The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 10. Tanda Penolakan



Di pagi hari itu, sarapan yang telah dibuat Reda bersama Ryuunosuke dibuang begitu saja ke depan oleh Aragaki-sama di hadapan semua orang. Hal itu membuat keempat pelayannya yang lain begitu terkejut hingga tidak ada yang berani menyentuh makanan tersebut.


Reda begitu syok melihat semua sayuran dan sup yang dibuatnya dilempar begitu saja hanya dengan satu lemparan setelah Aragaki mencicipinya sekali.


Melihat itu, Ryuunosuke langsung mendekati tuannya. Dia seperti anak kecil yang merengek pada ayahnya. Dengan histeris, dia bertanya kepada Aragaki.


“Aragaki-sama, kenapa dibuang! Reda-sama dan Ryuunosuke sudah berusaha membuatnya bersama! Ini…ini adalah makanan kesukaan Aragaki-sama, kenapa tidak dicicipi dan dihabiskan seperti biasa?!”


“Aku tidak sudi memakan makanan yang dimasak dengan tangan gadis kotor itu. Bereskan semuanya. Aku masih mau menerima sarapan yang Ryuunosuke buat dalam 30 menit. Lebih dari itu, simpan saja untuk makan siang.”


“Tapi, semua itu sudah dibuat oleh Reda-sama dan Ryuunosuke…”


“Aku tidak mau memakannya. Bereskan itu segera.”


“Aragaki-sama!”


“Ryuunosuke…” Reda menghampiri Ryuunosuke yang sudah menangis. Dia menggelengkan kepalanya dan memintanya untuk tidak membantah perintah tuannya.


“Kita bereskan segera ya. Ryuunosuke harus membuat sarapan lagi. Aku yang akan membuang makanannya dan mencuci piring. Ayo. Waktunya hanya 30 menit.” Reda masih memberikan senyumannya.


Ryuunosuke yang tidak kuat menahan air mata langsung menghapusnya dan memberi hormat pada Aragaki.


Reda mengambil tempat makan yang ada di meja keempatnya. Sebelum mengambilnya, Reda selalu mengatakan hal yang sama kepada semuanya.


“Maafkan aku. Aku harus membuang makanan ini. Tunggu sebentar sampai Ryuunosuke selesai memasak. Sekali lagi, maafkan aku.”


“Ti–” Nagi ingin menjawab ‘tidak’ , namun dia menghentikan mulutnya untuk bicara dan membiarkan gadis itu membawa semua makanannya di meja. Reda mengeluarkannya satu per satu


Di tengah keheningan itu, tidak ada satupun dari pengawal Aragaki yang membantunya. Mereka melihatnya mengeluarkan makanan-makanan itu dari ruangan dan mengambil kain untuk mengelap tatami yang terkena sup dan makanan lain.


Tentu saja warnanya tidak berubah dan semua yang dilakukan Reda sangat percuma. Tapi, dia berusaha untuk bekerja serapi dan sebaik mungkin.


“Maafkan aku, Aragaki-sama. Tataminya tidak bisa dibersihkan seluruhnya. Nanti, aku akan membersihkannya kembali.”


“Tatami yang kotor itu tidak seburuk harus melihatmu di dalam ruangan ini. Keluar.” itu adalah ucapan yang sungguh dingin dari mulut sang penguasa.


Reda hanya menelan ucapan itu dan langsung keluar. Dia tidak lupa memasang senyum kepada Aragaki-sama dan pergi. Reda membawa pecahan mangkuk yang masih ada di luar ruangan untuk dibuang.


Ryuunosuke dengan air matanya menangis tersedu-sedu melihat masakan yang dibuat Reda dengan susah payah harus dibuang tanpa disentuh kembali oleh tuannya.


Reda yang datang membawa makanan terakhir masuk ke dapur dan melihat rubah kecil itu menangis.


“Ryuunosuke, jangan menangis. Nanti makanannya tidak enak.”


“Hiks…Reda-sama…” rubah kecil itu memeluk Reda. “Hiks…Aragaki-sama kejam sekali padamu, Reda-sama. Hiks…kenapa…padahal makanannya sudah enak. Padahal, Reda-sama sudah membuatnya dengan susah payah. Kenapa harus dibuang di depan kita seperti itu?!”


Reda hanya memeluknya dan menghapus air matanya.


“Ryuunosuke, lihat aku. Aku tidak apa-apa. Ini masih baru dimulai. Kita akan membuat Aragaki-sama lembut sedikit demi sedikit. Semua membutuhkan proses. Ayo berjuang ya.”


“Tapi…tapi…”


“30 menit, Ryuunosuke. Aragaki-sama hanya menunggu 30 menit untuk sarapan. Aku akan membuang semua ini jadi antarkan makanannya ya.”


Ryuunosuke kembali memasak sambil menahan air matanya. Reda yang memasang senyumannya berdiri dan membuang semua makanan itu ke dalam sebuah ember kayu. Semuanya dibuang tanpa sisa sedikitpun.


Ryuunosuke melihat itu namun tidak mengatakan apapun karena melihat senyum Reda. Rubah kecil itu menangis. Dengan cepat menghapus air matanya dan mulai membawakan makanan tersebut.


Setelah Ryuunosuke pergi, Reda melihat sekelilingnya dan tanpa disadari, air mata keluar hingga mulai membasahi pipinya. Dia melihat ember berisi makanan yang telah dibuatnya bersama Ryuunosuke.


“Maaf harus membuang semua ini. Maafkan aku karena sudah menyia-nyiakan makananmu, Dewa.”


Reda tidak ingin terus menangis dan segera menghapus air matanya.


Dia membantu Ryuunosuke yang belum kembali untuk membawakan makanan lainnya.


“Jangan khawatir, Reda. Masih ada waktu sampai matahari terbenam. Berjuanglah demi janjimu pada Ryuunosuke.”


**


Di ruang makan, Aragaki terlihat tenang tanpa mengatakan apapun. Keempat pelayan setianya juga tidak ada yang berani mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana tersebut.


Sampai akhirnya Ryuunosuke datang membawakan makanan untuk mereka. Ryuunosuke mengantarkan semuanya dan meletakkannya di atas meja.


Ginko melihat rubah kecil itu masih menangis.


“Ryuunosuke, kamu baik-baik saja?”


“…” Ryuunosuke diam dan tidak menjawabnya


Ginko hanya melihat telinga dan ekor rubah kecil itu menurun. Dia tidak melihat siapapun di sana. Reda mencoba berjalan setenang mungkin dan meletakkan makanan lain di depan pintu tanpa diketahui oleh Ryuunosuke.


Reda kembali ke dapur dan membawakan lagi makanan lainnya.


Ryuunosuke yang hendak berjalan keluar melihat makanan lain di sana dan sedikit tersenyum karena Reda membantunya. Telinga dan ekornya mulai kembali seperti semula.


Aragaki menyadari kehadiran gadis malang itu namun dia tidak mengatakan apapun karena gadis itu tidak masuk ke ruang makan.


Saat Ryuunosuke mengantarkan lauk terakhir untuk Aragaki, sang majikan bertanya pada rubah kecilnya.


“Kamu tidak mau ikut sarapan dengan kami juga, Ryuunosuke?”


“Ryuunosuke akan makan bersama Reda-sama mulai sekarang, jadi Aragaki-sama bisa makan dengan yang lain.”


Ryuunosuke pergi menuju dapur.


Seperti dicampakkan oleh rubah kecil yang merupakan pelayan kesayangannya, terlihat wajah kekecewaan dari ekspresi dan sorot mata Aragaki. Meski begitu, dia tidak mempermasalahkannya.


Melihat sang penguasa mulai menyantap makanan di meja, keempat pelayannya ikut memakan sarapannya.


**


Di dapur, Reda yang selesai membantu Ryuunosuke diam-diam mulai mencuci semua piring dan mangkuknya. Dia mengerjakannya dengan sangat teliti. Dari luar, terdengar suara langkah kaki yang sedang berlari. Kemudian, disusul dengan teriakan.


“Reda-sama, Reda-sama!”


Reda yang baru selesai mencuci piring mendapat pelukan dari rubah kecil itu.


“Sudah selesai mengantarkan makanannya? Apa Aragaki-sama mau memakannya?”


“Sudah! Terima kasih sudah membantu Ryuunosuke~”


“Sama-sama. Aku sudah selesai mencuci piring dan mangkuknya. Aku akan membawa makanan itu dan membuangnya ke tempat sampah.”


“Jangan! Biar Ryuunosuke yang buang. Kita kerjakan yang lain selagi menunggu Aragaki-sama makan ya.”


Reda hanya mengangguk. Keduanya mengerjakan pekerjaan lain seperti menyapu rerumputan dan menyiram tanaman. Selang 30 menit kemudian, Ryuunosuke bermaksud meninggalkan Reda yang masih sibuk menyiram tanaman untuk membereskan semua piring.


Tapi gadis itu menolaknya.


“Ryuunosuke, aku yang sedang mencoba menjadi calon ‘pengantin’ di sini. Kalau Ryuunosuke yang membereskan semuanya, aku tidak akan bisa membuat Aragaki-sama menyukaiku nantinya.”


“Tapi, Aragaki-sama akan menyakiti hatimu lagi.”


“Tidak masalah. Aku sudah sering mendengar kalimat itu dari penduduk desa, jadi aku tidak sedih. Percayalah.”


Itu adalah kebohongan yang disembunyikan sangat baik karena senyuman di wajahnya. Ryuunosuke akhirnya menyetujuinya dan mengajak Reda pergi mengambil piring serta mangkuk tersebut.


Saat tiba di sana, Aragaki baru saja ingin meninggalkan ruang makan bersama Nagi dan yang lainnya. Begitu melihat Aragaki datang, Reda memberikan senyuman dan membungkuk untuk memberikan salam.


“Aragaki-sama, apakah Anda menikmati sarapannya?” tanya gadis itu


Keempat pelayannya yang lain tidak bermaksud buruk tapi mereka sempat memberi komentar dalam hati.


“Setelah dipermalukan begitu, dia masih mau memberikan hormat pada Aragaki-sama. Besar juga nyalinya.” pikir Nagi


“Kalau aku jadi dia, aku mungkin tidak akan mau menegur Aragaki-sama dan memilih menundukkan kepala.” Hakuren juga berpikir demikian


“Aku yakin dia memaksakan diri untuk menunjukkan senyuman itu pada kami.” pikir Kuroto


“Nushi-sama tidak memberikan komentar. Itu artinya kami tidak perlu mengatakan apapun.” ujar Ginko dalam hati


Aragaki melihat rubah kecilnya di samping gadis itu dan berkata padanya.


“Ryuunosuke, aku tidak melarangmu untuk mengurus gadis kotor itu. Tapi, karena dia sendiri yang memutuskan untuk menjadi pelayanku seperti yang dijanjikan leluhurnya, biarkan dia yang melakukan semua tugasmu.”


“Apa maksudnya?” Ryuunosuke menjadi panik dan bingung


“Mulai sekarang, dia yang harus mengurus tempat ini. Membersihkan seluruh rumah ini dan mengerjakan urusan di kebun. Kecuali memasak dan menyentuh pakaian milikku, biarkan dia membersihkan semuanya sendiri.”


“Tapi…tapi itu terlalu berat! Reda-sama itu perempuan, Aragaki-sama! Kalau berkebun mungkin masih bisa, tapi untuk menyapu dan membersihkan ruangan itu terlalu…”


“Aku tidak akan mengubah perintahku. Selain itu, jangan pernah memberinya makan lagi. Biarkan dia berusaha mencari makanan sendiri. Aku tidak akan mengizinkan dia mengambil apapun di kebun. Jika dia ingin makan, suruh dia mencarinya sendiri di hutan.”


Reda tidak terkejut mendengarnya. Dia sudah tau bahwa hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat. Dia tidak akan merasakan sarapan enak dan mewah seperti pagi ini.


Ryuunosuke menghampiri sang majikan dan menangis kembali, tapi dirinya didorong oleh Nagi.


“Oi! Jangan mencoba membelanya terus menerus, rubah kecil!”


“Nagi, itu kejam sekali! Jangan melakukan hal itu pada Ryuunosuke. Dia masih kecil!” Ginko mencoba membelanya


Reda membantu Ryuunosuke untuk berdiri. Rubah kecil itu mencoba pergi dan memohon kembali kepada tuannya, tetapi dicegah oleh Reda.


“Ryuunosuke, jangan membuat Aragaki-sama marah.”


“Tapi…”


“Aragaki-sama, aku akan melakukan perintahmu. Mulai sekarang aku akan melakukan pekerjaan yang dilakukan Ryuunosuke termasuk menyapu dan membersihkan lantai. Aku mohon tolong maafkan Ryuunosuke.”


Tanpa memberikan komentar, Aragaki pergi meninggalkan mereka. Keempat pelayannya hanya bisa mengikuti sang majikan.


Setelah jauh, Ryuunosuke menangis lagi. Kali ini dia menangis begitu keras.


“Kenapa Aragaki-sama begitu kejam pada Reda-sama. Hiks…Reda-sama berbeda dari gadis lain. Reda-sama tidak jahat! Kenapa tidak mau melihatnya. Hiks…Ryuunosuke…Ryuunosuke benci Aragaki-sama. Huwaaa…”


Reda memeluknya. Dia mencoba menghibur rubah kecil itu.


“Ryuunosuke, jangan berkata begitu. Ingat bahwa ini masih sangat panjang. Kita masih memiliki banyak waktu untuk membuat Aragaki-sama tersenyum. Jangan khawatir, aku akan tersenyum dan tidak akan menangis.”


“Hiks…tapi…tapi…”


“Kalau Ryuunosuke bersabar, pasti akan berhasil. Aku tidak akan menangis jadi Ryuunosuke juga jangan menangis. Berhenti membelaku karena aku tidak mau Ryuunosuke terkena hukuman.”


“Tapi…”


“Ssst, jangan khawatir ya.”


Ryuunosuke memeluk gadis itu dengan erat sambil menghabiskan sisa air matanya. Setelah sudah, rubah kecil itu membantu Reda membawakan piring dan mangkuk di dalam ruangan dan membiarkan gadis itu melakukan tugasnya sesuai perintah sang majikan.


****