The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 78. Aku Ingin Semua yang Terbaik Untuknya



Reda dan Ryuunosuke sedang berada di kebun.


"Ryuunosuke, sayurannya sudah semua?"


"Sudah, Reda-sama."


Rubah kecil itu menunjukkan keranjang kecilnya yang berisi timun dan tomat.


"...!" wajah Reda memerah. Saat melihat tomat, dia selalu terbayang kata-kata Aragaki padanya


"Aku jadi sangat malu."


Rubah kecil itu melihat wajah Reda yang memerah.


"Reda-sama, apa Reda-sama kepanasan?"


"Eh? Tidak, aku tidak apa-apa."


"Tapi wajahmu merah." Ryuunosuke melepas topinya. "Ini, Reda-sama pakai ini agar tidak kepanasan."


Gadis itu sangat tersentuh dengan sikap penuh perhatian dari rubah kecilnya.


Reda berlutut, "Terima kasih banyak. Boleh pakaikan untukku?"


"Tentu~"


Rubah kecil itu tersenyum sambil memakaikan topinya.


Sebuah pemandangan yang indah.


**


Di ruangannya, Aragaki bersama keempat pelayan setianya masih membahas tentang hadiah untuk Reda.


"Memberikan perhatian untuknya...itu terdengar bagus. Aku ingin yang terbaik untuknya." kata Aragaki dalam hati


Sambil berpikir, dia mulai memiliki gambaran tentang hadiah untuk gadis itu.


"Jika aku membeli banyak pakaian bagus serta hal-hal indah untuknya, apakah kalian berpikir dia akan senang?"


"Tentu saja!" Nagi menjawab dengan sangat yakin


"Reda-sama akan menyukai itu." Ginko juga setuju


Hakuren juga mengangguk, tapi berbeda dengan Kuroto.


Tengu hitam itu memiliki ide lain yang berbeda dan cukup bagus.


"Aragaki-sama, aku pikir memberikan hadiah itu baik, tapi akan lebih baik jika pergi bersamanya."


"Pergi bersama?"


"Benar"


Kuroto menjelaskan idenya.


"Pergi bersama, Aragaki-sama dan gadis itu. Hanya kalian berdua. Itu akan jadi kenangan indah."


"Selain itu, bukankah itu akan jadi momen tepat untuk dekat dengannya? Aragaki-sama akan mengenal gadis itu lebih baik"


"Selain itu, kebahagiaan terbesar untuknya adalah bisa melihat Aragaki-sama tersenyum. Dia akan menjadi lebih bahagia lagi."


Mata Kuroto begitu serius kali ini. Dia mencoba meyakinkan tuannya bahwa ide miliknya itu bagus.


Aragaki sendiri merasa itu sempurna.


"Dengan begitu aku bisa lebih lama bersamanya."


Wajah senang terlihat dari ekspresi Aragaki. Akhirnya, dia mengangguk setuju.


Telah diputuskan bahwa Aragaki akan mengajaknya pergi hari itu.


**


Reda dan rubah kecilnya berada di belakang sambil mencuci sayuran yang telah dipetiknya.


"Hari ini bisa makan enak. Horee~"


Reda tersenyum mendengar rubah kecilnya senang.


Di saat sedang mencuci sayurannya, Reda menyadari bahwa semua berjalan semakin baik.


"Sudah dua minggu dan segalanya berubah."


"Rasanya masih sulit percaya bahwa aku sudah bisa sedekat ini dengan Nushi-sama."


Reda tersenyum begitu bahagia.


Selesai mencuci semua sayuran tersebut, keduanya pergi ke dapur untuk meletakkan semuanya.


Sesampainya di dapur, Nagi dan Ginko datang.


"Reda-sama..."


"Nagi-sama, Ginko-sama, ada yang bisa kubantu?"


Seolah ada hal penting, Nagi berkata dengan serius.


"Aragaki-sama mencarimu di ruangannya."


"Eh?!" Reda terkejut mendengarnya. "Apa aku...melakukan kesalahan?"


"Aku tidak tau. Sebaiknya cepat ke sana."


Dengan wajah cemas, Reda memberikan topinya pada rubah kecil itu dan mengikuti Nagi.


Ryuunosuke khawatir dan ingin ikut dengan mereka namun dihalangi oleh Ginko.


"Ryuunosuke jangan ikut."


"Kenapa?! Ryuunosuke khawatir! Reda-sama dan Aragaki-sama baru punya hubungan baik dan-"


"Sst, bukan begitu Ryuunosuke."


"Eh? Bukan apanya?"


Ginko berlutut dan berbisik ke telinga rubah kecil itu.


Seketika, ekornya bergoyang cepat karena senang dan telinga berdiri tegak.


Ekspresi wajahnya telihat merona karena senang, diikuti suara imut yang baru-baru ini jadi kesukaannya.


"Kyaaa! Aragaki-sama mau pergi bersama Reda-sama berdua?! Ryuunosuke setuju!"


"Kyaaa~Aragaki-sama sudah mulai tidak senonoh!"


"Apa? Tidak...senonoh?" Ginko sekarang jadi bingung dengan pemilihan kata rubah kecil itu


"Ryuunosuke, bukan tidak senonoh. Yang benar itu semakin perhatian" youko itu mencoba meluruskan kalimat si rubah kecil


"Umm, begitu ya. Tapi, Ryuunosuke tidak peduli! Kyaa~Aragaki-sama mulai menyukai Reda-sama! Hore, horee~"


Ginko hanya bisa tersenyum dengan melihat rubah kecil itu yang melompat dan berlari mengelilinginya sambil memegang topi.


**


Sementara itu, Reda yang berjalan di belakang Nagi mulai cemas.


"Apa aku sudah berbuat tidak sopan?"


"Mungkinkah karena...karena aku terus hampir terjatuh tadi pagi?"


"Reda berani bersumpah itu benar-benar bukan sesuatu yang disengaja. Aku harus menjelaskan hal itu pada Nushi-sama."


"Jangan panik."


"Eh?"


"Percayalah, itu bukan hal yang kau takutkan."


"Tapi..."


Mereka sudah sampai di depan ruangan Aragaki.


Sebelum memanggil tuannya, Nagi melihat Reda dan tersenyum.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."


Reda hanya bisa pasrah kali ini. Dia mulai memanggil Aragaki.


"Aragaki-sama, aku sudah membawa Reda-sama."


"Masuk."


Suara Aragaki yang terdengar dari dalam mulai membuat gadis itu berdebar.


"Suara Nushi-sama yang indah. Aku bisa mendengar suara itu dari dekat lagi."


Nagi membuka pintu dan masuk ke dalam. Keduanya bersimpuh dan memberi hormat pada sang penguasa.


"Aragaki-sama, silahkan. Aku permisi."


Reda langsung berubah panik, "Eh?! Nagi-sama?!"


Nagi hanya tersenyum ke arah gadis itu dan menghilang.


Sekarang benar-benar hanya ada keduanya.


Aragaki berjalan dan berlutut untuk membantu gadis itu berdiri.


"Mau sampai kapan kamu berlutut. Ayo, bangunlah."


Aragaki menyentuh kedua lengannya kembali. Reda hanya bisa menatap malu sambil mencoba sebaik mungkin untuk menahan rasa malu.


"Aku...aku dengan dari Nagi-sama bahwa Nagi-sama memanggilku."


"Ma–maafkan aku jika aku melakukan hal buruk! Aku berani bersumpah itu–"


Aragaki tertawa kecil mendengar gadis itu.


"Ahahaha, tidak ada yang memanggilmu untuk meminta permohonan ampun."


"Lalu, apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?"


Aragaki tersenyum, "Apakah kamu mau menemaniku berkeliling?"


"Berke...liling?" Reda terdiam sejenak dan masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. "Nushi-sama ingin berkeliling dengan orang sepertiku? Apakah ini sungguhan?"


"Aku ingin berkunjung ke tempat seseorang. Kamu pernah bertemu dengannya. Wanita yang membantumu saat ini terluka."


"Wanita...ah! Wanita cantik itu, Jorogumo-sama?"


"Benar. Aku ingin berkunjung sekaligus mengucapkan terima kasih."


Ada alasan kenapa Aragaki mengatakan hal itu.


***


Sebelumnya, saat keempat pelayan setianya masih berdiskusi dengannya, Kuroto mengusulkan sesuatu.


"Bagaimana jika menggunakan alasan untuk menutupi niat Aragaki-sama?"


"Alasan?"


Kuroto mulai sangat antusias dengan rencananya.


"Gadis itu sangat pemalu. Jika mengetahui bahwa dia akan pergi dengan Aragaki-sama berdua saja, dia pasti akan begitu kaku."


"Namun, jika dia tidak tau bahwa ini adalah kencan berdua dengan Aragaki-sama maka semua akan lebih alami."


"Kencan katanya..." gumam Nagi dalam hati


Nagi juga berpikir hal yang mungkin bisa membantu dan dia terpikirkan sesuatu.


"Aragaki-sama, kita bisa melakukan rencana ini. Selain momen bersama, Anda bisa membeli hadiah yang diinginkan oleh Reda-sama langsung dari yang bersangkutan."


"Bagaimana itu?" mendadak, Aragaki jadi begitu serius. Lebih serius dari sebelumnya.


"Gunakan saja alasan bertemu Jorogumo-san. Dia membantu Reda-sama saat terluka bukan?"


"Jangan lupa bahwa Jorogumo-san adalah siluman yang membuat seluruh pakaian yang Anda kenakan."


"Pakaian kualitas tinggi dengan corak sangat indah dari tokonya adalah hadiah sempurna."


Mata Aragaki melebar. "Pakaian dengan corak indah untuk gadis itu..."


Dia membayangkan gadis itu tersenyum dengan pakaian cantik berwarna lembut di bawah pohon sakura miliknya.


"Dia akan sangat cantik."


Nagi melanjutkan usulannya.


"Anda cukup berpura-pura ingin mengunjungi seseorang dan memberinya hadiah."


"Itu bukan sepenuhnya bohong, tapi itu bisa membuat Reda-sama tidak banyak bertanya atau khawatir."


"Setelah itu, berkeliling sampai matahari terbenam ke tempat yang diinginkan oleh Reda-sama juga akan menjadi kencan sempurna."


"Kencan...sempurna..." Aragaki mulai sangat berharap sekarang. Dia mulai mendapatkan sesuatu yang tepat untuk lebih mengenal gadis itu.


"Apakah Aragaki-sama tidak mau memikirkan saranku?"


Nagi yang begitu serius melihat lurus ke arah mata sang majikan.


Bersama dengan ketiga temannya yang sependapat dengannya, Aragaki tersenyum.


"Aku akan mengikuti saran dari kalian semua. Terima kasih banyak. Kalau begitu, tolong panggilan gadis itu ke ruangan ini."


"Baik."


Keempat pelayanannya keluar. Hakuren dan Kuroto pergi entah kemana, seakan memiliki rencana lain.


***


Begitulah kira-kira. Kembali ke saat ini.


"Aku ingin berkunjung sekaligus mengucapkan terima kasih."


"Tapi kenapa..."


"Bukankah kamu harus menemui orang yang telah menyelamatkanmu?"


Reda terdiam. Dia merasa apa yang dikatakan oleh pria yang dicintainya itu benar.


"Aku mengerti. Aku akan menemani Nushi-sama."


Aragaki mungkin tidak memperlihatkan rasa bahagianya, namun di dalam hatinya benar-benar sangat senang.


"Aku ingin memberikan yang terbaiknya untuknya."


"Akhirnya... aku bisa mendapatkan momen yang tepat untuk berdua dengannya."


Semua sudah direncanakan dengan baik. Aragaki hanya berharap semua bisa berjalan sesuai keinginannya.


****