
Reda yang melakukan tugasnya tidak mengetahui apapun mengenai hiasan ikebana yang dibuatnya. Dia bekerja dengan perasaan cemas dan takut.
“Aku rasa aku tidak boleh lagi membuat hal seperti itu di sini.”
Saat Reda membawa air di sumur untuk menyirami kebun, dia melihat ada sesuatu di daerah tanaman sayur.
“Hmm? Apa itu?”
Sesuatu yang berbulu, melompat dan seperti memakan sesuatu.
“Aku yakin tidak ada yang seperti itu dua hari lalu. kemarin juga baik-baik saja?”
Saat didekati, ternyata itu adalah kelinci yang muncul entah dari mana. Lebih lucunya lagi, beberapa sayuran seperti wortel dan kol telah habis digerogoti olehnya.
“Kelinci?! Eh? Ada kelinci di sini, sejak kapan?!”
Reda memperhatikan banyaknya tanaman dengan bekas gigitan kelinci tersebut. Dengan panik, gadis itu mencoba menangkapnya.
Dia berlari dan mencoba mengejarnya namun gagal.
“Tunggu sebentar! Jangan lari!”
Walau hanya seekor, tapi kalau sulit ditangkap sama saja merepotkannya.
“Berhenti!!”
Suara teriakan itu cukup terdengar sampai ke telinga Aragaki yang sedang bersama dengan ketiga pelayannya.
“Berisik.” celetuknya
“Reda-sama?”
Mungkin karena ketiga pelayan Aragaki adalah siluman rubah dan Aragaki sendiri adalah siluman serigala yang dianggap sebagai Dewa Pelindung Hutan, suara dari jarak jauh itu cukup membuat kaget.
“Reda-sama sepertinya sedang mengalami masalah.” ucap Ginko yang siap-siap berdiri
“Aragaki-sama, Ryuunosuke akan melihatnya sebentar!”
Ryuunosuke dengan panik berlari ke arah sumber suara itu. Kedua youko lainnya meminta izin untuk melihatnya sebentar. Tidak ada jawaban dari Aragaki seakan dia memang tidak peduli dengan gadis desa itu.
Ketika Ryuunosuke datang dan melihat apa yang terjadi, dia melihat Reda yang memegang seekor kelinci hutan dengan semua pakaiannya yang kotor.
“Jangan…bergerak…”
“Re–Reda-sama! Apa yang terjadi?”
“Ryuunosuke? Aku menangkap kelinci yang memakan tanaman di kebun. Lihat!”
Reda tidak menyadari pakaiannya yang kotor serta air di ember yang tumpah. Gadis itu menunjukkan kelinci hutan tersebut kepada rubah kecil.
Rubah kecil itu dengan panik menghampiri Reda dan membantu membersihkan pakaiannya.
“Reda-sama, pakaiannya kotor semua. Kalau kotor seperti ini, nanti bagaimana Reda-sama akan bekerja?”
Reda hanya tersenyum kepada si rubah kecil. Tidak lama kemudian, Nagi dan Ginko datang untuk melihatnya sendiri.
“Astaga…Oi, gadis desa! Kau ingin menghancurkan kebun ya?!” teriak Nagi
Reda melihat kedua youko itu dan memberi hormat dari kejauhan. Menyadari si gadis desa itu membawa sesuatu di tangannya, Ginko segera menghampirinya.
“Reda-sama, kamu baik-baik saja?”
“Aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuat kegaduhan, Ginko-sama.” ucap sang gadis
“Itu…kelinci hutan rupanya. Kukira mereka tidak akan datang ke kebun lagi.” gumam Ginko pelan
“Kelinci hutan?”
“Benar. Salah satu hewan di hutan. Karena kecil dan cepat jadi sering bersembunyi di balik semak-semak. Aku yakin Reda-sama tidak pernah menemuinya selama tinggal di hutan, benar kan?”
Reda mengangguk. Ryuunosuke mengambil kelincinya dari Reda dan memegangnya. Dari belakang, Nagi menghampiri mereka semua dan melihat kelinci yang dipegang oleh Ryuunosuke.
“Uwaa, daging lainnya ya? Hebat juga kau, gadis desa!”
“Daging?” Reda semakin bingung
“Daging kelinci hutan ini cukup diminati di kalangan siluman. Biasanya dimakan mentah karena tidak ada standar khusus untuk lidah kami. Lagipula, daging kelinci itu alot, berbau cukup kuat dan sangat tidak cocok untuk dijadikan masakan matang.”
Reda hanya diam. Setelah mendengarkan beberapa ocehan Nagi mengenai kebun yang penuh dengan jejak kelinci dan nyaris hancur itu, kedua youko itu pergi.
Ryuunosuke mencoba menghibur Reda.
“Reda-sama, jangan pikirkan kata-kata Nagi-sama. Nagi-sama memang suka mengatakan hal menyakitkan seperti itu. Ryuunosuke akan membawa kelincinya ke dalam dan–”
“Ryuunosuke…”
“Apakah semua orang suka dengan daging bakar?”
“Hmm?”
**
Reda dan Ryuunosuke membawa kelinci tersebut ke gubuk tua tempat Reda tinggal. Di sana, Reda bersiap untuk membuat sesuatu.
“Ryuunosuke, aku akan mencari kayu dulu di hutan. Tolong jaga agar kelincinya tidak kabur ya.”
“Reda-sama, mau melakukan apa?”
Reda hanya mengelus kepala Ryuunosuke dan pergi ke dalam hutan. Reda masuk cukup lama kali ini. Dengan membawa ember yang ada di sumur, Reda masuk ke hutan.
Ryuunosuke menunggu dengan memegangi kelincinya.
Di dalam hutan, Reda mengambil sayuran liar kembali.
“Syukurlah ternyata ada banyak.” ucapnya sambil tersenyum
Dia memetik sayuran liar lagi. Tidak jauh dari sana, Reda menemukan apel yang terjatuh.
“Apel? Ada apel lain di tempat ini?”
Senyum Reda terlihat semakin merona. Dia melihat beberapa apel yang masih bagus di tanah. Dengan mengambilnya sedikit, dia mulai mengelap apel tersebut dengan pakaiannya. Beberapa ranting pohon juga tidak lupa diambilnya.
Setelah dirasa cukup, gadis itu kembali ke gubuk tuanya.
“Aku kembali. Maaf karena lama, Ryuunosuke. Lihat ini! Aku dapat banyak sekali sayuran liar di hutan.” ucapnya senang
“Huwaa, dari mana Reda-sama mendapatkannya?!”
“Ini ada di dalam hutan. Semalam aku juga memakannya dan rasanya enak sekali.”
“Semalam, Reda-sama memakan ini? Benarkah?”
Reda mengangguk. Rubah kecil itu tidak percaya dengan kalimat dari sang gadis karena dia yang paling memahami betapa sulitnya manusia untuk tinggal di hutan sendirian seperti ini.
Akan tetapi, melihat wajah Reda yang tersenyum merona seperti itu membuat si rubah kecil percaya dengannya.
“Kita akan membuat sesuatu dengan kelinci itu. Nanti, kita berikan kepada Nushi-sama agar beliau senang.”
“Reda-sama…ingin membuat sesuatu lagi untuk Aragaki-sama?”
“Tentu saja. Bukankah tujuan kita membuat beliau tersenyum?”
Mendengar kalimat itu, Ryuunosuke semakin senang. Kalau tidak sedang memegang kelinci itu di tangannya, dia mungkin akan langsung memeluk Reda.
Reda memberikan sedikit instruksi kepada Ryuunosuke dan si rubah kecil itu melakukannya. Dia membawa kelinci tersebut ke sumur di belakang dan membunuhnya. Dengan kemampuannya, dia menguliti dan membersihkan darah kelinci tersebut sendirian.
Gadis desa itu memilih sayuran dan mencucinya. Setelah semua selesai, dia memotong semua sayur dan apelnya.
Di hutan itu, keduanya asyik membuat hal baru demi bisa membahagiakan sang Dewa Pelindung hutan.
**
Nagi dan Ginko kembali ke tempat Aragaki.
“Kami kembali, Aragaki-sama.”
“Sudah selesai dengan keributannya?”
“Itu…ada seekor kelinci hutan yang masuk dan merusak kebun lagi. Setelah sekian lama tidak ada yang masuk dan mereka kembali memakan hasil panen sayurnya.”
“Begitu. Aku yakin Ryuunosuke mengurusnya dengan baik.”
“Sebenarnya…yang mengurus semua itu adalah Reda-sama dan berkat itu semua tidak begitu parah, Nushi-sama.”
Aragaki melihat Ginko dengan ekspresi mata yang menunjukkan bahwa dia terkejut.
“Tadi apa yang yang kamu katakan?”
“Reda-sama yang telah mengurusnya. Beliau yang menangkap kelinci hutan itu dan mungkin saat ini sedang membereskan kebunnya.”
“Aku tidak berminat untuk mengurus manusia kotor.”
Aragaki tidak menggunakan kemampuannya untuk melihat gadis desa itu.
Sejak awal karena dia tidak tertarik dengannya, dia memilih untuk mengabaikannya. Tidak ada yang penting dari si gadis dan tidak ada yang harus diperhatikan darinya.
Di saat yang tidak diketahui olehnya, gadis yang dianggapnya tidak penting itu berusaha untuk membuatnya tersenyum dengan caranya.
****