The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 43. Mulai Sedikit Memperhatikan



Di pagi hari, Reda sudah bersama Ryuunosuke yang menjemputnya pagi-pagi.


“Reda-sama, semalam tidur nyenyak tidak?”


“Nyenyak sekali, Ryuunosuke. Tidur yang paling nyenyak yang aku alami. Saat bangun, aku pikir aku masih bermimpi. Semalam rasanya senang sekali~”


“Ehehe~Ryuunosuke juga senang, Reda-sama.”


“Kita berjuang hari ini ya. Semoga saja Nushi-sama mau bicara dengan kita berdua.”


“Bukan begitu doanya, Reda-sama!”


“Eh?”


“Berdoanya itu ‘semoga Aragaki-sama suka padamu’. Begitu!”


Reda langsung memerah. Rubah kecilnya senang sekali membuat jantungnya berdebar kencang pagi-pagi.


Saat sampai di engawa, mereka bertemu dengan Hakuren dan Kuroto.


“Selamat pagi, Hakuren-sama, Kuroto-sama.”


“Selamat pagi, Reda-sama. Selamat pagi, Ryuunosuke.”


“Yo, kalian berdua. Hari ini lebih pagi lagi ya?” tanya Kuroto dengan santai


“Kami akan menyiapkan masakan untuk Aragaki-sama dan coba membangunkannya!” jawab rubah kecil dengan antusias


“Benar juga. Ryuunosuke tidak lagi membangunkan Aragaki-sama sejak beliau selalu bangun lebih pagi


ya.” kata Hakuren


Kedua tengu itu melihat pakaian yang dipakai oleh Reda. Itu adalah pakaian yang diberikan oleh mereka juga. Dengan senyum, Hakuren mendekati Reda dan bicara dengan nada pelan.


“Apa pakaiannya nyaman, Reda-sama?”


“Nyaman. Pakaian ini sangat nyaman dan membuatku mudah bergerak. Terima kasih banyak, Hakuren-sama, Kuroto-sama.”


“Begitu. Syukurlah.”


Setelah sedikit berbicara, kedua tengu itu terbang. Kuroto bahkan sempat-sempatnya berteriak.


“Kami akan datang saat sarapan nanti!”


Reda dan rubah kecilnya hanya tertawa mendengarnya kemudian kembali menuju dapur. Di dapur, Reda tampak merebus daun teh.


“Itu untuk siapa?”


“Untuk Nushi-sama dan Ryuunosuke. Aku buat untuk semua juga. Ini bisa menghangatkan tubuhmu.”


Rubah kecil itu tampak begitu senang karena diperhatikan. Dia terlihat tidak sabar menunggu teh miliknya walaupun dia sudah sering membuatnya.


“Senangnya. Biasanya Ryuunosuke yang membuat teh. Akhirnya Ryuunosuke bisa merasakan teh buatan orang lain.”


Reda hanya tersenyum dan mulai menyuguhkan tehnya.


“Enaknya~”


“Sungguh?”


“Iya enak. Setelah itu, dia mulai menyiapkan teh untuk diantar ketika mereka hendak membangunkan Aragaki pagi ini.


“Ryuunosuke tidak mau aku yang membawanya?”


“Tidak apa-apa. Ryuunosuke tidak ingin teh buatan Reda-sama sampai dibuang. Pokoknya Aragaki-sama harus minum teh buatan Reda-sama.”


Reda hanya bisa tersenyum mendengarnya. Begitu sampai di depan pintu ruangan Aragaki, Reda dan Ryuunosuke langsung duduk bersimpuh.


Ryuunosuke membuka pintunya perlahan.


“Aragaki-sama…”


Aragaki yang sudah bangun lebih dulu baru selesai memakai pakaiannya.


“Ryuunosuke, selamat pagi.”


“Pagi, Aragaki-sama. Ryuunosuke dan Reda-sama datang mau membawakan ini untukmu.”


Aragaki menghampiri rubah kecil itu. Saat dibuka, dia melihat gadis desa yang dianggapnya kotor masih belum mengangkat kepalanya.


“…”


Sang penguasa melihat nampan yang dibawa oleh rubah kecil itu. “Apa itu, Ryuunosuke?”


“Ini teh hijau hangat. Reda-sama bilang ini bagus untuk membuatmu segar kembali. Rasanya enak, Aragaki-sama. Minumlah dulu, ya!” rubah kecil itu terlihat begitu senang pagi ini


Sebenarnya Aragaki ingin sekali mengambil gelas itu dan menyiramnya ke kepala gadis desa yang dianggapnya kotor. Tapi, mengingat betapa senangnya rubah kecil kesayangannya semalam membuatnya hanya melihat teh itu dengan ekspresi dingin.


“Letakkan itu di dalam dan pergilah.” ucapnya


“Baik~” Ryuunosuke masuk dan meletakkan tehnya di atas meja kerja Aragaki lalu pergi. Setelah itu, Reda baru mengangkat kepalanya.


Ryuunosuke berjalan bersama gadis itu dengan penuh rasa senang dan senyum. Hal itu dilihat oleh Aragaki tanpa sepengetahuan mereka berdua.


“Gadis kotor itu lagi…”


Reda sempat bergumam pelan ketika berjalan menuju dapur. “Aku harap Nushi-sama tidak membuang tehnya dan menyukainya ya, Ryuunosuke.”


“Pasti akan diminum, Reda-sama! Aragaki-sama akan menyukai teh buatanmu. Rasanya enak, semua juga pasti akan menyukainya.”


Kata-kata itu membuat Reda sangat senang walaupun dia tidak begitu berharap.


“Selama ini, Nushi-sama selalu membuang semua yang aku buat untuknya. Apapun yang terdapat aroma tubuh atau tanganku pasti akan dibuangnya.”


“Aku sangat berharap beliau mau mencicipinya walau hanya sedikit.”


Itulah harapan kecilnya. Tidak ada yang mengetahui bahwa di ruangannya, Aragaki sedang meminum


teh tersebut.


“Enak…”


Di dalam ruangannya, Aragaki mengingat apa yang dilakukan oleh gadis yang dianggapnya kotor tersebut.


“Saat dia memanggilku sore kemarin, dia menjaga jaraknya sangat jauh denganku. Aku membenci aroma manusia miliknya dan dia menyadari itu.”


“Ketika aku pergi, dia mengantar kepergianku dengan tetap berdiri sangat jauh. Semalam, ketika aku berjalan ke arah mereka berdua, tanpa perlu diperintah dia menjauh dengan sendirinya.”


“Dan pagi ini, dia sadar bahwa aku benci melihatnya jadi dia tidak menunjukkan wajahnya kepadaku. Dia sudah menyadari posisinya dan tidak memaksakan diri untuk melibatkan dirinya langsung denganku.”


Entah apakah itu adalah pujian atau hanya sebuah pemikiran biasa, yang jelas teh itu telah diminum habis olehnya.


Saat waktu sarapan tiba, Reda yang telah membuat banyak masakan lezat berpesan kepada Ryuunosuke sebelum membawanya.


“Ryuunosuke, setelah ini aku akan sarapan. Tapi, berjanjilah mulai sekarang Ryuunosuke harus makan bersama Nushi-sama ya.”


“Kenapa?”


“Karena hal itu akan membuat Nushi-sama  bahagia. Tujuan kita adalah membuatnya tersenyum, ingat? Apa semalam Nushi-sama tersenyum?”


“Umm.” ucap si rubah kecil dengan menganggukkan kepalanya


“Kalau begitu buat perasaan Nushi-sama pagi ini menjadi lebih bahagia. Kamu mengerti kan, anak manis?”


Dielus dan dipuji oleh Reda membuat rubah kecil itu terlihat bahagia sampai menggoyang-goyangkan ekornya kembali. Dia menurut.


Setelah mengantarkan piring yang terakhir ke ruang makan, Ryuunosuke memberikan nampannya kepada Reda. Reda tersenyum pada rubah kecilnya dan berbisik.


“Semangat, Ryuunosuke!”


“Semangat, Reda-sama!”


Reda berdiri dan pergi ke dapur sebelum dirinya pulang ke gubuknya di hutan. Melihat hal itu, ada pertanyaan yang terbesit di dalam pikiran Aragaki.


“Ryuunosuke, kenapa memberikannya kepada gadis kotor itu?”


Ryuunosuke tidak suka mendengar panggilan untuk Reda seperti itu, tapi dia tetap menjawabnya.


“Reda-sama mengatakan kalau Ryuunosuke harus makan dengan Aragaki-sama mulai hari ini.”


Keempat pelayan Aragaki terkejut.


“Reda-sama yang memintanya?” tanya Ginko


“Benar. Katanya agar Aragaki-sama bisa tersenyum dan bahagia di pagi hari. Oh, teh hangat itu Reda-sama yang membuatnya. Katanya bagus untuk kesehatan tubuh. Ryuunosuke juga meminumnya.”


Aragaki terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa rubah kecil yang sudah menolak makan bersama karena sikap jahatnya pada gadis desa itu, ternyata mau menuruti permintaannya.


Meskipun dia cukup terkejut, tapi untuk saat ini tidaklah penting. Seperti berkumpul dengan semua keluarga kecilnya yang tersisa, dia bisa makan bersama kelima pelayan setianya bersama.


Saat waktu makan selesai, Aragaki memutuskan untuk melihat sendiri keadaan dapur. Keempat pelayannya sedikit penasaran sehingga mereka juga jadi mengawasi sang penguasa.


Di dapur, rubah kecil melihat Reda sedang membuat sesuatu.


“Reda-sama!” rubah kecil memanggil gadis itu


“Ah! Ryuunosuke, kebetulan sekali. Aku baru saja mengupas dan memotong buahnya. Ayo diambil.”


Rubah kecil itu langsung mengambilnya. Dia memakan buah itu dan terlihat senang.


“Bagaimana? Apakah Nushi-sama senang makan dengan Ryuunosuke?”


“Umm!” angguknya


“Syukurlah. Nanti kita berikan buah ini untuk Nushi-sama ya. Aku harap beliau menyukainya.”


Tanpa sepengetahuan siapapun, Aragaki memperhatikan keduanya. Dan dengan mengendap-endap serta menyebar ke semua sisi sekitar dapur, keempat pelayan setianya mengawasi sang majikan.


Seharian itu Aragaki hanya melihat apa yang dilakukan oleh gadis yang dianggapnya kotor bersama rubah kecil kesayangannya itu.


Mereka hanya memotong sayur, mencucinya di sumur, merebusnya dan semua itu dilakukan dengan senyuman. Terkadang, dia melihat gadis desa itu memeluk dan mengelus-elus rubah kecilnya sampai ekor dan telinganya bergoyang.


Melihat hal itu, Aragaki tidak menyadari bahwa dia telah menunjukkan senyumannya. Senyuman yang indah dan menawan yang membuat keempat pelayannya bingung.


****