecil itu dengan penuh semangat
“Tahu goreng ya. Oh, di tempat makanan manis yang pernah kita datangi ada tahu lezat yang namanya aburage. Aku rasa Ryuunosuke akan menyukainya. Bagaimana kalau kita ke sana dan membelinya.”
“Kyaaaa~Ryuunosuke bisa jajan! Akhirnya! Horee~”
Rubah kecil itu tampak sangat menggemaskan. Seperti anak kecil yang baru saja diizinkan jajan oleh orang tuanya, dia langsung menggandeng tangan gadis kesayangannya dan pergi menariknya menuju tempat itu.
Di sebuah tempat yang tidak diketahui, sosok yang memperhatikan Reda dan Ryuunosuke masih belum hilang.
“Makanan Aruji-sama.”
Saat dia berusaha mendekat, tiba-tiba dia menjadi panik dan menghilang. Ada sesuatu yang mencoba mengejarnya meskipun dia tidak yakin. Sosok itu langsung lenyap tanpa sisa.
**
Di satu sisi, sosok yang mengawasi Reda dari tempat jauh mulai kehilangan pandangan visualnya. Menyadari bahwa siluman yang mengawasinya hilang tiba-tiba, sosok itu berubah kesal.
“Sial! Siapa yang berani menggangguku! Aku tidak akan melepaskan gadis itu. Dia harus menjadi milikku dan mati!”
**
Di keramaian pasar, ada sesosok siluman dengan ekor rubah dan telinga rubah yang bergoyang pelan. Itu adalah Nagi.
Dia telah sampai di kerumunan pasar dan sepertinya, dia tidak sadar telah berada di dekat sosok yang mengawasi Reda dari jauh.
“Aku yakin aku tidak salah. Di sini, seperti ada sesuatu. Siluman? Tapi dia tidak terlihat.” katanya dalam hati
Nagi terus memasang wajah serius.
“Aragaki-sama benar. Saat aku melihat Reda-sama dan rubah kecil itu lewat sini, aku bermaksud mengikutinya. Namun, aku seperti merasakan ada sesuatu yang mengikuti kedua orang itu selain aku.”
“Jika dalam jarak seperti ini dan sosoknya saja tidak diketahui, kedua tengu itu mustahil akan menemukannya.”
“Selain itu, rubah kecil itu masih sangat polos dan hanya tau bersenang-senang. Mustahil dia akan menyadari hal yang aneh seperti ini.”
Nagi masih memperhatikan sekitar dan mengendus-endus aroma di udara.
“Aku sedikit hafal dengan aroma tadi. Aku rasa dia sudah pergi.”
Tidak lama, Nagi melihat Hakuren dan Kuroto yang ada di langit. Mereka terbang mengikuti sesuatu. Tentu saja kedua tengu itu menyadari kehadiran Nagi di antara kerumunan.
Mereka bertemu di salah satu atap bangunan di tempat tersebut.
“Nagi, apa yang kau lakukan di sana” tanya Hakuren
“Kalian berdua, apa kalian tidak menyadari ada yang mengikuti Reda-sama dan si rubah kecil?” tanya Nagi dengan ekspresi serius
“Untuk itulah Aragaki-sama memerintahkan kami. Kami berdua harus mengawasi Reda-sama.”
“Bukan itu maksudku, Hakuren! Maksudku, apa kalian tau bahwa mereka berdua itu sudah diikuti sejak tadi?”
“Apa?!”
Nagi menceritakan apa yang terjadi kepada keduanya. Dia juga menjelaskan alasan kenapa dirinya memutuskan untuk mengikuti keduanya.
“Siluman yang bisa menghilangkan keberadaan diri sendiri dan tidak bisa dideteksi. Aku yakin Higashi no Mori tidak memiliki siluman seperti itu di sekitar daerah ini.” pikir Kuroto
“Itu juga yang ada dalam pikiranku. Tapi, kenyataannya aku benar-benar seperti merasakan ada yang mengikuti keduanya dan sosok yang tidak terlihat itu berada dalam jangkauan yang sangat dekat.” lanjut Nagi
“Pantas kami berdua tidak merasakan apapun. Padahal Aragaki-sama jelas mengatakan bahwa dirinya merasakan hal yang tidak beres.” ujar Hakuren
Kuroto melihat ke arah Nagi, “Aku senang rasa ingin taumu menyelamatkan mereka berdua dan kami. Terima kasih banyak, Nagi.”
Nagi mengangguk lalu melihat ke arah kerumunan dari atas atap. Dia bertanya pada kedua tengu di dekatnya, “Sekarang, dimana Reda-sama dan rubah kecil itu?”
“Mereka masuk ke toko makanan manis Tenko-san dan Nakuru-san.”
Nagi melompat ke bawah dan langsung berlari menuju tempat Reda dan Ryuunosuke berada. Dia tidak ingin melewatkan hal yang seperti barusan. “Aku harap sosok asing itu tidak ada. Aku akan melaporkan ini pada Aragaki-sama.”
Sementara itu, dua orang yang diawasi oleh pelayan Aragaki keluar dari toko tersebut dengan membawa beberapa kotak makanan.
“Huwaaa~aburage, aburage! Baunya enak sekali, Reda-sama!” kata rubah kecil dengan senang
“Syukurlah kalau Ryuunosuke menyukainya. Kita juga membeli banyak untuk yang lain. Makan siang kali ini, kita akan memasukkannya dalam menu ya.”
“Horeee~yang ini untuk Ryuunosuke sendiri ya. Boleh ya, boleh ya~”
Reda tersenyum mendengar permintaan kecil dan serakah dari rubah manisnya. Ekor yang bergoyang cepat dan wajah imutnya membuat Reda hanya bisa menjawab iya.
“Tentu, Ryuunosuke. Nanti Ryuunosuke yang akan makan aburage paling banyak.”
“Horee~milik Ryuunosuke banyak. Aragaki-sama tidak boleh minta. Nagi-sama juga tidak boleh minta. Hakuren-sama dan Kuroto-sama juga tidak boleh minta. Ginko-sama…boleh minta satu saja. Ehehe~”
“Iya, tidak akan ada yang memintanya.” kata Reda sambil tersenyum senang
“Tapi, Reda-sama boleh minta. Ryuunosuke akan membagi Reda-sama yang banyak!” ucapnya dengan sangat semangat
Keduanya segera berjalan kembali menuju kediaman Aragaki setelah dirasa selesai berbelanja.
Sepanjang jalan, keduanya bicara hal-hal menyenangkan.
Rubah kecil itu juga terus bernyanyi lagu ciptaannya sendiri. Reda hanya mendengarkan dan tersenyum karena lirik lagunya.
Di belakang keduanya, Nagi mengawasi dengan sangat hati-hati sambil melihat sekitarnya.
“Syukurlah mereka baik-baik saja.”
Hakuren dan Kuroto juga tidak lagi terlalu waspada karena mereka hampir tiba di kediaman.
Begitu membuka pintu, Reda dan rubah kecil disambut oleh Aragaki dan Ginko yang sudah berdiri di depan pintu.
“Nushi-sama? Ginko-sama juga…” Reda terkejut
Rubah kecil itu langsung berlari ke arah tuannya dan menunjukkan tumpukan kotak berisi aburagenya.
“Aragaki-sama, lihat lihat! Ryuunosuke membeli aburage! Banyak aburage untuk makan siang hari ini. Ryuunosuke senang~”
Aragaki memberikan elusan lembut untuk rubah kecil manisnya, “Syukurlah. Bawa itu segera ke dapur untuk makan siang ya.”
Tanpa banyak bertanya, rubah kecil itu langsung berlari menuju dapur. Ginko berjalan mendekati Reda dan membawakan semua belanjaannya.
Sekarang, hanya tinggal sang penguasa bersama gadis yang menarik perhatiannya. Kedua tengu dan Nagi bersembunyi.
“Kamu sudah pulang. Bagaimana belanjanya tadi?” tanya Aragaki lembut
“Kami…Kami benar-benar terbantu dengan uangnya. Terima kasih banyak, Nushi-sama.” Walaupun wajahnya merah, Reda menjawab sang penguasa dengan jelas dihiasi senyuman. Aragaki lega mendengar hal itu.
Mungkin dia terlalu khawatir. Tanpa diduga oleh Reda namun dilakukan dengan kesadaran penuh oleh Aragaki, sang penguasa memeluk gadis itu.
-Bluuush
“Nushi…-sama?” Reda memerah
“Aku mencemaskanmu. Syukurlah kamu baik-baik saja.”
Reda tidak bisa menjawab. Dia hanya tidak bisa menghentikan detak jantungnya. Namun, betapa hangatnya pelukan pria yang begitu dicintainya sehingga Reda hanyut dalam dekapan itu.
“Hangatnya. Nushi-sama begitu lembut dan hangat.”
Reda memejamkan matanya. Dia begitu bahagia di momen itu. Dan terlihat ekspresi cemas dari wajah sang penguasa tanpa disadari oleh gadis yang dipeluknya.
“Aku sedikit merasakan sesuatu. Sepertinya gadis ini benar-benar diawasi oleh sesuatu yang masih belum aku ketahui.”
“Namun, syukurlah dia baik-baik saja. Memeluknya seperti ini membuatku yakin bahwa dia tidak terluka atau bersentuhan dengan sesuatu yang berbahaya.”
Rasa khawatir Aragaki dilampiaskan beberapa saat dengan memeluk gadis itu. Setelahnya, dia melepaskan pelukannya perlahan dan memegang wajah gadis cantik di hadapannya.
“Jika ada sesuatu yang terjadi, apapun itu, katakanlah padaku. Mengerti?”
Reda hanya bisa mengangguk pelan dipandang dari jarak sedekat itu oleh pria yang sangat dicintainya.
Setelah itu, Aragaki dan Reda masuk bersama ke dalam. Reda langsung menuju dapur meninggalkan Aragaki yang tidak berhenti melihat bayangannya berlalu.
Saat gadis itu tidak lagi terlihat olehnya, sang penguasa memanggil Nagi dan kedua tengu yang ada di belakangnya.
“Kalian bertiga…”
“Ya, Aragaki-sama.”
“Aku ingin mendengar semuanya dari kalian.”
****