The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 106. Perhatian kepada Rubah Kecil



Selama Reda sibuk menyapu halaman, Aragaki tidak pergi dari sisinya. Ini benar-benar hal yang tidak pernah dilakukan sang penguasa seumur hidup, mengingat dirinya sangat dikenal sebagai pembenci manusia.


Kemana pun gadis itu pergi, sang penguasa mengikutinya. Tentu saja dengan berbagai cara agar gadis desa itu tidak curiga dan mau terbuka dengannya.


Aragaki terlihat seperti seorang pria yang hendak mendapatkan perhatian wanita yang membuatnya jatuh cinta dan inilah yang sedang dilakukannya.


Beberapa topik acak dikeluarkan, meskipun kaku namun gadis desa itu juga sangat polos jadi menanggapi semuanya dengan senang dan senyuman manis.


Bahkan saat gadis itu berada di dapur, Aragaki mengikutinya.


“Nushi-sama, dapur tempat yang penuh minyak dan asap. Apakah Nushi-sama tidak khawatir pakaianmu kotor?”


“Pakaian kotor bisa dibersihkan kembali, jadi tidak perlu khawatir. Aku hanya penasaran seperti apa kamu membuat nasi lezat yang selama ini kamu buat.”


“Selama ini?” Reda bingung


Aragaki tampaknya kelepasan bicara. “Aku lupa gadis ini belum tau bahwa aku sudah mengetahui semua yang dia sembunyikan, begitu pula dengan masakan yang selama ini diakui sebagai buatan Ryuunosuke.”


“Aku harus membuatnya tidak lagi takut padaku.”


“Nushi-sama? Apa yang Anda maksud itu?” tanya sang gadis desa lugu


“Nasi yang…semalam kamu masak. Itu nasi edamame dan jamur yang lezat. Aku ingin melihatmu memasaknya.”


Alasan sempurna. Aragaki berhasil membuat gadis itu tidak lagi curiga padanya. Reda tersenyum dan menunjukkan caranya.


“Nasinya dicuci bersih seperti ini lalu menuangkan sedikit bumbu, kacang edamame yang telah dicuci dengan air garam, jamur yang sudah dipotong kecil-kecil, menuangkan sedikit kecap asin, cuka, gula dan garam serta sake sebagai penyedap.”


“Begitu. Sepertinya ini enak.”


“Aku senang Nushi-sama


menyukainya. Tapi, karena ini persediaan jamur terakhir jadi aku akan membuat


sup miso jamur dan tempura jamur untuk makan siang hari ini saat Ryuunosuke sudah


kembali dari hutan.”


“Iya, tidak masalah. Kita bisa menunggu. Aku masih ingin lihat bagaimana caramu memasak yang lain. Apakah aku mengganggu jika berada di sini?”


Keduanya cukup dekat saat Aragaki bertanya hal tersebut. Mata keduanya bertemu, memberikan sebuah gambaran indah dari setiap wajah dua orang yang terpantul di dalam bola mata mereka.


Saat Aragaki bertanya pertanyaan tersebut, mustahil Reda akan mengatakan bahwa Aragaki mengganggunya, sejak gadis itu telah mencintainya sejak pertama.


Dan jawaban itulah yang keluar dari mulut si gadis desa.


“Tidak! Nushi-sama sama sekali tidak mengganggu! Aku senang Nushi-sama mau…mau…”


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ada sebuah suara langkah kaki dan teriakan manis dari arah pintu dapur.


“Reda-sama, Ryuunosuke pu–…Kyaaa! Aragaki-sama jadi tidak senonoh lagi pagi ini!”


Rubah kecil itu berlari ke tengah-tengah keduanya dan seperti melindungi gadis kesayangannya.


“Ryuunosuke senang Aragaki-sama menyukai Reda-sama, tapi Ryuunosuke tidak mau Aragaki-sama jadi tidak senonoh di dapur!”


Reda memerah dan mencoba menenangkan rubah kecilnya, “Ryuunosuke, ini salah paham. Itu semua tidak benar!”


“Kalau Aragaki-sama ingin jadi genit pada Reda-sama, nanti saja di kamar. Ibu dulu bilang kalau pasangan yang menikah itu genitnya hanya boleh di kamar.”


“Ryuunosuke!!” Reda jadi berteriak karena malu. Percaya diri sekali rubah kecil itu bahkan sambil menunjukkan senyum seringainya.


Aragaki melihat rubah kecilnya dan berkata, “Aku tidak genit, Ryuunosuke.”


“Aragaki-sama genit. Aragaki-sama jadi tidak senonoh. Ryuunosuke tau, Ryuunosuke tau. Buktinya Aragaki-sama yang tidak pernah masuk ke dapur jadi masuk ke dapur dan berdua dengan Reda-sama.”


“Itu karena kalian sedang pergi.”


“Itu karena Aragaki-sama genit! Kyaaa~Ryuunosuke jadi malu punya tuan yang sangat tidak senonoh. Kyaa~kyaa~”


Suasana dapur jadi penuh dengan teriakan manis rubah kecil.


Bahkan Nagi dan Ginko yang melihat semua itu memilih untuk meletakkan keranjang berisi sayuran dan jamur hutannya, mundur perlahan lalu pergi. Mereka lari menyelamatkan diri seakan berpura-pura tidak dengar semuanya.


Reda hanya bisa memerah mendengar rubah kecil itu beradu pendapat dengan sang penguasa.


“Kenapa Ryuunosuke bicara begitu? Aku jadi semakin malu. Bagaimana ini?!”


Sampai akhirnya Aragaki menggendong rubah kecilnya keluar dari dapur meninggalkan gadis itu sendiri.


“Maafkan aku, akan aku bawa rubah kecilku ini dan akan kunasehati dia.”


“Tapi Ryuunosuke tidak berbohong. Aragaki-sama jadi tidak–…hmph! Hmpph!! Hmmph!!!”


Mulut Ryuunosuke ditutup oleh satu tangan Aragaki dan tangan lainnya menggendong rubah manisnya di depan. Persis seperti seorang ayah yang menggendong putranya sendiri.


Reda hanya bisa mengangguk dan meminta maaf atas perkataan rubah kecilnya itu. Ketika keduanya keluar dari dapur, Reda duduk sebentar dan menarik napas.


Sambil memegang pipinya yang merah, dia berkata “Malunya~”


Tapi, dia tidak lagi merasa canggung. Dia senang bisa berada dekat dengan Aragaki sampai saat ini.


“Menyapu halaman ditemani Nushi-sama, menyiram bunga sambil mengobrol dengan Nushi-sama, bahkan memasak sambil mengobrol dengan Nushi-sama…indahnya~”


“Dewa, rasanya aku dan Nushi-sama bisa semakin dekat. Aku harap Nushi-sama tidak keberatan jika suatu hati nanti aku mengatakan ingin berada di sampingnya seumur hidupku.”


-Bluuuush


“Malunya~sudah, sudah! Jadi semakin malu jika memikirkan itu. Aku jadi salah tingkah sendiri nanti. Ayo memasak lagi untuk makan siang hari ini.”


Bicara sendiri, malu sendiri, menyemangati diri sendiri, itulah yang dilakukan Reda di dapur. Rasanya dia seperti gadis yang sedang dimabuk cinta.


Perasaan berharga itu begitu suci dan Reda mencoba menjaga perasaan itu sebaik mungkin hanya untuk sang penguasa.


**


“Semalam, tidur dimana Ryuunosuke?” tanya Aragaki pada rubah kecilnya. Tentu saja itu hanya pertanyaan basa-basi agar rubah kecilnya tidak lagi meledeknya dengan sebutan ‘tidak senonoh’.


“Ryuunosuke tidur dengan Reda-sama.”


“Benarkah? Kenapa?”


“Ryuunosuke takut, Aragaki-sama. Semalam, Ryuunosuke merasa Aragaki-sama seperti sedang marah. Aura kemarahan Aragaki-sama sampai membuat Ryuunosuke takut.”


Aragaki yang sedang menggendongnya berhenti berjalan dan memeluk rubah kecilnya.


“Maafkan aku yang sudah membuatmu takut ya, rubah kecil manisku.”


“Umm…” Ryuunosuke memeluk erat sang penguasa. Dia menggoyang-goyangkan ekornya karena senang dan nyaman dengan pelukan itu.


Selesai berpelukan, Ryuunosuke bertanya pada sang majikan, “Apa terjadi sesuatu, Aragaki-sama? Apakah ada bahaya? Ryuunosuke cemas, Ryuunosuke cemas.”


“Tidak ada. Semua baik-baik saja. Selama Ryuunosuke tidak nakal dan keluar bersama gadis itu tanpa izin dariku, semua baik-baik saja.”


“Berarti benar-benar ada masalah ya?” tanya rubah kecil itu polos


“Tidak ada, tidak ada masalah. Sekalipun ada, semua itu urusan orang dewasa. Ryuunosuke masih kecil, jadi jangan dipikirkan ya.”


“Baik.”


Aragaki berjalan kembali. Tidak lama kemudian, rubah kecilnya bertanya kembali.


“Aragaki-sama, apa Aragaki-sama menyukai Reda-sama sekarang?”


“Kenapa?”


“Aragaki-sama membeli banyak sekali pakaian mahal dan bagus untuk Reda-sama, mau memeluk Reda-sama, berkencan dengan Reda-sama, khawatir pada Reda-sama. Kapan Aragaki-sama mau menikahi Reda-sama?”


Langkah Aragaki terhenti kembali. Pertanyaan rubah kecilnya itu benar-benar di luar dugaan sang penguasa.


“Rubah kecil, jangan bertanya seperti itu padaku.”


“Tapi Aragaki-sama suka pada Reda-sama, kan? Ryuunosuke benar kan?”


“Kenapa Ryuunosuke bisa bicara begitu?”


“Aragaki-sama sudah jadi tidak senonoh tadi. Kemarin juga tidak senonoh, kemarinnya lagi juga, beberapa hari yang lalu juga.”


“Akhir-akhir ini, Aragaki-sama jadi seperti paman-paman yang suka menggoda gadis-gadis cantik di desa. Jadi tidak senonoh.”


Jawaban rubah kecilnya itu benar-benar membuat sang penguasa tidak tau harus menganggap itu sebagai komentar polos anak-anak atau sebuah hinaan kecil dari anak kesayangannya.


“Nakal sekali kamu bisa mengatakan tuanmu ini tidak senonoh. Nagi dan Kuroto benar-benar harus dihukum karena mengajarimu kalimat itu.” kata sang penguasa sedikit meledek


“Ryuunosuke belajar dari ibu. Ryuunosuke sudah bilang, kan?”


“Ryoko tidak mungkin mengajarimu begitu.”


“Ibu bilang begitu.” Rubah kecilnya sedikit ngotot. Mau tidak mau, Aragaki hanya tersenyum dan berjalan kembali menuju ruangannya.


“Ryuunosuke…”


“Ya, ada apa Aragaki-sama?”


“Maafkan semua sikapku selama ini padamu ya.”


“Hmm?” rubah kecilnya bingung


“Sikap…penolakanku saat kamu begitu senang memperkenalkan gadis itu padaku. Aku rasa aku sudah sangat menyakitimu sampai membuatmu terus menangis. Maafkan aku ya.”


Ryuunosuke tersenyum senang dengan ekornya yang bergoyang dan memeluk erat tuannya.


“Ryuunosuke senang Aragaki-sama menerima Reda-sama. Reda-sama cantik iya, kan?”


“Iya. Dia cantik seperti yang Ryuunosuke bilang.”


“Reda-sama sangat baik, iya kan?”


“Iya. Dia baik seperti yang Ryuunosuke bilang.”


“Ehehehe~insting pelayan Ryuunosuke tidak salah, iya kan?”


“Iya. Rubah kecilku sangat pintar.”


“Kalau begitu, Aragaki-sama tidak salah. Ryuunosuke memaafkan Aragaki-sama lagi.”


“Sungguh?”


“Yang penting Aragaki-sama mau bersama Reda-sama dan tidak membencinya lagi.”


Aragaki hanya tersenyum mendengarnya. Dia masih ingin merahasiakan perasaan cintanya itu. Sang penguasa ingin gadis itu menjadi yang pertama mendengar pernyataan cintanya nanti.


Karena itu, Aragaki tidak mengatakan apapun soal perasaannya yang terpendam kepada rubah kecil kesayangannya itu.


Sesampainya di ruang pribadinya, Aragaki menghabiskan banyak waktu dengan rubah kecilnya. Dia mendengarkan semua cerita rubah kesayangannya itu seperti orang tua yang menghabiskan waktunya bersama sang anak.


Ini dilakukan karena Aragaki mengingat ucapan gadis desa itu saat di bawah bunga sakura sebelumnya.


[Aku ingin tau…apakah mendiang ibu Ryuunosuke ada di antara ribuan kelopak bunga sakura itu ya?]


[Beliau pasti senang melihat rubah kecil manisnya selalu tersenyum. Sudah begitu, dia pandai membuat lagu yang lucu]


[Rasanya menyenangkan mendengarnya bernyanyi sambil menggoyangkan ekornya]


Atas dasar itulah, sang penguasa ingin melihat dan mendengar semua hal menyenangkan yang dialami rubah kecilnya.


****