
"Tangan ini aku genggam atas keinginanku sendiri. Ini tidak akan merusak apapun."
"Tanganku menggenggamnya untuk menjagamu agar tidak jauh dariku."
Spontan mengeluarkan kalimat seperti itu, Aragaki menyadari bahwa dia seperti sedang mengungkapkan perasaannya.
"Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku mengatakan semua itu?"
"Tanpa sadar aku jadi bersikap seolah-olah orang yang sedang berjalan dengan pasangannya."
Begitu melihat ke arah gadis itu, Aragaki terkejut. Wajah Reda langsung memerah dan telapak tangannya menjadi sangat dingin.
"Tangannya...dingin."
Dia merasakan dinginnya tangan gadis yang dia pegang dan entah kenapa hal tersebut membuat Aragaki semakin ingin menggenggamnya.
Sekarang, yang harus dilakukan Aragaki adalah mencari alasan lain.
"Aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal aneh. Aku hanya ingin bilang kalau kamu pasti akan terjatuh jika jauh dariku seperti sebelumnya."
Apapun penjelasan yang diberikan Aragaki padanya, Reda masih merasa sangat malu.
Dia hanya bisa terfokus pada kalimat sebelumnya.
[Tanganku menggenggamnya untuk menjagamu agar tidak jauh dariku]
Kalimat itu dan suara sang pujaan hatinya lah yang terdengar di telinganya bagai melodi indah.
"Aku...aku tidak percaya Nushi-sama benar-benar mengatakan itu! Nushi-sama...tidak ingin jauh dariku. Aku malu~"
Gadis lugu itu hanya bisa diam memerah tanpa menjawab. Hanya bisa tertunduk malu dengan mata berkaca-kaca.
Ryuunosuke hanya bisa melihat dengan ekor bergoyang, telinga berdiri dan menutup wajahnya dengan keranjang anyaman yang dibawanya sambil bersuara.
"Kyaaa~malunya! Kyaa, kyaaa~"
Nagi dan Ginko yang menyaksikan saat romantis itu langsung menutupi wajah mereka sambil menahan senyum senangnya.
Hakuren dan Kuroto di atas pohon bersembunyi sambil bergumam pelan.
"Aragaki-sama mau menikahi Reda-sama?" bisik Kuroto
"Sst! Diam sebentar. Aku masih mau lihat perkembangan ini."
Hakuren mengintip sedikit dari atas pohon.
"Wajah Reda-sama seperti akan menangis. Merah seperti buah plum." gumam Hakuren pelan
Sementara Aragaki mencoba setenang mungkin. Dia berusaha mengembalikan keadaan ini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Lebih tepatnya, agar gadis itu tidak menyadari bahwa semua makna kalimatnya tadi itu sebuah kejujuran.
"Aku benar-benar tidak ada maksud buruk."
Reda hanya bisa mengangguk.
Meskipun dia berpikir bahwa mungkin itu bukanlah kalimat yang penting bagi sang penguasa, tapi untuknya yang sangat mencintainya, kalimat itu bagaikan pernyataan yang selalu ingin didengarnya.
Aragaki memegang tangan Reda yang lain dan mengelusnya dengan lembut.
"Tanganmu dingin. Apa kamu baik-baik saja?"
Dengan malu, gadis lugu itu menjawab, "Ma– maafkan aku."
"Bukan itu yang mau aku dengar. Tapi tidak masalah. Aku senang kamu tidak apa-apa."
"Jika memang sakit, kita bisa kembali sekarang. Itupun jika memang kamu menginginkannya."
Kalimat itu sebenarnya hanya untuk menutupi maksud sesungguhnya dari hati Aragaki. Tapi jawaban Reda membuatnya cukup terkejut.
"Aku...aku mau pergi melihat air terjunnya." Reda menjadi terlihat sedikit antusias
Untuk Reda, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup karena dia membayangkan hidupnya hanya tinggal sebentar lagi.
Aragaki tersenyum mendengar jawaban itu.
"Syukurlah dia masih mau berjalan bersamaku." katanya dalam hati
Sang penguasa baru mau mulai berjalan kembali.
Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat rubah kecilnya menutupi wajahnya dengan keranjang yang dibawanya sambil menggoyang-goyangkan ekornya.
"Ryuunosuke? Wajahmu kenapa?"
"Wajah Ryuunosuke memerah, Aragaki-sama. Kyaaa~"
"Memerah? Kenapa?"
"Ryuunosuke mendengar Aragaki-sama mau melamar Reda-sama. Kyaaa~"
Gadis itu kembali malu dan mencoba menjelaskannya pada rubah kecil yang terlihat sangat antusias itu.
"Ryuunosuke, bukan begitu! Itu-"
Kalimat Reda dihentikan oleh Aragaki yang memutusnya.
Aragaki langsung berjalan dengan tetap menggandeng tangan gadis itu.
Di dalam hatinya kini, ada perasaan sangat tidak biasa.
Senang dan berbunga, itulah yang sekarang dirasakannya.
[Ryuunosuke mendengar Aragaki-sama mau melamar Reda-sama]
Kalimat itu membuat Aragaki begitu berdebar.
"Bukan berarti aku benar-benar akan menikahi manusia. Tapi, entah kenapa...kalimat Ryuunosuke tadi tidak membuatku kesal sama sekali."
"Kalimat itu justru membuatku bahagia. Aku ingin tau kenapa bisa seperti itu."
"Apakah hal itu adalah keinginan kecil di hatiku yang mulai tumbuh? Atau..."
Sebelum kalimatnya selesai, sang penguasa melirik ke arah gadis di sampingnya.
Dia melihatnya. Wajah malu yang merona milik gadis di sampingnya itu begitu indah.
Dan meskipun sekarang gadis itu sedikit menunduk, hal tersebut tidak membuat aura kecantikan miliknya hilang.
"Cantiknya." kata Aragaki dalam hati
Sungguh kata pujian yang sangat sederhana namun kaya akan makna.
Sepanjang jalan, senandung kebahagiaan rubah kecil semakin keras dan tidak berhenti. Bahkan ada lirik lagu yang diciptakan olehnya sekarang.
"Aragaki-sama menikah dan Ryuunosuke akan membawa bunga. La~la~la~. Reda-sama pakai baju pengantin dan Ryuunosuke akan membawa bunga. La~la~la~. Kyaaa~"
Akhiran lagu itu selalu disematkan suara imutnya.
Reda semakin berdebar dan tangannya semakin dingin.
"Ryu–Ryuunosuke..." gadis itu mencoba membuat tenang rubah kecilnya
"Itu lagu ciptaan Ryuunosuke. Nanti akan Ryuunosuke nyanyikan saat Reda-sama menikah. Ehehehe~"
-Bluuush
Reda akhirnya hanya bisa menyerah karena sudah sangat malu hingga kakinya mulai lemas.
Setelah berjalan beberapa langkah, rubah kecil mendengar suara air.
"Suara air! Sudah hampir sampai, Reda-sama!"
Rubah kecil itu langsung berlari sendiri ke depan meninggalkan kedua pasangan yang sedang bergandengan tangan di belakangnya.
"Air terjunnya tidak akan kemana-mana. Kita hampir sampai. Tidak perlu terburu-buru." kata Aragaki dengan lembut
Reda hanya mengangguk. Ketika tiba, betapa indahnya pemandangan tempat itu.
"Ini... air terjun yang pernah diceritakan Ryuunosuke? Cantik sekali~"
Untuk pertama kalinya Reda melihat pemandangan alam yang begitu mempesona seperti yang ada di depannya saat ini.
Dengan berjalan sambil berpegangan tangan pada Aragaki, Reda berjalan di tepi sungai yang ada di bawah air terjun tersebut.
Ada banyak tumbuhan liar, bunga dan bahkan ada sayuran liar juga di dekatnya.
Reda begitu senang sampai lupa bahwa tangannya sedang berpegangan dengan tangan Aragaki.
Gadis itu langsung berjalan dengan semangat di pagi itu untuk mendekati sayuran liar di dekat sungainya.
"Ini suberiyu! Dan ada taki no ko juga!"
"Apa itu sayuran liar juga?" tanya Aragaki
"Ini sangat lezat jika dijadikan tempura. Huwaa~ada nirinsou dan yomogi (sejenis daun penyedap untuk sup) juga!"
Reda berlutut dan memetik beberapa daunnya.
"Ini akan sangat lezat jika diolah ke dalam sup!" katanya dengan wajah senang
"Benarkah, bagaimana kamu tau?"
"Mendiang ayah dan ibu sering membawanya dari gunung selesai mencari buruan. Aku pernah membuatnya dan rasanya enak sekali."
"Begitu. Kalau begitu, bisa buatkan untukku juga?"
"Tentu saja, Nushi–" Reda terdiam. Apa yang membuatnya terdiam adalah karena pertanyaan Aragaki padanya.
Saat dia menengok ke sisi samping, Aragaki sekarang berada dalam jangkauan sangat dekat dengan wajahnya.
Sang penguasa itu ikut berlutut tanpa disadari oleh sang gadis cantik. Dengan senyumnya, Aragaki melihat wajah gadis itu.
"Jadi, apakah aku bisa merasakan masakan buatanmu?"
Sebuah pertanyaan yang begitu aneh namun sangat ingin didengar oleh gadis cantik dari desa itu.
Sementara itu, rubah kecil kesayangan mereka sedang asyik bermain air sambil menciptakan lagu pernikahan.
****