
Di malam itu, Ara-mitama tidak langsung kembali ke tempat tuannya, Nue. Saat ini, dia ada di dalam hutan, di sisi paling gelap lain.
Ketika itu, dia merasakan aura kuat yang membuatnya tidak dapat bergerak bebas di hutan.
“Ini…Aragaki-sama?!” pikirnya saat itu
Aura kemarahan itu berada cukup jauh darinya, namun begitu terasa mencekik lehernya.
“Apakah ada yang menyadari kegare yang dihasilkan olehku telah merusak hutannya? Ini gawat! Beliau mungkin sudah tau kalau aku yang mengawasi gadis itu.”
“Aku harus membuat gadis itu keluar dari kediaman Aragaki-sama dan membawa paksa dia ke tempat Aruji-sama.”
“Jika semua gagal sebelum Aruji-sama memakannya, aku akan dihabisi!”
Ara-mitama terus berdiam diri di dalam hutan tersebut. Dia masih menunggu saat yang tepat sampai aura kemarahan itu mereda.
Setelah beberapa lama, dia merasakan tekanannya berkurang dan semakin lama semakin kecil.
“Sudah…selesai?”
Ara-mitama mulai berdiri kembali dan berjalan perlahan. Dia merasakan hawa keberadaan di sekelilingnya.
“Sepertinya sudah tidak ada. Aragaki-sama sudah tidak ada lagi dan aura kemarahan itu sudah hilang. Hampir saja semua menjadi semakin parah.”
“Aku tidak boleh sampai membuat Aruji-sama kecewa. Aku harus mendapatkan gadis itu. Harus!”
Ara-mitama bersembunyi sementara waktu di dalam sisi hutan yang gelap. Yang dilakukannya hanyalah menunggu sampai pagi datang.
Kecerobohannya di siang hari membuatnya harus siap untuk menanggung semua rasa takut yang terjadi barusan seorang diri.
Malam penuh kejutan dirasakan oleh semuanya dan keheningan malam itu menjadi sebuah pertanda serius untuk Aragaki.
**
Di kediamannya, Aragaki masih belum tidur dan terus berada di sisi kedua orang yang bisa dianggap berharga untuknya sekarang.
Reda dan Ryuunosuke yang tidur dengan nyenyak sambil berpelukan telah bermimpi indah tanpa menyadari bahwa sang penguasa menjaga mereka sampai waktu malam hampir berganti fajar.
**
Di dalam sebuah tempat yang gelap, terlihat sosok mata besar merah menyala.
“Aku harus mendapatkan gadis itu. Apapun yang terjadi.”
“Sebodoh apapun Ara-mitama, aku tidak peduli selama aku bisa mendapatkannya. Aragaki-sama tidak akan memberikan gadis itu jika seperti ini.”
“Aku harus makan!”
Sosok besar itu begitu terobsesi. Dengan menapakkan kaki besarnya ke tanah yang dipenuhi gunung tulang belulang berserakan, dia menghancurkan semua tulang-tulang itu menjadi serpihan kecil setiap dia berjalan.
**
Pagi datang dan tampaknya Reda tidur nyenyak malam itu. Saat matanya terbuka, dia melihat sosok rubah kecil manisnya yang masih mengigau.
“Mmm…aburage punya Ryuunosuke…ehehehe~”
Reda yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil. “Lucu sekali. Aku ingin tau apakah dia mengingau tentang aburage lagi. Mungkinkah karena kemarin Ryuunosuke makan banyak aburage? Manisnya~”
Suara Reda mungkin pelan, tapi telinga rubah kecil itu bisa mendengarnya dengan baik. Dengan sedikit bergoyang, telinganya seperti membangunkan rubah kecil tersebut.
“Mmm…”
Reda sedikit terkejut dan memberinya senyuman, “Selamat pagi, Ryuunosuke. Semalam tidur nyenyak tidak?”
Rubah itu bangun sambil memeluk bola kecilnya. Saat dia mengucek matanya, Ryuunosuke yang masih setengah sadar memanggil Reda dengan sebutan yang tidak terduga.
Sambil memeluknya, Ryuunosuke berkata, “Ibu, selamat pagi. Ryuunosuke bermimpi makan banyak aburage. Ehehehe~”
“Eh?” Reda kali ini benar-benar terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka akan mendengar panggilan itu dari mulut si rubah kecil.
Rubah kecil itu juga akhirnya terbangun sepenuhnya dan melepaskan pelukannya.
“Re–Reda-sama!! Ma–maafkan Ryuunosuke, maafkan Ryuunosuke! Itu…um…”
Wajah malu dan memerah milik rubah kecil itu menggemaskan hingga Reda hanya bisa tersenyum dan memberinya pelukan lain.
“Tidak apa-apa. Ryuunosuke imut sekali saat bangun. Manisnya~”
Pelukan Reda membuat rubah kecil itu terlihat senang dengan ekor yang bergoyang. Reda sempat berpikir dalam hati, “Ryuunosuke sangat kecil. Meskipun sudah hidup 200 tahun, tapi mungkin di usia anak-anak manusia, dia masih berusia 6-7 tahun.”
“Masih terlalu kecil untuk ditinggalkan sendiri oleh ibunya.”
“Aku juga…mengerti sulitnya ditinggalkan oleh kedua orang tua dan harus menjalani hidup sulit sendirian. Bedanya, Ryuunosuke memiliki Nushi-sama yang menyayanginya.”
“Meskipun tidak banyak membantu, tapi aku yakin dia pasti cukup senang.”
Selesai dengan pelukan hangatnya, keduanya merapikan tempat tidur mereka.
“Tempat tidur Ryuunosuke di sini dulu saja. Mungkin saja kamu akan tidur di sini lagi nanti malam.”
“Boleh? Ryuunosuke boleh tidur di sini bersama Reda-sama lagi?”
“Tentu saja boleh. Lihat, Ryuunosuke tidak berputar-putar saat tidur, kan?”
Gadis itu tersenyum sambil mengelus-elus kepala si rubah kecil. Rubah itu hanya tersipu malu dan menyimpan bola kecilnya di atas meja di ruangan Reda.
Reda pergi bersama rubah kecil itu ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengantarkannya kembali ke kamar.
“Ryuunosuke akan ganti baju. Nanti, Ryuunosuke akan datang ke kamar Reda-sama lagi.”
Reda hanya mengangguk dan kembali ke kamarnya. Setelah mengganti pakaian dan berdandan dengan sisir hadiah dari Aragaki dan pita milik Ryoko, Reda terlihat semakin cantik setiap harinya.
Pakaian indah hadiah dari Aragaki memiliki pola yang indah dan bahan yang nyaman untuknya.
“Entah kenapa, aku tidak pernah menyangka akan memiliki pakaianku sendiri. Senangnya.”
Di dalam lemari kecil Reda, dia menyimpan sebuah kain yang telah dicuci bersih namun penuh lubang dan noda yang tidak mudah hilang.
Itu adalah pakaian pertamanya saat tiba di Higashi no Mori.
“Ini adalah pakaianku satu-satunya yang tidak pernah aku ganti selama aku di desa.”
“Meskipun aku sudah tidak lagi mengenakannya, namun ini adalah satu-satunya hal yang pernah aku terima dari mendiang ibuku sebelum meninggal.”
“Aku tidak akan melupakan semua air mata dan hari-hari berat itu.”
Reda memeluk pakaian lusuhnya sambil berkata, “Terima kasih sudah mau menjadi satu-satunya saksi hidupku sampai saat ini.”
Dia menyimpannya kembali dan bersiap agar tidak membuat rubah kecilnya menunggu.
Niat hatinya, dia ingin coba menjemput rubah manis itu karena Reda telah selesai lebih dulu. Namun niat itu harus ditunda.
Itu adalah sosok sang penguasa, Aragaki, yang berjalan mendekati dirinya saat baru saja menutup pintu kamarnya.
“Selamat pagi.”
Reda terkejut mendengar suara lembut itu. Dia mengenalinya dan begitu melihat sosok Aragaki tepat di sampingnya dengan senyuman, Reda langsung salah tingkah.
“Nushi…Nushi-sama!” Reda mundur sedikit dan langsung memberikan salamnya dengan membungkukkan tubuhnya. “Selamat pagi, Nushi-sama.”
“Kenapa terkejut?”
“Itu…ini pertama kalinya aku…bertemu dengan Nushi-sama di pagi hari ini sebelum aku dan Ryuunosuke membangunkan Nushi-sama.”
Itu wajar, karena sebenarnya Aragaki tidak tidur sama sekali.
Sepanjang malam, sang penguasa berada di samping Reda dan Ryuunosuke yang tidur bersama. Akan tetapi, keduanya tidak menyadari hal tersebut.
Aragaki keluar dari kamar Reda sekitar satu jam sebelum gadis itu terbangun pagi tadi, yang artinya Aragaki benar-benar bersama keduanya semalam penuh.
Di pagi ini, niat Aragaki mendatanginya langsung untuk memastikan gadis di hadapannya itu aman.
“Sejak semalam, aku tidak melihat tanda-tanda aneh selama mereka tidur. Mungkin mereka tidak merasakan apapun. Tapi itu jauh lebih baik daripada mereka merasakan hal yang menakutkan dariku tadi malam.”
Aragaki menyentuh wajah gadis cantik di hadapannya dan bertanya, “Apa semalam tidurmu nyenyak?”
Reda baru ingin menjawab sebelum sebuah teriakan imut terdengar di pagi hari.
“Kyaaa! Aragaki-sama pagi-pagi sudah tidak senonoh! Kyaaa, Ryuunosuke malu! Aragaki-sama pagi-pagi sudah jadi orang genit pada Reda-sama!”
“…!!”
Sekarang, Aragaki terpaksa menarik tangannya kembali dari pipi gadis desa itu dan menghampiri rubah kecilnya yang senyum-senyum sendiri.
“Rubah kecilku sudah belajar kata-kata tidak sopan dari Nagi dan Kuroto rupanya.”
“Kami tidak mengajari anak nakal itu!!”
Terdengar suara teriakan dari arah depan Aragaki yang ternyata itu adalah Nagi dan Kuroto yang berusaha membela diri mereka. Ginko dan Hakuren juga sudah bangun pagi itu.
Ini menjadi awal hari paling ramai di pagi itu.
****