
Aragaki telah sampai di ruangannya. Dia tidak duduk seperti biasa, melainkan berdiri menatap bunga sakura di seberang ruangannya.
“Beberapa waktu lalu, kalian seperti mengisyaratkan sesuatu. Apakah aku masih membuat kalian khawatir?”
Aragaki berjalan melewati engawa luar untuk berkeliling kediamannya. Tempat itu begitu luas. Bahkan jika pergi ke sisi lainnya, terdapat kolam dan tempat bersantai yang jarang didatangi olehnya.
Untuk siang hari ini, sang penguasa hutan Higashi no Mori memutuskan untuk berjalan-jalan membebaskan kejenuhan pikirannya.
Setelah hampir menuju tempat bersantai, dia mendengar suara dari arah kebun. Aragaki sangat mengenali suara tersebut. Itu adalah suara rubah kecil dan gadis yang dianggapnya kotor.
Berganti tujuan, dia berjalan menuju sisi lain engawa yang bisa melihat langsung kebun pribadi miliknya.
Dia berjalan dengan tenang dan mengitip dari balik dinding pintu shoji.
“Gadis kotor itu…” matanya berubah menjadi sangat tajam dan ekspresinya penuh kebencian
Tapi, hal yang membuatnya terkejut adalah setelah ini. Dia melihat sesuatu yang begitu asing untuknya. Lebih tepatnya, hal yang diabaikannya sejak gadis desa itu datang.
Rubah kecilnya sedang mencabut wortel yang ada di kebun dengan gadis desa itu di sampingnya.
“Reda-sama, Ryuunosuke hampir dapat wortelnya. Yang ini besar…uum, susah sekali dicabut.”
“Hati-hati, Ryuunosuke. Aku saja yang melakukan–”
“Hiyaaa!!” teriak rubah kecil itu
Tampaknya tanaman yang coba ditariknya berhasil dia dapatkan.
“Reda-sama, Ryuunosuke berhasil~” rubah kecil itu tampak senang sekali dengan ekor dan telinganya yang bergoyang
Gadis itu tertawa melihat wajah rubah kecil yang penuh tanah.
“Ahahaha, sini sini. Biar kubersihkan dulu.”
Reda membersihkan wajah Ryuunosuke dengan pakaiannya sendiri dan mengusap-usap kepalanya.
“Ryuunosuke hebat. Kalau Nushi-sama mengetahuinya, dia pasti akan memujimu juga.”
“Ehehe~nanti Ryuunosuke akan cerita pada Aragaki-sama!”
“Iya. Ayo kita ambil lagi yang lain. Nushi-sama pasti senang dengan hasil panennya. Semangat!”
“Semangat!”
Aragaki melihat rubah kecilnya begitu dekat bahkan sampai menempel seperti itu pada gadis desa yang dianggap kotor olehnya. Dia masih berdiri memperhatikan mereka dari kejauhan.
Rubah kecil itu terlihat begitu senang setiap mendapat pujian dan elusan di kepalanya.
Gadis itu juga sering sekali memeluk dan membersihkan pakaian rubah kecil yang kotor dengan pakaiannya sendiri.
“Selesai. Kentang dan timunnya tidak begitu banyak, tapi wortel dan sayur kolnya dapat banyak. Ini bagus, iya kan?” ucap gadis itu
“Kita juga sudah selesai menyirami tanamannya. Sekarang kita cuci dulu, Reda-sama. Habis itu kita bawa ke dapur. Ryuunosuke akan merapikan ruang makan.”
Reda tersenyum. Mereka berdua pergi ke sumur di belakang. Ketika keduanya pergi ke sumur, siapa yang menyangka bahwa Aragaki akan mengikutinya juga.
Sungguh di luar kebiasannya.
Di sana, Aragaki juga melihat apa yang dilakukan gadis desa itu secara langsung. Dia membersihkan semua sayurannya dengan hati-hati.
“Huwaa~jadi bersih! Reda-sama mencucinya seperti ini ya.”
“Benar. Dengan begini jadi cepat bersih, kan? Nanti kalau Ryuunosuke membersihkannya juga, lakukan seperti ini ya.”
Aragaki cukup terkejut.
“Dia mengajari rubah kecilku melakukan sesuatu?”
Selesai itu, mereka ke dapur. Aragaki memutuskan untuk pergi lebih dulu agar tidak diketahui keduanya.
Begitu sampai di dapur, keduanya terkejut melihat keempat pelayan Aragaki membawakan semua piring dari ruang makan.
“Eh?! Kenapa kalian membawa piringnya?!” Ryuunosuke terkejut melihat Nagi dan Hakuren yang baru datang membawa piring kotornya
“Kami membantu pekerjaanmu. Harusnya kau senang, rubah kecil!” ucap Nagi
“Ryuunosuke kaget. Aku pikir kalian tidak akan merapikannya.” Rubah kecil itu masih belum bisa percaya, tapi tampaknya hal itu tidak begitu dianggap serius oleh Nagi dan yang lain.
Selesai mengantarkan piring kotor, Hakuren mendekati Reda yang baru menyimpan sayuran.
“Reda-sama, aku benar-benar minta maaf soal yang tadi.”
“Tidak apa-apa, Hakuren-sama. Aku senang Nushi-sama tidak menganggapnya serius. Aku menjadi lega karena masih bisa membuat Nushi-sama senang dengan makanan yang kumasak.”
“Reda-sama…”Hakuren merasa sedikit lega
Ginko membisikkan sesuatu ke telinga Reda.
“Sore ini, Nushi-sama akan pergi sebentar sampai malam. Aku rasa Reda-sama bisa melakukan semua dengan bebas. Kami akan mengawasi kalau Nushi-sama kembali. Jangan cemas, kami akan membantumu diam-diam.”
“…” Reda tertegun
Mendengar itu, dia seperti akan meneteskan air mata.
“Jadi, begini rasanya bila diterima oleh orang lain. Dewa, seperti inikah rasa senang itu?”
Keempat siluman itu memberikan senyumannya, tanda bahwa mereka benar-benar akan mendukung Reda sekarang. Ryuunosuke sudah menangis lebih dulu dari Reda.
Karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan lain jika tuannya datang, keempatnya segera pergi dan melakukan hal yang biasa mereka lakukan.
Reda memeluk rubah kecilnya.
“Ryuunosuke, apakah ini kemajuan yang baik?”
“Umm! Ini pasti kehendak langit, Reda-sama! Ryuunosuke senang sekali, Ryuunosuke senang sekali!”
Keduanya tersenyum bersama.
**
Di luar dapur, Aragaki tidak benar-benar tertarik untuk melihat apa yang dilakukan oleh kedua orang itu. Dia memutuskan untuk kembali ke tempat yang ingin dia datangi pertama.
Sesampainya di sana, Aragaki duduk dan mulai berpikir.
“Aku sudah tau akan jadi seperti ini, tapi aku hanya akan mengabaikannya selama 3 bulan sebelum dia mati.”
“Tapi, aku selalu ingin tau apa yang disukai dari gadis kotor itu? Aku sudah tau bahwa kemungkinan Nagi dan yang lain akan memihaknya suatu saat nanti.”
“Selama ini, akulah yang paling membenci mereka. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mengubah pandanganku terhadap gadis kotor itu!”
“…” Aragaki diam
Di dalam hatinya dia berkata demikian, tapi di pikirannya dia mengingat ekspresi senang merona yang ditunjukkan rubah kecilnya itu.
“Itu wajah yang sama seperti di masa lalu. Wajah senang saat Ryoko masih hidup dulu.” gumamnya
**
Pelayan setia lainnya yang menjadi korban 200 tahun lalu adalah ibu dari Ryuunosuke, Ryoko. Salah satu siluman rubah lain yang dimiliki Dewa Pelindung itu serta pelayan paling setia Aragaki sejak dulu yang dianggapnya seperti ibunya sendiri.
Aragaki mengingat hari dimana mayat Ryoko yang saat itu sedang dalam wujud rubahnya dilempar oleh leluhur Desa Kamakura 200 tahun lalu, dengan alasan penyucian dari siluman yang merusak kedamaian hutan manusia.
Saat itu, rubah kecilnya baru saja berusia kurang dari 7 tahun.
Rubah kecilnya harus kehilangan sang ibu akibat keegoisan manusia saat itu dan menyebabkan Aragaki murka hingga meratakan semua manusia itu menjadi tanah beserta desanya.
Mengingat kejadian itu, dia membandingkan ekspresi wajah Ryuunosuke saat tau sang ibu meninggal dengan wajahnya ketika bersama gadis desa itu.
"Dulu kamu seperti lupa bagaimana caranya untuk tersenyum. Bahkan ketika gadis-gadis kotor itu mulai masuk ke dalam hutan ini, tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuatmu seperti itu.”
“Hanya karena kamu begitu menyukai gadis kotor yang sekarang, sejauh itukah perubahan emosimu sekarang, rubah kecil?”
Aragaki tau, sejak penduduk desa itu memberikan ‘hadiah’ berupa calon ‘pengantin’, tidak ada satupun dari mereka yang benar.
Percobaan melarikan diri, pembunuhan dengan racun, menolak rubah kecil dengan cara memukuli dan menyiksanya.
Itulah yang dilakukan mereka di masa lalu, hingga membuat Aragaki membunuh semuanya dengan mengumpankan mereka pada iblis Nue.
Tapi, Aragaki harus mengakui bahwa gadis desa yang sekarang menjadi calon ‘pengantin’ nya itu berhasil membuat rubah kecil begitu senang.
Layaknya kembali menjadi anak-anak, Ryuunosuke seperti mendapat kebahagiaannya sendiri.
“Ryoko, jika kamu ada di sini sekarang…aku ingin tau apa pendapatmu tentang tuanmu ini?”
**
Reda yang ada di dapur
bermaksud menyirami tanaman di taman dan mengepel lantai engawa. Dia meninggalkan
rubah kecil sendirian setelah selesai mencuci piring.
Begitu dia sampai di
taman untuk menyirami bunga, dia melihat sosok yang begitu dia kagumi.
“Nushi…-sama…”
Reda bersembunyi di balik salah satu ruangan yang bisa melihat posisi Aragaki sekarang dengan membawa air di tangannya.
Matanya melebar dan jantungnya berdetak kencang. Wajahnya memerah setiap memperhatikan sosok Aragaki yang duduk di tempat teduh di seberang sana.
“Dewa…seandainya aku bisa melihatnya tersenyum padaku, aku ikhlas mati tanpa penyesalan setelahnya.”
“Aku mungkin sangat lancang, tapi sejak dulu…ayah dan ibu bercerita bahwa Dewa Pelindung itu sangat baik. Nushi-sama adalah sosok yang mengagumkan dan aku masih percaya bahwa beliau adalah orang yang baik.”
“Dewa, aku mencintainya sejak melihatnya malam itu. Meskipun pada akhirnya aku harus terhempas karena kebenciannya, tapi aku masih belum menyerah untuk membuatnya tersenyum.”
Air mata Reda menetes tanpa disadari olehnya.
“Izinkan aku mencintainya, Dewa. Izinkan aku berada di sampingnya meski hanya sesaat.”
“Bila suatu hari nanti jodoh darimu datang untuknya, jadikan dia wanita paling beruntung agar bisa melihatnya tersenyum setiap waktu.”
Reda bergumam pelan.
“Nushi-sama, Reda mencintaimu. Biarkan aku mencintaimu dalam diam, Nushi-sama. Reda berdoa, di sisa hidupku yang hanya 3 bulan ini…semoga hatimu yang membeku dapat mencair sedikit demi sedikit.”
Wajah cantiknya dihiasi senyum merona dan air mata di saat yang sama.
“Ayah, ibu…putrimu telah menemukan cintanya. Meskipun tidak mungkin dimiliki, tapi Reda akan berjuang untuk membuatnya bahagia.”
****