The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 8. Sebelum Tugas Dimulai



Setelah Ryuunosuke berhenti menangis dan menghapus air matanya, dia meraih tangan Reda dan mengajaknya berkeliling meninggalkan keempat pelayan lain yang masih duduk terpaku di tempatnya.


Begitu rubah kecil itu pergi, keempat pelayan itu baru mulai mengatakan hal yang ada dalam pikiran mereka.


“Aku tidak percaya aku akan melihat pemandangan seperti tadi. Kau lihat apa yang gadis desa itu lakukan pada Ryuunosuke?” ucap Kuroto


“Aku lihat. Dia terus mengusap-usap kepala dan ekor rubah kecil itu sampai dia berhenti menangis. Tidak pernah ada manusia yang mau melakukan itu sejauh ini.” Hakuren menjawabnya


“Selain itu…” Kuroto melihat bagian belakang Nagi dan Ginko. Terlihat jelas ekor kedua siluman rubah itu terus bergoyang-goyang. “Kalian tidak berpikir untuk mendapatkan elusan itu dari gadis manusia, kan? Dua rubah yang satu ini?”


Nagi dan Ginko langsung kembali ke akal sehat mereka dan ekor mereka mulai tegang.


“Si–si–siapa bilang kalau kami berdua ingin dielus seperti itu?! Jangan bercanda! Mana mungkin kami ingin dielus oleh tangan manusia yang bau amis seperti dia!”


“Nagi, jangan bicara begitu. Hakuren, Kuroto, aku berani bersumpah kalau ini tidak seperti yang kalian pikirkan!”


Melihat Ginko yang mencoba membela diri membuktikan bahwa mereka memang menginginkannya juga. Kedua tengu itu menyadarinya.


“Mereka ingin juga rupanya”


“Mereka pasti iri dengan Ryuunosuke. Percaya padaku”


Baik Hakuren dan Kuroto memilih untuk tidak mengatakannya. Kedua tengu itu berdiri dan mengambil semua shoji yang rusak.


“Kita ganti dulu semua pintu-pintu ini. Urusan gadis desa itu biarkan saja jadi tanggung jawab Ryuunosuke”


Hakuren pergi membawa shoji itu ke belakang bersama Kuroto, sedangkan Nagi dan Ginko masih duduk di tempatnya.


“Nagi, kamu sudah baik-baik saja?”


“Aku memang baik-baik saja, kan?! Kenapa bicara begitu?”


“Aku pikir kamu memikirkan gadis desa itu juga.”


“Hah! Mana mungkin aku memikirkannya!” Nagi berusaha menyangkal. Tapi sejujurnya, dia memikirkan gadis itu juga.


Ada kalimat yang membuatnya sangat takjub sampai saat ini.


[Mulai sekarang kita akan berjuang, Ryuunosuke. Kita berjuang agar Aragaki-sama mau tersenyum lagi ya]


Kalimat terakhir yang dikatakan olehnya adalah kalimat yang cukup menyentuh hati Nagi yang seorang siluman.


“Selama 200 tahun, tidak ada manusia yang mau memperhatikan Aragaki-sama yang tidak pernah tersenyum pada manusia. Dia bisa mengatakan hal itu dan memperlakukan Ryuunosuke sebaik itu. Apakah ini adalah pertanda baik?”


Pikiran itu mulai sedikit menguasai Nagi. Dia ingat apa saja yang dikatakan oleh gadis bernama Reda itu.


[Aku sudah berjanji kepada Ryuunosuke untuk berjuang bersama agar Aragaki-sama mau sedikit melihatku selama aku menjadi pelayanmu. Kami berjanji untuk berjuang bersama]


[Jika aku mati sekarang, maka itu artinya aku telah mengingkari janjiku dan Dewa tidak akan menerima rohku kembali ke alam akhirat. Sekalipun rohku diterima, aku telah mengingkari janjiku dengan Ryuunosuke dan itu akan membuatnya sedih. Dia mungkin akan mengingat hal itu dan berbalik membenciku]


Nagi melihat Ginko yang telah berdiri.


“Ginko…”


“Ya?”


“Aku…mungkin sedikit berharap pada gadis itu…”


“Nagi?”


“Aku mengerti dia itu manusia dan aku tetap membencinya. Jangan salah paham!”


“Nagi, sebenarnya apa maksud ucapan i–”


“Hanya saja, ini pertama kalinya aku mendengar ada seorang calon ‘pengantin’ yang mau berusaha demi tuan kita,” Nagi terlihat serius dan menatap Ginko dengan tatapan yakin sambil berkata “Bukankah itu artinya kita masih ada sedikit harapan untuk Aragaki-sama juga?”


Ginko terkejut mendengar ucapan itu. Dia merasa untuk pertama kalinya, sosok Nagi yang dikenal benci dan menganggap rendah calon ‘pengantin’ bisa berkata begitu.


“Nagi, apa kamu sudah mulai percaya bahwa seorang manusia bisa menghapus kebencian Nushi-sama?”


“Aku tidak percaya! Aku hanya berpikir…mungkin setidaknya ada setitik harapan agar Aragaki-sama bisa seperti dulu lagi.”


“Aku yakin Ryuunosuke juga menginginkan hal itu meskipun mungkin…hal itu sangat mustahil.” Ginko terlihat begitu pesimis tentang kemungkinan yang diharapkan oleh Nagi


Nagi berdiri dan segera melupakan apa yang dia katakan.


“Lupakan saja. Aku rasa harapan itu terlalu tinggi. Setelah dipikirkan kembali, mustahil kebencian selama 200 tahun bisa dihapuskan hanya dalam waktu 3 bulan. Itu memang sangat mustahil. Lupakan saja harapan semu itu dan biarkan saja gadis itu menjalani 3 bulan terakhir sebelum dirinya mati.”


Nagi mengambil beberapa papan shoji dan membawanya keluar dari ruangan tersebut. Ginko yang berada di belakangnya terdiam.


“Aku tau kamu mengharapkan itu, Nagi. Sejujurnya saja, aku juga berharap Reda-sama dapat melakukan sesuatu dengan semua ini. Tapi, secantik dan sebaik apapun dia…dia tetaplah manusia. Aku tidak membencinya…tapi aku juga tidak menyukai gadis desa itu.”


**


Sementara itu, Aragaki yang ada di ruangannya terus menutup mata sambil duduk bersimpuh dan mengingat semua hal yang Reda katakan saat pertemuan. Dia mengingat semua kalimat dan ekspresi serta senyuman yang muncul di wajah gadis itu.


Hal yang paling melekat dalam pikirannya adalah sebuah kalimat yang membuatnya sangat kesal.


[Aku tidak peduli jika harus mati setelah 3 bulan seperti lainnya. Tapi, setidaknya aku akan berusaha mencairkan kebencian di hati Aragaki-sama. Aku akan melayani Aragaki-sama sampai ada manusia yang akan menjadi cinta sejatimu]


Ekspresi yang diberikan oleh gadis itu saat mengatakannya adalah ekspresi bahagia dengan senyuman di bibirnya yang membuatnya terlihat jijik.


“Jatuh cinta pada manusia, itu mustahil. Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada manusia meskipun itu adalah dia”


“Sesuka apapun Ryuunosuke kecil padanya, aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan mereka di masa lalu. Setiap melihat manusia, aku terus mengingat mayat dingin dan air mata yang jatuh dari semua pelayan dan pengikutku”


“Aku yang berusaha menyelamatkan mereka namun mereka membunuh orang-orang yang aku cintai. Sampai kapanpun, dendam akibat pengkhianatan ini tidak akan pernah hilang.”


“Bahkan setelah aku izinkan mereka untuk menepati janji leluhur mereka yang lain dengan membawa gadis desa ke tempat ini, mereka berkali-kali mencoba membunuhku.”


**


Ryuunosuke dengan perasaan senang menarik tangan Reda dengan tangan kecilnya yang manis dan mengajaknya berkeliling.


“Reda-sama, ini adalah dapurnya. Ryuunosuke membuat nasi kepal itu di sini tadi pagi. Tapi, Ryuunosuke diam-diam membuatnya karena Nagi-sama terus saja mengikutiku.”


“Begitu. terima kasih banyak, Ryuunosuke. Setelah sampai di gubuk nanti, aku akan memakan sisa nasinya lagi.” Ucap Reda sambil tersenyum


Ryuunosuke menggoyang-goyangkan ekornya karena senang.


Kemudian, dia mengantarkan Reda ke tempat lainnya. Kamar mandi, tempat pemandian air panas untuk pelayan, tempat khusus untuk Aragaki, ruang membaca, ruang ganti dan kebun serta tempat mencuci pakaian dan terakhir ruangan milik Aragaki.


“Di depan sana adalah ruangan milik Aragaki-sama.”


Perhatian Reda teralihkan ke sebuah pohon sakura besar yang terus bermekaran.


“Ryuunosuke, apakah pohon sakura itu adalah pohon kesayangan Aragaki-sama?”


“Pohon itu bernama sakura seribu harapan.”


“Sakura seribu harapan?”


“Dulu, pohon itu hanya tumbuh sekali dalam setahun. Namun 200 tahun lalu, setelah kejadian yang terjadi antara leluhur desa Kamakura dan kami, banyaknya teman-teman kami yang mati.”


“Di hari berduka itu, pohon sakura itu akhirnya tumbuh dan sampai sekarang tidak pernah berhenti bermekaran.”


“Ada yang mengatakan bahwa bunga sakura itu adalah roh dari semua teman dan keluarga kami yang mati 200 tahun yang lalu. Aku mendengar bahwa bunga sakura itu mekar demi mengobati rasa sedih dan duka yang dimiliki oleh Aragaki-sama.”


Reda yang mendengar hal itu merasa sangat tersentuh.


“Pohon itu adalah bukti cinta semua orang yang telah mati kepada Aragaki-sama dan di malam saat aku datang, Aragaki-sama juga sedang melihat pohon sakura itu. Aku harap aku bisa membuat Aragaki-sama tersenyum kembali.”


Ryuunosuke menarik tangan Reda kembali untuk berjalan dan menemui Aragaki kembali.


“Aragaki-sama, Ryuunosuke datang bersama Reda-sama kembali. Kami ingin bertemu denganmu.”


Ryuunosuke berlutut memberi hormat, begitu pula dengan Reda. Aragaki tidak melihat mereka sedikitpun.


Telinga rubah kecil itu turun dan ekornya mulai bergoyang lemah tanda dia sedih. Ryuunosuke memegang tangan Reda untuk mengajaknya berdiri dan pergi, namun Reda menahannya sebentar.


“Kita berpamitan pada Aragaki-sama dulu, Ryuunosuke.”


“Aragaki-sama tidak mau melihat Ryuunosuke.” Rubah kecil itu terlihat sedih sekali, namun gadis itu memberinya senyuman dan bersujud pada Aragaki.


“Aragaki-sama, besok aku akan melayani Aragaki-sama. Aku mohon bimbingannya selama 3 bulan ini. Mohon bantuannya.”


“Reda-sama…”


“Ryuunosuke juga, ayo beri salam kepada Aragaki-sama.” Reda tersenyum pada Ryuunosuke dan memintanya untuk memberikan salam pada tuannya. Dengan ekspresi senyum, Ryuunosuke ikut memberi salam.


“A–Aragaki-sama, Ryuunosuke dan Reda-sama akan berjuang. Mohon bantuannya.”


Aragaki mulai membuka mulutnya.


“Ryuunosuke…”


“Ya?!”


“Bawa gadis kotor itu pergi dari tempat ini.”


Kalimat itu sebenarnya sangat menusuk hati Reda. Ryuunosuke juga jadi ikut sedih mendengarnya, namun Reda meminta Ryuunosuke tidak membelanya dan menuruti perintah Aragaki.


Kedua orang itu pergi dari hadapan Aragaki setelah memberi hormat. Ryuunosuke memegang tangan Reda dan menariknya kembali untuk mengajaknya berkeliling.


Setelah puas berkeliling sampai malam, Ryuunosuke mengantar Reda kembali ke gubuk di dalam hutan.


“Reda-sama, di sini tidak ada cahaya. Besok pagi, aku akan membawakan pakaian untukmu lagi, sarapan dan beberapa lilin serta minyak untuk cahaya di sini ya.”


“Tidak apa-apa, Ryuunosuke. Semua akan baik-baik saja.”


Ryuunosuke tiba-tiba memeluk Reda sambil menangis.


“Hiks…maafkan Aragaki-sama ya. Hiks…Ryuunosuke tidak ingin Reda-sama sakit hati karena ucapan menyakitkan dari Aragaki-sama…”


“Aku tidak apa-apa, Ryuunosuke. Aku tidak merasa sakit hati. Lihat aku, aku tersenyum.” Reda memperlihatkan senyuman yang sangat cantik untuk rubah kecil itu. Melihat itu, Ryuunosuke kembali tersenyum.


“Besok kita berjuang, Reda-sama!”


“Umm, besok ayo berjuang Ryuunosuke! Demi membuat Aragaki-sama tersenyum dan menjadi tuan yang Ryuunosuke harapkan seperti dulu.”


Ryuunosuke berlari kembali ke dalam kediaman utama meninggalkan gadis itu sendiri. Di dalam gubuk, Reda mengangkat pakaiannya yang dia jemur siang ini dan mengambil sisa nasi kepal yang dibawakan rubah kecil itu saat makan siang.


Sambil memakannya, air mata tiba-tiba keluar.


“Kenapa…aku menangis?”


Tanpa disadari, Reda mengingat kalimat yang dikatakan oleh Aragaki padanya.


[Ryuunosuke, jangan terlalu tinggi ketika memuji ‘sampah’]


[Bawa gadis kotor itu pergi dari tempat ini]


Tanpa disadari air matanya terus keluar dan di malam itu, semua rasa sedih dan sakit karena hinaan yang diterimanya keluar dalam bentuk air mata. Reda menangis tersedu-sedu hingga nasi kepal di tangannya basah karena air mata.


****