
Di kediaman Aragaki, dirinya sedang menatap bunga sakura dari engawa luar di depan ruangannya.
“Ryoko…apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?”
Suara langkah kaki terdengar dan saat dia menengok, itu adalah pengikut setianya.
“Aragaki-sama.”
“Nushi-sama, apa yang sedang Anda lakukan?”
“Nagi, Ginko. Aku sedang melihat pohon sakura di depan sana.” ucap Aragaki sambil memegangi kelopak bunga sakura yang sebelumnya terbang ke arahnya
“Apa ada sesuatu dengan pohonnya?” tanya Nagi
“Aku mencium aroma Ryoko saat angin menerbangkan kelopaknya.”
“Ryoko-san?” keduanya sempat bingung
Memang mereka selalu percaya bahwa arwah dan roh mereka yang telah mati sejak 200 tahun lalu bersemayam di dalam pohon sakura yang dianggap suci dan abadi itu.
“Nushi-sama, mungkin Ryoko-san merindukan putra kecilnya itu. Bagaimanapun juga, sudah 200 tahun Ryuunosuke tidak pergi melihat makam Ryoko-san karena dilarang olehmu.”
Aragaki termenung. Dia mengingat apa yang baru saja dia lakukan pada rubah kecilnya itu.
"Aku baru saja membuatnya menangis. Aku rasa Ryoko melihat semuanya dan menegurku. Jika dia masih hidup, dia pasti akan memarahiku habis-habisan seperti biasanya."
Sang penguasa itu sempat memasang senyum tipis. Kedua youko itu saling melihat satu sama lain karena bingung dan mereka mulai mencoba berbicara dengan sang majikan.
“Aragaki-sama, mungkin sudah saatnya Anda mengizinkan rubah kecil itu untuk melihat makam Ryoko-san. Aku mengerti bahwa Aragaki-sama tidak ingin membuat rubah kecil itu sedih karena ditinggal oleh Ryoko-san. Tapi, bagaimanapun juga dia tetap ibunya.”
“Nagi benar, Nushi-sama. Sejak Ryoko-san dimakamkan 200 tahun lalu, hanya saat itu saja Nushi-sama mengizinkannya untuk pergi ke makamnya. Aku yakin Ryoko-san mendatangimu karena rindu padanya.”
“Menurut kalian begitu?” tanya Aragaki
“Kami yakin. Akhir-akhir ini, rubah kecil itu juga sering menangis memanggil ibunya.” tambah Nagi
Itu bukanlah kebohongan, tapi kebanyakkan hal itu terjadi karena Aragaki melakukan atau mengatakan hal buruk pada Reda. Kedua youko itu mengetahuinya namun tidak mengatakan semuanya.
Tampaknya mereka memiliki rencana lain.
“Aku mengerti. Aku rasa aku juga harus mengunjungi makam Ryoko bersama rubah kecilku itu. Apa kalian bisa memanggilnya sekarang?”
“Maafkan kami, Ryuunosuke belum kembali.”
“Belum kembali? Kemana dia?”
“Rubah kecil itu pergi bersama gadis desa itu untuk berbelanja.”
“…”
Aragaki terdiam. Dia lupa kalau rubah kecilnya itu memang mengatakan hal serupa sebelum ini.
“Begitu, ya sudah. Nanti jika dia kembali, tolong antarkan ke ruanganku ya.”
“Baik. Kami akan patrol dan pergi ke hutan dulu, Aragaki-sama.”
Mendengar Nagi izin seperti itu, Aragaki jadi semakin bingung.
“Kenapa ke hutan?” tanya Aragaki
-Deg
Nagi dan Ginko jadi bingung dan panik. Keringat dingin keluar dari tangan dan kening mereka.
“Kami…kami bermaksud…”
“Kami ingin berburu kelinci hutan lagi!” Ginko langsung membuat alasan spontan
“Kelinci hutan lagi?”
“Benar! Daging tusuk yang dimakan tiga hari lalu sangat enak dan kami bermaksud untuk menangkapnya lagi. Di kedalaman hutan pasti banyak kelinci hutan. Nushi-sama juga menyukai daging tusuk bakar itu, kan?”
Aragaki terdiam dan mengangguk pelan karena malu mengakuinya.
“Baiklah. Kalau bisa, bawakan yang banyak ya.” kata sang majikan kepada keduanya dengan senyum ramah
Mendengar itu, keduanya tidak membutuhkan banyak waktu untuk pergi dari sana. Mereka berlari dan melompati atap kediaman tersebut menuju hutan.
Begitu berhasil sampai di kedalaman hutan dan berhenti, keduanya menarik napas terlebih dahulu.
“Aku sudah khawatir Aragaki-sama akan bertanya yang macam-macam.”
“Tapi yang barusan itu menurutku sudah cukup menakutkan, Nagi. Aku kira kamu akan mengatakan bahwa kita akan mencari sayuran liar untuk Reda-sama.”
“Woi! Jangan mengatakan itu di sini!” Nagi membuat wajah panik dan mengecilkan suaranya
Ginko hanya terdiam.
“Pokoknya aku melakukan ini bukan karena aku menerima gadis desa itu.” Nagi masih bersikeras menolak untuk mengakuinya
“Aku paham, aku mengerti. Sekarang selain sayuran liar, tampaknya kita harus mencari kelinci hutan juga.”
“Itu semua karena kau bicara yang bukan-bukan!” ucap Nagi
“Tapi, ada baiknya jika memang berhasil mendapatkan dagingnya. Kita bisa makan daging tusuk buatan Reda-sama. Kamu juga dengar kalau Nushi-sama menyukainya, kan?”
Nagi terdiam dan terlihat malu.
“Aku juga…cukup menyukai masakan gadis desa itu.”
“Nagi, mengenai apa yang dikatakan oleh Nushi-sama…bagaimana pendapatmu?”
“Yang mana?”
“Soal Ryoko-san dan sakura barusan.”
“Aku rasa Ryoko-san memang mendatangi Aragaki-sama. Dia pasti melihat apa saja yang dikeluhkan rubah kecil itu. Kau dengar saat di dapur waktu itu kan? Dia merengek memanggil ibunya dan mengadu betapa kesalnya dia pada Aragaki-sama.”
Ginko terdiam dan berpikir.
“Jika Ryoko-san masih hidup, aku percaya dia pasti akan menyukai Reda-sama. Tidak ada calon ‘pengantin’ yang bisa membuat Ryuunosuke begitu semangat dan ceria seperti itu.”
“Ryoko-san, apa kamu mendengar semua tangisan Ryuunosuke? Aku harap kamu juga memberikannya kekuatan untuk memperjuangkan hal yang dia sukai.”
“Kali ini, kami berpikir untuk mendukung putra kecilmu itu. Aku harap kamu juga mau memberikan semua dukunganmu, Ryoko-san.”
Nagi tiba-tiba mengajak Ginko bicara.
“Ginko, kau perhatikan pita yang dipakai gadis desa itu?”
“Ya.”
“Itu pita milik Ryoko-san yang sering dipakainya saat masih hidup dulu, kan?”
“Benar. Ryuunosuke sepertinya memberikan itu untuk Reda-sama. Tapi, aku harus mengakui bahwa Reda-sama itu sangat cantik jadi pita itu benar-benar cocok dengannya.”
“Aku rasa jika Aragaki-sama mengizinkan rubah kecil itu melihat makam Ryoko-san, dia pasti akan mengajaknya juga.”
“Aku juga rasa begitu.”
Di dalam hutan, kedua youko itu mulai mengumpulkan sayuran liar dan jamur. Mereka juga menyempatkan diri untuk mencari yang lain.
Ginko tampaknya menemukan buah apel hutan yang berjatuhan di tanah. Karena tidak mungkin membawanya sendirian, keduanya secara bergantian mengatarkan semua yang ditemukannya ke gubuk milik Reda.
Mereka melakukan hal itu terus menerus untuk beberapa lama.
“Kurasa segini cukup.” kata Nagi saat ada di dalam gubuk tua
Dia sempat melihat-lihat apa yang ada di dalam gubuk tersebut. Tatami tua dan futon tipis dengan kain lusuh sebagai alas, pakaian yang dilipat rapi di sisi ruangan dan alat makan yang baru selesai dicuci.
“Dia hidup di tempat ini.”
Di dalam gubuk itu tercium aroma kuat gadis itu. Dia ke sisi lainnya. Di belakang, dia melihat pakaian yang dijemur dan ember kayu tua untuk mengambil air di sumur.
Nagi kembali masuk dan melihat barang-barang yang diberi olehnya dan tiga temannya itu disimpan dengan sangat rapi di sudut ruangan agar tidak rusak.
“Gadis itu benar-benar menjaga tempat ini agar layak ditinggali. Aku ingat terakhir kali tempat ini ditinggali oleh calon ‘pengantin’ sebelumnya, mereka menghancurkan semuanya dan melempar barang-barang di dalam sini.”
“Tapi dia benar-benar bertahan dengan hidup di sini seorang diri tanpa penerangan yang cukup. Kalau gadis biasa mungkin akan melakukan upaya pelarian diri.”
Nagi menjadi cukup terkesan dengan Reda. Siapa yang menyangka dia yang membawa gadis itu ke tempat ini dengan penuh penolakan, sekarang justru menjadi begitu iba dan mulai mengakuinya.
“Sekarang aku paham perasaan rubah kecil itu. Dia memiliki insting yang tepat. Aku rasa gadis desa itu bukanlah calon ‘pengantin’ yang buruk.”
“Nagi?” Ginko datang membawa beberapa sayuran lain. “Kenapa kamu lama sekali? Aku menunggumu tapi kamu tidak datang, jadi aku membawa ini.”
“Ginko…”
“Ada apa?”
“Mungkin ini terdengar gila. Tapi aku merasa mungkin…akan lebih baik jika gadis itu benar-benar menjadi calon ‘pengantin’ Aragaki-sama sungguhan.”
“Nagi…”
Sebuah pemikiran lain dari seorang siluman rubah yang jelas-jelas tidak menyukai manusia sejak dulu. Nagi yang memiliki sifat cukup keras menjadi orang selanjutnya yang berpikiran demikian.
“Nagi, kamu terlambat menyadarinya.”
“Maksudmu?”
“Aku dan Hakuren sudah memiliki pikiran begitu. Melihat Ryuunosuke kecil begitu akrab dengan Reda-sama, aku tau bukan hanya wajahnya yang cantik…Reda-sama memiliki kecantikan dan kehangatan yang dibutuhkan Nushi-sama.”
“Kehangatan yang dibutuhkan Aragaki-sama…”
Nagi mengingat kalimat yang pernah dikatakan oleh gadis itu saat pertama kali dirinya menghadap Aragaki.
[Aku tidak peduli jika harus mati setelah 3 bulan seperti lainnya. Tapi, setidaknya aku akan berusaha mencairkan kebencian di hati Aragaki-sama. Aku akan melayani Aragaki-sama sampai ada manusia yang akan menjadi cinta sejatimu]
Nagi tersenyum mengingat itu.
“Ginko, apakah menurutmu kita semua bisa mempercayai gadis itu sepenuhnya?”
Ginko tersenyum. “Tentu, Nagi. Reda-sama adalah satu-satunya calon ‘pengantin’ yang bisa kita percaya. Aku berharap dia bisa bahagia meskipun tidak bisa menjadi istri Nushi-sama.”
“Tidak, kau salah.”
“…”
“Aku berharap dia menjadi gadis yang ditakdirkan untuk Aragaki-sama.”
Ginko terlihat terkejut mendengar Nagi mengatakan hal itu. Tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, Ginko mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya kepada sahabatnya.
Setelah mereka selesai dengan sayuran liar itu, keduanya mulai berburu untuk menepati janji mereka pada sang majikan.
****