The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 64. Warna Baru dari Keindahan Senyumnya



“Apakah ini yang mereka sebut dengan perasaan cinta?”


Pertanyaan yang sangat aneh dari seorang Aragaki.


Penguasa Higashi no Mori, siluman serigala yang masih misterius sekaligus Dewa Pelindung Desa Kamakura, sosok yang sangat membenci manusia sejak tragedi 200 tahun yang lalu bisa bertanya tentang perasaannya.


Aragaki tidak bisa lepas dari senyuman itu, namun dia juga harus mengembalikan akal sehatnya. Sadar bahwa dia harus tetap tenang layaknya seorang pemimpin, Aragaki mencoba untuk memasang wajah normalnya kembali.


Sang penguasa membantu gadis itu berdiri dan meminta kedua orang itu untuk ikut masuk bersamanya.


Di luar, keempat pelayannya begitu terkejut namun juga senang.


“Ini keajaiban dari langit. Kalian lihat itu, kan?!” Nagi terlihat sangat histeris karena senang


Hakuren tidak kalah senang dari Nagi, “Aku lihat, Aragaki-sama mau menyentuh dan tersenyum pada Reda-sama. Bukankah itu hal yang baik?”


“Hakuren, tidak ada waktu. Kita pergi ke gubuk tua itu dan bereskan semua barang-barang yang dimiliki gadis desa itu.”


“Aku mengerti. Nagi, Ginko, aku dan Kuroto akan kembali.”


Hakuren dan Kuroto terbang menuju gubuk tua Reda. Hal itu dikarenakan mereka mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh tuannya.


“Sebaiknya sebelum diperintahkan oleh Aragaki-sama, kita pergi lebih dulu.”


“Kau benar, Kuroto. Semoga itu bisa membantu Reda-sama juga.”


**


Di dalam, Aragaki yang berjalan lebih dulu memperhatikan gadis di belakangnya.


Gadis itu sedang menghapus air matanya sambil menggandeng tangan rubah kecil.


“Reda-sama jangan menangis lagi ya. Ryuunosuke sedang bahagia hari ini. Ehehehe~”


“Iya, Aku juga sedang senang. Terima kasih banyak, Ryuunosuke.”


Reda melihat Aragaki yang berada di depannya. Saat matanya bertemu dengan pandangan Aragaki, sang penguasa itu langsung menengok kembali.


Di dalam pikiran gadis itu, mungkin sang penguasa masih belum sepenuhnya ingin melihatnya. Namun sesungguhnya hal itu salah.


Sang penguasa benar-benar hanya ingin melihatnya. “Aku ingin tau kenapa aku bisa memiliki pikiran yang sangat mustahil seperti itu? Ini bukan seperti diriku. Sejak kapan aku mulai tidak bisa berhenti memikirkan dia?”


Aragaki berhenti di depan beberapa pintu ruangan.


“Di sini adalah kamar kosong yang bisa digunakan dan dipilih. Mulai dari sini sampai ke dalam adalah kamar yang dulu digunakan oleh pelayanku. Pilih saja yang kamu suka.”


Reda memberanikan dirinya untuk berjalan mendekati Aragaki dan membungkukkan badannya seraya mengucapkan terima kasih.


“Nushi-sama, terima kasih banyak. Aku benar-benar merasa sangat senang. Terima kasih banyak untuk kebaikan hatimu.”


“Lupakan itu dan lihatlah ruangannya sendiri.”


Ryuunosuke mengantar Reda untuk masuk dan melihat semua ruangannya. Satu per satu kamar dimasukki olehnya.


“Ini ruangan milik ibu dulu, Ryuunosuke tidak keberatan jika Reda-sama menempati ruangan ini.”


Reda melihat ruangan itu. Ruangan yang begitu bersih dan sangat terawat. Tidak seperti ruangan yang telah ditinggalkan 200 tahun, tempat itu sangat rapi bagaikan kamar dengan penghuni.


“Aku tidak bisa menempati tempat ini. Ini penuh dengan kenangan indah milik Ryuunosuke.”


“Tapi, ibu pasti tidak akan keberatan.”


Reda berlutut dan mengelus-elus rambut si rubah kecil, “Tidak apa-apa, Ryuunosuke. Tempat ini akan tetap menjadi milik Ryoko-sama.”


Telinga rubah kecil bergerak karena menyukai elusan tangan itu. Aragaki yang berada di luar ruangan melihat betapa senangnya rubah kecil kesayangannya saat berada di dekat gadis desa itu.


“Siapa yang menyangka bahwa rubah kecil itu sendiri yang menawarkan ruangan milik mendiang ibunya.”


Ryuunosuke menarik Reda ke kamar miliknya. Di belakang, Aragaki mengikuti mereka.


“Ini…kamar Ryuunosuke iya kan?”


“Kalau Reda-sama tidak mau kamar milik ibu, Reda-sama bisa tidur dengan Ryuunosuke! Itu ide bagus, kan?!”


“Apa?!”


Dari kejauhan, Nagi dan Ginko yang mengikuti mereka langsung berlari dan berteriak.


“Nagi-sama, Ginko-sama, kenapa kalian di sini?” Ryuunosuke memasang wajah polos saat kedua youko itu tiba. Nagi langsung melihat rubah itu dengan tatapan sinis.


“Ryuunosuke tidak salah. Reda-sama boleh tidur dengan Ryuunosuke di sini.”


“Jangan memasang wajah polos seperti tanpa dosa begitu! Mana boleh kau tidur dengannya!”


“Memang kenapa? Nagi-sama mau tidur dengan Reda-sama? Itu lebih tidak boleh lagi, kan?”


“Waa!!” mendengar itu, Nagi langsung memerah. Ekor dan telinga rubahnya langsung berdiri tegak dengan wajah merah karena malu.


Ginko berusaha mengatakan sesuatu pada rubah kecil itu, “Ryuunosuke, Reda-sama itu perempuan, sedangkan Ryuunosuke itu laki-laki. Laki-laki dan perempuan tidak boleh tidur bersama sebelum menikah.”


“Hmm? Ryuunosuke tidak akan menikahi Reda-sama. Aragaki-sama yang akan menikahi Reda-sama nanti.”


-Bluuush


“Uhuk!”


“…!!!”


Wajah Reda memerah karena malu, Aragaki yang batuk dan kedua youko itu menjadi tercengang karena ulah Ryuunosuke.


“Kenapa? Ryuunosuke tidak salah! Aragaki-sama akan menikahi Reda-sama nanti. Kalau begitu, Reda-sama tidur dengan Aragaki-sama saja!”


“Bocah!!” Nagi langsung mencubit kedua pipi rubah kecil itu. “Jaga mulutmu atau Aragaki-sama akan marah pada gadis desa itu, dasar bodoh!” bisiknya pada Ryuunosuke


“…!!” rubah kecil terkejut. Mendengar itu, Ryuunosuke langsung melepaskan dirinya dan menghampiri Aragaki yang berada di luar kamarnya.


“Aragaki-sama jangan marah! Ryuunosuke tidak bermaksud buruk. Ryuunosuke minta maaf, Ryuunosuke minta maaf!”


Reda akhirnya ikut membungkuk kembali dan meminta maaf kepada sang penguasa.


“Ma–maafkan kesalahan Ryuunosuke, Nushi-sama. Aku…aku benar-benar tidak ada pikiran tidak sopan seperti itu."


"Tolong, jangan hukum Ryuunosuke. Aku akan melakukan apapun, aku akan melakukan apapun asalkan Ryuunosuke tidak dihukum.”


Tangannya gemetar karena takut. Tapi, tampaknya perasaan Aragaki sedang senang sekarang.


“Tidak apa-apa, aku tidak menganggapnya serius.” Aragaki melihat Nagi dan Ginko, “Kalian berdua, temani mereka memilih kamarnya. Aku ada sedikit urusan.”


“Ba–baik.”


Aragaki pergi meninggalkan mereka. Di saat dirinya kembali ke ruangannya, dia memegang dadanya sendiri.


Tidak disangka ekspresi wajahnya berubah. Dia malu. Kalimat milih rubah kecilnya benar-benar memberikan dampak yang cukup besar pada hatinya saat ini.


[Aragaki-sama yang akan menikahi Reda-sama nanti]


[Ryuunosuke tidak salah! Aragaki-sama akan menikahi Reda-sama nanti. Kalau begitu, Reda-sama tidur dengan Aragaki-sama saja!]


Aragaki berjalan ke tempatnya dan duduk sambil menutup mulutnya untuk menyembunyikan rasa malunya.


“Ini bukan seperti diriku. Sejak aku melihat senyumnya saat itu, aku tidak pernah bisa menahan diriku untuk tidak melihatnya lagi.”


“Sejak saat itu, aku terus memikirkan senyumannya. Mengetahui apa yang dia rasakan dan dia lakukan untukku membuatku tidak bisa lagi mengabaikannya.”


“Bahkan untuk pertama kalinya, aku membiarkan gadis manusia masuk dan tinggal di rumah ini.”


Aragaki mencoba menenangkan dirinya. Dia melihat ikebana yang ada di meja kerjanya.


“Reda…ya.” gumam Aragaki pelan. Di dalam hati sang penguasa, ada hal lain yang membuatnya tergugah.


“Meskipun sederhana dan tanpa arti, nama itu menjadi sesuatu yang membuat Ryuunosuke tersenyum. Selain itu…”


Aragaki kembali bergumam sesuatu, “Sungguh senyuman yang cantik. Wajahnya memang…sangat cocok bila tersenyum seperti itu.”


“Jika tinggal di tempat ini, aku yakin aku bisa melihatnya tersenyum seperti itu lagi. Aku yakin, dia akan lebih sering menunjukkan senyumannya padaku.” pikirnya dalam hati


Ada sebuah senyuman disertai rasa senang dari bibir dan wajah sang penguasa.


“Memintanya untuk tinggal di sini, bukanlah hal yang buruk.”


“Dengan begitu, aku akan bisa terus melihat senyuman itu dari dekat.” Sekali lagi, pikiran bahagia kala membayangkan senyuman gadis itu muncul.


Rasa bahagia tumbuh subur bagaikan bunga musim semi.


Walau masih sulit mengakui bahwa itu adalah cinta, Aragaki mulai mengakui bahwa senyuman gadis itu adalah warna baru yang indah di hatinya.


****