The Bride Of The Sacred Forest God

The Bride Of The Sacred Forest God
Bab 48. Bunga Penyejuk Untuk Aragaki



Pagi ini, Reda bangun lebih awal sekali karena dia tidur sangat lama kemarin.


“Syukurlah langitnya cerah.”


Reda berdoa, “Dewa, aku mohon kuatkan diriku hari ini. Hari ini adalah hari pertama untuk memulai dari nol lagi. Di hari kesembilan ini, semoga ada banyak yang hal bagus untuk kami semua.”


Tubuhnya sudah jauh lebih baik, hatinya juga sudah jauh lebih baik. Dia berjalan dan di depannya sudah menunggu Ryuunosuke.


“Reda-sama, selamat pagi.”


“Selamat pagi, Ryuunosuke. Tidurnya nyenyak?”


“Ryuunosuke tidur nyenyak, Reda-sama. Hari ini kita semangat lagi!”


“Benar. Yang berlalu biarlah berlalu. Hari ini kita mulai dari nol lagi, ya.”


Rubah kecil itu langsung memegang tangan Reda dan menariknya. Mereka masuk ke ruang tamu yang kemarin. Di atas meja sudah tersedia makanan lezat.


“Reda-sama, selamat pagi.”


“Selamat…pagi. Eh? Kenapa?”


Reda bingung dengan keadaan ini. Jelas di dalam ruangan itu, ada banyak makanan dan yang lebih mengejutkan lagi, keempat pelayan Aragaki ada di sana sambil menata piringnya.


“Ryuunosuke mau sarapan bersama Reda-sama dan yang lain juga mengizinkannya. Ryuunosuke masak dari pagi agar bisa makan bersama Reda-sama”


Ekor rubah itu bergoyang dengan cepat karena terlalu senang dan bersemangat. Sedangkan Reda menatap keempat pelayan Aragaki dengan wajah cemas.


“Aku tidak boleh makan–”


“Reda-sama, Ryuunosuke memasak semua ini untuk kita. Ryuunosuke berjuang hari ini demi Reda-sama juga. Reda-sama tidak mau mencicipinya. Hiks…”


“Ryuunosuke?!” Reda panik saat melihat rubah kecilnya mulai menangis. Dia berlutut dan langsung mencoba menghiburnya, “Ryuunosuke, jangan menangis ya. Jangan menangis, cup cup. Iya iya, aku makan ya.”


“Hiks…benar-benar makan?”


“Benar. Jangan menangis ya.”


Rubah kecil itu kemudian berbalik membelakangi Reda dan menatap keempat pelayan lainnya. Sebuah senyum licik ditunjukkan mereka berlima tanpa sepengetahuan Reda.


“Rencana kita berhasil.” bisik Ryuunosuke


“Yosh!” jempol keempat pelayan itu juga diangkat setinggi perut agar Reda tidak menyadarinya


Tentu saja mereka membentuk lingkaran ketika melakukan hal itu. Kali ini, air mata Ryuunosuke bisa disebut air mata buaya.


“Kalau tidak seperti ini, kami tidak akan bisa membuat Reda-sama terbiasa dengan kediaman Aragaki-sama.” gumam Hakuren dalam hati


“Saat rubah itu kembali semalam dan menceritakan semuanya, aku rasa gadis desa itu lemah dengan air mata anak kecil. Dia itu terlalu lugu dan mudah dibohongi, jadi hanya ini caranya.” Nagi juga berpikir demikian


“Maafkan kami, Reda-sama. Kami memutuskan untuk melawan perintah Nushi-sama. Ini semua demi membantumu. Perasaan cintamu yang tulus pada tuan kami akan kami dukung sepenuhnya!” kata Ginko dalam hati dengan senyum di bibirnya


“Beruntunglah kau, gadis desa! Kami akan mendukung penuh dirimu mulai sekarang. Kau adalah satu-satunya gadis manusia yang mau mengakui perasaanmu di depan kami. Tidak pernah ada yang melakukannya selama ini. Karena itu, kami akan membantumu mulai sekarang.” Kuroto juga mengakuinya meskipun di dalam hati


Reda duduk di samping rubah kecilnya tanpa tau niat terselubung itu.


“Karena Aragaki-sama sedang tidak ada, jadi Reda-sama bebas memakan semuanya. Ryuunosuke memasak semua ini seperti yang Reda-sama lakukan, ayo cicipi~” serunya sambil terlihat senang


“Aku cicipi ya.” Reda mengambil sumpitnya dan saat memakannya, dia tersenyum. “Enak. Ini enak sekali, Ryuunosuke.”


“Benarkah?! Senangnya~”


Reda memberikan senyuman dan elusan lembut ke rambut rubah kecilnya.


“Ryuunosuke semakin pintar memasak. Hebatnya~Nushi-sama akan senang mencicipi makanan ini nanti.”


Melihat rubah kecil itu senang, keempat pelayan Aragaki tampak lega. Mereka benar-benar makan bersama di pagi hari itu.


**


Di sisi lain Higashi no Mori, di sebuah kediaman besar yang pernah didatangi oleh Aragaki.


Pada bagian engawa luar, terdapat banyak sekali siluman berkepala kelinci imut yang memegang sapu. Mereka menyapu daun maple yang memerah.


Berbeda dengan suasana kediaman Aragaki yang memiliki warna merah muda karena pohon sakura yang berbunga tanpa layu sedikitpun, kediaman besar itu memiliki aroma musim gugur yang seakan tidak berhenti.


Di sebuah ruangan, terlihat Aragaki yang duduk sambil minum teh dengan seorang pemuda tampan lainnya.


Wibawanya sama seperti Aragaki. Pembawaan yang tenang dan aura yang berkarisma membuat siapapun terpesona.


“Apa semalam tidurmu nyenyak, Aragaki?” tanya pemuda itu


“Lumayan. Di sini lebih sejuk karena nuansa musim gugur. Terima kasih mau menerimaku, Shuen.”


“Kita sudah lama saling mengenal, Aragaki. Aku juga harus berterima kasih karena kamu bersedia memberikan sedikit tanah Higashi no Mori untuk tempat tinggalku.”


“Sejak aku memperluas hutan Nishi no Mori, aku harus menjaga semua orang di sana juga. Aku tidak ingin ada masa kelam lain untuk dunia siluman. Sungguh, aku turut menyesal.”


Ekspresi pemuda bernama Shuen itu tampak sedih sekali. Tapi, tidak berlangsung lama. Dia langsung melihat Aragaki dan bertanya padanya.


“Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi aku ingin tau apa yang membuatmu datang tiba-tiba dengan sisa-sisa aura mengerikan kemarin malam?”


“Jujur saja, aku berpikir kamu habis membunuh orang lain sebelum ke sini.”


Aragaki terdiam sebentar mendengar pertanyaan Shuen. Dia melihat batang teh hijau di cangkirnya dan berkata, “ Pelayanku telah membohongiku.”


“Membohongi? Hakuren dan teman-temannya?”


“Aku hanya mengetahui Nagi dan Ginko melakukannya. Tapi, kemungkinan Hakuren dan Kuroto juga.”


Aragaki tidak merespon. Dari mata dan ekspresinya, tebakan Shuen tepat. Bahkan dia sampai menggelengkan kepalanya sekarang.


“Bagaimana mungkin? Aku ingin mendengarnya!”


“Ini bukan cerita yang bagus. Ini mungkin sangat menjijikkan untuk diceritakan, Shuen.”


“Menjijikkan atau tidak, aku ingin mendengarnya! Mustahil pelayanmu yang setia itu akan melakukan hal tersebut, Aragaki! Mau seburuk apapun mereka, kesetiaan mereka sudah terbukti sejak ratusan bahkan ribuan tahun!”


Aragaki memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Shuen. Sebuah cerita panjang yang tidak berhenti membuat Shuen tersenyum.


“Aragaki, aku rasa di sini mereka yang seharusnya marah padamu bukan sebaliknya.”


“Apa? Kenapa kamu bicara begitu?”


“Ahaha, aku terkejut mereka masih mau berlutut pada serigala temperamental sepertimu.”


“Shuen, aku sedang tidak bercanda.”


“Aku juga sedang tidak bercanda, temanku. Dengarkan, aku merasa bahwa akhirnya muncul gadis yang benar-benar bisa kamu sebut sebagai calon ‘pengantin’ milikmu, Aragaki.”


“Apa maksudmu?”


“Gadis yang kamu sebut kotor itu…aku rasa adalah kuncup bunga baru untukmu.”


Kalimat itu membuat Aragaki langsung tersulut emosi. Dia mulai terlihat marah dan auranya menjadi begitu tajam.


Tanda merah di keningnya muncul yang membuat pelayan kelinci di luar berubah menjadi buntalan bola bulu karena takut setelah merasakan aura mengerikan tiba-tiba.


Suara Aragaki meninggi.


“Bunga? Makhluk kotor itu kamu sebut bunga? Gadis dengan darah pendosa di dalamnya itu adalah pengantiku? Jangan bercanda!”


“Dia, yang memiliki darah dari pembunuh semua pelayan-pelayan setiaku, yang melempar mayat mereka ke hadapanku, yang membakar Higashi no Mori dan membuat seekor rubah kecil menjadi yatim piatu itu adalah pengantinku?!”


“Aku tidak mengira kamu bisa sebodoh itu sampai tidak melihat masa lalu, Shuen.”


Di tengah emosi Aragaki, Shuen tetap tenang sambil meminum tehnya dan tersenyum.


“Tolong jangan berkata kejam begitu, Aragaki. Kelinci-kelinci kecil di luar mungkin sekarang saling berpelukan satu sama lain karena takut dimakan oleh serigala sepertimu. Tenanglah.”


“Aku sudah cukup mendengar omong kosongmu itu, Shuen. Hentikan dan tarik perkataanmu tadi.”


“Tidak. Aku mengatakannya karena itu benar.”


“Shuen!!”


Aragaki membentaknya, namun Shuen mulai melihat Aragaki dengan serius.


“Pikirkan ini, Aragaki. Aku ingin kamu melihat keadaan yang sebenarnya terjadi.”


“Kamu yang mengatakannya padaku, bahwa sejak kedatangan gadis itu, rubah kecil kesayanganmu itu tersenyum dan berkali-kali menentangmu.”


“Rubah kecilmu yang selalu kamu ceritakan itu sangat terobsesi dengan calon ‘pengantin’. Tapi selama ini dia terus mendapatkan perlakuan buruk sehingga kamu membunuh gadis-gadis itu.”


“Namun gadis kali ini bahkan tidak hanya bisa membuat rubah kecilmu tertawa, tapi membuatmu dibohongi semua pelayanmu yang setia. Tidakkah kamu memikirkan hal ini?”


“Sihir apa yang mungkin dimiliki seorang gadis yang dibuang penduduk desanya sendiri untuk dikorbankan menjadi pengorbananmu?”


“Aku tidak bermaksud menghinamu, Aragaki. Tapi aku rasa, sebenarnya kamu mengetahui hal apa yang berbeda dari gadis itu. Dan hal itu juga yang mulai dirasakan kelima pelayanmu sehingga mereka ingin menolongnya.”


“Jujurlah, kamu tidak bisa menerima hal itu walaupun kamu mengetahui kebenarannya bukan?”


“…” Aragaki terdiam. Dia tidak menjawab.


Hal itu karena sebenarnya, Aragaki sendiri melihat seperti apa interaksi yang dilakukan gadis yang dianggap kotor olehnya itu dengan rubah kecilnya.


“Sudah kuduga. Berhentilah membohongi dirimu, Aragaki. Belajarlah untuk melihatnya walau hanya sedikit.”


“Itu tidak benar. Tidak ada yang baik dari gadis kotor itu. Dia sama seperti leluhurnya, dia licik dan menipu. Karena terlena dengan sikap palsu mereka, aku kehilangan semua yang kucintai.” Aragaki terlihat begitu kecewa dan penuh dengan amarah


Namun, Shuen kembali mengatakan sesuatu yang cukup membuatnya terkejut.


“Kalau begitu, anggaplah gadis itu sebagai bunga yang berjuang tumbuh untuk memperindah hatimu yang kering akan cinta.”


“…!!”


“Terkadang, kita tidak menyadarinya. Orang yang paling kamu benci, bisa jadi orang yang paling mencintaimu.”


“Cinta…”


Aragaki teringat sesuatu.


[Bukankah Reda-sama membuatnya untuk persembahan bagi Aragaki-sama?]


*[Reda-sama mencintai Aragaki-sama, kan? Hadiah dari Reda-sama membuat Aragaki-sama tersenyum*]


Itu adalah kalimat yang didengar Aragaki dari rubah kecilnya saat mereka bicara di luar kamarnya.


Sekarang, Aragaki terdiam mengingat hal itu. Sedangkan Shuen yang kembali meminum tehnya menatap Aragaki dengan senyuman.


“Aragaki, aku mungkin tidak bisa merasakan sakit dan luka di hatimu. Tapi, sebagai temanmu aku bisa melihatnya.”


“Ini adalah musim semi untukmu. Bunga penyejuk hatimu yang kering dan terluka akan segera terobati. Percayalah, cinta akan menjadi rasa baru untuk hatimu setelah ini.”


****