The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 91. Rasa Khawatir



Di kediamannya, hati Aragaki mulai tidak tenang. Meskipun perhatiannya tertuju pada seluruh pekerjaannya, namun di pikirannya hanya ada gadis desa itu.


“Aku harap Hakuren dan Kuroto menemukan sesuatu.”


**


Di pagi hari yang mulai menandakan waktu yang hampir siang, Nagi dan Ginko yang berada di halaman mulai berkeliling rumah. Mereka berhenti di engawa dekat ruang makan.


“Hakuren dan Kuroto tadi sempat dipanggil oleh Nushi-sama. Menurutmu apakah ada sesuatu yang terjadi, Nagi?”


“Aku tidak yakin. Mungkin karena kedua tengu itu sering berjalan-jalan dan berpatroli bersama, Aragaki-sama ingin mendengar sendiri laporan mengenai hasil kerja mereka.”


“Tapi sepertinya, mereka diminta untuk mengawasi Reda-sama dan Ryuunosuke yang pergi ke pasar untuk belanja.” kata Ginko menambahkan


“Mengawasi ya…”


Nagi mulai penasaran dan berjalan menuju ruangan sang majikan.


“Nagi! Nagi, kamu mau kemana?”


“Aku ingin bertanya pada Aragaki-sama. Aku tidak tau kenapa, tapi jika itu Aragaki-sama yang memintanya secara langsung, pasti ada sesuatu.”


Sorot mata Nagi begitu tajam dan dia terlihat serius.


“Selama ini, Aragaki-sama tidak pernah meminta kami semua menjaga calon ‘pengantin’-nya. Itu bagus karena beliau mulai tertarik pada Reda-sama.”


“Tapi, meminta kedua tengu itu mengawasinya itu…seakan beliau merasakan sesuatu yang buruk.”


“Aku ingin bertanya dan mendengarnya dari Aragaki-sama!”


Saat tiba di depan pintu ruangan sang majikan, Nagi memberi hormat sebelum meminta izin untuk masuk. Ginko yang tidak bisa menghentikan Nagi pun ikut berlutut.


Bukan karena tidak bisa, lebih tepatnya dia juga penasaran.


“Aragaki-sama, Nagi dan Ginko menghadap. Bolehkan kami masuk?”


“Nagi, Ginko. Masuklah.”


Mereka membuka pintu ruangan dan didapatinya sang majikan yang sedang meletakkan bukunya di meja.


Kedua youko itu masuk dan duduk di hadapan sang majikan.


“Apa ada sesuatu?” tanya sang majikan pada mereka


Nagi sama sekali tidak menahan dirinya dan langsung bertanya pada Aragaki, “Aragaki-sama, aku ingin bertanya. Apakah benar Aragaki-sama meminta kedua tengu itu mengawasi Reda-sama dan si rubah kecil?”


“Benar.”


“Kenapa?” Nagi bertanya dengan sorot mata yang penuh rasa ingin tau


Aragaki tidak bisa berbohong, dia mengatakan semuanya. “Aku merasakan sesuatu mengawasi gadis itu beberapa waktu lalu.”


“Apa?!” kedua youko itu terkejut


Ginko langsung bertanya, “Apakah…apakah Anda yakin, Nushi-sama? Mengawasi Reda-sama…tapi siapa yang melakukannya?”


“Aku tidak tau. Tapi aku tidak akan merasa aneh karena semua siluman di sini membenci manusia.” jawab sang


penguasa dengan tenang


“Meskipun begitu, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Benar begitu kan, Nushi-sama?”


“Aku mungkin sudah mengabaikannya selama 200 tahun ini, tapi selalu ada yang mengawasi setiap calon ‘pengantin’ dari desa terkutuk itu yang datang.”


“Apa?! Tidak mungkin!!” Nagi terkejut tidak percaya. Ginko yang mendengar hal tersebut tidak mengerti. “Kenapa kami tidak pernah tau?” tanya dirinya pada sang penguasa


“Aku tidak pernah peduli pada para gadis kotor dari desa terkutuk itu, sehingga aku lebih memilih membunuh mereka semua selama ini. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang membuatku melakukannya.”


“Apa itu?”


Kalimat itu begitu ambigu dan tidak bisa dipahami oleh para pelayan Aragaki. Aragaki mengatakan semuanya.


“Mereka begitu hina. Perlakukan mereka semakin hari semakin menjijikkan, semakin membuat rubah kecilku tersiksa dengan memukulnya dan melakukan hal tidak terpuji lainnya.”


“Dan yang lebih tidak bisa aku terima, mereka mencoba meracuniku.”


“Setelah aku berpikir mengenai hal itu kembali, dari mana mereka bisa memiliki racun yang mungkin bisa berpengaruh pada siluman tingkat atas sepertiku?”


“Para gadis kotor yang awalnya begitu takut dan ingin kabur dari sini, beberapa justru memilih untuk tinggal sambil melakukan hal buruk pada rubah kecilku.”


“…” kedua youko itu terdiam mendengar penjelasan Aragaki


Nagi mulai bicara dalam hati dengan pikirannya yang rumit.


“Memang benar, selama ini tidak selalu gadis kotor di sini yang hidup sampai 3 bulan. Beberapa akan langsung lempar ke iblis Nue langsung oleh Aragaki-sama karena hendak meracuni beliau.”


“Tapi, kalau diingat…bagaimana mereka bisa memiliki ide untuk meracuni Aragaki-sama yang merupakan siluman tingkat tinggi sekaligus penguasa Higashi no Mori?”


“Selain itu, jika ada yang ingin tinggal di sini sekalipun…mereka akan melakukan hal buruk pada rubah kecil. Perubahan sikap mereka bisa langsung berubah seakan…ada hal yang sengaja memancing emosi Aragaki-sama agar membunuh mereka.”


Ginko mencoba memikirkan kemungkinan yang ada, walaupun tidak yakin.


“Nushi-sama…apakah Anda berpikir ada yang mengincar Reda-sama karena kedatangan beliau di sini?”


“Begitulah. Aku pernah mendengar kabar buruk saat pergi mengunjungi Jorogumo. Ada kabar bahwa gadis itu adalah gadis licik yang mencoba membunuhku seperti yang lainnya.”


Ekspresi kedua youko itu kesal mendengarnya.


“Kabar buruk tentang datangnya gadis kotor dari desa itu pasti akan menyebar cepat. Namun, kabar bahwa dia akan meracuniku itu…sesuatu yang seharusnya tidak diketahui oleh banyak orang.”


“Aku yakin pasti ada siluman lain yang mengincarnya. Dan jika itu benar, mungkin saja yang mengawasinya adalah siluman tersebut.”


Ekspresi khawatir Aragaki mulai terlihat, “Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.”


Kedua youko itu saling melihat satu sama lain. Nagi berkata, “Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mencari tau sumber kabar buruk itu. Kami juga akan mencari siapa orang yang kira-kira mengincar Reda-sama.”


“Untuk sementara, aku akan meminta Hakuren dan Kuroto yang mengawasi. Kalian cukup fokus pada daerah perbatasan saja seperti biasa. Terima kasih untuk perhatiannya. Kalian boleh pergi, aku masih harus menyelesaikan semua pekerjaan ini.”


Mereka berdua tidak bisa membantahnya dan keluar dari ruangan sang penguasa setelah memberinya hormat.


**


Di engawa luar, setelah keluar dari ruangan Aragaki…


“Aku masih ingin tau, siapa yang mungkin mengincar Reda-sama dan kenapa?” Nagi terdengar sedang menggerutu


Ginko berpikir sebentar dan membuat sebuah tebakan lain. Kali ini, tebakannya itu cukup masuk akal.


“Mungkin salah satunya adalah karena mereka melihat Nushi-sama berjalan bersama gadis itu. Bisa saja saat mereka kencan pertama kali dan kencan kedua saat itu.”


“Siapa yang akan percaya bahwa sang penguasa Higashi no Mori bisa berjalan bersama seorang gadis? Hal yang paling masuk akal adalah Nushi-sama berjalan dengan calon ‘pengantin’-nya.”


“Tidak pernah ada gadis yang berjalan dengan Nushi-sama kecuali para pelayannya seperti Ryoko-san dulu dan semua siluman mengenal Ryoko-san di sini.”


“Aku rasa kau benar, Ginko. Itu artinya penduduk Higashi no Mori bisa saja menjadi terduga yang patut dicurigai. Aku harus melihatnya sendiri.”


Nagi menghilang dengan cepat meninggalkan Ginko di engawa.


Ginko yang melihat ke arah pohon-pohon sakura seribu harapan mulai terlihat begitu khawatir. Seakan bicara dengan seluruh kelopak bunga sakura itu, dia berkata dengan nada sedih.


“Aku harap kalian mau melindungi gadis itu juga. Dia adalah calon ‘pengantin’ terbaik dan akan menjadi pelabuhan cinta tuan kita.”


“Reda-sama…di saat hal baik untukmu terjadi, kenapa semua bisa langsung berubah seperti ini?”


Ginko berdoa pada langit, “Aku mohon, semoga semua baik-baik saja. Semoga tidak ada hal buruk yang menimpa Reda-sama”


****