
Ryuunosuke yang baru selesai menjemur kembali pakaian yang Reda akhirnya menemani gadis kesayangannya di ruangan barunya.
"Reda-sama, lukanya masih sakit tidak?"
"Sudah tidak. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, rubah kecil manisku."
"Reda-sama tidak boleh melakukan hal berat ya. Selain itu, Aragaki-sama juga pasti tidak akan melarangmu istirahat."
Reda tersenyum. Dia mulai menyadari bahwa sejak dirinya terluka, Aragaki menjadi begitu lembut. Bahkan sang penguasa juga telah minta maaf padanya.
"Nushi-sama menjadi semakin lembut padaku." kata gadis itu dalam hati
Selama seharian, akhirnya hanya duduk dan menikmati teh yang dilakukan Reda bersama rubah kecilnya.
**
Di dalam ruangannya, Aragaki melihat gulungan pekerjaannya sambil menikmati ikebana buatan rubah kecil di mejanya.
Senyuman hangat menghiasi bibirnya dan bayangan indah menjadi teman di pikirannya.
Tidak perlu bertanya bayangan apa yang ada di benaknya sekarang, itu adalah senyuman Reda serta momen manis yang dialaminya seharian ini.
Tidak lagi mempertanyakan perasaannya, Aragaki mengakui dia mulai tertarik pada gadis desa itu.
Walaupun masih belum siap mengakuinya secara terang-terangan, namun itu sudah cukup disebut sebagai kemajuan.
"Aku bisa melihat senyuman itu setiap waktu mulai sekarang." katanya pelan
Aragaki menghabiskan sepanjang waktunya hingga sore dengan menulis dan bekerja layaknya penguasa.
Waktu berjalan cepat sore itu dan tibalah waktu makan malam.
**
Di dapur, Reda sedang mencicipi sayur yang akan disuguhkannya pada sang penguasa dan lainnya.
Hanya dirinya seorang yang masih belum mengetahui bahwa sang penguasa telah tau rahasianya.
"Hmm, sepertinya sudah matang. Mereka pasti akan menyukainya."
Rubah kecilnya penasaran dengan apa yang dibuat Reda, "Apa itu Reda-sama?"
"Ini tumis terong dan daging. Aku membuat ini sebagai menu baru. Apa Ryuunosuke mau mencicipinya?"
"Mau!"
Rubah kecil itu tampak bersemangat dan mulai memakannya. Ekor dan telinga yang bergoyang adalah tanda bahwa dia menikmatinya.
"Ryuunosuke suka terong dan dagingnya!"
"Syukurlah."
Mereka membawakan makanan tersebut ke ruang makan. Saat makan malam tiba, semua yang menyantap menu tersebut juga terlihat menyukai makanannya.
"Ini enak. Aku suka ini." komentar Nagi. Saat dia mengatakan itu, matanya melihat ke arah Reda. Namun gadis itu tidak mengetahui maksudnya dan hanya tersenyum.
Aragaki juga memakannya dengan rada senang. Dia melihat ke arah gadis desa yang duduk di tempat yang jauh.
"Dia benar-benar membuat makanan ini sesuai dengan seleraku."
"Mungkin dia belum menyadarinya, namun rasa masakan yang dibuatnya adalah rasa yang sangat aku suka."
Makan malam hangat ditemani cahaya adalah hal yang selalu gadis itu impikan.
Selesai makan, rubah kecil menunjukkan hal lain pada Reda.
"Reda-sama, ini tempat mandinya. Ada air hangatnya. Apinya dari Nagi-sama dan Ginko-sama."
"Reda-sama bisa pakai tempat ini untuk berendam."
Reda terlihat sangat senang. Malam itu, gadis desa itu merasakan rasanya berendam air panas.
Pengalaman lain dari gadis cantik yang tidak pernah dialaminya.
Malam pertamanya di kediaman Aragaki adalah awal baik untuknya.
Di malam hari, Reda akhirnya bisa merasakan rasanya tidur di ruangan yang sebelumnya digunakan olehnya.
"Rasanya aku tidak percaya bisa tidur di sini lagi."
"Sebelumnya saat dirawat di sini, aku belum pernah mandi di sini juga. Rasanya segar sekali."
Reda memperhatikan ruangannya kembali.
"Aku sangat senang dengan tempat ini."
Tidak lama setelah itu, terdengar suara dari luar ruangannya.
"Reda-sama..."
"Ryuunosuke?" Reda yang sudah siap tidur berjalan dan membuka pintunya. "Ryuunosuke, ada apa?"
Rubah kecil itu hanya menggoyang-goyangkan ekor serta telinganya dan bertingkah seperti orang bingung.
Gadis itu memintanya masuk ke kamarnya dulu dan duduk bersama.
"Ada apa Ryuunosuke? Tidak bisa tidur?"
"Umm...Ryuunosuke..."
"Ya? Ryuunosuke kenapa?"
Dengan wajah malunya, rubah kecil itu mengatakan keinginannya.
"Ryuunosuke ingin dipeluk sebelum tidur oleh Reda-sama."
Reda merasa begitu tersentuh dengan permintaan rubah manisnya.
"Oh rubah manisku, sini. Kemarilah."
Tangan terbuka dari Reda disambut dengan rasa senang. Rubah itu melompat dan memeluknya.
"Hmmm~" sebuah suara imut yang tampak menikmati rasa hangat pelukan itu. Ekor rubah kecil itu bergoyang seakan senang mendapatkan hal yang diinginkannya.
Reda mengusap-usap punggung kecil rubah itu sambil memeluknya lembut.
"Apa ini terasa nyaman?"
"Nyaman. Ryuunosuke senang sekali."
"Sungguh?"
"Ryuunosuke biasa selalu dipeluk seperti ini oleh ibu. Tapi sejak ibu meninggal, Ryuunosuke hanya bisa memeluk ekor Ryuunosuke."
"Ryuunosuke...rindu pelukan ibu."
Saat mendengar kerinduannya pada sang ibu, Reda begitu sedih. Dia mencoba menghibur rubah kecilnya.
"Ryuunosuke suka dipeluk Reda-sama! Pelukan Reda-sama sama hangatnya dengan pelukan ibu. Rasanya nyaman."
"Begitu. Syukurlah." Reda tersenyum bahagia dengan kata-kata rubah kecilnya.
Mungkin sedikit aneh, tapi di engawa luar, tanpa disadari oleh keduanya, Aragaki telah berdiri dan mendengar semuanya.
Sungguh tidak pernah terpikirkan bahwa sang penguasa akan mencuri dengar semua itu di malam hari.
Aragaki berdiri tidak jauh dari ruangan Reda sekarang sambil tersenyum mendengar percakapan keduanya.
Beberapa waktu kemudian, Ryuunosuke selesai dengan pelukannya.
"Ryuunosuke bisa tidur sekarang. Terima kasih Reda-sama."
"Aku antar ke kamar lagi ya."
"Kyaaa~" suara imut rubah kecil itu lagi. Tampaknya sekarang suara itu adalah suara khas untuknya jika dia merasa senang.
Keduany berjalan sambil bergandengan tangan menuju kamar Ryuunosuke.
"Hmm~hmm~hmm~la, la, la."
Senandung kecil rubah itu terdengar riang sekali. Reda tersenyum senang mendengarnya.
Sesampainya di depan pintu kamarnya, Ryuunosuke membuka pintu kamarnya. Reda terkejut melihat bola yang diberikannya ada di atas tempat tidur rubah kecil.
"Itu bola dariku, benar kan?"
"Ryuunosuke selalu memeluknya setiap tidur sekarang."
Reda berlutut dan memberikannya pelukan. "Terima kasih sudah mau menjaga hadiah dariku."
Rubah kecil itu sangat senang sekali. Pelukan hangat lain sebelum tidur adalah hal yang membuatnya bahagia.
"Mimpi indah, Ryuunosuke."
"Reda-sama juga. Selamat malam."
"Selamat malam."
Rubah kecil masuk ke kamarnya menutup pintu.
Saat Reda hendak kembali ke ruangannya, gadis itu bertemu dengan Aragaki.
Sebuah kejutan datang untuknya sebelum tidur.
"Nushi-sama!" Reda terkejut. Segera, dia membungkuk dan memberi hormat pada sang penguasa.
"Selamat malam, Nushi-sama."
"Selamat malam, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya sang penguasa pada gadis itu
"Aku baru...mengantar Ryuunosuke ke kamarnya kembali. Ryuunosuke datang ke kamarku dan kami sempat mengobrol sebentar."
Saat ini, jantung Reda berdetak cepat dan dia berusaha untuk tenang. Namun, wajah merah karena tersipu itu sulit disembunyikan.
Dia begitu senang bertemu pujaan hatinya malam ini.
Aragaki bertanya dengan nada sangat lembut padanya.
"Apa kamu akan kembali ke kamarmu sekarang?"
"Iya. Karena semua sudah istirahat, jadi aku merasa tidak boleh mengganggu. Nushi-sama juga sebaiknya istirahat."
"Aku akan istirahat." Aragaki sempat terdiam untuk beberapa saat. Dia memperhatikan gadis itu.
Tidak lama setelahnya, Aragaki berkata padanya, "Aku akan mengantarkanmu kembali ke ruangan."
"Eh?!"
"Kenapa?"
"Tapi, ini sudah malam."
Aragaki tersenyum padanya, "Karena sudah malam, aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu."
Sungguh suatu hal yang sangat indah bagi Reda. Dengan malu, dia mengangguk.
Keduanya berjalan dalam jarak dekat. Jantung Reda berdetak cepat seperti akan terdengar oleh Aragaki yang ada di sampingnya.
Aragaki bertanya padanya, "Apa rubah kecil itu meminta sesuatu darimu?"
"Ryuunosuke hanya ingin dipeluk."
"Dipeluk ya."
"Ryuunosuke mengatakan bahwa dia merindukan ibunya. Aku merasa aku mengerti perasaan itu."
Mata Reda terlihat begitu sayu. Dia merasa bahwa rubah kecil itu tidak jauh beda darinya.
"Bagaimanapun juga, Ryuunosuke masih kecil. Aku ingin dia tidak pernah kehilangan kasih sayang."
"Begitu."
Akhirnya mereka berdua sampai di depan pintu ruangan Reda.
"Nushi-sama, terima kasih sudah mau mengantarku."
Aragaki menatap wajah gadis itu. Tidak lama setelah itu, dia menyentuh pipi sang gadis.
Seperti terkena serangan kejutan, Reda langsung memerah kembali.
"Terima kasih sudah mau memberikan perhatian pada rubah kecil kesayanganku."
"Nushi...-sama..."
"Dia adalah alasanku bersikap dingin pada manusia dan..." Aragaki menghentikan kalimatnya. Dia hanya menatap mata sang gadis desa lebih dalam.
Di dalam hatinya, Aragaki melanjutkan kalimatnya yang sempat dihentikannya.
"Karena memikirkan perkataan rubah itu, aku mencoba memahami perasaanku padamu."
"Aku mencoba mempercayai hal yang dipercaya semua pelayanku dan aku rasa... aku telah menemukan jawabannya."
Aragaki melepas tangannya dan mengatakan selamat malam pada gadis itu.
Reda yang masuk ke ruangan langsung tersungkur lemas sambil memegangi kedua pipinya.
"Dewa, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan pada perasaan ini."
Di malam itu, ada kenangan manis kecil yang tercipta.
Malam yang berwarna untuk sang penguasa dan malam paling manis pertama untuk gadis desa yang jatuh cinta.
****