The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 65. Perasaan Murni Calon Pengantin untuk Dewa Pelindung



Setelah Aragaki meninggalkan mereka berempat, Nagi dan Ginko keluar dari kamar rubah kecil dan menatap keduanya.


“Kalian baik-baik saja?” tanya Ginko


“Kami baik-baik saja, Ginko-sama. Terima kasih banyak.” jawab si rubah kecil


Nagi menghela napas lega berlutut di depan rubah kecil.


“Aku benar-benar khawatir Aragaki-sama akan melemparmu tadi. Lain kali kalau bicara itu dipikir dulu!”


“Ryuunosuke tidak salah sepenuhnya. Aragaki-sama memang harus bersama Reda-sama!”


Rubah kecil itu melihat gadis kesayangannya, “Reda-sama baik-baik saja? Ryuunosuke minta maaf padamu.”


Pelukan hangat datang pada rubah kecil yang menatap Reda. Sambil memeluk rubah kecil itu dengan erat, Reda menangis.


“Rubah kecilku yang manis, terima kasih untuk hadiahnya. Hiks, ini seperti mimpi. Ryuunosuke adalah berkah dari Dewa untukku. Terima kasih banyak sudah mau berjuang untukku juga. Hiks…”


“Uu….” Ryuunosuke ikut memeluknya erat dan menangis. “Reda-sama pantas bahagia. Reda-sama baik, Reda-sama sangat mencintai Aragaki-sama. Hanya Reda-sama yang pantas untuk Aragaki-sama.”


Reda melepaskan pelukannya dan melihat baik-baik wajah si rubah kecil sambil mengelus-elus pipi lembutnya. “Ah, rubah kecilku sayang. Aku mencintaimu juga. Aku sangat sayang padamu. Terima kasih untuk semuanya.”


Gadis itu memeluknya kembali. Nagi dan Ginko yang melihatnya mencoba menahan rasa haru mereka dan memasang wajah penuh senyum ceria.


Selesai dengan peluk tangis haru tersebut, Ryuunosuke menggenggam tangan Reda dan menunjukkan kamar lainnya.


Reda hampir tidak percaya bahwa dirinya berkeliling kediaman Aragaki yang luas itu bukan untuk mengepel lantainya, melainkan melihat-lihat untuk memilih kamar yang ingin ditempati.


Setelah lama melihat-lihat hingga bingung, Reda masuk ke ruangan yang pernah ditempatinya saat dia dirawat di dalam rumah tersebut.


Dia mengingat kenangan selama 5 hari saat dirinya sakit.


“Di tempat ini, Nushi-sama mau datang melihatku dan menyuapiku makan. Beliau juga mau duduk di sampingku dan bicara denganku.”


Reda menyukai tempat itu karena berada dekat engawa luar sehingga saat pintu bagian depannya terbuka, ruangan tersebut akan menghadap ke arah taman penuh bunga sakura sebagai hiasanya.


“Aku…menyukai ruangan ini.” katanya dengan nada lembut


“Reda-sama ingin menggunakan ruangan ini kembali?” tanya Ryuunosuke


“Iya. Aku senang dengan tempat ini. Tempat ini menyimpan kenangan indah selama aku sakit. Nushi-sama…mau bicara dan dekat denganku. Rasanya seperti mimpi.”


Senyum meronanya terlihat menghiasi wajahnya. Melihat gadis itu senang, Nagi dan Ginko mengangguk.


“Kalau begitu ambil ini saja.”


“Reda-sama sebaiknya menggunakan ruangan ini. Aku yakin, Nushi-sama akan setuju.”


Reda mengangguk. Setelah meminta izin kepada sang penguasa, dirinya resmi pindah ke ruangan tersebut.


Aragaki meminta Hakuren dan Kuroto untuk memindahkan barang-barang milik gadis desa tersebut.


“Kami sudah memindahkan sebagian yang sekiranya masih dapat dipakai, Aragaki-sama.” ucap Kuroto saat dirinya dan Hakuren menghadap sang penguasa untuk melapor. Aragaki cukup terkesan dengan tindakan cepat pelayannya.


“Kalian melakukannya sebelum aku perintahkan?”


“Kami sudah menebak bahwa Anda akan mengizinkan gadis itu pindah. Jadi lebih baik jika kami melakukannya.”


Alasan Hakuren cukup bisa diterima meskipun sebagian dari alasan tersebut tidak sepenuhnya benar.


Kedua tengu tersebut memberikan beberapa barang kepada Reda yang berada di kamar barunya sendiri setelah rubah kecil dan kedua youko lainnya pergi sebentar.


“Reda-sama, ini kain dan topi yang diberikan oleh Ryuunosuke. Untuk pakaian milikmu, sepertinya belum sepenuhnya kering jadi akan kami ambil saat sudah kering nanti.” ujar Hakuren


“Terima kasih banyak, Hakuren-sama.”


Hakuren mendekati Reda dan memberinya semangat, “Reda-sama, mulai hari ini, tempat ini adalah rumahmu juga. Jangan khawatirkan apapun lagi. Aragaki-sama tidak akan membencimu selamanya. Percayalah.”


Reda mengangguk dengan penuh senyum. Kuroto juga memberikan kalimat dukungan semangatnya untuk gadis itu.


“Lihat, kau akhirnya bisa mendapatkan sebuah hasil yang bagus sesuai usaha yang kau lakukan. Karena itu, jangan sering-sering menangis.”


“Terima kasih banyak, Kuroto-sama.”


“Kami permisi dulu. Reda-sama, nikmatilah ruangan barumu dan istirahatlah. Rubah kecil itu pasti akan kembali sebentar lagi.”


Setelah Hakuren berpamitan, kedua tengu tersebut terbang dan pergi meninggalkan gadis itu sendiri.


Reda duduk di atas tatami dan melihat kamar barunya.


“Ini sungguhan.”


“Dewa, terima kasih banyak untuk semua hadiah indah ini. Aku bisa menjadi lebih dekat dengan Nushi-sama dan semuanya. Terima kasih banyak.”


“Semoga…” Reda terdiam sejenak. Dalam benaknya, hanya wajah hangat milik Aragaki yang muncul. Gadis cantik itu mengingat senyuman indah dan hangat dari pria yang dicintainya.


Mengingat hal yang berharga itu, tanpa sadar Reda mengatakannya dengan begitu jelas, “Semoga aku bisa selalu melihat senyuman indah milik Nushi-sama setiap saat.”


“Semoga Nushi-sama bisa selalu bahagia seperti harapan Ryuunosuke dan semuanya.”


Reda meletakkan kedua tangannya sendiri di dadanya. Bagai memeluk sesuatu, wajahnya menjadi sangat merah karena malu.


“Reda mencintai Nushi-sama. Senang sekali bisa berada dekat dengannya. Semoga suatu hari nanti, Nushi-sama bisa mendapatkan cinta yang baik.”


“Sekalipun bukan aku, semoga gadis itu bisa membuat Nushi-sama selalu tersenyum dengan hangat dan indah seperti itu.”


Dari sisi luar ruangan Reda, rubah kecil dan kedua youko itu melihat semuanya. Bukan hanya melihat, mereka mendengar dengan sangat jelas semua itu.


“Reda-sama…” rubah kecil itu terlihat begitu sendu menatap gadis kesayangannya


“Tidak perlu khawatir, Ryuunosuke.” Ginko berbisik pada Ryuunosuke, “Kami mulai menyadari bahwa hanya Reda-sama yang pantas untuk mengisi hati Nushi-sama.”


“Ginko-sama…”


“Rubah kecil, dia yang akan menjadi pengantin Aragaki-sama. Kami akan jamin itu. Kau tidak akan berjuang sendirian mulai sekarang.”


Ucapan Nagi membuat air mata rubah kecil tidak terbendung. Dia merasa rasa sakit dan lelahnya selama ini mulai membuahkan hasil yang manis.


Selain itu, tanpa disadari oleh siapapun, sang penguasa melihat dan mendengar semua ucapan gadis itu dari ruangannya.


Ekspresi Aragaki berubah ketika mendengar perasaan sesungguhnya dari gadis itu. Ada rasa hangat di dadanya. Dan hal itu pula yang mempengaruhi debaran di jantungnya.


Karena tidak ada cermin, Aragaki tidak bisa melihat ekspresi yang dibuatnya. Namun dia seharusnya tau bahwa dia memerah saat ini.


Benar, Aragaki memerah karena terkejut dan malu. Dia ingat dengan jelas kalimat gadis itu barusan.


[Semoga aku bisa selalu melihat senyuman indah milik Nushi-sama setiap saat]


[Reda mencintai Nushi-sama. Senang sekali bisa berada dekat dengannya. Semoga suatu hari nanti, Nushi-sama bisa mendapatkan cinta yang baik]


Aragaki mencoba menenangkan dirinya dengan memejamkan matanya.


“Aku rasa…aku mulai berubah karena senyuman dan kata-katanya itu.”


**


Seharian itu, Reda bersama rubah kecilnya membersihkan kamar baru dan menata banyak benda.


“Ryuunosuke mengambil lemari kecil ini untuk Reda-sama, laci dan bantal duduk ini untuk Reda-sama. Oh, meja baru untuk Reda-sama akan dibawakan oleh Nagi-sama.”


“Iya, terima kasih banyak.”


Tampaknya dibandingkan dengan Reda, rubah kecil itulah yang paling bersemangat menyambut ruangan baru gadis kesayangannya. Dia yang sangat bersemangat hingga mengatur kamar baru Reda menjadi sangat nyaman.


“Reda-sama akan tidur di sini malam ini, jadi semua harus sempurna.”


“Terima kasih, rubah kecil manisku.”


“Reda-sama, kita akan berjuang lebih keras lagi. Aragaki-sama pasti sudah mulai tertarik pada Reda-sama.Kita akan membuat Aragaki-sama menyukai Reda-sama!”


Mata si rubah kecil begitu membara seperti akan berperang. Bisa dikatakan dialah yang paling bersemangat.


Reda tersenyum melihat semangat rubah kecil itu. Bersamaan dengan itu, Aragaki berjalan untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh keduanya.


Awalnya dia datang diam-diam, namun tampaknya rubah kecil itu lebih peka terhadap langkah kaki dan suara.


“Aragaki-sama datang!”


“Nushi-sama datang?” Reda terkejut. Tidak lama setelah itu, sang penguasa benar-benar datang ke dalam.


“Bagaimana ruangan barunya?”


Reda langsung bersujud begitu melihat Aragaki, “Nushi-sama, ruangannya sangat bagus. Terima kasih banyak.”


Aragaki melihat gadis itu sambil mengingat kalimat yang dikatakannya beberapa waktu lalu. Mata Aragaki seakan hanya terfokus pada gadis itu dan sebuah kalimat mengejutkan terucap dari mulut sang penguasa.


“Aku ingin makan kudapan siang bersamamu. Apa kamu mau menemaniku?”


****