
Matahari benar-benar telah tenggelam sekarang dan semua cahaya yang menyinari telah menghilang berganti cahaya bulan dan bintang yang tipis.
Hakuren dan Kuroto masih mengejar bayangan yang mencoba meloloskan diri. Kuroto bahkan mencabut sehelai bulu sayapnya dan melemparnya.
“Tidak akan aku biarkan! Senmaidoshi (bulu penusuk).”
Bulu yang dilemparkan menjadi sangat banyak dan menghujani tanah tanpa henti. Terus mengarah ke bayangan yang mencoba melarikan diri tersebut.
“Sial! Kenapa masih belum tertangkap juga! Senmaidoshi!”
Kuroto mencabut sehelai bulunya kembali. Hakuren mengeluarkan kemampuan spiritualnya juga untuk membantu Kuroto.
“Fuken-Kamaitachi (pedang angin-kamaitachi)”
Sebuah tebasan angin menyerang bayangan tersebut.
Akibat serangan pedang angin milik Hakuren, beberapa pohon tumbang menghasilkan suara yang besar sampai terdengar ke telinga sang penguasa di belakang mereka.
“Itu fuken milik Hakuren. Mereka di sana rupanya!”
Aragaki mempercepat kembali kecepatan berlarinya. “Ara-mitama tidak akan aku biarkan lolos begitu saja! Jika sampai calon pengantinku tergores sedikit saja, kepala miliknya dan Nue akan menjadi bayarannya!”
**
Di belakang Aragaki, Nagi berusaha mengejar sang penguasa. Terdengar samar-samar suara gemuruh.
“Ada serangan. Mungkin itu Hakuren dan Kuroto. Aku sempat melihat mereka langsung mengejar bayangan di luar pintu masuk saat itu.”
“Kami benar-benar lengah! Tampaknya Ara-mitama memanfaatkan sifat auranya yang tidak bisa dideteksi untuk menguping pembicaraan yang dilakukan oleh kami.”
“Mungkin saat aku dan Ginko di hutan atau saat Hakuren dan Kuroto sedang menyelidiki wilayah kegare itu, dia masih di sana dan mendengarkan semuanya.”
“Tidak akan ada yang tau cara untuk menghancurkan reimei no kekkai milik Aragaki-sama.”
“Selain itu, Reda-sama yang langsung membukakan pintunya…dia pasti mendengar suara yang tidak asing sehingga mengira itu adalah orang yang kami kenal.”
Sambil berlari, Nagi mengumpat dengan ekspresi kesal dan kecewa, “Sial!”
**
Hakuren dan Kuroto menurunkan ketinggian mereka menjadi beberapa meter saja di atas tanah dan memperkecil jarak antara mereka dengan bayangan hitam tersebut.
“Ara-mitama! Sebelum Aragaki-sama murka, sebaiknya hentikan semua ini dan kembalikan gadis desa itu sekarang!” teriak Kuroto
Namun, tidak disangka ternyata ada sebuah serangan dari dalam tanah yang dikeluarkan untuk melukai kedua tengu tersebut.
Seperti ratusan jarum yang menyerang di kegelapan hutan di malam hari, serangan dari bayangan tersebut nyaris sulit dihindari dari jarak dekat, yang memaksa kedua tengu tersebut untuk menaikkan ketinggian kembali.
“Dia berani melawan! Aku tidak akan membiarkannya pergi!”
Kuroto seperti mengambil bulu sayapnya kembali. Dengan menggigit ibu jarinya dan mengusapkannya pada bulu tersebut, sebuah senjata di dapatkan.
Bulu hitam tersebut berubah menjadi sebuah pedang hitam.
“Kokken-Karasumaru (pedang hitam-Karasumaru)”
Kuroto terbang sedikit ke bawah dan mulai menyerang bayangan itu dengan pedangnya. Saat jarum yang ditembakkan ke arahnya mulai mengarah kembali, ada aura api hitam dari pedang Kuroto dan langsung menghalangi semua jarum-jarum tersebut.
“Kuroto!” Hakuren berteriak
“Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Ara-mitama! Kembalikan calon istri Aragaki-sama sekarang atau matilah! Hiei Karasumaru!!”
Sebuah api besar berwarna hitam dari pedang Kuroto mulai terbentuk menyerupai burung gagak besar berwarna hitam.
Dengan satu kali ayunan, serangan tersebut mengarah ke bayangan tersebut dan berhasil membakarnya.
“Aaaaaagh!!!”
Terdengar suara teriakan dari dalam api hitam tersebut.
Sosok bayangan tersebut akhirnya naik ke atas tanah dan menjadi sosok yang tidak asing untuk kedua tengu tersebut.
“Jorogumo-san?!” Kuroto terkejut
Memang sosok tersebut sudah tidak lagi sempurna, akibat terbakar oleh serangan Kuroto, separuh dari tubuhnya yang terlihat seperti Jorogumo telah berubah menjadi sosok Ara-mitama kembali.
Hakuren yang melihat itu langsung turun dengan ekspresi marahnya.
“Jadi sosok itu yang membuat Reda-sama mau membuka pintu dengan mudah tanpa curiga? Dasar tidak tau diri!”
Hakuren mengambil bulu putih di sayapnya dan dengan cara yang sama seperti Kuroto sebelumya, sebuah senjata telah muncul.
Sebuah pedang putih panjang muncul.
Hakuren langsung menukik tajam dan menyerang sosok Ara-mitama yang masih menahan sakit akibat serangan Kuroto sebelumnya.
“Serahkan Reda-sama pada kami!”
-Slaaash
“Aaaakh!”
Salah satu tangan Ara-mitama akhirnya putus dan jatuh ke tanah.
“Kh! Tidak bisa dimaafkan. Kalian pikir apa yang kalian lakukan?!” Ara-mitama terlihat marah sekali pada kedua tengu tersebut. Hal itu membuat asap hitam keluar dan bagian tubuh dari tangan yang terputus tadi mulai menghilang.
Tangan itu berubah menjadi asap hitam dan membuat seluruh tanaman dan pepohonan lain mulai mengering.
Ekspresi Hakuren dan Kuroto jadi pucat.
“Ini…”
“Kegare!” Kuroto langsung menyerang Ara-mitama kembali, “Beraninya mengotori hutan suci Aragaki-sama!”
Kuroto menebasnya kembali, namun kali ini Ara-mitama berhasil menahannya dengan sebuah tangan yang muncul pada bagian tubuhnya yang masih terlihat seperti Jorogumo.
Jorogumo adalah wanita laba-laba bertangan empat. Karena setengah dari tubuh Ara-mitama masih memiliki sosok Jorogumo, jadi ada dua tangan di sisi satunya lagi.
“Jangan bercanda! Kalian itu hanya tengu kotor. Beraninya menyerang mitama sepertiku. Beraninya kalian menghalangi Aruji-sama mendapatkan makanannya!”
Ara-mitama marah, namun dari belakang Kuroto sebuah pedang mulai menusuk dada Ara-mitama.
“Tutup mulutmu itu, makhluk kotor!” itu adalah sosok Hakuren yang marah. Dia menusuk tubuh Ara-mitama dan menghancurkan tangan Ara-mitama yang ada di tanah sebelum semuanya berubah menjadi asap hitam.
“Aaaakh!!!” Ara-mitama berteriak keras sekali. Dia tidak bisa melawan karena luka pertama yang dihasilkannya.
Ada aura menakutkan datang dari belakang ketiganya. Aura membunuh yang kuat dan tidak asing untuk mereka.
Sebuah angin besar yang hampir bisa menumbangkan pepohonan di sekitarnya mulai datang.
Bersamaan dengan sosok tersebut, Hakuren dan Kuroto yang masih belum mencabut pedang mereka dari tubuh Ara-mitama terkejut.
“Aragaki…-sama.”
Itu adalah sosok Aragaki-sama yang membawa pedangnya dan terlihat mengerikan. Ekor besarnya mendominasi dan sekarang dia terlihat sangat marah.
Tidak membutuhkan waktu lama sampai dia mencengkeram leher Ara-mitama tanpa suara. Bahkan hal itu terjadi begitu cepat, lebih dari saat dirinya hendak menyelamatkan Reda.
Inilah yang disebut kekuatan kemarahan.
“Dimana gadis desa itu?”
**
Di sebuah tempat yang gelap, Reda mencoba membuka matanya.
“Mmm…”
Hampir tidak ada suara kecuali suara tetesan air yang menetes dari celah-celah bebatuan. Perlahan, Reda membuka matanya.
“Dimana…ini?”
Tubuhnya mulai bangun perlahan dan dia melihat bahwa dirinya ada di dalam gua yang gelap. Satu-satunya cahaya datang dari sebuah lubang besar di atas kepalanya. Itupun jaraknya sangat jauh hingga tidak dapat dijangkau oleh dirinya.
“Kenapa aku ada di sini? Dimana ini?”
Reda mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya ada di sana.
“Aku mendengar Jorogumo-sama datang dan membukakan pintu kemudian…hah?!”
Gadis itu baru menyadari hal penting. Tangannya gemetar dan dia hampir menangis.
“Bagaimana…ini? Nushi-sama memintaku untuk tidak membukakan pintu tanpa izin darinya dan aku melanggarnya.”
Air mata akhirnya mulai menetes. Dia menangis dengan wajah merah penuh penyesalan.
“Nushi-sama…maafkan aku. Maafkan aku…”
Dari belakang Reda, terdapat sosok yang sangat besar. Tanpa diketahui olehnya, sosok tersebut menatapnya dengan mata merah menyala.
****