
Di pagi hari, Reda bangun sebelum matahari terbit. Hal itu dikarenakan dia tidak bisa berhenti menangis sepanjang malam hingga matanya terlihat memerah. Saat mandi, dia melihat wajahnya di pantulan air pada bak kayu.
“Jika Ryuunosuke melihat ini, dia pasti akan sedih. Aku harus bisa terlihat ceria agar rubah kecil yang manis itu tidak menangis juga seperti kemarin.”
Dengan segala cara yang dia bisa, dia mencoba mencuci wajahnya dengan cairan kental yang digunakan untuk menghilangkan aroma tubuh yang bau keringat serta lengket.
Setelah selesai mandi, Reda juga menyempatkan diri untuk menggunakan sedikit kayu bakar dan memanfaatkan sebatang korek api yang tersisa untuk merebus air hangat.
Reda hendak menggunakannya untuk merendam kain dari pakaiannya dulu yang telah dicuci untuk membasuh wajahnya.
“Aku harap dengan meletakkan handuk di mataku, akan mengurangi mata merah akibat semalaman menangis. Aku tidak ingin Ryuunosuke sedih.” pikirnya
Reda menggunakan semua cara yang terpikirkan olehnya untuk membuat dirinya tampil sebaik mungkin di depan rubah kecilnya yang manis dan juga Aragaki-sama.
Tidak lama setelah itu, rubah kecil itu berlari dengan sangat terburu-buru. Kebetulan sekali, Reda baru saja selesai membasuh wajahnya.
“Reda-sama, Reda-sama, Ryuunosuke datang!”
Rubah kecil itu tampak bersemangat. Dia membawa keranjang bamboo berisi kain, botol bamboo kecil dan nasi kepal yang dibungkus daun besar.
“Selamat pagi, Reda-sama!”
“Selamat pagi, Ryuunosuke. Apa terjadi sesuatu sampai kamu semangat seperti itu?”
“Aku senang karena bisa bekerja dengan calon ‘pengantin’ pagi ini! Rasanya seperti mimpi! Ryuunosuke tidak pernah bekerja dengan calon ‘pengantin’ selama ini karena mereka selalu mencoba kabur sejak hari pertama. Tapi, kali ini Reda-sama dan Ryuunosuke akan pergi melayani Aragaki-sama! Ryuunosuke senang~”
Reda terkejut mendengar rubah kecil manis itu bicara panjang lebar di pagi hari dengan ekor yang terus bergoyang dan wajah yang merona. Membuatnya tidak menyesal sudah berusaha menutupi mata merah akibat menangis.
Ryuunosuke masuk dan memberikan pakaian serta sarapan untuk Reda. Tiga nasi kepal hangat dengan acar timun, tomat dan seledri serta teh hangat dalam botol bambu kecil dibawa olehnya.
Makanan itu mungkin sangat sederhana di mata yang lain, tapi bagi Reda yang selalu kesulitan mendapat makanan selama ini di desa, hal itu tidak bisa membuatnya berhenti tersenyum karena senang.
Dia begitu bahagia karena bisa makan makanan yang baginya terlihat sangat mewah di pagi hari.
“Ini semua sarapanku?”
“Benar! Ryuunosuke yang membuatnya. Makanlah! Setelah ini, kita akan memasak sarapan untuk semuanya dan Aragaki-sama.”
Reda mengangguk dan memakan makanannya. Tentu saja, rubah kecilnya itu ikut makan bersamanya. Sambil mengunyah nasi kepal di tangannya, Ryuunosuke bertanya pada Reda.
“Reda-sama, apa semalam Reda-sama tidur dengan nyenyak?”
Reda sempat berhenti memakan acarnya dan bertanya pada rubah kecil tersebut, “Ada apa? Apa wajahku terlihat seperti orang yang tidak bisa tidur?”
“Ryuunosuke tidak melihatnya. Hanya saja, aku khawatir kalau Reda-sama merasa sulit tidur karena takut. Selama ini, calon ‘pengantin’ lainnya selalu mencoba kabur di malam hari dan tertangkap oleh Hakuren-sama dan Kuroto-sama.”
“Mereka selalu berusaha kabur dan tidak pernah ada yang mencoba melakukan kewajibannya sebagai calon ‘pengantin’. Ryuunosuke berpikir mungkin saja…mungkin saja Reda-sama juga berubah pikiran semalam.”
Telinga rubahnya kembali turun dan ekspresinya menjadi sedih. Reda kemudian mengelus-elus kepalanya dengan lembut sambil berkata, “Aku tidak akan mengingkari janjiku pada Ryuunosuke. Kita sudah berjanji akan berjuang demi senyuman Aragaki-sama, iya kan?”
Mendengar ucapan lembut itu, rubah kecil itu menjadi bersemangat kembali dan menghabiskan nasi kepalnya dengan lahap. Reda berkata dalam hatinya.
“Syukurlah aku tidak memperlihatkan wajah lelah di depannya.”
Selesai makan, Ryuunosuke mengatakan sesuatu.
“Oh, Reda-sama…Ryuunosuke minta maaf karena belum sempat membawakan lilin dan miyak untuk menerangi tempat ini. Tapi Ryuunosuke sudah menyiapkannya jadi aku akan pulang lagi dan mengambilnya ya.”
“Tidak perlu, Ryuunosuke. Tidak apa-apa. Nanti saja setelah selesai bekerja, aku akan membawanya sendiri.”
“Tapi, Reda-sama dan aku tidak tau berapa lama akan melayani Aragaki-sama. Kalau sampai kita pulang malam, bagaimana?”
“Tidak masalah. Aku mungkin hanya perlu mandi. Tidak perlu dipikirkan dulu mengenai lilin. Sebaiknya aku ganti pakaianku dulu. Setelah itu, kita langsung pergi menyiapkan sarapan untuk Aragaki-sama ya.”
Ryuunosuke mengangguk. Reda membawa pakaian barunya dan menggantinya. Setelah itu dia siap untuk pergi ke tempat Aragaki. Dengan Ryuunosuke yang menggandengnya, mereka pergi bersama.
Matahari baru saja akan terbit dan kedua orang itu telah bangun pagi-pagi sekali demi menjalankan hari pertama mereka bekerja bersama-sama.
Dari pos penjagaan, Hakuren dan Kuroto melihat keduanya datang.
“Kuroto, mereka sudah datang.”
“Gadis itu benar-benar datang bersama Ryuunosuke untuk melakukan hari pertamanya ya. Aku tidak menyangka hari ini akan tiba.”
“Kita lihat akan bertahan berapa lama gadis itu di sini.” Ucapan Hakuren ini terdengar sinis namun sebenarnya dia sendiri penasaran dengan hari pertama gadis desa itu.
Sejauh yang dia dan temannya, Kuroto ingat, gadis yang menjadi calon ‘pengantin’ tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu. Sisanya adalah upaya pelarian yang dilakukan sampai bulan ketiga datang. Lalu setelah tiga bulan, Aragaki akan langsung memenggal atau melemparnya kepada iblis penjaga Higashi no Mori yaitu Nue.
“Aku harap dia tidak mengecewakan. Ryuunosuke bahkan sampai terlihat senang seperti itu. Entah kenapa aku jadi sedikit berharap padanya walaupun aku tetap membenci manusia.” pikir Hakuren
Di dapur kediaman utama, Ryuunosuke dan Reda sampai di dapur.
“Reda-sama bisa memasak?”
“Aku tidak tau. Aku hanya pernah melihat penduduk desa memasak tapi aku tidak pernah melakukannya.”
“Begitu, tidak masalah. Ryuunosuke akan mengajarimu.”
“Tapi, untuk beberapa bahan dan resep…aku ingat beberapa. Mungkin aku bisa membuatnya. Sebelum diberikan kepada Aragaki-sama, apakah Ryuunosuke mau mencicipinya untukku?”
Rubah kecil itu terlihat senang dan mengangguk dengan cepat. Dia bahkan bersemangat menyiapkan semua bahan masakan agar Reda bisa memasak.
Dengan penuh keseriusan, Reda memperhatikan cara Ryuunosuke membuat makanan kesukaan Aragaki-sama.
“Aragaki-sama senang nasi yang pulen dan hangat, beliau tidak makan begitu banyak sejauh ini jadi hanya perlu mengisi setengah mangkuk kecil saja. Beliau juga senang sarapan dengan sup miso dan tempura dari sayuran. Untuk menu lain, biasanya Ryuunosuke membuat karaage atau ikan bakar tanpa tulang karena Aragaki-sama tidak suka ikan dengan tulang.”
Reda mendengarkan dan mencoba mengingat semua pesan tersebut.
“Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan memotong sayuran dan membuat supnya ya.”
Lobak, wortel, tahu dan terong dipotongnya dengan rapi dan hati-hati. Dia mulai merebusnya dan menambahkan beberapa resep yang dia ingat pernah dipakai oleh penjual makanan di desanya.
Reda begitu percaya diri dan hasilnya tidak mengkhianatinya. Ryuunosuke mencicipi sup buatan Reda dan dia begitu menyukainya.
“Ini enak~” ekornya yang tebal bergoyang-goyang dengan cepat tanda kalau itu memang enak
Begitu semua siap, keduanya segera pergi ke ruang makan dan menata semuanya.
“Reda-sama, sekarang kita bangunkan Aragaki-sama.”
“Iya. Kita bangunkan ya.”
Keduanya pergi menuju ruangan Aragaki dari engawa luar. Dengan perlahan, Ryuunosuke membuka sedikit pintu ruangan tersebut.
Terlihat Aragaki yang telah bangun dan baru selesai memakai yukata miliknya.
“Aragaki-sama sudah bangun?! Ini mengejutkan!” Ryuunosuke sedikit terkejut dengan kejutan ini
“Ryuunosuke?”
Aragaki yang baru selesai dengan obi di pinggangnya berjalan mendekati rubah kecilnya itu. Rubah kecilnya bersama Reda langsung memberi salam kepadanya.
“Ah! Maafkan aku. Selamat pagi, Aragaki-sama.”
“Selamat pagi, Aragaki-sama” Reda ikut mengucapkan selamat pagi padanya
Meskipun tidak ada jawaban setelah Reda selesai, dia tidak memikirkannya. Gadis itu memberikan senyum selamat pagi untuk Aragaki.
Wajah dingin itu tidak berubah membuat Ryuunosuke sempat takut. Rubah itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ryuu–Ryuunosuke baru saja ingin membangunkan Aragaki-sama. Apa Aragaki-sama tidak bisa tidur semalam?”
“Aku tidur dengan nyenyak, Ryuunosuke. Tapi, memikirkan harus dibangunkan setiap pagi oleh gadis kotor itu selama 3 bulan membuatku tidak bisa bangun lebih siang dari kalian. Ini adalah bagian dari penolakanku terhadapnya. Jadi jangan harap bisa membangunkanku selama di sini karena itu adalah hal yang mustahil dilakukan.”
“…” Reda tertunduk. Senyuman di bibirnya sempat menghilang dan matanya mulai sedikit memerah menahan tangis. Tapi, ini adalah hari pertamanya dan dia sudah berusaha menutupi bekas tangisan di matanya dengan kain dan air hangat.
“Kamu harus sabar, Reda. Hanya 3 bulan sebelum kamu mati, buatlah dirimu berguna. Jangan menangis, jangan menangis. Pagi baru saja datang. Jangan menangis!”
Berusaha menyemangati dirinya sendiri, dia kembali melihat wajah tampan Aragaki dan memberinya senyum kembali.
“Aragaki-sama, maafkan aku jika aku mengganggu waktu istirahatmu. Kami sudah menyiapkan sarapan untuk Aragaki-sama. Silahkan datang ke ruang makan sekarang.”
Tanpa melihatnya yang bersimpuh di lantai, Aragaki melewatinya begitu saja. Sikap dinginnya benar-benar menusuk hati, namun itu hal yang dimaklumi Reda.
Ryuunosuke melihat Aragaki dengan wajah sedih. Rubah itu mencoba menguatkan Reda.
“Reda-sama, apa itu menyakitimu?”
“Aku tidak apa-apa, Ryuunosuke. Ini masih pagi. Kita pasti akan membuat banyak perubahan. Ayo berjuang!”
Mendengar kalimat optimis itu, Ryuunosuke menjadi bersemangat. Dirinya membantu Reda berdiri dan menggandeng tangannya lagi untuk pergi ke ruang makan.
Di ruang makan, Aragaki biasa makan dengan keempat pelayannya yang kemarin dan juga Ryuunosuke.
“Ryuunosuke, kukira kau akan melewatkan sarapan dan sibuk mengejar calon ‘pengantin’ yang mencoba kabur. Aku kaget sekali melihat dua tengu itu ada di sini untuk sarapan.”
Sebuah sindiran di pagi hari datang dari mulut Nagi. Dia sempat melihat sinis Reda seperti kalimat manisnya kemarin itu telah lenyap bersama malam yang berganti fajar.
Ryuunosuke ingin membalasnya namun Reda melarangnya.
“Jangan selalu membalas kalimat itu, Ryuunosuke. Anggap saja sebagai teguran agar kita lebih semangat lagi.” bisik Reda
“Cih!” decak Nagi
Aragaki melihat tempat Ryuunosuke kosong tanpa makanan.
“Kenapa kamu tidak menyiapkan sarapan untukmu, Ryuunosuke?”
“Ah! Ryuunosuke sudah makan dengan Reda-sama pagi ini. Mulai hari ini, Ryuunosuke akan makan dengan Reda-sama setiap hari.”
Aragaki masih belum mengatakan apapun dan mulai mencicipi sup miso di mangkuknya. Hal itu menjadi tanda bahwa mereka sudah bisa menyantap makanannya. Keempat pelayan itu meminum sup miso di mangkuk dan terkejut dengan rasanya.
“Apa ini buatan Ryuunosuke?!” Kuroto sampai terkejut saat meminumnya
“Ini enak! Aku belum pernah mencicipi sup dengan rasa seperti ini! Ryuunosuke, kamu benar-benar jenius!” Ginko bahkan terlihat senang
“Ehehe, ini sebenarnya buatan–”
-Craaash
Sebuah mangkuk dilempar ke arah depan. Itu adalah mangkuk sup miso yang dikatakan enak oleh keempat pelayannya. Aragaki melemparnya sambil menatap sinis Reda.
“Gadis kotor, kamu yang membuat sup itu. Benar, kan?”
Seketika suasana hening. Ryuunosuke menjadi panik dan keempat pelayan itu terlihat syok mendengarnya.
“Ini buatan gadis desa itu? Serius?” pikir keempatnya dalam hati
“Jawab aku. Sekalipun kamu berbohong, aku bisa mencium aroma busukmu di mangkuk dan sayuran itu. Kamu yang membuatnya, benar kan?”
“Ma–maafkan aku jika selera masakanku tidak cocok di lidah Aragaki-sama. Memang benar, aku yang memotong dan memasaknya.”
Mendengar hal itu, Aragaki melempar semua makanannya. Semuanya tidak ada yang disentuh kembali oleh keempat pelayannya. Dengan marah, Aragaki membentaknya.
“Jangan pernah menyuguhkanku masakan yang disentuh oleh tangan kotormu itu!”
Puncak dari hati yang hancur, dimulai pagi ini.
****