The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 116. Awal Kebahagiaan Sang Calon Pengantin



“Dimana aku?”


Reda seperti berada di sebuah tempat yang begitu gelap. Saat matanya terbuka, dia melihat sesuatu.


Itu adalah keramaian di desa. Itu adalah Desa Kamakura, tempatnya dulu tinggal bersama mendiang kedua orang tuanya sebelum meninggal.


“Ini…”


Terlihat pemandangan yang sangat dikenalnya. Semua itu adalah penduduk desa. Walaupun wajah mereka tampak sedikit lebih muda dan lebih baik dari sebelumnya.


“Apa aku sudah mati? Mereka berkata saat kamu mati, mereka akan mengingat perjalanan hidupnya kembali. Apa seperti ini rasanya?”


Reda berjalan. Saat ada seorang anak kecil yang berlari ke arahnya, dia terkejut karena anak itu menembus tubuhnya.


“Aku dilewati?!”


Reda akhirnya sadar bahwa itu semua adalah ilusi.


Dia berjalan dan mendengar suara yang sangat dirindukannya.


“Reda, ayah dan ibu pulang!”


“Suara itu…” saat dirinya menengok ke belakang, semua pemandangan itu telah berganti. Seperti benar-benar sebuah ilusi, itu adalah pemandangan di rumahnya.


Air mata menetes ketika Reda melihat apa yang ada di depannya saat ini. Itu adalah wajah ayah dan ibunya yang telah meninggal dan dirinya saat masih kecil.


“Ayah, ibu!” Reda kecil berlari dan memeluk keduanya. Betapa bahagianya kenangan saat itu.


Reda tidak bisa menahan dirinya untuk berjalan ke arah bayangan itu dan mencoba menyentuhnya.


“Ayah…ibu…”


Walaupun tidak ada dari bayangan itu yang bisa disentuh olehnya, tapi dia tetap mencoba untuk menyentuhnya.


“Ayah…ibu…Reda di sini. Hiks, Reda ada di sini….”


Kenangan itu terus berjalan. Reda melihat kembali semua masa kecilnya. Gambaran kenangan itu berisi saat kedua orang tuanya baru saja pulang dari berburu dan menyiapkan makan siang untuk mereka.


“Huwaaa~apa ini?”


“Ini kelinci hutan. Ayah yang mendapatkannya, hebat kan?” kata sang ayah dengan bangga


“Hebat! Reda tidak pernah lihat yang seperti ini! Ibu, nanti kita makan ini? Ibu mau buat apa?”


“Sup dan tumis daging. Reda mau membantu ibu?”


“Reda ikut membantu! Reda yang ambil airnya ya.”


Gadis kecil itu pergi mengambil air saat kedua orang tuannya berada di dapur. Sang ayah adalah pemburu dan sang ibu menemani suaminya pergi berburu setiap hari.


Mereka menjual hasil buruan ke pasar untuk mendapatkan uang.


Rumah Reda saat berada di desa dulu berada di dekat hutan, sedikit lebih jauh dari keramaian desa, karena itu kedua orang tuanya menghabiskan waktu mereka untuk berburu atau mengambil sayuran liar di hutan.


Hubungan mereka dengan warga desa cukup baik, meskipun tidak bisa dikatakan baik juga. Karena kesibukan yang dilakukan kedua orang tua gadis itu, mereka sering dicurigai.


Hutan di dekat tempat tinggal mereka hampir menjurus ke daerah perbatasan Higashi no Mori, hutan suci milik Aragaki-sama, sang Dewa Pelindung Kamakura. Legenda mengenai sang Dewa Pelindung ada secara turun temurun di desa tersebut.


Kekhawatiran penduduk desa terus bertambah setiap harinya ketika kedua orang tua Reda mendapatkan banyak sekali hasil buruan dan sayuran liar untuk makan dan dijual.


Sampai suatu hari, ada sekumpulan babi-babi liar yang menyerang desa.


Ayah dan ibu Reda berusaha membantu penduduk dengan membunuh para babi yang merusak rumah warga dan sawah mereka, namun dengan jumlah yang begitu banyak, beberapa penduduk terluka dan mati.


Penduduk yang selamat menjadikan mayat para babi hutan sebagai makanan mereka sambil membangun kota kembali, namun mereka tidak pernah membaginya dengan keluarga kecil itu.


Rumor berkata bahwa babi-babi hutan itu menyerang karena kesalahan suami istri pemburu tersebut. Tentu saja Reda selalu membela kedua orang tuanya dan selalu berakhir dengan luka dan hinaan.


Sampai suatu hari di hari hujan, ketika kedua orang tuannya berburu ke dalam hutan, Reda kecil yang sendirian menunggu kepulangan orang tuannya.


Tidak pernah ada yang tau bahwa itu menjadi hari terakhir keduanya melihat dunia. Terdengar kabar bahwa mereka meninggal karena terjebak di longsoran tanah dan terjatuh. Gadis kecil itu menangis dan keluar dari rumahnya.


Saat memutuskan untuk pulang, rumah hangat yang menjadi satu-satunya tempat paling aman dihancurkan oleh penduduk desa. Mereka membakar habis semuanya, tidak ada yang tersisa saat itu.


Dan dari situlah neraka gadis kecil itu dimulai.


Semua kenangan pahit Reda diputar dan hanya membuat dirinya terus menangis melihat semua itu. Seakan telah melupakan semua rasa sakit yang dirasakannya, dia telah lupa bahwa semua itu telah dialaminya sendiri.


Beberapa ingatan buruk yang telah dilupakan olehnya diputar kembali hingga membuka luka lama.


Reda menangis melihat semua itu. Air matanya jatuh dan tubuh gemetarnya tidak bisa menahan kesedihan itu.


“Apakah…apakah aku akan mati setelah mengingat semua ini? Hiks…apakah…apakah tidak ada hal indah yang tersisa untukku di dunia ini sebelum aku mati?”


“Aku bahkan…aku bahkan belum mengucapkan terima kasih pada Ryuunosuke untuk semuanya. Hiks…”


“Aku juga belum…belum mengatakan perasaanku pada Nushi-sama. Aku belum meminta maaf pada Nushi-sama. Hiks…”


“Apakah aku akan mati dengan penyesalan seperti ini? Aku…hiks…aku tidak mau seperti ini…”


Semua bayangan ingatan itu hilang. Hanya menyisakan kegelapan untuk sang gadis dari desa.


Di tengah kegelapan itu, dia menangis seorang diri. Tidak ada lagi suara lain selain tangisan itu. Reda merasa waktunya hanya tinggal sebentar lagi. Setidaknya, bayangan ingatan itulah yang dianggapnya sebagai pesan terakhir sebelum dia mati.


Sampai akhirnya sebuah cahaya datang dengan suara lembut dan tangan hangat yang memeluknya.


“Kita pulang, Reda. Kita kembali ke rumah.”


Suara yang begitu hangat terdengar. Dekapan lembut tubuh itu memberikan kehangatan untuk Reda. Dan di saat dirinya mulai melihat sosok yang memeluknya, sebuah cahaya datang dan melenyapkan seluruh kegelapan di sana.


“Suara ini…”


**


Di kediaman Aragaki, di kamar yang hangat dengan pintu terbuka dan angin yang sejuk bertiup, gadis desa itu membuka matanya.


“Mm…ini…dimana?” gumamnya pelan


Reda mencoba melihat sekelilingnya dan saat mencoba menggerakkan tangannya, dia merasakan sesuatu yang lembut menggenggam tangan itu.


“Eh?”


“Apa kamu sudah baikan? Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?”


“…” Reda terkejut dengan air mata yang menetes. Itu adalah sebuah hal yang indah untuknya karena melihat senyuman hangat dari pria yang dicintainya dalam diam menyambutnya saat dia terbangun dari mimpi buruk.


Aragaki tersenyum dan menghapus air mata sang gadis. “Kenapa menangis? Apa masih ada yang sakit?”


“Ini…mimpi? Apa aku masih…bermimpi?”


“Ini bukan mimpi. Ini kenyataan.” jawab Aragaki dengan lembut. Wajahnya pernah menunjukkan kelembutan itu, namun tidak pernah yang lebih lembut dari itu.


Reda hampir tidak bisa mengendalikan dirinya dan menangis.


“Ma…af. Hiks…maafkan aku…”


“Tidak apa-apa. Semua sudah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Hiks…maafkan aku, aku sudah melanggar perintah Nushi-sama. Hiks…aku minta maaf…aku minta maaf...maafkan aku. Tolong jangan membenciku lagi…hiks…jangan membenciku lagi…”


Reda menangis seperti semua itu menjadi hal terakhir yang bisa dilakukannya. Dia menutupi seluruh wajahnya karena takut dan hanya mengulangi kalimat yang sama pada sang penguasa.


Sampai akhirnya tangis itu berhenti karena sang penguasa dengan lembut menyingkirkan tangan gadis itu dan menciumnya untuk menenangkannya.


Reda terdiam karena kaget. Tangannya dicium oleh sang penguasa dan dia melihatnya. Pandangan mereka bertemu dan seakan memberitaukan sesuatu, Aragaki mengelus lembut wajah gadis desa itu.


“Aku tidak akan membencimu. Aku tidak akan pernah membencimu lagi. Aku sudah memutuskan untuk bersamamu. Karena itu…jangan menangis.”


Sebuah kalimat indah yang terdengar bagaikan mimpi untuk Reda. Di pagi hari itu, Aragaki menyambut Reda dengan sebuah tatapan hangat penuh cinta. Seperti dirinya ingin mengatakan semua itu sekaligus.


****