
Di bawah langit malam dengan banyaknya kelopak bunga sakuta yang tertiup angina lembut, kedua mata itu saling bertemu.
Reda yang awalnya begitu merah karena malu akhirnya kembali ke dunia nyata dan membungkuk untuk memberi salam.
“Nushi-sama, selamat malam.”
Aragaki tidak mengatakan apapun. Untuk beberapa saat, dia hanya diam memandangi gadis yang dianggapnya kotor.
“Pakaian itu…aku rasa dia mendapatkannya dari seseorang di tempat ini. Benda yang dipegangnya itu…”
Tidak berapa lama, Ryuunosuke datang untuk mencari tuannya.
“Aragaki-sama, sudah waktunya…ah! Reda-sama!”
Perhatian rubah kecil itu langsung teralihkan, dari yang niat hatinya ingin mendatangi Aragaki menjadi ke arah gadis desa itu. Sudah begitu, dia terlihat senang sampai berlari.
“Reda-sama, ada apa? Ini sudah malam.”
“Ah, Ryuunosuke. Lihat, aku membawakan ini. Sepertinya sempat tertinggal di tempatku.”
“Huwaa~bola milik Ryuunosuke!”
Aragaki sempat terkejut melihat reaksi itu. Reaksi dari rubah kecilnya yang terlihat senang hanya karena bola kertas temari. Sang penguasa juga melihat gadis desa itu begitu dekat dengan rubah kecilnya.
Yang lebih membuatnya lebih terkejut lagi, Ryuunosuke bahkan memamerkan itu kepada sang penguasa.
“Aragaki-sama, lihat ini! Reda-sama tadi pagi membelikan ini untukku. Bagus tidak?”
Bak anak kecil yang polos sekali, dia sampai melupakan sebuah fakta penting kalau tuannya itu begitu membenci gadis desa di depannya. Reda menjadi begitu takut dan panik ketika Ryuunosuke mengatakan bahwa itu adalah darinya.
“Ryuunosuke, Nushi-sama akan marah nanti!”kata Reda dalam hati
Ekspresi senang rubah kecil itu sedikit berubah ketika melihat sorot mata tajam tuannya yang tidak mengatakan apapun. Telinga dan ekornya langsung turun karena takut serta pandangannya langsung ke bawah karena takut.
Karena khawatir akan memarahi rubah kecil, Reda langsung mencoba berjalan untuk menjelaskannya kepada sang penguasa.
“Nushi-sama, tolong jangan marahi Ryuunosuke. Aku yang telah lancang membelikan itu untuknya dan–”
Sebelum selesai bicara, Aragaki langsung memotong kalimat Reda dan bertanya pada rubah kecilnya itu.
“Ryuunosuke…”
“Ya?”
“Apa kamu menyukai bola itu?”
“U…iya.” Rubah itu sedikit takut menjawabnya. Tapi, sang penguasa itu berlutut dan mengusap-usap kepalanya dengan lembut.
“Kalau begitu, bermainlah sebentar. Nanti kita akan masuk ke dalam bersama.”
Seperti mimpi, Aragaki mengizinkannya bermain dengan hadiah dari gadis desa yang dianggapnya kotor. Meskipun dia tidak melihat Reda, tapi dia tidak mempermasalahkan bola temari yang diberikan kepada si rubah kecil.
Dengan perasaan bahagia, rubah kecilnya tersenyum dan menghampiri Reda.
“Reda-sama, Reda-sama, Ryuunosuke boleh bermain dengan bolanya!”
“Syukurlah, Ryuunosuke.” Gadis itu tersenyum karena senang. Sebelum mengajaknya bermain, dia tidak lupa membungkuk dan mengucapkan terima kasih kepada Aragaki.
Rubah kecil itu langsung menariknya ke engawa di seberang taman untuk duduk. Hanya di sekitar tempat itu yang dipenuhi kunang-kunang dan cahaya dari lampion, lilin dan hinotama.
Keduanya bermain dengan pemandangan bunga sakura di depannya. Aragaki terlihat tidak begitu peduli dengan hal itu dan mengabaikannya. Dia kembali melihat bunga sakura sambil menikmati angin malam yang bertiup.
Di engawa, rubah kecil itu berbisik pada Reda.
“Reda-sama, Reda-sama wangi sekali.”
“Ah, aku baru saja mandi. Aku pikir mungkin akan tidur cepat hari ini, tapi aku lupa memberikan bola milik Ryuunosuke. Tidak aku kira akan melihat Nushi-sama di sini.”
Wajah Reda sedikit memerah. Dia malu.
“Reda-sama, Aragaki-sama tidak mengatakan apapun?”
“Tidak. Aku sudah sangat khawatir Nushi-sama akan menghukum Ryuunosuke tadi. Syukurlah tidak terjadi.”
“Ehehe~”
Rubah kecil itu mendekati telinga Reda dan berbisik kembali.
“Reda-sama, Aragaki-sama sangat menyukai masakannya. Hebat kan?”
Mendengar itu, Reda tersenyum senang sekali. Tampaknya kedua orang itu sedang diselimuti rasa bahagia hingga bisa saling berpelukan.
“Terima kasih banyak, rubah kecilku yang manis~”
“Ehehehe~Ryuunosuke pintar, tidak?”
“Pintar. Ryuunosuke pintar sekali. Semoga Nushi-sama selalu menyukainya ya.”
Momen itu dilihat oleh Aragaki tanpa sepengetahuan keduanya. Dia terdiam melihat sang gadis begitu senang memeluk dan tersenyum pada rubah kecilnya.
Ada sebuah bayangan yang terlihat di mata Aragaki saat menatap gadis desa itu memeluk rubah kecilnya.
“Itu…mirip dengan hal yang dilakukan Ryoko.”
Dia mengingat kalimat yang dikatakan oleh Jorogumo.
[Mereka mengatakan bahwa gadis yang datang di malam hari seminggu lalu itu lusuh. Bahkan ada yang bilang dia begitu bau dan memiliki niat licik pada Aragaki-sama]
“Licik ya…” pikirannya mulai mengingat hal lain yang muncul dalam ingatannya.
Hari dimana gadis desa itu datang, rubah kecilnya begitu senang dan menerimanya. Bahkan dia memperkenalkan dan membelanya habis-habisan.
Yang membuatnya cukup terkesan hari ini adalah Aragaki bisa makan dengan kelima pelayan kesayangannya berkat gadis itu. Itulah yang didengarnya dari Ryuunosuke sendiri.
“Dia sampai meminta rubah kecil itu untuk makan bersama yang lain demi aku. Aku rasa itu mungkin cara licik lain. Tapi, aku cukup terkesan dan aku menghargai itu.”
Di saat keduanya asyik bermain sambil bercerita, Aragaki menatap wajah rubah kecilnya.
“Tidak pernah aku melihat dia bisa sesenang itu bersama dengan calon ‘pengantin’ dari desa terkutuk itu.”
“Pita milik Ryoko. Aku tau rubah kecil itu yang memberikannya. Rasanya…”
Tanpa disadari, Aragaki bergumam sendiri.
“Pita itu cukup cocok untuknya.” Aragaki menyadari apa yang dia katakan dan langsung terlihat syok. Seperti bukan dirinya, dia mulai mempertanyakan apa yang dipikirkan olehnya barusan.
“Apa yang aku katakan? Gadis kotor itu hanya gadis kotor sama seperti yang lain. Bukan manusia yang pantas berada di sini. Dia akan mati seperti lainnya, tidak perlu memperhatikan makhluk kotor seperti dia!”
Aragaki berjalan mendekati keduanya.
Menyadari bahwa sang penguasa berjalan ke arah mereka, Reda langsung berdiri dan menjauh dengan jarak yang bisa dibilang lumayan. Aragaki sempat terdiam sesaat sampai akhirnya dia bersikap seolah-olah tidak ada yang berarti.
Rubah kecil yang melihat Reda tiba-tiba menjauh jadi ikut kaget. Dia melihat kedatangan tuannya.
“Aragaki-sama…”
“Sudah mulai larut, Ryuunosuke. Saatnya kamu masuk dan pergi tidur.”
“…” Ryuunosuke hanya melihat ke arah Aragaki dan Reda secara bergantian karena bingung
Ketika pandangan mata rubah kecil bertemu dengan sang gadis desa, gadis tersebut memberikan senyumannya.
“Ryuunosuke, istirahatlah. Aku juga harus kembali agar tidak mengganggu waktu Nushi-sama dan Ryuunosuke.”
“Reda-sama…” wajah rubah kecil menjadi murung
Gadis itu menunduk untuk memberi hormat pada sang penguasa.
“Nushi-sama, terima kasih banyak karena telah diizinkan masuk ke tempat ini dan menemani Ryuunosuke. Aku akan segera kembali ke hutan. Selamat istirahat, semoga Nushi-sama mimpi indah malam ini.”
“…” Aragaki tidak merespon ucapan itu
Tapi di akhir, dia cukup terkejut melihat senyuman manis gadis desa itu. Seperti tidak ada rasa sedih dan sakit atas semua hal yang terjadi, dia memberikan senyuman terbaiknya untuk sang penguasa.
Begitu selesai, Reda berjalan ke pintu belakang untuk kembali ke gubuk tua di hutan.
Rubah kecil melihatnya pergi dengan telinga rubahnya yang turun tanda dia sedih.
“Reda-sama…” gumamnya pelan
Aragaki memperhatikan rubahnya yang kembali memperlihatkan ekspresi sedih dan kali ini dia mulai mengalah.
“Ryuunosuke, kalau masih ada yang mau kamu lakukan sebelum tidur sebaiknya cepat dilakukan. Aku akan kembali ke ruanganku sekarang.”
“…!!!” mendengar itu, Ryuunosuke langsung tersenyum dan berlari ke arah Reda
Terlihat bahwa dia ingin sekali mengantar Reda pulang ke gubuk tua.
Awalnya Reda terkejut begitu rubah kecilnya memanggil namanya dari kejauhan. Kemudian mereka bergandengan tangan dan berjalan ke hutan bersama.
Aragaki tidak melihat itu secara langsung, tapi dia tetap mengetahuinya.
Di hutan, Reda yang menggandeng tangan kecil Ryuunosuke berhenti berjalan di tengah-tengah.
“Reda-sama…”
Reda berlutut dan memeluk rubah kecilnya.
“Ryuunosuke, kamu melihatnya tadi? Nushi-sama tidak mengusir atau memarahiku. Rasanya aku senang sekali. Apa ini berkah dari Dewa? Aku sangat bahagia sekali~”
Rubah kecil itu menjadi ikut senang mendengarnya.
“Ryuunosuke juga tidak menyangka, Reda-sama. Ryuunosuke ikut senang.”
Reda melepaskan pelukannya dan mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.
“Rasanya seperti mimpi saat Nushi-sama melihatku tanpa mengusirku. Meskipun beliau tidak bicara denganku, tapi itu tidak apa-apa. Aku sangat senang bisa melihatnya sedekat itu.”
“Aku…benar-benar mencintainya. Beginikah rasanya melihat orang yang dicintai sedekat itu, Ryuunosuke? Jika ini mimpi, rasanya aku tidak ingin bangun.”
Rubah kecil itu terharu dan senang sekali mendengarnya. Wajah gadis desa di depannya ini sungguh menggambarkan perasaan tulus yang keluar dari mulutnya.
“Ryuunosuke senang mendengarnya. Kita berjuang lagi, Reda-sama!”
“Iya. Kita harus lebih semangat ya, Ryuunosuke. Besok, semoga hari menyenangkan yang datang.”
“Umm!” rubah kecil mengangguk
Mereka kembali berjalan bersama dengan Reda yang masih memasang senyum bahagia. Rubah kecil melihatnya dari samping sambil berdoa dalam hatinya.
“Ibu, Reda-sama mencintai Aragaki-sama. Bantu Ryuunosuke juga agar bisa menyatukan mereka, ibu. Kita berjuang agar Aragaki-sama bisa tersenyum dan kembali seperti dulu.”
Seperti sebuah doa yang terdengar sampai ke langit, seluruh pohon sakura yang ada di kediaman itu, termasuk pohon sakura seribu harapan mulai tertiup angin lembut di malam hari. Banyak kelopaknya yang mulai terbawa angin.
Nagi dan Ginko yang berjalan di sekitar engawa luar melihat ratusan kelopak bunga sakura.
-Sniff…Sniff
Ketika mengendus aroma dari angin yang berhembus bersama kelopak sakura, keduanya mencium aroma yang tidak asing.
“Tidak mungkin…Ryoko-san?”
“Ini aroma milik Ryoko-san! Tapi kenapa?!”
Di sisi lain, Hakuren dan Kuroto yang berada di atas atap kediaman juga merasakan hal yang sama.
“Kelopak sakura dari pohon sakura seribu harapan. Hakuren, mungkinkah teman-teman kita sedang mencoba menyampaikan sesuatu?”
“Aku tidak tau. Tapi, aku rasa mereka melihat semua yang terjadi di tempat ini. Aku yakin, mereka tetap mengharapkan kebahagiaan Aragaki-sama”
Malam itu, sang gadis desa mendapatkan hadiah yang indah. Di dalam tidurnya, dia hanya melihat sebuah cahaya indah yang dipercaya olehnya sebagai sebuah harapan baru.
“Semoga, aku bisa melihat senyumannya dari dekat.”
****